NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Abang Sahabatku

Menikah Dengan Abang Sahabatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Perjodohan / Tamat
Popularitas:4.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Layef

[Season 1 (Tamat) : Bab 1 - 136 + Extralove]
[Season 2 (On-Going)]

Season I

Tidak pernah kusangka pada akhirnya aku akan menikah.

Kehilangan keluarga tercintanya dalam satu kecelakaan tragis menjadi satu alasan yang sangat cukup bagi Nana untuk menutup dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya.

Menghilang bertahun-tahun dan siap melupakan apa itu cinta, hingga akhirnya satu telepon mendadak dan tanpa disangka menjadi awal dari langkah bangkitnya hingga berujung pada pertemuannya dengan pria antah berantah yang juga sama kelamnya dengan dirinya dan berakhir pada perjodohan tidak terduga.

Nana adalah seseorang yang sudah siap melupakan masa lalu dan terpuruk pada masa depannya, sedangkan Al adalah pria gila kerja yang lupa pada kebutuhan hatinya sendiri.

Mereka berdua terbenam dalam pusaran rasa yang sama hingga di satukan dalam sebuah perjodohan. Lantas, mampukah mereka berdua untuk belajar saling membuka diri? Belajar saling menerima?

Mampukah mereka pada akhirnya merengkuh cinta yang telah lama dilupakan?

Season II

Tak pernah kusangka, berawal dari tak suka namun berakhir cinta. Namun, apakah jalan cinta akan semudah itu untuk kita? [Alesha]

Di antara dua hati, manakah yang harus kupilih? [Atha]

Jika jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan, maka kumohon, hapuskan rasa cintaku padanya. [Zahra]

Salahkah jika aku mencintainya? [Zahran]

Dia bilang kami berbagi apapun, lantas, apakah aku juga jatuh cinta pada orang yang sama? [Zayyan]

Bagiku, cinta bukanlah segalanya. [Alvarendra]

Aku mencintainya! [Maxmillan]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. BICARA

N A N A POV

Pulang? Oh, kemana kah? Pikir ku kemudian.

“Pulang? Kemana Bang?” tanya ku hati-hati.

Ku lihat wajah Abang sangat serius, hem, atau memang wajah suami ku ini tipe yang memang begini ya? Serius, tegas namun ia memiliki pribadi yang lembut kira-kira seperti itu lah saat ini karakter nya yang ku lihat.

“Rumah. Abang sebenarnya memang suka pindah-pindah tempat tinggal tergantung proyek, tapi walaupun gitu Abang punya rumah tetap kok di Duri.” ucap abang jelas.

Ooh Duri, hee, baru juga sampai Pekanbaru beberapa hari lalu sudah mau traveling lagi. Mantap, hehe.

Ingat, Na. Ikut kata suami, pikir ku kemudian.

“Tapi, kita baru beberapa hari di sini, tidak apa kah langsung pulang ke Duri, Bang?” tanya ku lagi—masih hati-hati.

Tampak wajah serius nya mulai berangsur santai, posisi nya yang tadi duduk di kursi dengan meja penuh tumpukan file proyek pun kini berjalan ke kasur dimana Aku sedang duduk.

Dan dengan cepat ia sudah merebahkan tubuh nya tanpa ku sadari sedangkan kedua tangannya melingkari perut ku dengan erat.

Tubuh ku menegang bersamaan dengan betapa dekat nya kami saat ini, ia memelukku dengan posisi rebahan. Hangat deru napas nya seakan menembus jutaan benang-benang yang terjalin menjadi kain bahan baju tidur ku.

“A..bang?” tanya ku dengan suara sedikit—bergetar.

Posisi nya saat ini, sentuhan pelukannya membuatku merasa malu dan juga bahagia, jadi, jadi begini kah rasa nya di cintai? Tanya ku dalam hati.

“Hem?” balas nya masih dengan posisi semula.

“Tidak apakah kira-kira jika kita langsung pulang?” tanya ku lagi.

“Nanti biar Abang yang jelasin pelan-pelan ke Mama, Papa dan juga Nia.” jawab nya seraya semakin membenamkan wajah nya ke lekukan perut bagian samping ku.

“Kamu, punya alasan tersendiri kenapa mau lama-lama di sini, Yang?” tanya nya dengan panggilan akhir yang membuat ku berbunga—lemah nya Aku, cuma di panggil sayang saja bisa se-bahagia ini.

“Hem, hanya kayak wah ini semua terlalu cepat, soal nya Nana niat nya ke Pekanbaru mau cek toko, ngelaksanain jum’at berbagi, tapi ya siapa sangka kalau justru akan menikah dalam waktu dekat, Wallahu’alam.” jawab ku lebih santai.

“Kamu, menyesal kah nikah sama Abang?” tanya nya seraya mendongak melihat wajah ku.

Tanpa ku sadari senyum ku terulas sempurna lalu refleks ku geleng kan kepala ku pelan, “Tentu saja Nana nggak pernah merasa menyesal sudah menikah dengan Abang, sungguh.” ucap ku penuh arti.

Ku lihat wajah nya mengulas senyum sempurna—wajah nya semakin tampan.

CUP.

Tanpa sadar ku kecup pipi kanan nya yang sontak membuat diri ku terkejut begitu juga dia—oh tidak, apa yang ku lakukan?

Arggh! Aku malu, malu sekali. Bagaimana ini? Rutukku dalam hati seraya menutupi wajah ku dengan kedua tangan.

“Mulai berani ya, hahaha.” tawa nya kencang seraya memelukku lebih erat—aku terhuyung oleh tekanan nya hingga kami berdua terjerembab bersama ke atas kasur.

CUP.

CUP.

CUP.

Balas nya dengan mengecupi kedua pipi ku gemas. Tubuh nya yang lebih besar dari ku menyembunyikan keberadaan ku dengan sempurna dalam dekapannya.

Tawa nya mengembang, dasar, seperti nya ia memang suka menggodaku ya.

“Hmm, udah, muka Nana geli Abang cium terus,” pinta ku pelan masih terbenam dalam dekapannya.

“Biarin, Adek sih mulai duluan hahaha.” tawa nya lagi.

Kali ini ia mengecup kedua pipi ku tanpa suara namun tidak berhenti, seperti seorang anak kecil yang sedang menciumi bayi baru beberapa hari, ada rasa gemas yang menguar dari sentuhannya yang jenaka.

“Ihh, Abang, Nana malu. Sungguh,” ucap ku di sela-sela.

“Hem ya udah deh, habis nya kamu gemesin. Wangi juga, Abang suka.” ucap nya frontal.

Tak ayal, mendengar ucapannya seketika wajah ku memerah seperti kepiting rebus. Merah padam. Aku malu!

“Muka nya jangan di tutup terus dong, masih malu?” tanya nya kemudian.

Aku tidak mampu menjawab, jadi hanya mampu mengangguk kecil tanda meng-iyakan ucapannya barusan.

“Sama Abang, malu juga?” tanya nya seolah masih ingin menggodaku.

“Iya laa, masa nggak? Nana malu,” ucap ku mulai santai kembali.

Padahal jika di pikir-pikir kami baru menikah tadi pagi pukul 10.00 WIB, dan saat ini barulah lima puluh menit sejak ashar dan kami sudah se-akrab ini? Wallahu’alam, Aku pun tidak terlalu mengerti bagaimana jalannya, namun ini lah yang terjadi.

Rasa nya Abang adalah pria yang sangat menyenangkan dan juga tegas dalam waktu bersamaan. Alhamdulillah terima kasih atas kebaikan-Mu Yaa Allaah. Syukur ku dalam hati.

“Hem, jadi gitu. Tapi sungguh, Nana itu gemesin banget,” balasnya. Tampak wajah tampannya menunjukkan raut serius tanda ia sedang berpikir, “Atau Abang ternyata tipe suami agresif ya?” gumamnya pelan.

“Oh iya, Nana pernah punya pacar nggak?” tanya nya kemudian—posisi kami sekarang masih rebahan santai menatap langit-langit kamar Abang di kediaman Nasution.

“Enggak pernah, sungguh. Kalau Abang gimana?” jawabku seraya bertanya kembali pada nya.

“Hem, enggak juga. Nana pernah dengar Mama ngomong Abang workholic kan?” tanya nya.

“Iya,” jawab ku.

“Nah jadi, Abang kalau lagi megang suatu proyek itu emang nggak sempat ngelirik-lirik cewek, jadi nggak pernah punya hubungan spesial gitu.” jelas nya.

“Ooh.”

Abang kemudian memiringkan wajah nya dan menatap wajah ku lurus. Senyum nya terulas kembali tersirat makna lembut dan dalam dari tatapannya. Oh Yaa Rabbi, ia begitu baik seperti ini lantas mengapa Aku sempat mengira ia pria yang berbahaya? Tanya ku dalam hati.

“Na, boleh tidak kalau Nana buka jilbab nya?” tanya nya kemudian.

Mendengar ucapannya barusan sontak membuatku terkejut, namun lima detik kemudian Aku meng-iyakannya—bagaimana pula Aku mampu menolak nya bukan? He is my hubby, of course yes.

“Bo, boleh Bang.” ucap ku patah-patah.

Aku pun kemudian beranjak duduk dan mulai melepas jilbab yang selama ini ku kekanakan jika berada di depan seseorang yang bukan mahram ku.

DEG.

Detak jantungku berdenyut kencang, hingga plas!

Jilbab ku meluruh dan tampak lah seluruh rambut ku yang menjuntai luruh sepunggung, lembut dan hitam. Aku malu, Aku masih menutup mataku karena belum berani menatap wajah nya.

CUP.

Kecup nya lembut di dahi ku dan tentu saja seperti ada aliran listrik kecil yang terasa menyengat dari bekas nya setiap kali ia mengecup ku.

“Cantik, istri ku luar biasa.” ucap nya seraya mengulas senyum.

Tangannya terulur lalu membenamkan kepala ku kembali ke dada nya, jemarinya mengusap rambut dan punggung ku pelan. Detak jantung nya yang juga berdenyut kencang memenuhi telinga ku—tidak, tepatnya suara detak jantung kami berdua yang mengalun kencang dan aneh nya terdengar seperti harmoni kehidupan, benih-benih bahagia menguar pelan lalu kuat bersama udara yang kami hirup.

Deru napas nya, hangat tubuhnya, ku rasakan semua itu dengan sempurna. This is all i need, pekik ku dalam hati.

...***...

1
Defi Andriani
Kecewa
Nuri Ummu Reyhan
seperti nya seruu ini,lanjut baca
Rizky Septio
Kecewa
Chuiy Bunda'e Rizma
kpn ya lanjut...?
Herna
lanjut. toor
Eman Sulaeman
lanjuut
Lia Shechibie'slove
Thor klw org Sumatra blng kelereng guli bener GK sih😂😂😂😂😂
Lia Shechibie'slove
Lanjut thor
Lia Shechibie'slove
aku baru ngeh Thor, si Naysila ngurung dri selama 3thn karena keluarganya kecelakaan waktu mau dtg ke wisuda Naysila 😭😭😭😭😭
Lia Shechibie'slove
Thor aku Org Duri Riau, mampir kerumah ya....
Lia Shechibie'slove
Naysila Putri kamu harus semangat lanjutkn Hidupmu, walaupun kamu sebatangkara tapi masik ada Allah!!! kan aku jadi nyesek bacanya😭😭😭
Thor aku padamu
Lia Shechibie'slove
mampir Thor, kok malah kejebak!!! baru awal baca z Ud baper😭😭😭
Siti Jamila
mengulang yg kedua kali aku Thor
Sri Sri
baru baca bab 1 udah pedes ni mata
Imanuel Nuel
lanjut
Imanuel Nuel
agak kebayakan nangis.dan untuk suami Nana.,kata2'a di pegang dong.
Sutiah
waduh,, ada 2 orang calon pebinor 🤯
Imanuel Nuel
aldo keren😂😂🤦
Imanuel Nuel
like 👍👍buat meli.
Imanuel Nuel
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!