NovelToon NovelToon
Mirage

Mirage

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Romansa Modern / Konflik etika / Tamat
Popularitas:152.8k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.

Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.

Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?

⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arya

Setiap sepulang sekolah, Mari seperti biasa menunggu ibunya untuk mendapatkan tugas, mengantar cucian bersih ke komplek sebelah.

Setelahnya, dia akan kembali ke rumah, dan menyerahkan cucian kotor kepada sang ibu. Lalu, Mari kemudian pamit untuk pergi ke rumah Riri.

Hampir setiap hari dia pergi ke sana, meski pun temannya tengah tak berada di tempat, namun dia tetap menghabiskan waktunya seharian di rumah dengan taman bunga yang luas itu.

Pak satpam sering berlaku judes pada Mari, dan melarangnya untuk masuk ketika tak ada Riri di rumah, namun Pak Parman dan Bu Sri, sepasang suami istri yang merupakan tukang kebun yang mengurus taman bunga di rumah itu, selalu membantu Mari untuk bisa masuk ke dalam.

Selain bermain dengan Riri, Mari sebenarnya lebih suka jika ia menghabiskan waktu di taman, sambil memperhatikan suami istri itu menanam, memugar, membibit dan merapikan tanaman.

Mari pun sering membantu menyiram tanaman-tanaman itu dengan senang hati. Senyumnya terus mengembang dan matanya berbinar kala ia berada di tengah hamparan bunga warna warni yang memenuhi tempat itu.

Di dekat taman, tepatnya di sisi sebelah kiri rumah, ada sebuah gazebo yang terbuat dari bambu dan beratapkan jerami, yang biasa di gunakan Pak Parman Bu Sri untuk beristirahat.

Di sekitar gazebo itu pun, terdapat banyak bibit-bibit tanaman yang telah diletakkan di dalam poly bag hitam, dan berjejer rapi di sekitar tempat istirahat itu.

Mari sering melihat kakak Riri, Arya, berada di tempat itu berjam-jam, sambil menyibukkan dirinya dengan berbagai macam buku yang terlihat berserakan di lantai gazebo itu.

Mari sering mencuri pandang ke arah anak laki-laki, yang selalu saja diam itu. Arya terlihat sangat menyayangi adiknya, meski tidak menunjukannya dengan kata-kata, namun dari tindakan yang ia lakukan.

Arya memang cenderung pendiam. Dia lebih suka bertindak ketimbang berkata-kata.

Suatu hari, orang tua Riri mengadakan pesta ulang tahun meriah untuk sang putri. Mari pun turut diundang datang ke acara itu.

Namun, Ibu Mari melarangnya ikut dengan alasan acaranya malam hari.

"Bahaya, Nak. Ibu nggak ijinin kamu pulang malem," seru sang ibu.

Mari kecil pun tertunduk lesu. Ia terus memandangi undangan pesta yang diberikan Riri padanya siang tadi.

Hari itu pun tiba, dan Mari menuruti kata-kata sang ibu. Sedari siang yang biasanya dia pergi ke rumah besar keluarga Riri, hari itu dia memilih untuk berdiam diri di rumah, selepas mengantarkan cucian bersih kepada pelanggan

Malam harinya, Mari duduk di ruang depan. Ruangan yang biasanya disebut ruang tamu, namun tak memiliki sofa empuk. Hanya ada tikar lapuk yang terbentang di salah satu sisinya. Di situ lah mari duduk termenung.

Tiba-tiba, tepat pukul sembilan malam, pintu depan di ketuk seseorang.

Mari kecil menoleh dan menatap takut, kalau-kalau yang datang adalah sang ayah, dan akan kembali melukai ibunya.

"Mari! Mari!"

Terdengar sebuah suara kecil yang memanggil namanya dari arah luar.

Mari sangat hapal dengan suara itu. Senyumnya melebar, dan ia pun segera bangkit dari duduknya lalu kemudian berjalan mendekati pintu.

Ketika pintu itu dibuka, Ia melihat temannya dan sang kakak telah berdiri di depan rumahnya.

"Riri!" panggil Mari lirih.

Dia masih tak percaya, jika temanya itu mendatangi rumah jeleknya malam-malam begini.

"Kenapa tadi nggak dateng? Aku nungguin kamu lho," gerutu Riri kecil.

"Maaf ya, Ri. Ibuku nggak ngijinin kalo harus pulang malem," sahut Mari tertunduk.

Ia merasa tidak enak dengan temannya, yang sudah dengan sangat baik, mengundang dirinya ke pesta itu.

"Ayo, Ri. Kita nggak bisa lama-lama di sini!" Arya memberi peringatan kepada sang adik.

"Ini aku bawain kue ulang tahun sama bingkisannya, buat kamu." Riri menyodorkan sepotong kue yang sudah di bungkus mika dan sebuah bingkisan kepada Mari kecil.

Mari seketika mengangkat wajahnya dan menatap haru benda-benda yang diulurkan oleh tanga Riri kecil kepadanya.

"I … ini buat aku?" tanyanya.

"Ehm …," angguk Riri.

Mari pun menerimanya dengan senang hati.

"Udah kan? Ayo pulang!" ajak Arya lagi.

"Iya, Kak." Riri menyahut.

"Mari, aku pulang dulu yah. Salam buat ibu kamu dari Mamih," ucap Riri kecil.

"Makasih ya, Ri." sahut Mari.

Riri hanya tersenyum. Ia lalu pergi dari tempat kumuh itu bersama kakaknya, kembali ke istana besar nan megahnya di komplek sebelah.

Ibu Mari yang sedari tadi melihat dari dalam rumah, merasa terharu menyaksikan betapa sang anak begitu bahagia mendapatkan teman untuk pertama kalinya.

Namun, terbersit sebuah kekhawatiran di benaknya.

"Kenapa harus orang yang berpunya, Mari? Kenapa tidak yang seperti kita saja? Ibu takut kamu akan kecewa nantinya," batin sang ibu, yang terus menyaksikan putrinya, begiu senang mendapatkan kue dan juga bingkisan dari temannya.

Tak terasa, tiga tahun sudah berlalu, sejak pertemuan Mari dan Riri di kebun bambu kala itu. Kini, keduanya sudah berusia tiga belas tahun, dan tengah duduk di bangku SMP, akhir semester dua. Sedangkan Arya, dia sudah mengenakan seragam putih abu-abu sejak dua tahun lalu.

Anak laki-laki itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dan digilai oleh banyak teman perempuannya di sekolah.

Bahkan, tak jarang yang dengan tiba-tiba datang ke rumah, hanya untuk sekedar memberikan sesuatu kepadanya. Mereka tak pernah jera, meski Arya selalu menolak mereka atau pun benda-benda dari mereka.

Sikap Arya masih sama, dingin. Namun, belakangan, Arya yang tadinya selalu diam saat bertemu Mari, tiba-tiba mulai mau mengajaknya bicara.

"Hei, bocah!" panggilnya di suatu siang, ketika Mari sedang berada di gazebo taman, sambil berkutat pada buku gambarnya.

Mari seketika mendongak, dan melihat pemuda itu sudah berdiri di depannya, dengan membawa tas ransel yang selalu ia bawa ketika datang ke gazebo itu.

Dia tiba-tiba melepas alas kakinya, dan naik ke atas gazebo itu, lalu duduk di samping Mari, yang beringsut ke samping, memberi tempat untuk pemuda itu duduk.

"Gambarmu bagus," ucapnya sambil melirik sekilas, gambar yang tengah dibuat Mari.

Mari masih diam, karena masih terkejut dengan kehadiran Arya.

"Sejak kapan manusia salju bisa ngomong?" batin Mari, ketika melihat Arya yang tiba-tiba mengajaknya bicara.

Selama tiga tahun berteman dengan Riri, tak sekali pun Arya mengajak bicara Mari secara langsung. Pemuda itu lebih banyak diam, walau matanya selalu memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu.

"Heh! Ditanya malah bengong," seru Arya yang merasa pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh lawan bicaranya.

"Eh … oh … itu … anu … Ka … Kakak ngomong apa tadi?" tanya Mari dengan tergagap.

Arya menghela nafasnya kasar, sambil menurunkan bahunya, lalu menggeleng pelan.

"Ma … maaf, Kak. Aku nggak fokus tadi," ucapnya lagi, saat pemuda itu kembali mendiamkannya.

"Itu kamu yang bikin?" tanya Arya sambil menunjuk gambar di buku Mari dengan sudut matanya.

"Iya, Kak. Ini tugas sekolah ku. Disuruh gambar pemandangan, tapi aku kan nggak pernah lihat pemandangan apa-apa, jadi ya ku gambar kebun bunga ini aja," jawab Mari sambil kembali membungkuk dan melanjutkan gambarnya.

Arya melihat dari ekor matanya, bagaimana jari jemari gadis di sampingnya itu, dengan lincah memainkan pensil yang jauh dari kualitas baik untuk menggambar, namun hasilnya sungguh luar biasa.

Goresan demi goresan yang ia buat, menciptakan sebuah objek yang nampak hidup dan indah. Dia begitu terkesima, hingga tanpa sadar, kini posisinya telah berubah.

Dia duduk menghadap ke arah Mari, dan melihat secara langsung bagaimana gadis itu mengukir keindahan di depannya, tanpa mencuri pandang seperti sebelumnya.

.

.

.

.

Masih flash back🤭😅✌

sabar … sabar … biar pol dulu kisah masa kecil mereka 😁, yang mau lihat spoiler biar nambah penasaran dan makin greget, ada di ig othor yah @shan_neen2601, kuy cek😊

Yuk, boleh nih siram kopi segentong😁 biar othornya kuat melek tiap malem buat siapin eps selanjutnya😅

Jangan lupa tinggalkan like dan komen di bawah ya😊

1
Verlit Ivana
Mungkin seulas Kak kalau senyum, seutas cocok untuk tali.
*cmiiw
🐌KANG MAGERAN🐌: iya bener 😅 maaf ken🤭
total 1 replies
Verlit Ivana
mantap Kak, penggambaran tragisnya kena. /Smile/
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih kak
total 1 replies
Verlit Ivana
Kak, mungkin karena pake tanda seru ya, aku bacanya si petugas kayak sambil bentak. /Frown/.
🐌KANG MAGERAN🐌: gemes kan lihat tulisan acak-acakan
total 5 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih mbak Author sudah di ijinin baca Marathon 👍🌹❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga junior mau lounching
Bundanya Pandu Pharamadina
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
❤❤❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
perasaan sudah baca, otw lagi 👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
mundur alon alon sing penting tetep gadi konco yo mbak Author
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga nanti bahagia Lingga Mira
Bundanya Pandu Pharamadina
part ulang yah kaka Author👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
ternyata yg nolong Arya(Lingga) tek kira Thomas
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga Mira 👍❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Mira😭😭😭😭
Bundanya Pandu Pharamadina
ada teka teki hubungan apa antara mama Mirna (Shofia) sama Thomas dan mami Ge*mo
Bundanya Pandu Pharamadina
tMira itu bukan teripang tapi anak konda
Bundanya Pandu Pharamadina
per*ek teriak per*ek duhhh🤭🤭
Bundanya Pandu Pharamadina
ihhh sampai ikutan gos²an bacanya
Bundanya Pandu Pharamadina
Mungkin Mari /Mari belum siap untuk kembali seperti dulu Lingga
Bundanya Pandu Pharamadina
mungkinkah dia(Lingga) anak dan keluarga yg di tolong Mira🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!