Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
"Diskusi di luar kantor?" ulang Keira.
Suaranya tidak bergetar. Itu hampir mengecewakan Pak Dharma.
Pria itu mencondongkan tubuh sedikit. "Kamu anak pintar. Jangan pura-pura tidak mengerti."
Keira menatap map di pangkuannya. "Saya mengerti bahwa promosi punya prosedur HR dan evaluasi tertulis."
"Teori." Pak Dharma tersenyum. "Di dunia nyata, orang naik karena ada yang menarik."
"Atau karena ada yang menjatuhkan."
Mata Pak Dharma mengeras. "Kamu sedang mengancam saya?"
Pintu terbuka sebelum Keira menjawab.
Siska masuk membawa dua gelas kopi plastik. Wajahnya dibuat polos sampai hampir lucu.
"Pak, maaf. Saya kira Nona Tan masih butuh kopi. Tadi dia bilang kepalanya agak pusing."
Pak Dharma langsung mundur setengah langkah. Senyumnya kembali dipasang.
"Kami sedang diskusi pekerjaan."
"Oh. Saya taruh sini ya."
Siska meletakkan kopi di meja dengan tangan yang sedikit gemetar. Keira berdiri, menutup map.
"Pak, proposalnya akan saya cek dari meja saya. Kalau ada revisi, saya kirim lewat email supaya track change-nya jelas."
Pak Dharma tidak bisa menahan mereka di depan Siska.
"Baik. Jangan lama."
"Baik, Pak."
Begitu keluar dari ruangan, Siska menarik napas keras.
"Gue pengin muntah."
"Jangan di sini. CCTV lorong bagus."
"Lo masih mikirin CCTV?"
"Selalu."
Keira berjalan ke mejanya, mengambil tas, lalu mengirim rekaman malam itu ke penyimpanan cloud. Ia belum mengirimnya ke Richard. Belum. Reaksi Richard terlalu kuat jika bukti belum lengkap. Keira butuh Pak Dharma melakukan kesalahan yang tidak bisa dibantah oleh HR, hukum, atau dewan direksi.
Sayangnya, Pak Dharma juga punya naluri bertahan hidup.
Dua hari kemudian, ia mulai mengikuti.
Keira menyadarinya saat keluar dari lobby samping Lim Group Tower. Mobil Richard tidak selalu menjemputnya langsung di depan pintu utama. Kadang Jason meminta sopir berhenti agak jauh agar karyawan lain tidak terlalu banyak bicara. Hari itu, Rolls-Royce B 1 RIC tidak muncul. Sebagai gantinya, sedan hitam Richard berhenti di pinggir jalan, dan Jason turun dari kursi depan.
"Nona Tan," kata Jason. "Pak Lim masih rapat. Saya antar pulang dulu."
"Terima kasih, Ko Jason."
Di seberang jalan, Pak Dharma berdiri dekat minimarket, pura-pura membeli rokok elektrik. Kamera ponselnya terangkat terlalu cepat.
Keira melihat.
Jason juga melihat.
"Perlu saya ambil ponselnya?" tanya Jason datar.
Keira hampir tertawa. "Jangan. Biarkan."
"Pak Lim tidak akan suka."
"Justru karena itu."
Jason menatapnya beberapa detik, lalu membuka pintu mobil. "Nona Tan semakin mirip orang yang Boss tidak boleh lawan."
"Ko Jason memuji saya?"
"Saya sedang mencatat risiko."
Keira masuk ke mobil dengan senyum kecil.
Malamnya, foto itu masuk ke ponsel kantor Keira.
Pak Dharma: Saya tidak menyangka Nona Tan punya hubungan sedekat ini dengan asisten Pak Lim.
Foto berikutnya memperlihatkan Jason membukakan pintu mobil untuk Keira. Sudutnya dipilih dengan licik, membuat wajah Keira terlihat dekat dengan Jason walau jarak mereka sebenarnya normal.
Pak Dharma: Kalau saya kirim ke HR, kira-kira apa kata mereka? Anak magang, asisten pribadi bos besar, mobil mewah. Tidak pantas, kan?
Keira menatap pesan itu lama.
Lalu ia mengetik dengan jari gemetar yang disengaja.
Pak, itu salah paham. Ko Jason hanya mengantar karena diminta Pak Lim.
Balasan datang cepat.
Pak Dharma: Semua orang bisa bilang begitu.
Keira: Bapak mau apa?
Pak Dharma: Besok datang lebih awal. Kita bicara baik-baik. Jangan bawa temanmu.
Keira meletakkan ponsel di meja.
Di cermin kamar Villa Awan, wajahnya tampak pucat. Kali ini aktingnya tidak membutuhkan banyak usaha. Ada kemarahan lama yang naik dari perut, bukan karena ia takut Pak Dharma, tetapi karena pola itu terlalu familiar. Pria dengan kuasa kecil selalu mengira tubuh dan reputasi perempuan bisa dijadikan tombol kendali.
Ia membuka laptop, mengambil foto file sampah yang dulu dilempar Pak Dharma padanya, tangkapan layar pesan grup, rekaman ruang arsip, dan ancaman foto Jason. Ia menyusun semuanya dalam folder rapi.
Tetapi yang ia kirim ke Richard hanya satu foto.
Foto tumpukan file sampah di mejanya, dengan caption pendek.
Om, kalau atasan memberi tugas seperti ini pada anak magang, apakah itu prosedur normal?
Pesan terkirim.
Satu centang.
Dua centang.
Tidak ada balasan.
Keira duduk di tepi ranjang, menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Richard biasanya tidak mengabaikan pesannya selama ini, kecuali sedang rapat penting atau sudah bergerak.
Ponsel bergetar.
Bukan Richard.
Pak Dharma: Besok jam 07.00. Kalau tidak datang, foto ini saya kirim ke grup divisi.
Keira menatap layar, lalu memeluk lutut. Ia membiarkan dirinya terlihat kecil, meski tidak ada yang melihat. Kadang latihan akting paling baik dilakukan sendirian.
Pagi berikutnya, lantai proyek masih sepi ketika Keira datang. Siska belum masuk. Hanya beberapa staf admin dan cleaning service yang lewat.
Pak Dharma sudah menunggu di depan mejanya.
"Akhirnya datang juga."
Keira menunduk. "Pak, foto itu salah paham."
"Saya yang menentukan salah paham atau tidak."
Ia melempar beberapa berkas ke meja Keira. Suaranya cukup keras untuk membuat dua staf menoleh.
"Anak magang jangan merasa bisa berlindung di balik siapa pun. Di sini saya yang menilai kerja kamu."
Keira menggigit bibir, tampak panik. Tangannya diam-diam menekan tombol rekam.
"Pak, saya hanya ingin bekerja baik."
"Kalau begitu patuh."
"Patuh pada pekerjaan, Pak. Bukan pada ancaman."
Wajah Pak Dharma berubah.
"Kamu berani?"
Ia membentak lebih keras. Beberapa kepala muncul dari balik partisi. Siska baru keluar dari lift, wajahnya langsung pucat.
Keira mundur setengah langkah, cukup untuk terlihat takut, cukup juga untuk memberi ruang pada kamera CCTV di sudut plafon. Ia melihat staf procurement menghentikan langkah di dekat printer. Cleaning service yang membawa lap berhenti di lorong. Semua orang berpura-pura tidak mendengar, tetapi telinga mereka terbuka.
"Pak, jangan keras-keras," kata Keira dengan suara kecil.
"Sekarang kamu malu?" Pak Dharma menaikkan dagu. "Kemarin saat naik mobil laki-laki, tidak malu?"
Bisik-bisik langsung pecah, kecil dan cepat.
Keira menunduk. Di balik rambutnya, sudut bibirnya hampir bergerak. Pak Dharma akhirnya memilih panggung sendiri.
Seorang staf junior mengangkat ponsel, lalu cepat-cepat menurunkannya ketika Pak Dharma melirik. Siska berdiri kaku di dekat lift, kedua tangannya mengepal. Wajah beberapa orang menunjukkan rasa tidak nyaman yang selama ini mereka sembunyikan demi aman. Keira mencatat semuanya. Hari ini, bahkan diam mereka punya bentuk.
Pada saat itu, pintu akses eksekutif terbuka.
Langkah sepatu kulit terdengar di lantai proyek.
Seluruh ruangan mendadak diam.
Richard berdiri di depan meja Keira.