Dibalik gagahnya sneli yang para dokter gunakan ketika bertugas, tak banyak yang tahu bahwa untuk bisa mengenakan jas putih itu dibutuhkan perjuangan yang luar biasa.
"Everyone can easily wear a black coat, but not the white one."
dr. Meita Trunajaya
Cerita ini tidak hanya menceritakan bagaimana kerasnya perjuangan para dokter, melainkan juga menceritakan kisah-kisah rumit percintaan yang mungkin tidak banyak orang awam mengerti.
Konflik yang terjadi hanyalah imajinasi author semata, begitu pula dengan nama-nama tokoh yang disebutkan dalam cerita, apabila ada kesamaan, maka itu murni unsur ketidaksengajaan.
Happy Reading ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Yudha sedikit kikuk ketika malam ini ia di undang Dewi untuk makan malam bersama. Ia tahu bahwa tujuan Dewi kesini adalah untuk melihat sejauh mana keseriusannya. Tangannya lumayan dingin, padahal ia baru saja duduk di kursi resto yang suasananya cukup tenang dan sangat santai itu. Yudha berusaha setengah mati untuk tidak gugup, karena ia tahu wanita paruh baya di depannya itu sangat pandai membaca mimik wajah, membaca pikiran dan hati orang dari wajahnya. Ya terkadang psikiater punya kelebihan di situ, ia bisa tahu beban apa yang dipikul pasiennya meski tidak spesifik. Dan malam ini Yudha merasa ditelanjangi!
"Kenapa gugup seperti itu, Nak Yudha? Kita santai aja ya!" Dewi tersenyum, ia menutup buku menu itu lalu menyerahkannya ke Melisa.
Mamp*s! Yudha tersenyum kecut, baru saja membatin, dan dia sudah kena! Dalam hati Yudha memaki dirinya sendiri, kemarin mati-matian minta ketemu dan ingin melamar Lili, tapi kenapa sekarang gugup seperti ini?
"Mas, mau pesen apa?" suara santai Lili membuyarkan makian Yudha kepada dirinya sendiri.
"Sama aja kayak kamu!" jawabnya sambil mengusap-usap tangganya di bawah meja.
"Ok deh!" ujar Lili yang masih melotot membaca buku menu dengan serius.
Yudha setengah mati berusaha fokus, namun karena ini pengalaman pertama kalinya menghadapi situasi seperti ini, ia kewalahan mengendalikan dirinya sendiri.
"Selama koass Melisa nggak bandel kan orangnya, Nak Yudha?" Dewi membuka percakapan ketika semua membisu dalam pikiran masing-masing.
"Ah ... tidak, Tante. Dia cukup cekatan dan sangat membantu!"
Dewi tersenyum, tanpa bertanya pun sebenarnya ia sudah sangat mengenal bagaimana putrinya. "Jadi langsung pada intinya saja ya, daripada semua canggung dan gugup seperti ini!"
Yudha tersentak, ia merasakan kaki dan tangannya makin dingin. Ia mencoba menekan semua rasa gugupnya, dan gadis di depannya membuat keberanian nya perlahan muncul.
"Sebelumnya saya minta maaf kalau sedikit lancang, Tante! Saya kenal Melisa mungkin belum lama, namun entah mengapa saya merasa bahwa dia sosok yang selama ini saya cari untuk saya jadikan pendamping!" Yudha setengah mati berpikir, dan kata-kata ini yang dapat terucap sekarang!
Lili ikut menengang, air mukanya tak beraturan. Kadang putih, biru, merah, Yudha dapat membaca itu dari matanya.
"Apa yang membuat Nak Yudha yakin?" Dewi menatap Yudha dengan mata teduh, namun Yudha tahu dibalik mata itu ia sedang berusaha menyelam jauh ke pikiran dan hatinya!
"Sebelumnya saya sudah cukup lama tidak tertarik dengan hubungan seperti ini bahkan pernikahan, Tante! Kejadian di masa lalu yang pernah saya alami membuat saya trauma dengan hubungan macam ini. Namun entah mengapa ketika saya berjumpa dengan Melisa, rasa ingin memiliki dan dimiliki yang sudah lama sekali hilang dari diri saya tiba-tiba muncul, dan semakin kuat!" Yudha membeberkan semua, percuma ia berbohong karena ia tahu Dewi akan mampu mengendus trauma yang pernah ia alami.
Dewi hanya mengangguk pelan, tak membantah dan membiarkan Yudha melanjutkan pembicaraan.
"Dulu banyak yang mengira saya memiliki kelainan orientasi seksual, tidak ada satupun wanita yang berhasil membuat saya tertarik. Tapi saya juga tidak tertarik dengan sesama laki-laki, yang membuat saya yakin bahwa saya masih normal." Yudha menarik nafas dalam-dalam. "Saya menepis semua perasaan itu dengan hanya fokus pada karir, setelah selesai internship, saya memutuskan untuk lanjut ambil PPDS. Semua karir saya lancar namun perasaan ganjil itu masih saja menghantui dan tak mau hilang, meski saya sudah melupakan semuanya dan berusaha membuka lembaran baru!"
"Tante tak perlu menanyakan apa yang sudah membuat mu sebegitu trauma dengan hubungan dan wanita, Yudha! Karena Tante paham untuk sampai tahap dimana kamu bisa melupakan dan bangkit dari keterpurukan mu itu sangat sulit!" Dewi akhirnya bersuara.
Yudha menatap wanita itu dengan kelegaan luar biasa, jujur ia tak mau lagi mengingat tentang semua yang telah melukainya. Menyebut nama itu atau dan lain sebagainya.
"Tante paham, kamu telah melewati masa-masa sulit dimana memperbaiki mental dan kepercayaan tak semudah membalikkan telapak tangan!" Dewi menarik nafas dalam-dalam, matanya menatap lurus. "Tapi satu hal yang ingin Tante tekankan, bahwa Tante tak ingin hubungan kalian dalam bayang-bayang! Tante tak ingin putri Tante satu-satunya hidup dalam bayangan orang lain di matamu!"
Yudha mencoba mencerna itu semua. Dalam bayang-bayang?
"Jika dia -yang tak perlu kita sebut namanya itu- masih ada dalam pikiranmu dan hatimu, dalam kebencian sekalipun, maka terus terang, Tante tidak akan menyerahkan putri Tante kepadamu!" Dewi menghirup teh hangatnya, lalu kembali serius. "Paham maksudnya?"
"Paham! Tapi saya sudah sejak dulu, sejak lama melupakan dia, Tante! Saya sudah membuang jauh-jauh semua tentang dia, dan saya memang sudah tidak sedikitpun memikirkan dia." Yudha merasa nafasnya berat, entah sekarang semua berkecamuk campur aduk.
"Lalu kenapa kamu sampai bertahun-tahun terpuruk dan menjauhkan diri dari wanita?" pancing Dewi dengan tatapan penuh tanya.
"Hanya satu, Tante ..." Yudha menggantung kalimatnya, matanya menerawang jauh. "Luka itu ... saya hanya takut terluka kembali ..."
***
Melisa masih memikirkan kata-kata Yudha tadi, ketika maminya masuk ke kamar dan duduk di samping ranjangnya.
"Mikir apa sih, Mel?"
"Mami pengen tahu Mas Yudha itu trauma karena apa?" Melisa bangun dan duduk di samping maminya.
Dewi mengerutkan kening, "Memang kamu tahu?"
"Danisa cerita semua, Mi! Abang dia temen sakit kelas Mas Yudha!"
Dewi mengangguk-anggukkan kepala. "Sebenarnya tak perlu cerita sih Mami sudah bisa nangkap apa yang bikin orang trauma sampai segitunya, tapi nggak ada salahnya juga sih kalau kamu mau cerita!"
"Jadi ceritanya ..."
"Ets, tapi ini valid kan?" Dewi memotong, baginya tak peduli seberapa bagus cerita yang ia dengar, ia hanya mau cerita yang sebenarnya, walaupun amat buruk kenyataan cerita tersebut.
"Valid lah, Mi! Semua dokter dan perawat di rumah sakit juga membenarkan!"
Dewi mengangguk-anggukkan kepala lagi, "Kalau begitu ceritakan!"
***
'Tapi satu hal yang ingin Tante tekankan, bahwa Tante tak ingin hubungan kalian dalam bayang-bayang! Tante tak ingin putri Tante satu-satunya hidup dalam bayangan orang lain di matamu!'
Yudha mengembuskan napas, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Ucapan Dewi masih membekas dalam pikirannya. Betulkah bayang-bayang wanita itu masih ada alam pikiran dan hatinya? Rasanya tidak! Ia sudah membuang jauh-jauh itu semua, namun memang luka itu tak mudah untuk disembuhkan apalagi dihilangkan.
Ia mengakui bahwa kadang luka itu masih sering muncul dan menghantui. Apakah itu berarti ia masih memikirkan dan menyimpan di pemberi luka dalam hati dan pikirannya?
Ia bahkan tak tahu sekarang dia di mana, bagaimana, jadi seperti apa, ia sama sekali tak peduli dan tak ingin mencari tahu! Yang ada di pikiran dan hatinya sekrang hanya Lili, Melisa Atmajaya!
G percaya?
Sy punya sample nyata :ipar
Krn ego yg tinggi tdk terima penolakan jadi maksa..