Kita tak pernah tau dengan putaran waktu saat ini Aku tergila-gila padamu, bahkan sanggup menyingkirkan siapapun yang mendekati mu.
Tapi dimasa depan bisa jadi kamu yang selalu ingin berada dalam rotasi ku dan saat itu terjadi kau akan temukan Aku bukan lagi seorang wanita yang memikirkan tentang cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.i.s_desj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari Bersama Ryan
Minggu adalah hari yang paling Aku tunggu, Aku bisa bangun sedikit lebih siang dari biasanya.
"Ehhhh" Aluna menggeliat melenturkan otot nya.
Semalam benar-benar sesi terpanjang curhat nya bersama papa sepanjang Aluna berusia 25 tahun.
Aluna baru tau ternyata rasanya sangat menyenangkan bicara dari hati ke hati bersama papa nya.
"Ehh papa, sudah bangun belum ya" Aluna turun dari tempat tidur dan melihat keadaan papa nya.
"Udah bangun aja papa ku yang ganteng."
"Mau pup gak" lanjut ku bertanya pada papa.
papa menjawab dengan mengangguk pelan.
"Yaudah yuk ke kamar mandi" seperti rutinitas sebelum nya Jika papa bisa mandi sendiri tapi dia tidak bisa untuk buang air besar sendiri harus ada aku yang membantu memegang tubuh nya.
"Yuk, papah harus semangat ngeluarin nya" ucap ku.
Saat-saat ini lah yang terkadang Aku ingin menangis ketika papah sembelit susah membuang kotoran nya, Aku tak tega melihat nya kesakitan dan juga lelah menahan bobot tubuh nya, meskipun sudah berbagi beban dengan ku tetap saja kaki nya akan terasa sakit jika terlalu lama.
"Ehhhh.. ehhhh" papa masih berusaha mendorong kotoran dari perut nya.
"Bentar lagi pa, udah keliatan tu, Ayokk papa bisa semangat" Aku sudah seperti suporter sepak bola yang berteriak di pinggir lapangan.
"Ehhhhh ehhhhhh" plung bunyi itu bagai Alunan melodi merdu ditelinga ku, bunyi yang membuat ku tersenyum bahagia karena papa sudah terlepas dari ke tersiksaan nya.
"Yeeeyyy ihh papa hebat banget deh" ucap ku riang.
"Okey sekarang papa langsung mandi, nah sudah Aku dudukin disini, Aluna tinggal ya kalau ada apa-apa inget tepuk-tepuk aja pintu nya."
Aku keluar dari kamar mandi, dan terkejut melihat kak Ryan sudah duduk berselonjor sambil menonton tv.
"Ehh kak Ryan kapan datang nya, kok Aku gak denger" tanya ku heran.
"Kamu lagi sibuk ngurus papa dikamar mandi mangkanya gk denger, dari tadi Aku udah teriak-teriak tapi kalah sama suara mu yang berteriak, Ayo papa semangat" jelas kak Ryan sambil memperagakan kata semangat dengan lucu.
"Hahaha ihhh jadi malu Aku" kata ku sambil menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.
"Oh iya kak Ryan mau minum teh, kopi atau air putih" tawar ku pada nya.
"Gak usah deh, kakak kesini mau ngajakin kamu jalan" ucap nya dengan melirik ke sembarang arah menghindari tatapan mataku.
"Emmm terus papa gimana, Aku gk bisa tinggalin papa sendiri" jawabku lemah.
"Tenang kan ada Ayah, tadi Aku udah bilang mau ajakin kamu jalan, terus papa setuju buat gak ambil libur nya hari ini" jelas nya.
.
"Serius., ka..." prang.. prang.. prang.. bunyi geduran pintu kamar mandi membuat ku berhenti berbicara.
"Entar ya kak, papah udah selesai mandi, Aku urusin pala dulu" kata ku hendak pergi, namun tangan ku di tahan oleh kak Ryan.
"Gak usah biar Aku saja, kamh siapin aja perlengkapan papa yang lain" ucap nya lalu berjalan melewati ku pergi ke kamar mandi.
Saat aku sedang menyiapkan baju dan perlengkapan papa yang lain, terlihat kak Ryan yang memapah papah, pemandangan yang membaut ku tersentu, boleh kah Aku berharap kak Ryan menjadi bagian dari hidup ku, meski tak ada rasa cinta untuk kak Ryan, bukan kah hidup seperti ini saja sudah cukup membahagiakan.
"Siniin baju dan yang lain nya biar aku yang pakai kan" ucap kak Ryan dengan menyodorkan tangan nya padaku.
"Ehh gak usah kak biar aku aja" tolakku tak enak hati.
"gak papa biar aku aja, mending sekarang kamu mandi, siap-siap kita kan mau pergi" lanjut kak Ryan.
"Emm pah Aluna diajakin kak Ryan jalan-jalan boleh" tanyaku meminta izin.
"Ooeeehhh.... oeeh.. egiii. jaaaa daa paaapaaa" ucap papa memberikan izin nya pada ku.
"Yaudah kak, tolong ya" kata ku memberikan semua perlengkapan papa yang tadi sudah kusiap kan.
"Iya, kan aku yang nawarin" ucap kak Ryan.
"Yaudah, Aku mandi dulu ya kak" langsung saja Aku pergi meninggalkan kak Ryan dan papah.
Di dalam kamar mandi aku berpikir, jika seandai nya kak Ryan menyukaiku, apa aku terima saja perasaan nya, dia sangat baik pada papa, mau menerima kekurangan papa, begitupun dengan Ayah nya.
Tapi apakah benar Aku akan bahagia bersama nya apabila tanpa cinta, ahhh bukan aku, karena aku sudah terbiasa menjalani hidup seperti itu, tapi kak Ryan apa dia akan bahagia apa bila tahu bahwa tak ada namanya dihati ku dia hanya dapat memiliki ragaku tapi tidak hatiku.
Kugelengkan kepala, apa yang sedang aku pikirkan, belum tentu juga kak Ryan menyukai ku, "jangan geer Aluna... jangan geer.. kak Ryan memang baik sama semja orang" ucap ku sambil memukul kepala ku pelan.
Aku berganti pakaian di kamar mandi, lalu berlari kecil keluar kamar mandi menuju kamar ku, berdandan sedikit tak apa bukan.
Pakai pelembab, bedak dan lipstik berwarna nute, selesai, ku pandangi lagi wajah ku di cermin memastikan bahwa penampilan ku tidak lah buruk.
"Okey selesai" ku ambil tas kecik yang tergantung di belakang pintu dan keluar mengahampiri dua lelaki yang saat ini sedang asyik mengobrol.
"Ehem ehemm.. permisi, lagi ngomongin apa an kos serius banget dari tadi" tanya ku pada mereka berdua.
"Aagaan eeppo" balas papa.
"Hahaha bener kata papa mu jangan kepo.. ini obrolan laki-laki" kata kak Ryan membela papa.
"Dihh apaan sih main rahasia-rahasiaan" Aku pura-pura cemberut pada mereka.
"Unaaa antiiikk iaaa iaan (Aluna cantik ya Ryan)" seketika aku terdiam, papa kenapa jadi menanyakan itu pada kak Ryan.
Ruangan menjadi hening seketika, hanya hembusan nafas yang terdengar dari ruangan ini.
"Iya cantik, anak papa agung cantik banget hari ini."
Blussss seketika wajah ku memerah, aku putar mata ku berusaha mengalihkan pandangan ku pada kak Ryan.
"Iaaaa antiiikk" papa mengucap dengan nada penuh semangat.
Niat ku ingin melihat ekspresi papa malah mataku bertubrukan dengan mata kak Ryan yang sedang menatap diriku dengan intens, tatapan nya begitu sulit aku artikan, lama kami bertatapan akhirnya aku duluan yang memutus kan kontak mata diantara kami.
"Papa ihh gak boleh tanya-tanya kayak gitu sama kak Ryan" kata ku merajuk pada papa.
"Hihihihi.. iaaaa unaaa aaaluuu" lihat lah paoa sekarang malah menggoda ku.
"Ehhh enggak siapa yang malu, Aluna biasa saja kok" bantah ku
"Masak sih, tapi kok muka nya merah gini" ucap kak Ryan sambil menusuk-nusik pipi ku dengan telunjuk nya.
"Enggak, mana ini karena bluss onn bukan karena malu" sanggah ku yang jelas berbohong karena aku sama sekali tidak menggunakan alat make up itu.
"Hahaha iya iya percaya aku" ucap kak Ryan sambil mengacak-acak rambutku.
Dwiernawati
Dwiernawati
Dwiernawati
di(no spasi) kata kerja/kata sifat > dimiliki, ditinggal, dlsb.
jangan bosan buat belajar dan terus belajar.semangat berkarya.
next novel perbaiki tanda baca dan penulisan untuk nama. masih ada beberapa nama yg ga pake awalan huruf besar.
semangat berkarya
ahh sudahlah,,,mari kita mengkece dulu😎