NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

"Michelle, apa kamu sudah menentukan akan sekolah di mana?"

Michelle yang semula sibuk memerhatikan Alvin, langsung mengalihkan pandangan, sempat gugup karena terkejut.

"Michelle belum tau, Om, belum lihat-lihat sekolah juga. Kata Daddy, kalau Michelle nggak cocok sama sekolah di sini, disuruh homeschooling aja," jawab Michelle.

"Nggak apa-apa homeschooling, tapi Tante saranin kamu masuk sekolah aja. Di sini banyak sekolah bagus kok, sekalian cari teman biar nggak sama Alvin doang," ujar Rita lalu tertawa.

Michelle menyaut dengan tawa kecil sambil melirik Alvin, cowok itu sibuk makan dan tidak peduli.

"Temenan sama Kak Alvin udah cukup kok Tante, tapi kalau bisa sih mau punya temen lagi biar kalau Kak Alvin ada janji sama temennya aku nggak kesepian." Michelle sengaja menekankan beberapa kata di akhir kalimatnya, membuat Alvin langsung menatap cewek itu.

Jordan mengangguk setelah memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau kamu bersekolah di SMA yang sama dengan Alvin, SMA Lentera Bangsa? SMA itu salah satu yang terbaik di daerah ini, kalau kamu mau, Om bisa daftarkan kamu segera."

Alvin langsung menoleh mendengar penawaran itu, jelas sekali dari raut wajahnya kalau ia tidak setuju. Sementara Michelle menarik kedua ujung bibirnya, lalu mengangguk antusias.

"Baiklah, Om akan segera mendaftarkan kamu."

"Nanti kamu bisa berangkat sama Alvin kalau kalian satu sekolah, iya kan?" tanya Rita pada Alvin.

Alvin menatap Michelle datar, cowok itu mengangguk tanpa menjawab. Dari raut wajahnya memperlihatkan kalau Alvin tidak suka, Michelle tahu. Tapi ini adalah salah satu cara agar ia tetap dekat dengan Alvin, dan Michelle juga bisa mencari tahu tentang cewek yang bersama Alvin tadi jika mereka satu sekolah.

...☆☆☆...

Alvin berdecak kesal saat melihat Michelle di taman depan rumahnya, cewek itu sedang menyirami bunga. Keberadaan Michelle di rumah ini belum terbiasa dilihat oleh Alvin, cowok yang baru pulang sekolah dengan seragam sedikit berantakkan itu berjalan malas menuju pintu utama.

"Kak Alvin!"

Mendengar suara melengking Michelle saja sudah membuat Alvin kesal, cowok berjaket cokelat itu menghentikan langkah namun tidak menoleh. Michelle melangkah mendekat dengan senyuman lebar karena Alvin mau mendengarkan panggilannya walau tidak merespon.

"Akhirnya Kak Alvin pulang juga. Kak, aku boleh minta anter—"

"Nggak," sahut Alvin, tatapan datarnya langsung menusuk tepat di mata biru Michelle. "Nggak lihat gue baru pulang? Capek," ujar cowok itu.

Senyuman di wajah Michelle perlahan memudar, Alvin juga melihat binar di mata cewek itu meredup, membuat Alvin langsung membuang muka, enggan melihatnya lebih lama.

Tidak lama kedua sudut bibir Michelle kembali tertarik. "Ya udah, Kak Alvin istirahat ya kalau capek? Aku bisa beli sendiri kok."

Alvin melirik sekilas. "Terserah." Lalu melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

Michelle menatap punggung Alvin sampai menghilang masuk rumah, senyum yang sejak tadi berusaha ia pertahankan seketika langsung menghilang. Ia kecewa karena Alvin bahkan tidak mau mendengarkan permintaannya, cowok itu langsung menolak sebelum tahu apa yang Michelle inginkan.

"Nggak apa-apa, Michelle, kan Kak Alvin lagi capek baru pulang sekolah. Mungkin lain kali Kak Alvin mau," ujar Michelle menyemangati dirinya sendiri.

Michelle mencoba memaklumi, walau rasanya tetap sedih di dalam hati. Semalaman Michelle memikirkan kemungkinan kenapa Alvin bersikap seperti ini, bahkan sampai mencari tahu di internet. Dan menurut yang Michelle baca, penyebabnya adalah belum terbiasa lagi dengan kehadiran orang yang sempat pergi.

Salah satu yang bisa merubah atau setidaknya membuat Alvin sedikit perhatian pada Michelle adalah dengan cara sering berada di dekat cowok itu dan mencoba sesering mungkin berinteraksi, itu yang Michelle baca di internet sampai jam setengah dua pagi tadi.

...☆☆☆...

"Ada yang ketabrak! Ayo tolongin!"

Suara heboh seorang bapak-bapak membuat dua cowok berjaket denim di depan sebuah percetakan langsung menoleh, tampak kerumunan orang di seberang jalan.

"Ada apaan tuh rame-rame?" tanya cowok yang baru keluar dari percetakan sambil membawa lipatan banner pesanan mereka.

"Udah jadi nih? Bagus nggak lo cek tadi?" tanya Devis, salah satu dari dua cowok yang tadi menunggu di depan percetakan.

"Bagus, angkatan sebelumnya juga suka cetak di sini, terpercaya," jawab Arya. Devis hanya mengangguk, banner baru ini akan mereka pasang di markas sebagai pengganti banner lama yang sudah rusak.

Devis dan dua temannya memang bergabung dengan sebuah geng motor di daerah Jakarta, jaket denim dengan gambar jaguar di punggung dan sebuah logo di dada kanan yang mereka kenakan adalah tanda bahwa mereka bagian dari geng bernama Jaguar itu.

"Kok ada ambulans segala? Parah banget ya?" tanya Juna, keningnya berkerut melihat orang-orang menyingkir saat ambulans datang.

Devis mengedikkan bahu. "Ayo balik ke markas, nanti—"

"Aduh!"

Kalimat Devis terhenti saat terdengar suara pekikkan tidak jauh dari tempat mereka mengobrol, suara itu berasal dari tepi jalan. Sebuah motor melesat cepat, meninggalkan seorang cewek yang kini jatuh terduduk.

"Wah! Tabrak lari!" pekik Juna, segera turun dari motornya.

Juna baru saja akan menghampiri cewek berpita biru yang masih terduduk sambil memeriksa kakinya itu, tapi Devis menahannya.

"Kenapa, Vis?" tanya Juna heran.

Kening Devis berkerut, merasa tidak asing dengan cewek bersurai hitam dengan outfit dominan warna pink itu.

"Vis! Yah, malah pergi."

"Kayak nggak tau Devis aja lo, kalau lihat bening dikit langsung gercep lah!" ujar Arya berkomentar, lalu tertawa.

Juna hanya mendesis, dua cowok itu masih memerhatikan Devis yang semakin mendekati cewek berpita biru itu.

Devis mengulurkan tangannya tepat di depan wajah cewek itu, membuatnya langsung mendongak. Kening cewek bersurai cokelat yang tak lain adalah Michelle itu berkerut, wajah cowok di depannya ini terlihat tidak asing untuknya.

"Ayo berdiri," ujar Devis, masih dengan tangan terulur.

Michelle menatap tangan Devis ragu sebelum menyambutnya, ia berdiri sambil meringis menahan perih karena lututnya tergores.

"Ngapain duduk di pinggir jalan? Di sana banyak kursi padahal," ujar Devis, ikut memerhatikan lutut Michelle yang tergores.

"Lo pikir apa, gue keserempet!"

"Keserempet?" Devis malah terkekeh. "Keserempet udah jadi hobby lo, ya?"

Michelle menatap Devis, wajahnya ditekuk saat melihat luka di lutut dan kakinya. Ini yang membuatnya enggan untuk keluar sendirian, Michelle mudah sekali terluka karena hal-hal tidak terduga. Dan yang paling sering adalah keserempet atau hampir keserempet.

"Luka lo mau dibiarin gitu apa diobatin?"

Michelle menegakkan wajah menatap Devis. "Kalau dibiarin gini bisa infeksi, kan?"

"Nah itu tau, jadi harus diobatin."

Michelle tampak berpikir. "Tapi gue nggak bawa P3K."

Jawaban Michelle membuat Devis merotasikan kedua bola matanya sambil menghela napas, tanpa izin meraih lengan cewek itu dan menariknya mendekati teman-temannya yang masih menunggu.

"Lo berdua balik dulu aja," ujar Devis pada Arya dan Juna.

"Mau ke mana?" tanya Arya.

Devis tidak menjawab, cowok itu hanya mengedikkan dagu pada Michelle yang terdiam bingung. Arya dan Juna yang mengerti lantas menarik satu ujung bibir membentuk smirk, membuat Michelle semakin bingung.

"Naik."

Michelle mengerjap saat Devis menoleh padanya. "Gue?"

"Iya, lo."

"Nggak mau!" Michelle menggeleng. "Mau ke mana? Nyulik gue?"

Pertanyaan Michelle yang terdengar spontan membuat Arya tertawa, Juna yang sedang memundurkan motornya juga tidak bisa menahan tawa.

Devis mendesis. "Naik aja, nanti juga tau."

"Nggak mau! Sok kenal banget, emang lo siapa?"

"Nah, skak mat!" sahut Arya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Devis.

Arya mengangkat kedua tangannya seperti maling tertangkap, lalu segera naik ke boncengan motor Juna. Keduanya melesat meninggalkan halaman percetakan sebelum Devis mengamuk.

"Heh, lo siapa sih?" tanya Michelle heran bercampur kesal.

Devis mengulurkan tangannya. "Devis," jawab cowok itu memperkenalkan diri.

Michelle menatap tangan Devis yang menggantung di udara, lalu kembali menatap cowok itu. Devis tampak datar-datar saja.

"Gue nggak ada maksud jahat, cuma mau anterin ke klinik atau ke apotek cari obat, kaki lo luka," ujar Devis lagi, menarik tangannya karena tidak kunjung dijabat oleh Michelle.

Tatapan kesal Michelle berubah, pandangan cewek itu turun ke lututnya yang kembali terasa perih. Terlihat mengeluarkan darah karena tadi bergesekkan dengan aspal.

"Nggak usah deh, nanti gue obatin di rumah aja," tolak Michelle, nada bicaranya tidak sekesal tadi.

"Kalau gitu gue anterin pulang."

Michelle langsung menegakkan kepala dan menggeleng cepat. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai diantar pulang cowok asing, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Rita kalau wanita itu tanya siapa yang mengantarnya pulang? Dan bagaimana kalau Alvin juga melihatnya? Pasti Alvin akan berpikir macam-macam. Walaupun mungkin hanya 10% peluang Alvin akan berpikir yang tidak-tidak saat melihat Michelle dengan cowok lain, sisanya tidak peduli.

"Kalau gitu jangan nolak gue anter ke klinik atau apotek, ayo naik."

Michelle tidak langsung menjawab, ia masih berpikir dan ragu. Ia merasa takut kalau ternyata Alvin akan melihatnya berboncengan dengan cowok ini, tapi setelah itu bayangan Alvin yang menolak mengantarnya tadi langsung menepis rasa takut Michelle.

"Lo mikir lama amat, ayo keburu luka lo makin kotor kena debu, nanti infeksi," ujar Devis dengan nada sedikit kesal.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!