Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Pagi itu, ruang sidang Pengadilan Negeri terasa terlalu terang.
Suparti duduk di bangku pengunjung dengan map cokelat di pangkuan. Di dalamnya ada salinan gugatan cerai, daftar harta bersama, bukti transfer yang dulu membuatnya terhina, dan rekaman suara Jenny yang sudah diserahkan Cynthia ke pihak terkait. Kertas-kertas itu tidak wangi, tidak indah, tetapi bagi Suparti lebih berharga daripada semua perhiasan yang pernah Handoko berikan pada Jenny.
Cynthia duduk di sampingnya. "Bu Suparti, apa pun yang terjadi hari ini, jangan terpancing."
"Saya sudah terlalu tua untuk terpancing teriakan laki-laki."
Cynthia tersenyum tipis. "Saya lebih khawatir pada payung Ibu."
Suparti melirik payung cokelat yang ia sandarkan di kaki kursi. "Payung ini diam kalau tidak diganggu."
Pintu samping terbuka.
Handoko masuk dengan pengawalan. Wajahnya lebih pucat daripada kemarin. Matanya cekung, tetapi ia tetap berusaha mengangkat dagu. Pak Hendra berjalan di belakangnya membawa map biru, kali ini tanpa senyum negosiasi.
Sidang dimulai dengan pemeriksaan singkat atas kesepakatan pembagian harta bersama. Hakim membacakan poin-poinnya satu per satu. Sebagian aset masuk proses pidana dan penyitaan negara. Bagian yang tersisa dibagi dengan porsi yang disepakati, tujuh puluh persen untuk Suparti, tiga puluh persen untuk Handoko setelah dikurangi kewajiban tertentu.
Suparti mendengar angka itu dengan dada yang tidak sesesak dulu.
Ia tidak mendengar kemenangan.
Ia mendengar pintu rumah lama akhirnya dibuka dari luar.
"Tergugat memahami isi kesepakatan?" tanya hakim.
Handoko menelan ludah. Ia tidak langsung menjawab.
Pak Hendra membungkuk mendekat, berbisik. Handoko memejamkan mata sejenak, lalu berkata, "Saya memahami."
"Apakah tergugat menyetujui perceraian ini?"
Ruang sidang hening.
Suparti bisa melihat rahang Handoko bergerak. Laki-laki itu masih ingin mempertahankan sisa kekuasaan. Masih ingin membuatnya menunggu. Masih ingin berkata bahwa seorang istri baru selesai jika suaminya mengizinkan.
Namun telepon yang diterima Pak Hendra sebelum sidang tadi sudah mengubah segalanya. Jenny menghubungi lagi, menangis, mengaku butuh uang segera untuk pengobatan. Handoko mendengarnya dari pengeras suara kecil di ruang tunggu. Saat itu wajahnya bukan wajah suami yang iba, melainkan wajah lelaki yang sadar dirinya masih ingin dipercaya oleh perempuan yang telah mempermainkannya.
Ironis.
Ia menyetujui cerai bukan karena menyesal pada Suparti, tetapi karena masih berharap bisa menyelamatkan Jenny.
"Saya setuju," katanya akhirnya.
Kata itu tidak keras.
Tetapi bagi Suparti, bunyinya seperti rantai tua jatuh ke lantai.
Ia teringat pagi pertama pernikahannya, saat seorang kerabat Handoko berkata bahwa perempuan baik harus pandai menyesuaikan diri. Ia menyesuaikan diri sampai tubuhnya lupa meminta istirahat. Ia menyesuaikan diri sampai mulutnya lupa cara membantah. Ia menyesuaikan diri sampai uang seratus ribu sebulan pun ia terima seperti nasib.
Hari ini, di ruangan yang sama sekali tidak romantis, ia belajar bahwa nasib bisa dibatalkan oleh satu kalimat hukum.
Hakim mengetuk palu. Putusan dibacakan. Gugatan cerai dikabulkan. Perkawinan Suparti Wijaya dan Handoko Susanto dinyatakan putus menurut hukum setelah seluruh tahapan pencatatan dijalankan sesuai prosedur. Pembagian harta bersama mengikuti kesepakatan yang tercatat.
Cynthia menyentuh punggung tangan Suparti.
"Selamat, Bu."
Suparti tidak menangis. Belum. Ia hanya menatap tanda tangan di surat putusan, menatap namanya sendiri yang berdiri tanpa nama Handoko di belakangnya.
Suparti Wijaya.
Nama itu pendek, tetapi terasa cukup.
Setelah sidang ditutup, petugas medis yang mendampingi tahanan mendekati Pak Hendra dengan amplop hasil pemeriksaan. Awalnya Suparti tidak berniat mendengar. Namun suara Pak Hendra berubah tegang.
"Stadium lanjut?"
Handoko merebut kertas itu. Matanya bergerak cepat membaca baris-baris medis. Wajahnya kehilangan warna.
"Tidak mungkin," bisiknya. "Hasilku dulu..."
Suparti menatapnya.
Dulu, saat laporan pemeriksaan pertama masuk, Handoko begitu yakin dunia akan menaruh kasihan padanya. Ia memakai penyakit sebagai alasan untuk menekan, menunda, dan bernegosiasi. Kini kertas itu tidak lagi menjadi senjata. Kertas itu menjadi cermin.
Petugas medis menjelaskan beberapa istilah dengan suara datar. Rujukan lanjutan. Pemeriksaan tambahan. Kemungkinan perawatan paliatif jika kondisi memburuk. Kata-kata itu tidak keras, tetapi setiap kata membuat Handoko tampak menyusut.
Pak Hendra berusaha menahan bahu kliennya. Handoko menepis tangan itu.
"Pak Handoko," kata petugas medis hati-hati, "hasil lanjutan menunjukkan kanker lambung sudah stadium lanjut. Perlu pemeriksaan lebih detail di rumah sakit rujukan."
Handoko menatap Suparti seolah ia penyebab semua itu.
"Kau tahu?"
"Aku tahu kau sakit," jawab Suparti. "Aku tidak tahu Tuhan begitu cepat memberi laporan lengkap."
Handoko menggigil. "Kau mendoakan aku mati?"
"Tidak. Aku hanya berhenti mendoakan kau hidup nyaman di atas penderitaan orang lain."
Ia hendak pergi ketika Cynthia menerima isyarat dari staf pengadilan. Ada permintaan pemutaran bukti tambahan terkait penggunaan dana harta bersama untuk pihak ketiga. Hakim mengizinkan sebagian rekaman diputar sebagai lampiran perkara perdata.
Suara Jenny memenuhi ruang yang masih setengah kosong.
Handoko terlalu mudah. Dia ingin dipuja, aku memberinya pujian. Dia ingin uangnya terasa berguna, aku pura-pura sakit.
Tangan Handoko yang memegang hasil medis gemetar.
Rekaman berlanjut.
Aku memakai apa yang bisa kupakai.
Kalimat itu membuat wajah Handoko runtuh.
Selama puluhan tahun, ia memilih Jenny karena merasa perempuan itu membuatnya muda, penting, dibutuhkan. Ia mencampakkan Suparti karena menganggap istrinya terlalu biasa. Ia memelihara cinta lama sebagai panggung untuk egonya sendiri. Dan pagi itu, di ruang sidang yang terang, panggung itu dibongkar dengan suara Jenny sendiri.
"Matikan," bisik Handoko.
Tidak ada yang langsung bergerak.
"Matikan!" suaranya pecah.
Petugas menghentikan rekaman setelah bagian yang diperlukan selesai. Namun kerusakan sudah terjadi. Pak Hendra menutup mata. Beberapa orang di belakang berbisik. Handoko berdiri, lalu goyah.
Suparti melihatnya seperti melihat pohon tua yang bagian dalamnya ternyata sudah busuk.
Ia tidak bersorak.
Ia tidak merasa kasihan.
Ia hanya lelah.
Handoko jatuh sebelum sempat duduk kembali. Petugas medis berteriak meminta ruang. Orang-orang bergerak kacau. Kursi bergeser, map jatuh, suara langkah memenuhi ruang sidang.
Cynthia menarik Suparti menjauh. "Bu, kita keluar."
Suparti mengikuti. Di koridor, udara terasa lebih panas, tetapi dadanya lebih ringan. Ia berdiri di dekat jendela, memegang surat putusan dengan kedua tangan.
Di balik pintu, suara petugas medis masih terdengar. Ada yang memanggil ambulans tahanan. Ada yang meminta air. Ada yang menyuruh orang menjauh. Handoko sedang menjadi pusat keributan, seperti yang selalu ia sukai. Bedanya, kali ini tidak ada yang memandangnya dengan kagum.
Suparti menatap kertas di tangannya.
Cap resmi di sudut bawah tampak biasa saja. Tidak ada cahaya turun dari langit. Tidak ada musik. Tidak ada orang berlutut meminta maaf. Tetapi bagi perempuan yang pernah menunggu izin untuk membeli minyak goreng, cap itu adalah pintu keluar yang nyata.
Tiga puluh tahun hidupnya tidak kembali.
Anak-anak yang hilang dari hatinya tidak seketika menjadi baik.
Luka yang ditinggalkan Kevin, Vivian, Handoko, dan Jenny tidak hilang hanya karena satu palu hakim.
Tetapi hari ini, sesuatu yang mengikat lehernya putus.
Cynthia menyerahkan salinan rincian pembayaran. "Setelah biaya kuasa hukum dan administrasi selesai, dana bersih yang Ibu pegang sekitar dua juta tujuh ratus tiga belas ribu rupiah. Tidak besar dibanding daftar harta mereka, tapi cukup untuk memulai sesuatu yang benar-benar milik Ibu."
Suparti menatap angka itu. Dulu seratus ribu sebulan membuatnya harus memilih antara membeli telur atau obat. Kini angka itu bukan akhir kemiskinan, tetapi awal kebebasan.
"Saya akan pakai baik-baik," katanya.
"Ibu ingin langsung pulang?"
Suparti menggeleng. "Saya ingin melihat Handoko dibawa keluar dulu."
Cynthia ragu. "Untuk apa?"
"Supaya saya ingat. Bahkan orang yang paling lama membuat saya takut bisa jatuh tanpa saya menyentuhnya."
Mereka berdiri di ujung koridor. Beberapa menit kemudian, brankar didorong keluar. Handoko berbaring dengan wajah abu-abu, satu tangan masih menggenggam kertas hasil medis yang kusut. Matanya terbuka sedikit ketika melewati Suparti.
Tidak ada kata maaf.
Tidak ada panggilan lembut.
Hanya tatapan orang yang baru sadar bahwa perempuan yang dulu ia abaikan akan terus hidup setelah namanya runtuh.
Suparti tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menurunkan pandangan pada surat putusan, lalu melipatnya rapi ke dalam map.
Di luar gedung pengadilan, panas Surabaya menampar wajahnya. Beberapa wartawan lokal berdiri jauh di balik pagar, tetapi kali ini Suparti tidak menunduk menghindar. Ia berjalan pelan, melewati mereka dengan payung cokelat terlipat di tangan.
Seseorang memanggil, "Bu Suparti, bagaimana perasaan Ibu setelah resmi bercerai?"
Suparti berhenti sebentar.
Cynthia tampak siap menolak pertanyaan itu, namun Suparti mengangkat tangan kecil.
"Saya tidak merasa menang atas rumah tangga," katanya. "Saya hanya merasa akhirnya boleh hidup tanpa meminta izin pada orang yang menyakiti saya."
Kamera-kamera kecil bergerak. Tidak ada teriakan puas, tidak ada pamer kemenangan. Jawaban itu keluar datar, tetapi justru karena datar, orang-orang di depan pagar terdiam.
Suparti masuk ke mobil dengan map di pangkuan. Tangannya baru terasa gemetar setelah pintu tertutup.
"Bu?"
"Tidak apa-apa," jawabnya. "Ternyata bebas juga membuat orang lemas."
Ia menekan map itu ke dada, lama sekali, diam.
Ponsel Cynthia bergetar. Ia membaca pesan masuk, lalu wajahnya berubah.
"Bu Suparti."
"Apa?"
Cynthia menatapnya dengan serius. "Kantor menerima kabar dari pihak hotel. Cindy membawa uang tunai dan menghilang. Timmy ditinggalkan sendirian di kamar."