Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN DARI SEORANG NARAIN SHANKARA NARADIPTA
Sepulang sekolah hari berikutnya, Naya bergegas berjalan menuju gedung olahraga tempat dimana klub basket latihan sebelum menuju klub renang. Entah bagaimana caranya ia meyakinkan penjaga gedung sehingga Naya dapat memasukinya mengingat gedung itu sekarang adalah area steril untuk orang diluar klub basket.
Setelah diizinkan masuk, ia mulai mencari-cari sosok Nara yang tidak ditemuinya di lapangan basket. Ia pun berinisiatif naik ke tribun dan menemukan Nara duduk seorang diri melihat kearah lapangan basket sambil mencatat di buku saku miliknya. Kaki kanannya terlihat dibalut dan diletakkan di atas bangku.
Nara tampak terkejut melihat Naya. Bagaimana bisa Naya masuk ke dalam gedung olahraga yang sudah dilabeli “restricted area” itu. “Kamu mencariku?”
“Aku hanya lewat sebelum latihan renang.”
“Gedung kolam renang indoor ada di gedung seberang.”
“Aku mengambil jalan memutar.”
“Sejauh ini? Dan hebat juga kamu bisa masuk padahal bukan anggota tim basket. Jangan-jangan kamu memiliki ide gila yang sama seperti Ekky pada saat kami berkunjung ke klub renang dulu. Temanmu yang mana yang kamu jadikan tumbal untuk meyakinkan petugas gedung sehingga dapat masuk kesini?” Nara cukup takjub dan merasa sumringlah Naya yang sehari-harinya menjaga jarak dari dirinya seniat itu menemuinya. Hatinya yang beberapa hari ini mendung dan murung penuh ketidaksabaran ingin melepas perban di kakinya karena merasa tidak berguna mendadak cerah dengan kehadiran Naya.
Naya mengabaikan pertanyaan itu. Ia duduk dua kursi dari Nara sambil memeluk tas punggungnya yang diletakan di atas pangkuannya untuk menutupi kegugupan karena berusaha menurunkan gengsi untuk bertanya.
“Cederanya bagaimana?”
“Tidak terlalu parah.” Nara meletakkan buku sakunya dan melihat kedua tangannya serta menempelkannya di dada. “Hanya harus beristirahat selama seminggu.”
“Kak Nara kan pemain basket terkenal, sudah pasti berita tentang cidera Kak Nara sangat cepat menyebar. Terima kasih kepada sahabatku yang merupakan salah satu fans-mu namun sangat bijak dalam mengagumimu.”
Biasanya Nara akan menanggapi kalimat itu dengan bangga. Namun kali ini, ia hanya tersenyum tipis. Padangannya kembali lurus kearah lapangan basket. “Kalau..., kalau aku tidak bisa ikut pertandingan berikutnya, aku merasa menjadi orang yang tak berguna. Mungkin karena selama hidupku, aku tak pernah mau mengecewakan harapan orang-orang disekililingku yang selalu dapat kupenuhi bahkan melebihi ekspektasi mereka.”
Naya menoleh. Ada sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya, sesuatu yang rapuh. Hal yang mengingatkannya ketika ia bertemu pertama kalinya dengan Nara di halte dekat SMP-nya dulu.
“Apakah kakak tidak capek jika harus seperti itu terus?”
Nara tidak langsung menjawab. “Aku capek dan rasanya ingin menjauh dari orang-orang yang mengenalku, itupun setelah bertemu dengan dirimu yang menyadarkanku bahwa aku seharusnya tak terlalu keras kepada diriku sendiri. Padahal Ekky selalu mengingatkanku, tapi seperti biasanya, aku selalu menanggapinya dengan memasukkan nasihat itu dari telinga kiri kemudian kukeluarkan langsung melalui telinga kanan. Mungkin cidera pertama kalinya dalam hidupku ini adalah pengingat untuk itu.” Nara menatap lapangan basket di hadapan mereka. Tampak teman-temannya sibuk berlatih tanpa dirinya. “Ketika orang-orang selalu memuji, lama-lama kita merasa harus terus menjadi orang yang mereka puji,” katanya perlahan. “Kalau tidak, rasanya seperti kehilangan sesuatu.”
Naya akhirnya memahami bahwa kesombongan Nara mungkin bukan sekadar kepercayaan diri yang berlebihan. Ada tekanan yang selama ini disembunyikan di balik senyum dan sikap menyebalkannya. Ia terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian hingga takut pada kemungkinan diabaikan.
“Tapi merasa lebih superior sehingga tanpa sadar membuat orang lain merasa kecil tidak akan membuat Kakak lebih berarti,” ujar Naya.
“Aku tahu itu sekarang.” Nara menatapnya. “Itu semua berkat kehadiran dirimu di kehidupanku.”
“Aku?” Jantung Naya berdebar kencang ketika Nara menatap secara serius seperti saat ini. Ekspresi Nara tidak seperti biasanya yang jahil kepada dirinya.
“Aku datang ke perpustakaan bukan cuma untuk belajar atau sejenak mencari ketenangan disaat sudah tak mampu lagi menghadapi energi banyak orang.” lanjut Nara. “Awalnya aku kesal karena kamu satu-satunya orang yang tidak terkesan kepadaku. Lalu aku penasaran. Setelah itu, entah bagaimana, aku selalu ingin bertemu denganmu.”
Naya berusaha mempertahankan ekspresi tenang, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat.
“Bukankah itu terdengar terlalu berlebihan?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Banyak.”
Nara tertawa. “Baiklah, banyak.”
Kemudian keheningan turun di antara mereka. Sejenak menikmati kebersamaan berdua dalam diam. Nara yang sebelumnya overthinking berubah tenang ketika Naya berada didekatnya.
“Besok kamu ke perpustakaan?” tanya Nara.
“Aku selalu ke sana.”
“Bolehkah aku datang?”
“Perpustakaan terbuka untuk semua siswa.”
“Itu bukan jawaban yang kuinginkan darimu Naya.”
Naya menatap wajah Nara. Kali ini tidak ada senyum sombong, tidak ada sorot mata yang meminta dikagumi. Nara terlihat gugup, seolah-olah jawaban Naya jauh lebih penting daripada hasil pertandingan apa pun.
“Datang saja,” jawab Naya. “Tapi dilarang berisik.” Ia pun bangkit dari tempat duduknya setelah melihat di jam tangan sport yang melingkar di lengan kirinya telah menunjukkan pukul 14.00 WIB yang berarti sudah waktunya ia menuju klub renang untuk mengikuti pelatihan.
“Nay,” Panggil Nara. Ia mendongak kearah Naya yang telah berdiri.
“Apa?”
“Terima kasih sudah datang menjengukku,” Nara tersenyum lebar kearah Naya. Bukan senyum sarkas atau terkesan sombong yang selama ini dilihat Naya. Tak pelak pipinya bersemu merah melihat sosok lain dari Nara yang tak pernah dilihatnya. Ia pun hanya mengangguk untuk menutupi rasa panas yang menjalar dan segera berlari keluar gedung olahraga. Perasaan apa ini? Mengapa rasanya seperti ini?
***
Nara benar-benar datang dengan bantuan tongkat penyangga ke perpustakaan setelah jam sekolah berakhir. Ia berjalan pelan menuju meja dekat jendela. Di tangannya terdapat dua bungkus roti cokelat keju. Beberapa murid yang berada di perpustakaan memperhatikannya, tetapi ia tidak peduli. Ia belajar untuk tidak merasa selalu diperhatikan karena dia pun berhak punya privasi. Kalaupun nantinya dijadikan bahan pembicaraan ia sudah lebih siap menerima penilaian apapun. Terima kasih kepada pengunjung perpustakaan karena meskipun mengetahui dirinya datang ke perpustakaan namun mereka semua tidak berisik dan berkasak-kusuk menyebarkan berita tentang hal itu.
“Mejanya sempit?” tanya Naya.
Nara meletakkan satu bungkus di hadapannya.
“Tidak,” jawabnya. “Yang ini memang untukmu.”
Naya menerima roti itu tanpa protes. “Terima kasih.”
Sejak saat itu, pertemuan mereka di perpustakaan tidak lagi terasa seperti kebetulan. Nara datang karena ingin bertemu Naya, sementara Naya tetap berada di sana sedikit lebih lama karena tahu Nara akan muncul.
Mereka masih sering berdebat. Naya tetap menjadi orang pertama yang menegur ketika Nara mulai membanggakan dirinya secara berlebihan. Nara juga tetap suka mengganggu konsentrasi Naya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.
Namun, di antara rak-rak buku dan cahaya sore yang masuk melalui jendela, mereka perlahan mengenal satu sama lain tanpa sorakan penonton dan tanpa tatapan para penggemar.
Naya mulai mengenal Nara bukan sebagai pemain basket terkenal, melainkan sebagai seseorang yang terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain pada dirinya sehingga merasa bersalah jika mengecewakan mereka semua, diam-diam menyukai komik basket yang saat ini sedang digandrungi remaja SMA seusianya, dan juga ternyata diam-diam selalu memakan isi roti yang dibaginya dibandingkan menghabiskan semuanya.
Sementara Nara mengenal Naya sebagai seseorang yang tidak mudah terpesona, berani berkata jujur, dan diam-diam memiliki mata yang berbinar serta senyum paling indah setiap kali berhasil menemukan buku yang dicarinya. Pantas saja gadis itu diberi nama oleh orang tuanya Dahayu Nayanika Arutala. Diam-diam Nara mencari tahu arti nama kepanjangan dari Naya. Dalam bahasa Jawa, Dahayu memiliki arti cantik, Nayanika berarti mata yang indah sedangkan Arutala adalah representasi dari rembulan. Mungkin orang tuanya berdoa bahwa anak perempuannya menjadi seorang yang bermata indah nan cantik seperti rembulan. Dan untuk itu Nara berterima kasih.
***
Seminggu telah berlalu, dan kaki Nara sudah kembali pulih 100%. Bukannya memilih berlatih basket, kesembuhannya ini ingin dirayakannya bersama Naya. Ia melangkahkan kakinya dengan ringan untuk berkunjung ke klub renang. Kali ini ia meminta izin dengan menggunakan alasan bertemu dengan Naya, salah satu anggota klub renang kenalannya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih gadis itu yang tentu saja langsung mendapatkan kartu hijau untuk diizinkan masuk. Entah bagaimana jika gadis itu tahu dia berbohong seperti itu. Pasti murka.
Nara memilih memberikan surprise dengan duduk di tribun gedung kolam renang indoor dan memandang Naya dari atas untuk melihatnya berenang di dalam. Nara masih takjub dengan keindahan gaya berenang Naya yang seperti menari di dalam air begitu indah, bebas dan lepas. Mungkin di kehidupan sebelumnya gadis itu adalah seorang ikan yang banyak berbuat kebaikan sehingga dikehidupannya sekarang ia menjadi sosok yang indah dan dapat menarik perhatiannya yang tak mudah tersentuh rasa sehingga membuatnya melakukan hal-hal diluar nalarnya selama ini.
Ketika Naya keluar dari kolam renang ia mendapati Nara sudah duduk disalah satu tempat duduk di tribun. Tidak seperti pertemuan mereka dulu, kali ini Naya melambaikan tangannya kearah Nara sambil tersenyum dan memberi aba-aba untuk menunggu disana kemudian berkumpul dengan teman-temannya yang lain untuk mengikuti sesi penutupan latihan di hari ini.
Nara cukup lama menunggu Naya membersihkan diri untuk menghampiri Nara di tribun. Kurang lebih 30 menit. Teman-teman gadis itu sudah lebih dulu pulang dan untuk menghargai Nara yang telah datang ke klubnya, ia menghampiri Nara ke tempat duduk lelaki itu di tribun. Tampak kolam memantulkan warna keemasan dari matahari yang hampir tenggelam.
“Terima kasih untuk datang ke klub renang, kali ini Kak Nara menggunakan alasan apa sehingga bisa masuk kesini?” Tanya Naya. “Klub ini kan saingan sama klub basket Kak Nara dalam urusan restricted area. Bedanya karena pakaian renang yang kami gunakan sedangkan klub basket karena terlalu banyak fans Kak Nara yang begitu berisik sehingga mengganggu latihan Kak Nara dan yang lainnya.”
“Rahasia dong,” Nara menutup bibirnya dengan telunjuk tangannya sambil mengerlingkan mata kanannya. “Yang pasti penjaga gedung sudah tersihir dengan kharisma seorang Nara.”
“Males banget mendengar jawabannya,” Naya memutar matanya bosan dan duduk di sebelah Nara. Samar-samar tercium bau sabun wangi vanilla dari tubuh gadis itu membuat Nara sedikit terbuai. “Kali ini untuk apa Kak Nara datang ke klub renang? Bukan jadi Stalker kan?”
“Ya bukanlah,” Nara tertawa mendengar ucapan Naya kemudian berubah menjadi serius dengan senyum hangatnya. “Aku sengaja datang kesini bolos latihan basket perdana setelah sembuh dari cidera khusus untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku sudah sembuh dari cidera dan bisa kembali bermain basket.”
“Kak Nara tidak salah orang kan?” Naya tak mau salah paham dengan ucapan Nara. Bisa saja ucapan itu dilakukan seniornya pada perempuan lainnya, misalnya para fans-nya.
“Tentu saja tidak,” Jawab Nara mantap. “Aku ini sedang belajar untuk jujur pada diriku sendiri seperti dirimu yang berani mengungkapkan isi hatimu tanpa takut dinilai aneh oleh orang lain terutama dirimu.”
“Aku tak seistimewa itu Kak,” Naya tertawa kecil menutup rasa tersanjungnya. “Aku banyak kekurangan yang belum Kak Nara ketahui.”
“Aku justru ingin mengetahuinya.”
“Dasar gila!”
Nara terkekeh, ia selalu menyukai respon yang ditunjukkan Naya. “Sekarang bagaimana kamu menilai diriku?”
Naya berpura-pura berpikir.
“Sedikit membaik.”
“Hanya sedikit?”
“Jangan mulai lagi deh.”
Nara tersenyum, kali ini tanpa kesombongan. “Aku hanya ingin tahu apakah aku punya kesempatan untuk memperbaikinya.”
Naya memandang permukaan air yang tenang.
“Respek tidak kembali karena beberapa kali membawakan roti dan susu Kak Nara,” katanya. “Itu harus dibuktikan terus-menerus. Yang Maha Kuasa saja selalu memberikan kesempatan hamba-Nya untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki bagaimana denganku yang hanya manusia seperti butiran debu di hadapan-Nya, sombonglah aku jadinya.”
“Aku jadi bertanya-tanya, kamu beneran berusia 16 tahun bukan sih? Kok aku merasa kamu lebih tua dibandingkan diriku.”
“Itu pujian atau hinaan Kak?”
“Pujianlah, baru kali ini aku yang dianggap kepala batu oleh Ekky merasa dipecahkan dengan palumu yang berisi kata-kata menohokmu itu.”
“Terima kasih atas pujian sarkasnya,” Naya tertawa kecil mendengar kiasan aneh namun cukup cerdas dari seorang Nara. “Semua karena buku-buku yang kubaca. Apakah kakak tidak tahu bahwa buku adalah jendela dunia?”
“Berarti aku harus terus datang ke perpustakaan?”
“Untuk belajar dan menambah wawasan, bukan menggangguku.”
“Kalau kebetulan kita bertemu?”
Naya menatapnya dan tersenyum kecil. “Terlalu sering bertemu di tempat yang sama bukan lagi kebetulan, Kak tapi sengaja dengan penuh modus yang aku tak tahu apa itu.”
Untuk sesaat Nara terdiam, kemudian senyumnya melebar.
Mereka melanjutkan perjalanan melewati koridor sekolah yang mulai sepi. Naya tidak tahu akan menjadi apa hubungan mereka nantinya. Ia juga belum sepenuhnya melupakan sikap Nara di masa lalu. Namun, ia mulai percaya bahwa seseorang bisa berubah ketika bersedia melihat dirinya sendiri melalui mata orang lain.
Dan mungkin, beberapa pertemuan memang terlalu indah untuk dianggap kebetulan. Bukan karena semesta selalu mengatur dua orang untuk berada di tempat yang sama, melainkan karena salah satu dari mereka diam-diam terus datang, sementara yang lainnya perlahan berhenti menghindar.
***