NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Kolam Ular - Bagian 1

Hari ketiga puluh di Pulau Raja dimulai dengan pintu yang seharusnya terkunci.

Momo menemukannya saat mencari jalan menuju dapur servis. Ia sedang bosan, gelisah, dan terlalu penuh oleh keheningan aneh bersama Renard. Setelah gala, setelah foto Lucia dan Rola, setelah tangannya pernah bertahan di tangan Renard lebih lama dari yang bisa ia jelaskan, Momo membutuhkan sesuatu yang sederhana.

Jalan.

Peta.

Fakta.

Pintu besi di ujung lorong bawah tanah tidak ada dalam peta yang pernah Renard tunjukkan. Warnanya sama dengan dinding, gagangnya tersembunyi di balik panel listrik. Jika tidak karena seorang pengawal baru keluar dari sana dengan wajah terlalu pucat, Momo tidak akan menyadarinya.

Pengawal itu melihat Momo.

Terlambat.

"Nona tidak boleh di sini."

"Kalau begitu kenapa kamu di sini?"

Pria itu tersenyum kaku. "Area teknis."

Momo menatap pintu di belakangnya. Dari celah bawah, ia mencium bau lembap, tanah, dan sesuatu yang amis.

"Aku mau lihat."

"Tidak bisa."

Momo melangkah maju.

Pengawal itu menghalangi. Bukan seperti Albert yang tegas dan sopan. Pria ini terlalu cepat gugup, terlalu cepat agresif. Matanya berkedip ke arah kamera di sudut lorong, lalu kembali ke Momo.

"Nona harus kembali."

"Panggil Albert."

"Tidak perlu."

Kata itu salah.

Momo mundur setengah langkah, tetapi pria itu bergerak lebih dulu. Tangannya mendorong bahu Momo. Tidak keras seperti serangan terbuka, cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan ke arah pintu besi yang belum tertutup rapat.

Pintu terbuka.

Momo terhuyung masuk.

Ruang di baliknya besar, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Lampu kuning redup menggantung di atas kolam bundar yang dalam. Dindingnya batu tua. Udara berat, lembap, membuat kulit langsung lengket. Di tengah ruangan, kolam itu bergerak.

Bukan air.

Ular.

Puluhan tubuh bersisik bergeser pelan di antara batu dan air dangkal. Hitam, cokelat, hijau gelap. Beberapa mengangkat kepala ketika Momo masuk. Lidah bercabang keluar masuk, mencicipi udara.

Darah Momo membeku.

"Ya Tuhan..."

Pengawal itu berdiri di belakangnya. Pintu masih terbuka. Ia tidak menutupnya. Tidak memanggil bantuan.

Momo langsung mengerti.

Ini bukan kecelakaan.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Pria itu tidak menjawab. Senyumnya berubah lebih tipis. Ia melangkah mendekat. Momo mundur, tetapi lantai di dekat kolam basah. Kakinya tergelincir. Ia jatuh di tepi kolam, satu tangan menahan batu, ujung sandal hampir masuk ke air.

Ular-ular bergerak.

Desis halus memenuhi ruangan.

Momo menarik kakinya cepat, tetapi pengawal itu berdiri di antara dirinya dan pintu.

"Jangan bergerak, Nona. Nanti mereka takut."

"Kamu orang Sen?"

Mata pria itu berubah.

Cukup.

Momo tahu jawabannya.

Di saat itu, semua yang tertahan sejak ia bangun di Pulau Raja meledak. Kartu "kamu milikku". Gunawan. Gelang Sakura. Sen yang melepaskan tangannya. Renard yang menyelamatkan lalu tetap mengurung. Semua pria yang merasa punya hak menentukan apakah ia diam, pergi, hidup, mati.

Momo berdiri perlahan.

Pengawal itu mengerutkan kening. "Jangan bodoh."

Ular-ular mendesis lebih keras.

Momo menatap kolam, lalu pria itu.

"Kalau kau mau aku mati," katanya, suaranya bergetar tetapi jelas, "aku akan memilih caranya sendiri."

"Nona..."

Ia melompat.

Air dangkal kolam memercik dingin di kakinya. Ular-ular bergerak kacau. Satu kepala hitam terangkat tidak sampai satu meter dari betis Momo. Desis berubah menjadi suara yang membuat kulitnya ingin terlepas dari tulang.

Di pintu, pengawal itu pucat.

Alarm berbunyi.

Momo berdiri di tengah kolam ular, dada naik turun, tubuh gemetar karena takut yang begitu besar sampai berubah menjadi keberanian.

"Panggil Renard," katanya.

Suaranya pecah.

Ular pertama bergerak di antara batu.

Momo melihat kilat sisik gelap, lalu kepala segitiga muncul dari bawah akar buatan. Tubuhnya ingin mundur, tetapi di belakangnya hanya ada dinding licin. Di atas, pria yang mendorongnya tertawa pendek.

"Jangan khawatir," katanya. "Tidak semua berbisa. Hanya cukup untuk membuat pesan."

Momo menatapnya. "Pesan untuk Renard?"

"Untuk dia. Untuk ayahmu. Untuk semua orang yang mengira perempuan kecil bisa dijadikan kunci kerajaan."

"Kamu bekerja untuk Sen?"

Pria itu tidak menjawab, tetapi senyumnya cukup.

Kolam itu sebenarnya bukan kolam. Lebih seperti ruang bundar yang lantainya dipenuhi air setinggi betis, batu, kaca tebal, dan lubang-lubang kecil tempat ular keluar masuk. Lampu hijau redup membuat semuanya tampak seperti mimpi buruk yang dirancang dengan anggaran besar. Di atas dinding, ada bekas rel tua, mungkin tempat orang dulu berdiri menonton.

Rayner.

Nama itu muncul dari cerita Albert tentang alat interogasi lama keluarga. Renard mungkin mengubur tempat ini. Atau menyimpannya karena bahkan trauma punya arsip.

Momo menggenggam Gelang Sakura.

Jika Renard melihatnya sekarang, ia pasti akan melompat. Gagasan itu datang terlalu cepat dan membuat Momo marah. Kenapa bahkan di tengah ular, pikirannya memanggil pria itu? Kenapa tubuhnya percaya pada tangan yang sama dengan tangan yang mengurungnya?

"Turun," kata pria di atas kepada pengawal lain.

"Tidak perlu," kata Momo.

Mereka terdiam.

Momo melihat ular kedua, lebih kecil, bergerak di sisi kanan. Napasnya cepat, tetapi pikirannya anehnya jernih. Jika ia tetap di tepi, mereka akan mendorong. Jika ia memohon, mereka akan merekam. Jika ia menunggu Renard, ia akan menjadi barang yang diselamatkan lagi.

Ia lelah menjadi barang.

"Kalian ingin aku takut?" tanya Momo.

Pria itu mengangkat alis.

"Aku takut," katanya jujur. "Sangat."

Ia melepas sepatu haknya satu per satu. Suaranya jatuh ke air.

"Tapi kalau kau mau aku mati, aku akan memilih caranya sendiri."

Pengawal palsu itu baru sadar sesaat terlambat.

Momo melompat ke tengah kolam.

Air dingin menciprat sampai pinggang. Ular-ular bergerak. Satu tubuh licin menyentuh pergelangan kakinya dan ia hampir berteriak, tetapi menggigit suara itu sampai hanya keluar napas patah. Ia berdiri di sana, gemetar, rambut basah menempel di pipi.

Di atas, alarm akhirnya meraung.

Suara langkah berlari mengguncang langit-langit.

Momo menatap pria yang tadi mendorongnya. Ia tersenyum meski bibirnya pucat.

Momo mencoba mengendalikan napas.

Satu tarikan. Dua. Jangan bergerak cepat. Jangan injak batu tanpa melihat. Jangan biarkan ketakutan membuat tubuh menjadi mangsa yang lebih mudah.

Ia pernah hidup miskin, tetapi kemiskinan punya ular sendiri. Rentenir yang menunggu Ama batuk. Tetangga yang tersenyum sambil menghitung kelemahan. Gunawan yang datang dengan mobil mahal dan memanggilnya anak saat butuh menjualnya. Ular-ular di kolam ini setidaknya jujur pada bisanya.

Yang paling dekat bergerak lagi. Tubuhnya menyentuh air di sisi kiri, membuat riak kecil. Momo menahan jerit.

Di atas, pria palsu itu mengangkat ponsel. Merekam.

"Senyum, Nona. Tuan Renard pasti suka melihat barang berharganya ketakutan."

Kata barang akhirnya mematahkan sesuatu.

Momo menatap kamera. "Kirim yang jelas. Jangan sampai dia salah lihat."

Pria itu tertawa. "Salah lihat apa?"

"Bahwa aku berdiri."

Momo mengambil batu kecil dari air dan melemparkannya ke ponsel. Lemparannya tidak kuat, tetapi cukup membuat pria itu mundur dan rekaman goyah. Pada saat yang sama, seekor ular kecil meluncur terlalu dekat. Momo bergerak refleks, kakinya terpeleset, lututnya masuk air. Dunia seolah menunggu ia jatuh sepenuhnya.

Ia menahan diri dengan satu tangan di batu.

Sisik dingin menyentuh jarinya.

Kali ini ia berteriak.

Suara itu memalukan, manusiawi, dan hidup. Momo menggigit bibir setelahnya, marah pada diri sendiri, tetapi teriakan itu sudah keluar. Dari jauh, di balik alarm, ia mendengar suara lain.

Renard.

Bukan lewat radio. Bukan dari layar. Langkahnya turun ke ruang bawah tanah seperti badai yang menemukan pintu.

Pria palsu itu pucat. "Sudah terlambat."

Momo berdiri lagi, napas gemetar, rambut basah menempel di wajah. "Untuk siapa?"

Lampu merah alarm berputar di dinding. Bayangannya jatuh di air, patah-patah oleh gerakan ular. Ia tahu Renard akan datang. Ia tahu pria itu akan marah, akan menghukum, akan memakai kata milikku lagi sampai semua orang mundur.

Tetapi sebelum Renard datang, Momo ingin ada satu hal yang murni miliknya.

Pilihan untuk tidak merangkak.

Pintu besi di tingkat atas terbuka dengan bantingan.

Renard muncul di sana.

Untuk pertama kalinya sejak Momo mengenalnya, wajah pria itu tidak memakai topeng apa pun. Amarahnya telanjang, dingin, dan mengerikan. Namun ketika matanya menemukan Momo di tengah kolam, sesuatu yang lebih kasar dari amarah melintas.

Takut.

Momo berdiri lebih tegak.

Ia tidak ingin diselamatkan dalam posisi merangkak.

"Jangan bergerak," kata Renard.

Momo tertawa pendek, nyaris histeris. "Kamu selalu datang dengan perintah."

"Momo."

"Aku di tengah ular, Renard. Aku sadar."

Ia melihat rahang pria itu mengeras. Pengawal palsu di atas mencoba mundur, tetapi Albert sudah muncul dari sisi lain dengan senjata terangkat.

Untuk beberapa detik, semua orang menunggu Renard memerintah.

Namun Momo tidak menunggu. Ia menatap langsung ke arah kamera pengawas yang masih menyala.

"Dengar?" katanya, entah kepada Sen, kepada musuh, atau kepada pria yang mengklaimnya. "Aku belum mati."

Seekor ular menyentuh betisnya.

Momo menahan suara di tenggorokan.

Renard melihat, dan seluruh tubuhnya bergerak setengah langkah maju.

"Jangan masuk," kata Momo cepat.

Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya.

Mungkin karena takut Renard terluka.

Mungkin karena tidak mau penyelamatan lain menjadi rantai baru.

Mungkin karena keduanya benar.

Renard tidak mendengar, atau memilih tidak mendengar.

Momo menggenggam batu kecil di tangannya sampai telapak sakit.

"Katakan padanya, barang miliknya memilih menggigit balik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!