NovelToon NovelToon
Cooking With Love

Cooking With Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Tamat
Popularitas:991.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Neen@

"Dasar maling rasakan ini..!" Bugs..Bugs..Brakkk.. Jenar memukul maling itu dengan membabi buta. Setelah dirasa tidak ada pergerakan dari maling itu Jenar membuka mata.
"Whaaattt..! kenapa malingnya pakai jas rapi begini, jangan.. jangan dia tamu di restoran lagi, aduh bagaimana ini, lebih baik aku kabur saja"

Mahesa Jenar seorang gadis yang enerjik, penuh semangat, kecil, mungil dan sederhana yang bekerja sebagai asisten chef di sebuah restoran milik keluarga Akihiko.

Adam Athan Akihiko seorang pengusaha muda sekaligus pewaris tunggal Akihiko corporation yang banyak disukai gadis - gadis muda. Patah hati karena ditinggal kekasihnya Jesica yang seorang designer muda.

Karena suatu insiden harus memaksa mereka untuk selalu bertemu dan membuat suatu perjanjian. Apakah Jenar sanggup menghadapi Adam yang pemilih dalam hal makanan...

Hai perkenalkan aku Neen@
Ini adalah novel pertamaku, mudah - mudahan kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neen@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden

"Pagi mbak Hana."

"Pagi Jenar, ceria amat."

"Heheheheh.."

"Baru jatuh cinta ya?"

"Nggak mbak, mana sempat aku mikir cinta - cintaan." ucap Jenar sambil menaruh tas diloker dan berganti pakaian.

"Jangan bohong."

"Bener, sumpah." ucap Jenar sambil mengangkat dua jarinya.

"Terus yang kasih sepatu itu siapa kalau bukan cowok kamu?"

"Ini memang dikasih cowok mbak, tapi bukan pacar."

"Nggak mungkin, itu sepatu mahal dan edisi couple lho."

"Wah kalau itu aku tidak tahu mbak, ini sepatu ucapan terima kasih karena sudah membantu orang itu." ucap Jenar sambil berusaha meyakinkan Hana

"Iya.. iya.. percaya." ucap Hana sambil memegang pundak Jenar. "Kamu itu masih muda, harusnya bisa menikmati masa muda mu. Sekali - kali hangout dong sama temen kamu kuliah."

"Maunya sih begitu mbak, tapi trauma karena malah jadi bahan bully an. Lagian mana ada yang tertarik denganku yang kecil, pendek, minim duit lagi."

"Eh harus optimis dong."

"Iya..iya.. sudah yuk kita ke dapur." ajak Jenar untuk mengalihkan pembicaraan.

Hana dan Jenar bergegas menuju dapur bergabung dengan yang lain.

Hana segera menuju gudang untuk mengecek stock bahan - bahan makanan, sedangkan Jenar mempersiapkan peralatan memasak. Hari ini tidak terlalu banyak yang melakukan reservasi. Tapi restoran tidak pernah sepi.

"Jenar.." panggil chef Efendi.

"Ya chef."

"Tadi saya mendapat telepon dari asistennya tuan Adam, bahwa sekarang kamu yang bertanggung jawab terhadap makan siang dan malam tuan Adam."

"Baik chef." ucap Jenar sambil mengangguk.

Ternyata ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Sialan kenapa harus anak ingusan itu yang mendapat kepercayaan, pasti dia telah merayu chef Efendi. Dasar licik aku tidak boleh tinggal diam batin Dirga sambil mengepalkan tangannya.

Sementara itu di gudang penyimpanan bahan makanan. Dua sosok manusia dewasa sedang bertengkar.

"Lepaskan Ken..!"

"Hana dengarkan dulu penjelasanku!"

"Apalagi sih Ken, semuanya sudah jelas!" teriak Hana.

"Maaf..maaf..sa..saat itu aku emosi! aku tidak sengaja."

"Aku sudah memaafkan perbuatanmu, tapi untuk menjalin hubungan lagi denganmu aku tidak bisa."

"Please.. aku mohon Hana please jangan tinggalkan aku." rengek Kenzo sambil terus memegangi tangan Hana.

"Tidak aku tidak bisa, kamu selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan, Ken." ucap Hana sambil terisak.

"Kau pasti sudah memiliki pria lain.. iya kan..?! Ayo jawab..?!" teriak Kenzo yang kemudian mencengkeram rahang Hana.

"Lepas..! lepaskan Ken..! kau menyakitiku..!" teriak Hana.

Buugg..buugg.. braakkk..!

"Lepaskan dia brengsek..!" tiba - tiba Bayu datang dari arah belakang langsung menendang Kenzo.

"Pengecut kamu, beraninya sama perempuan..!" teriak Bayu sambil menarik kerah baju Kenzo.

"Sudah..sudah Bayu lepaskan dia, aku tidak apa - apa." lerai Hana.

"Huh.. awas kamu kalau berani menyakiti Hana lagi, aku laporkan kau ke polisi." ancam Bayu sambil menghempaskan Kenzo ke lantai.

"Ayo Hana kita pergi." ajak Bayu kemudian sambil memapah Hana. Bayu mengajak Hana untuk istirahat sebentar di bangku taman. Jenar yang telah mendengar hal ini tergopoh - gopoh menemui Hana.

"Mbak, apa yang terjadi..?" tanya Jenar cemas

"Aku tidak apa - apa, Jenar." ucap Hana sambil mengusap tangan Jenar. "Untung tadi ada Bayu." ucap Hana menoleh kearah Bayu.

"Jadi Kenzo itu pacar mbak Hana..?"

Hana hanya mengangguk - angguk "Aku baru beberapa bulan menjalin hubungan dengannya tapi karena dia temperamental aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami."

"Maaf mbak, aku tidak ada disamping mbak Hana tadi." ucap Jenar sambil memeluk Hana.

"Sudah..sudah yang penting sekarang semuanya berakhir."

"Kita kan teman, kalau ada apa- apa jangan segan - segan minta bantuanku Han." ucap Bayu.

"Iya pasti, terima kasih Bayu, ayo kita kembali kerja."

Mereka bertiga kemudian kembali ke dapur melakukan kegiatan seperti biasa.

Untuk Jenar memang ada tugas tambahan sesuai dengan intruksi chef Efendi. Kali ini ia membuat Charsiu Ayam dengan Nasi Hainan sesuai dengan pesanan Adam tadi pagi.

Ting nada notifikasi dari handphone milik Jenar bahwa ada pesan masuk.

'Antar makan siangku sekarang' dengan cepat Jenar membalas 'siap'

Segera ia menuju ruang karyawan untuk berganti baju. Hanya dengan menggenakan kemeja putih dengan ruffles dipadu overall warna bata dan tak lupa sneakers kesayangan dan satu - satunya.

Jenar segera melajukan sepeda listriknya menuju hotel Akihiko. Tak berapa lama sampailah ia ditempat kerja Adam dan masuk ke lobby untuk menitipkan makanan ke resepsionis.

"Maaf mbak, saya mau mengantarkan makan siang untuk pak Adam."

"Dengan mbak Jenar ya..?" tanya resepsionis. Jenar hanya mengangguk - angguk.

"Saya mendapat pesan dari pak Shawn agar mbak Jenar naik ke lantai dua puluh, ini kartunya."

Tumben aku disuruh naik ke lantai dua puluh pikir Jenar, sudahlah nurut saja daripada kena marah lagi. "Terima kasih mbak." ucap Jenar sambil menerima kartu itu.

Jenar segera naik lift menuju lantai dua puluh, tak lama pintu terbuka. Pemandangan luar biasa disuguhkan disana, sebuah taman yang indah yang dikelilingi dengan kaca tebal yang besar sehingga bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari atas. Tak jauh dari sana ada seorang wanita muda dan cantik duduk dibelakang meja.

"Selamat siang mbak, saya mau mengantarkan makan siang untuk pak Adam."

Wanita itu mendongak dan menatap wajah Jenar "Oh dari restoran ya, taruh saja disitu." perintahnya sambil menunjuk tempat kosong diatas mejanya.

"Ta..ta..tapi mbak.."

"Apalagi, nanti aku sampaikan ke pak Adam sendiri. Sudah sana aku sedang sibuk." usir Denisha.

"Baik.. permisi." pamit Jenar sambil melangkah menuju lift.

"Jenar tunggu!" teriak Shawn yang tiba - tiba keluar dari ruangan Adam. "Siapa suruh kamu pulang?" lanjutnya sambil menghampiri Jenar

"Itu tadi kata mbaknya makan siangnya akan diantar sendiri." jelas Jenar.

"Cepet kamu masuk pak Adam sudah menunggu didalam." perintah Shawn.

Jenar segera melangkah menuju ruang kerja Adam, tak lupa ia mengambil makan siang diatas meja Denisha.

"Eh, kamu..." ucap Denisha

"Biarkan dia masuk, pak Adam sudah menunggu." cegah Shawn.

Denisha mendengus kesal.

Tok..tok..tok.. Jenar mengetuk pintu

"Masuk." perintah Adam dari dalam ruangan dengan suara baritonnya.

Kemudian Jenar membuka pintu agak ragu - ragu. Dengan canggung dia masuk keruangan yang ukurannya lebih besar dari rumah sewanya. Gila ruangan segede ini cuma ditempati dia saja batin Jenar sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Pandangannya terhenti pada sosok didepannya yang mengenakan vest warna hitam dipadukan kemeja warna pastel yang terbuka kancing atasnya dengan lengan yang sedikit tergulung. Hmmm ternyata kalau dia serius bekerja tampan juga.

"Kenapa..? terpesona melihat ku." tiba - tiba suara Adam membuyarkan lamunan Jenar.

"Siapa yang memperhatikan bapak, saya cuman bingung ini makan siangnya mau ditaruh mana?" ucap Jenar.

"Taruh dimeja itu dulu." sambil menunjuk meja yang ada ditengah sofa warna abu tua. "Sepuluh menit lagi aku selesai." lanjutnya.

Jenar menuju meja yang ditunjuk oleh Adam. Setelah itu menaruh makan siang dan menatanya. Kemudian duduk untuk menunggu perintah selanjutnya. Pandangannya tertuju pada sebuah rak yang berisi buku - buku mirip dengan perpustakaan kecil. Dia berdiri dan melangkah menuju rak itu.

Wah banyak sekali bukunya.. oh yang baris ini tentang bisnis gumam Jenar sambil manggut - manggut. Ada novel juga.. tunggu itu ada buku - buku dari chef Yoshihiro Murata, sudah lama aku ingin baca. Jenar berusaha meraih buku itu. Aduh nggak nyampe, tinggi sekali batin Jenar sambil berjinjit. Susah banget sih Jenar kemudian melompat - lompat agar dapat mengambil buku itu. Tiba - tiba dari belakang ada tangan panjang yang membantunya mengambil buku itu. Aroma musk dan woodsy tercium sehingga memberi kesan lembut, elegan dan hangat.

Karena kaget Jenar membalikkan badan dan mendongak keatas melihat siapa yang berada dibelakangnya.

"Pendek sih." ucap Adam sambil meletakkan buku diatas kepala Jenar.

"Terima kasih." ucap Jenar tersipu

"Jangan bengong disitu, temani aku makan."

"E.. Iii..ya." Jenar bergegas menghampiri Adam disofa.

Adam makan dengan lahap tanpa sisa. Jenar yang memperhatikan merasa puas akan hasil masakannya.

"Untuk makan malam buatkan aku Beef Steak dengan Black Pepper Sauce. Ingat daging Wagyu jangan sampai overcock." perintahnya kemudian.

"Baik pak." jawab Jenar.

"Kira - kira.. saya bisa pinjam tidak buku yang tadi?" tanya Jenar sambil memainkan kukunya.

Adam tersenyum melihatnya persis seperti anak kecil yang minta uang untuk beli permen "Boleh."

"Benarkah?" mata Jenar berbinar. "Yes..!" teriaknya kegirangan.

"Jangan senang dulu, ada syaratnya." potong Adam. "Kalau kamu bisa memasak steak sesuai dengan seleraku, aku akan meminjamkan buku itu." lanjutnya.

"Siap.. saya pasti tidak akan mengecewakan bapak." jawab Jenar mantab. "Kalau begitu saya permisi dulu pak."

Adam mengangguk mengijinkan. Dengan semangat Jenar kembali ke restoran sambil memikirkan inovasi apa yang akan dia berikan agar steaknya menjadi sempurna. Karena tidak mudah menghasilkan steak yang matang diluar dan lembut didalam.

Tidak perlu memakan waktu yang lama, Jenar sudah tiba kembali ke restoran. Ia langsung menuju ke dapur.

"Dari mana saja kamu..?!"

"Mas Dirga, bikin kaget saja."

"Kamu tahu tidak! kamu digaji disini itu untuk bekerja bukan keluyuran!" ucap Dirga dengan nada marah.

"Maaf mas, aku tidak keluyuran kok." ucap Jenar membela diri. "Aku keluar restoran juga karena ada perintah dari chef Efendi."

"Jangan banyak alasan, paling itu akal - akalanmu saja." ucap Dirga sambil mencibir.

Sambil menarik napas panjang "Mas Dirga, kenapa mencari masalah terus denganku?" tanya Jenar dengan nada menahan emosi.

"Karena kamu anak kemarin sore yang belagu! Ngerti!"

"Cukup ya mas! atau mungkin kamu takut posisimu tergeser dengan aku." tiba - tiba saja Jenar memiliki kekuatan untuk membalas perkataan Dirga.

"Diam kamu..! kalau laki - laki sudah aku tonjok..!" teriak Dirga sambil mengepalkan tangannya.

"Sudah..sudah.. !" teriak bu Erina. "Kalian berdua kenapa sih?! Dirga kamu dipanggil chef Efendi cepat kamu keruangannya dan kamu Jenar lanjutkan kegiatanmu." perintah bu Erina.

Dirga dan Jenar kembali pada kegiatannya masing - masing. Akan tetapi Dirga tidak akan berhenti untuk mengganggu dan menyingkirkan Jenar. Memang kalau iri, dengki sudah menguasai akal sehat kadang tidak berfungsi.

Hari sudah menjelang malam, Jenar mempersiapkan bahan - bahan yang akan dipakai untuk membuat makan malam Adam.

"Mbak Hana, kita ada stock daging Wagyu tidak?"

"Sepertinya ada, coba kamu lihat di ruang pendingin."

"Iya mbak."

"Oya kamu cari sendiri ya, hari ini aku ijin pulang awal." ucap Hana. Jenar mengangguk kemudian melangkah menuju ruang pendingin. Dua pasang mata memperhatikan gerak geriknya. Begitu Jenar masuk pintu terkunci dari luar.

"Hei siapa diluar..!" teriaknya sambil berusaha membuka pintu.

"Buka..buka..!" Jenar menggedor - gedor pintu.

Jenar merogoh kantung celananya mengambil handphone "Oh sial tidak ada sinyal!"

"Hei! tolong buka! tolong!" teriaknya

Dia terus berusaha hingga akhirnya lelah dan terduduk dilantai sambil bersandar pada pintu.

"Ya tuhan tolong aku, selamatkan aku, aku tidak mau mati disini, bagaimana nanti dengan ibu." Jenar mulai menangis sambil menggigil, sudah hampir dua puluh menit dia terjebak dalam ruang pendingin. "Kamu kuat Jenar.. kamu kuat Jenar.." gumamnya untuk menguatkan semangatnya.

Tiba - tiba handphonenya berdering, dengan tenaga yang tersisa dia berusaha menerima panggilan itu.

"Pendek..! mana makan malamku?"

"Pak.. pak Adam.." jawabnya lirih

"Halo..halo..! dimana kamu?!"

"Dingin.. dingin pak."

"Halo..halo.. Jenar.. apa yang terjadi.. dingin apa?" pasti ada yang tidak beres pikir Adam.

"Jenar.. jenar kamu bisa mendengarku kan? Jenar..Jenar!" Adam terus memanggil tapi tidak ada sahutan dari lawan bicaranya.

"Shawn..Shawn!" panggil Adam.

"Ya pak."

"Lacak nomor ini, ada dimana lokasinya!" perintah Adam.

"Baik pak." dengan cekatan Shawn melacak no handphone milik Jenar.

"Cepat!" teriak Adam sambil mondar mandir.

"Emm.. sudah ketemu, lokasinya di restoraan 'Avec Amour pak."

"Cepat siapkan mobil, antar aku kesana!"

Mereka bergegas menuju restoran. Tak berapa lama mereka sampai.

"Tuan Adam?" bu Erina kaget melihat kedatangan Adam yang mendadak.

"Mana Jenar?"

"Terakhir saya lihat didapur tuan, memangnya ada apa tuan?"

Adam tidak menjawab pertanyaan bu Erina, dia bergegas menuju ke dapur di ikuti Shawn. Bu Erina terlihat kebingungan dan akhirnya memutuskan mengikuti langkah atasannya itu.

"Jenar! Jenar!" panggil Adam. Tapi di dapur ia tidak menemukan sosok yang dia cari.

"Dimana dia?" gumam Adam frustasi sambil mengacak - acak rambutnya. Tunggu dia tadi mengatakan dingin.. dingin.

"Bu Erina dimana ruang pendingin?" tanya Adam

"Di sebelah sana tuan."

"Ayo Shawn!" ajak Adam. Mereka bertiga bergegas menuju ruang pendingin. Dengan bersusah payah mereka membukanya. Setelah pintu terbuka dilihatnya Jenar tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh pucat karena kedinginan.

Adam segera menghampirinya.

"Jenar! Jenar.!Jenar!" panggilnya sambil menepuk - nepuk pipinya.

"Ayolah Jenar.. please..please.. bangun!" ucap Adam cemas.

"Sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja pak." ucap Shawn.

"Cepat kamu siapkan mobil." perintah Adam. Segera ia membopong Jenar melangkah keluar.

Kemudian berhenti sejenak di dekat bu Erina.

"Saya akan menyelidiki kenapa insiden ini bisa terjadi!" ucap Adam ke bu Erina dengan tatapan tajam. Kemudian bergegas menuju rumah sakit. Jenar kamu harus hidup, jangan tinggalkan aku.. please..please..

🍁🍁🍁🍁

1
Mora
Maaf ga bagis
Mora
BAB AWAL ADAM DAN SHAWN FIBUAT SANGAT PINTAR TELITI HATI2 TAPI BAB TEBGAH KE BELAKANG MEREKA JADI IRANG BODOH !!
Mora
authornya ga fokus melihat bab2nya makin kesini Shawn dan Adam jadi bodoh
Mora
😄😄😄😄😄😄😄
Mora
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Trimulyati Trimountea
pria idaman bgt
Yenni Ajah Lah
Luar biasa
bunda DF 💞
luar biasaaa,, suka bgt sm ceritanyaa
nina widanarti: mksh dukungannya..🥰
total 1 replies
Ida Rodiah
karya yang sangat menarik
Esih Mulyasih
Luar biasa
Esih Mulyasih
Lumayan
yurrimm
sama aja pemerkosaan siiih ini jatoh nya walaupun di akhir si cewe kenikmatan juga, jangan di normalisasi kan yaaa semua.

kita berhak nolak, apalagi case yang kayak gini sangat berhak buat nolak
Aisyah Isyah66
Luar biasa
Nada Sunaryo
perasaan 20x15 mah termasuk gede lah Thor😁😆. perumahan type 36 aja kalah ituuu🤭
altanum
ceritanya menarik banget diawal2....
maaf mengkritik sedikit y thor, mendekati ending konflik nya terlalu dipaksakan jd feelnya mlah tidak mengena.
terus semangat berkarya thor...,❤️❤️❤️
nina widanarti: iya.. terima kasih dukungan dan masukannya.. bisa menjadikan motivasi utk trs berkarya..🥰
total 1 replies
Mei Wulandari
malahh turuu to dam dam,😪
Mei Wulandari
suami durhakim
Mei Wulandari
kekellll ak thor
Roslina. Rafidzi
Luar biasa
Mei Wulandari
busukkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!