Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Tempat Tinggal untuk Nenek
Kirana tidak ingin Nio tinggal di apartemen mereka terlalu lama.
Bukan karena ia tidak mau merawat neneknya. Justru karena ia terlalu ingin. Namun Cambridge Bay Residence punya ruang terbatas, dan Nio butuh tempat yang tenang, mudah diawasi, tetapi tetap memberi rasa rumah. Setelah dokter menekankan rutinitas stabil, Kirana menghabiskan malam mencari kontrakan kecil di sekitar apartemen.
Leon menemukannya duduk di meja makan dengan mata merah dan daftar alamat di ponsel.
"Tidur," katanya.
"Aku sedang cari tempat untuk Nio."
"Besok kita lihat."
"Aku yang bayar."
Leon menarik kursi di seberangnya. "Kamu belum gajian."
"Aku akan cicil."
"Tidak semua hal harus kamu pikul di hari pertama."
"Kalau aku tidak memikulnya, siapa?"
Leon menatapnya lama. "Aku."
Jawaban itu terlalu singkat.
Kirana menghela napas. "Leon, aku tahu kamu ingin membantu. Tapi Nio tanggung jawabku."
"Sekarang dia keluarga kita."
Kata kita kembali muncul. Kirana masih belum terbiasa, tetapi kali ini ia tidak langsung menolaknya.
Ia hanya menunduk dan menambahkan satu kolom baru di catatannya: bantuan Leon. Di bawahnya, ia menulis biaya yang mungkin muncul, lalu memberi tanda tanya besar di samping kata kemampuan bayar. Leon melihatnya, tetapi tidak berkomentar. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan Kirana menyusun caranya sendiri untuk menerima pertolongan.
Keesokan harinya, mereka melihat tiga tempat. Tempat pertama terlalu lembap. Tempat kedua dekat jalan besar dan berisik. Tempat ketiga berada di kompleks lama dekat Cambridge Bay, hanya sepuluh menit naik motor. Rumah kecil satu lantai dengan teras sempit, kamar cukup untuk satu ranjang dan lemari, dapur sederhana, serta tetangga yang tampak biasa menyapa satu sama lain.
Di tempat pertama, Nio langsung batuk begitu masuk karena bau jamur menempel di dinding. Kirana keluar tanpa menawar. Di tempat kedua, suara truk lewat membuat Nio menutup telinga dan berulang kali menyebut hujan. Kirana menolak meskipun pemiliknya menawarkan harga lebih murah.
Rumah ketiga tidak sempurna. Cat pagarnya mengelupas, lantainya tua, dan dapurnya butuh dibersihkan lama. Namun cahaya matahari masuk dari jendela depan, tetangganya menyapa Nio tanpa menatapnya seperti beban, dan jaraknya cukup dekat agar Kirana bisa datang setiap pagi.
Nio duduk di teras dan memandang pohon mangga kecil di halaman.
"Dulu Kira suka mangga," gumamnya.
Kirana berjongkok di depannya. "Nio suka di sini?"
"Ada matahari."
Kalimat itu menjadi jawaban.
Pemilik rumah, seorang bapak pensiunan, menjelaskan kontrak sewa. Kirana menghitung cepat di kepala. Mahal untuk penghasilannya sekarang, tetapi masih mungkin jika ia benar-benar hemat dan mengambil komisi toko. Sebelum ia bicara, Leon sudah bertanya soal pembayaran enam bulan.
"Jangan," potong Kirana.
Pemilik rumah terkejut.
Leon menoleh. "Kirana."
"Aku serius. Satu bulan dulu. Kalau cocok, lanjut."
"Lebih aman enam bulan."
"Lebih aman untuk siapa? Untuk pemilik rumah, iya. Untuk aku, itu utang besar."
Leon diam.
Kirana menatap pemilik rumah. "Kami bayar satu bulan dan deposit sesuai aturan. Jika Nio cocok, bulan depan kami perpanjang."
Pemilik rumah mengangguk setelah melihat Leon tidak membantah.
Kontrak ditandatangani siang itu.
Kirana menulis namanya sebagai penanggung jawab utama. Leon membayar deposit, tetapi Kirana menuliskannya di buku kecil sebagai pinjaman. Ia tahu catatan itu mungkin terlihat kaku, tetapi bagi dirinya, itu cara menjaga martabat.
Sore harinya, mereka membersihkan rumah bersama. Kirana menyapu, Leon memasang tirai, Nio duduk di kursi sambil memegang kain lap yang tidak benar-benar ia gunakan. Sesekali ia menyebut nama Kirana kecil, sesekali bertanya apakah pesta pernikahan sudah selesai.
Kirana menjawab setiap pertanyaan dengan sabar.
"Sudah, Nio."
"Kamu bahagia?"
Pertanyaan itu membuat sapu di tangan Kirana berhenti.
Ia melirik Leon yang sedang memasang lampu di dapur.
"Aku sedang belajar," jawabnya.
Nio mengangguk seolah mengerti.
Saat merapikan kantong lusuh milik Nio, Kirana menemukan benda kecil terbungkus kain tua. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan bentuk kepala banteng kecil, warnanya kusam tetapi desainnya tidak terlihat murahan.
"Nio, ini apa?"
Nio menatap kalung itu. Matanya tiba-tiba kosong, lalu gelisah.
"Simpan," katanya cepat. "Jangan kasih orang."
"Punya siapa?"
"Punya Kira."
"Aku?"
Nio memegang tangan Kirana kuat-kuat. "Kalau ada yang tanya, bilang tidak tahu."
Leon yang mendengar dari dapur menoleh.
Kirana membungkus kembali kalung itu. Ia tidak mengerti apa artinya, tetapi cara Nio ketakutan membuat benda kecil itu terasa lebih berat daripada kelihatannya.
Malam itu, sebelum pulang, Kirana meletakkan kalung tersebut di kotak kecil dan membawanya bersama dokumen penting.
Ia juga memotret kalung itu dari beberapa sisi. Bukan karena ia tahu harus mencari ke mana, melainkan karena tiga tahun di penjara mengajarinya bahwa ingatan manusia mudah dipatahkan, tetapi bukti kecil yang disimpan rapi kadang bisa menyelamatkan seseorang pada saat yang tidak disangka. Bentuk kepala banteng itu sederhana, namun garis ukirannya terlalu presisi untuk benda pasar biasa.
Leon memperhatikan tanpa bertanya.
Di kepalanya, simbol itu menyalakan satu ingatan samar tentang lambang lama di sebuah dokumen akuisisi keluarga Sim. Ia belum yakin. Jika ia menyebut dugaan terlalu cepat, Kirana akan menuntut jawaban yang belum bisa ia berikan. Maka ia hanya mencatat diam-diam untuk meminta Leo menelusuri asal desain tersebut.
Di luar rumah kontrakan Nio, Leon bertanya, "Kamu pernah melihat kalung itu?"
"Tidak."
"Mungkin peninggalan keluarga?"
"Kalau dari keluarga Sylvia, tidak mungkin Nio menyembunyikannya seperti itu."
Leon tidak bertanya lagi, tetapi matanya menyimpan catatan.
Kirana menutup pagar rumah kecil itu. Di dalam, Nio sudah tertidur setelah minum obat.
Untuk pertama kalinya, neneknya punya atap lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Kirana merasa hidupnya yang hancur mungkin bisa disusun kembali, satu rumah kecil pada satu waktu.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔