NovelToon NovelToon
CLBK Couples

CLBK Couples

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ichageul

Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan

Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.

Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.

Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.

Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.

Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Couple (6) Aku Suamimu

Irzal menunggu di depan kamar Rena. Saat Rena keluar dari kamarnya, Irzal bermaksud menjewernya namun Rena berkelit. Dia lari menjauh tapi Irzal berhasil menarik kerah belakang baju seragam Rena.

“Kamu ya yang bikin sofa kakak basah.”

“Ngga.. kamar kakak bocor kali,” jawab Rena asal.

“Dasar anak nakal, ayo ngaku!” baru saja Irzal akan menjewer, Rena langsung berkata,

“Kalau kakak berani jewer Rena. Rena bakal bilangin ke ummi kalau kakak ngga pernah tidur bareng sama kak Poppy,” ancam Rena.

Irzal terkejut bagaimana biang kerok satu ini tahu hal tersebut. Tapi Irzal tak memperdulikan ancaman Rena, dia tetap menjewer telinga Rena dengan kencang.

“Ummi..!!” teriak Rena.

Irzal langsung membekap mulut Rena. Poppy yang sedang menyiapkan sarapan langsung naik ke atas begitu mendengar teriakan Rena.

“Ada apa Ren?” tanya Poppy.

Irzal melepaskan kerah baju Rena, berpura-pura seperti sedang merapihkannya kemudian turun seolah tidak terjadi apa-apa. Rena mengelus-elus telinganya yang barusan dijewer Irzal lalu menyusul turun ke bawah. Poppy yang tidak mengerti akhirnya ikut turun.

Rena sibuk mengutak-atik ponsel saat sedang sarapan. Ummi yang kesal melihat Rena langsung menegurnya.

“Rena, jangan main hp mulu, cepet abisin sarapannya.”

“Siapa juga yang main hp, aku tuh lagi nyari tema buat tugas aku ummi,” jawab Rena tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Tugas apalagi Ren?” tanya Poppy.

“Ini kak, tugas bahasa Indonesia. Disuruh buat tulisan narasi deskriptif, temanya bebas mau tentang manusia, hewan atau tumbuhan. Aku rencananya mau ambil tema hewan aja, cuma kira-kira hewan apa ya, yang unik gitu.”

“Kampret,” sambar Irzal. Poppy hampir tersedak mendengarnya.

“Kampret, emang itu nama hewan?” tanya Rena.

“Kampret itu hewan sejenis kelelawar, cuma ukurannya lebih kecil. Termasuk hewan nocturnal dan pemakan serangga kecil. Pendeskripsiannya bisa kamu kembangin sendiri, plus bisa kamu tambahin juga kalau kata kampret juga biasa dijadikan istilah atau sebutan untuk seseorang..”

“Yang nyebelin, rese,” sambar Rena.

Poppy berdehem beberapa kali mendengar obrolan Irzal dan Rena. Irzal melirik ke arah Poppy, yang berusaha bersikap biasa. Setelah menghabiskan sarapannya dia pamit pada ummi. Tak lama Irzal menyusul.

Selama dalam perjalanan, Irzal hanya diam. Seperti biasa, dia memasang muka datar. Poppy sendiri tampak melamun. Pikirannya tertuju pada kejadian semalam.

Tadi malam tuh mimpi atau beneran ya. Mungkin ngga sih kalau dia beneran meluk dan nyium aku? Tapi rasanya kaya nyata.

Tanpa disadari Poppy menyentuh bibirnya. Irzal menangkap sekilas apa yang baru saja dilakukannya. Dia tersenyum tipis. Mobil yang dikendarai mereka sudah sampai di kantor Poppy, tapi dia tak menyadarinya.

TAK

Sebuah sentilan mendarat di keningnya. Poppy mengelus keningnya, menatap kesal pada Irzal.

“Udah sampe. Pagi-pagi ngelamun.”

Poppy melihat keluar jendela. Buru-buru dia mencium tangan Irzal lalu membuka pintu mobil. Saat akan turun terdengar Irzal berkata,

“Nanti kalau udah selesai kerja jangan lupa telpon si kampret,” ujarnya dingin.

Poppy tak menanggapi, dia langsung turun dan menutup pintu mobil. Mobil yang dikendarai Irzal pun segera berlalu meninggalkannya.

Dasar nyebelin!!

❤️❤️❤️

Jam enam lebih empat puluh menit Poppy baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Ratih yang juga ikut lembur menghampirinya.

“Pop, kita makan bareng yuk,” ajak Ratih.

“Aduh maaf banget, kamu kan tau aku bakalan dijemput suamiku. Sorry ya, next time deh kita makan bareng.”

“Iya deh yang udah married, so sweet banget sih pulang pergi dianter suami tercinta,” puji Ratih sambil tersenyum.

Poppy hanya nyengir.

So sweet apaan... kalau bukan perintah ummi mana mau dia antar jemput.

Poppy membereskan mejanya, mengambil tasnya lalu meninggalkan ruangan bersama Ratih. Sesampainya di luar, terlihat mobil Irzal sudah menunggunya. Pak Bowo, security yang bertugas segera menyapa mereka yang baru keluar kantor.

“Malem mba Poppy dan mba Ratih, baru beres?”

“Iya pak, biasa lembur,” jawab Ratih sambil tersenyum.

“Mba Poppy, itu suami tersayang sudah jemput, monggo,” ucap pak Bowo pada Poppy.

Ratih lagi-lagi menggoda. Poppy hanya nyengir.

Suami tersayang dari hongkong. Yang bener tuh suami jutek bin nyebelin.

Setelah berpamitan dengan Ratih dan pak Bowo, Poppy segera masuk ke dalam mobil.

Suasana dalam mobil hening, keduanya tak ada niat memulai percakapan. Tiba-tiba suara ponsel Poppy berbunyi memecah kesunyian. Dia mengambil ponselnya, terlihat sebuah panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Poppy segera menjawab pangilan.

“Halo.”

“Halo, selamat malam. Apa benar ini dengan ibu Poppy Anggraeni?”

“Ya betul pak.”

“Kalau saudara Dimas Saputra benar adik anda?”

“Iya betul, maaf ini dengan siapa?”

“Ini dari kantor polsek Pesanggrahan. Saya harap ibu segera ke sini. Adik ibu terlibat perkelahian dan saat ini sedang kami proses laporannya.”

Jantung Poppy hampir copot mendengarnya, dengan lemas dia menjawab,

“Baik pak, saya ke sana sekarang.”

Poppy terdiam sejenak. Dia tak percaya dua hari berturut-turut harus berurusan dengan polisi. Seketika kecemasan melanda hatinya, dengan tatapan panik melihat ke arah Irzal.

“Ada apa?”

“Dimas a, dia sekarang ada di polsek Pesanggrahan, katanya terlibat perkelahian.”

Mendengar jawaban Poppy, Irzal segera memacu mobilnya lebih cepat menuju polsek Pesanggrahan. Kondisi jalan sedikit macet, Poppy mulai merasa tidak tenang. Beberapa kali dia melihat jam tangannya. Irzal yang mengerti kepanikan istrinya, memegang tangannya untuk mengurangi kecemasannya. Poppy terdiam saat Irzal menyentuh tangannya. Entah mengapa dia menjadi lebih tenang. Akhirnya empat puluh lima menit kemudian mereka sampai di kantor polisi.

Poppy buru-buru turun dari mobil. Segera berlari masuk ke dalam kantor polisi. Dia melihat sekeliling. Nampak Dimas sedang duduk menghadap seorang petugas untuk dimintai keterangan. Poppy buru-buru menghampiri.

“Dimas,” panggil Poppy.

Dimas menengok. Poppy melihat terdapat lebam di wajah adiknya, sudut bibirnya pun terluka.

“Ya ampun.. kamu gak apa-apa?” Poppy cemas. Dimas hanya mengangguk.

“Anda saudari Poppy?” tanya sang petugas.

“Betul pak,” jawab Poppy seraya duduk di samping Dimas. Tak lama Irzal datang. Dia langsung memperkenalkan diri pada petugas setelah itu duduk di samping Poppy.

Petugas itu mulai menjelaskan kalau Dimas terlibat perkelahian dengan lima orang pemuda. Kelima pemuda itu mengaku diserang tiba-tiba oleh Dimas karena tidak sengaja menyenggolnya.

“Bukan aku yang mulai kak. Aku dikeroyok sama mereka. Aku cuma membela diri aja,” Dimas berusaha meyakinkan Poppy.

“Bapak percaya ucapan mereka? Dimas tuh masih kecil pak, baru kelas tiga SMP. Ngga mungkin dia cari masalah,” kali ini Irzal mulai berkomentar.

“Bukan masalah percaya atau tidak. Saya hanya mengikuti prosedur, mengambil pernyataan dari kedua belah pihak. Saran saya, berdamai saja, mengingat Dimas juga masih di bawah umur, tapi masalahnya mereka tidak mau berdamai.”

“Dimana orang yang ngaku dipukuli oleh adik saya pak?” tanya Poppy.

Petugas itu menunjuk ke sebelah kanannya. Di sana terlihat lima orang pemuda sedang duduk sambil mengobrol. Poppy hendak menghampiri tapi Irzal menahannya.

“Biar aku aja.”

Irzal segera menghampiri kelima pemuda itu. Dia tertawa begitu melihat mereka, yang ternyata preman yang dipukulinya dulu.

Irzal mengambil sebuah kursi lalu duduk berhadapan dengan kelima pemuda tersebut. Dia memandangi satu per satu pemuda itu. Di wajah mereka pun terdapat luka lebam seperti hal nya Dimas.

“Ck..ck..ck.. ngelawan satu anak SMP aja kalian sampe babak belur begini. Tapi masih juga berani malakin orang,” ledek Irzal.

“Lo boleh ngomong apa aja, tapi adek lo bakal di penjara. Kita ngga bakalan mau damai, kecuali lo kasih uang sama kita-kita,” ucap salah satu pemuda itu yang diyakini sebagai pemimpin mereka.

“Ok, kalau gitu kita selesaikan aja semuanya di sini sekarang. Tapi yang bakalan nginep di sel tuh kalian bukan adik gue,” Irzal balas menantang mereka.

“Zal.”

Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Irzal. Dia mengengok dan melihat seorang lelaki bertubuh kekar berjalan ke arahnya. Lelaki adalah Agung, senior Irzal saat ikut pelatda atlit taekwondo. Sekarang dia adalah seorang polisi berpangkat Bripka.

Irzal segera berdiri menyambut Agung, mereka bersalaman. Sedang kelima pemuda tersebut terkejut melihat Agung, apalagi setelah mereka tahu ternyata Irzal dan Agung ternyata saling kenal. Wajah mereka seketika berubah pucat.

“Sekarang tugas di sini mas?” tanya Irzal.

“Ngga.. ada tersangka yang lagi aku kejar ternyata tertangkap di sini.”

Agung melihat kelima pemuda yang tadi berbicara dengan Irzal.

“Ada apa nih?”

“Mereka ngaku abis dipukulin mas.”

Agung memandangi pemuda itu satu per satu, lalu kembali bertanya pada Irzal.

“Dipukul sama siapa? Pastinya bukan sama kamu kan? Kalau hasil karya kamu ya minimal masuk IGD atau patah tulang lah,” ujar Agung sambil bercanda.

“Mereka ngaku dipukulin sama adikku bang, padahal dia masih kecil.”

Irzal menunjuk ke arah Dimas. Agung segera berdiri, dia menggulung kertas yang dibawanya lalu memukulkan gulungan kertas itu pada kepala kelima pemuda tersebut sambil memanggil nama mereka satu per satu.

“Gurit, Made, Udin, Toto dan kamu Dadan ngga ada kapok-kapoknya ya kalian. Ngga di mana-mana bikin masalah terus. Kemaren-kemaren masih saya bebasin, tapi tetep cari masalah juga. Kalian mau jadi apa hah?!”

Selesai berkata, Agung mengajak Irzal menuju ke Dimas. Sebelum pergi Irzal kembali berkata,

“Awas kalau kalian berani ganggu adik gue lagi. Ini peringatan terakhir gue!” ancam Irzal sebelum menyusul Agung.

“Bebasin anak ini, mereka tuh biang kerok yang suka bikin masalah. Masukin aja ke sel dua, tiga hari biar kapok!” perintah Agung pada petugas yang mencatat laporan kejadian.

“Siap pak.”

“Ok, Zal.. aku pergi dulu.”

“Iya, makasih mas.”

Setelah urusan selesai, petugas itu memperbolehkan Dimas untuk pulang.

Begitu keluar dari kantor polisi, Poppy tak berhenti berbicara. Dia terus saja memarahi Dimas. Bagaimana bisa Dimas menjadi anak yang suka berkelahi, bagaimana bisa dia kenal dengan para preman itu. Poppy juga mengingatkan Dimas kalau tugasnya itu belajar bukan keluyuran atau mencari masalah dengan preman itu.

Irzal menstarter mobilnya. Tak lama kendaraan tersebut meluncur meninggalkan kantor polisi. Poppy yang masih belum puas, terus mencerca adiknya. Sedang Dimas hanya diam membisu. Beberapa kali Irzal memberi isyarat pada Poppy untuk berhenti memarahi, tapi dihiraukannya. Irzal menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik.

“Kenapa berhenti a?” tanya Poppy.

“Dari pada kamu marahin Dimas terus, mending kamu turun. Beliin obat luka buat Dimas. Kamu pikir dia ngga kesakitan apa.”

Poppy melirik kesal ke arah Irzal, kemudian turun dari mobil. Irzal mengajak Dimas turun, lalu mereka duduk di depan sebuah kios. Irzal mengambil sebotol air mineral dan memberikannya pada Dimas. Lalu memeriksa luka-luka Dimas.

“Kamu sendirian tadi ngelawan mereka?”

“Iya kak,” jawab Dimas pelan. Takut Irzal memarahinya.

“Bagus,” puji Irzal. Dimas terkejut mendengarnya.

“Kakak ngga marah?”

“Ngapain kakak marah. Kamu tuh membela diri. Ngga mungkin kan kamu diam kalau dipukuli. Kakak marah kalau kamu menggunakan kemampuan bela diri buat menindas yang lemah.”

Irzal menepuk pelan bahu Dimas. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya, lega rasanya. Setidaknya Irzal berada di sisinya, saat Poppy habis-habisan memarahinya.

Tak lama Poppy datang, mengeluarkan obat yang dibelinya, mengoleskan pada wajah Dimas yang lebam.

“Kalau udah kaya gini kamu mau bilang apa sama mama. Masih untung kalau mama ngga pingsan lihat kamu babak belur kaya gini. Mentang-mentang kamu udah bisa bela diri terus kamu bisa seenaknya berantem sama siapa aja, gitu?” Poppy kembali mengomel.

Irzal segera mengajak Poppy dan Dimas masuk ke dalam mobil. Waktu sudah lewat jam sembilan malam. Mama pasti khawatir karena Dimas belum juga pulang ke rumah. Dia mempercepat laju mobilnya. Akhirnya mereka sampai juga di rumah.

“Dimas, awas ya kalau sampe kamu bikin masalah lagi. Kamu tuh udah besar, ngga seharusnya kamu bikin teteh atau mama khawatir. Ngga usah gaul sama orang-orang yang ngga jelas, belajar yang bener dan ngga usah sok akting jadi jagoan segala!”

Dimas yang sedari tadi diam, sudah tidak dapat menahannya lagi. Dia mulai berkomentar.

“Kenapa sih dari tadi teteh cuma nyalahin Dimas? Kenapa teteh ngga nanya dulu masalahnya apa?”

“Apa pun masalahnya teteh tetep ngga suka kalau kamu berantem kaya gini. Mau jadi apa kamu kalau menyelesaikan persoalan pakai kekerasan?”

“Tapi Dimas punya alasan teh!” suara Dimas mulai meninggi.

“Teteh ngga tau apa-apa soal Dimas! Apa yang Dimas alamin teteh ngga pernah tau. Dimas ngga masalah teteh marahin Dimas, tapi yang bikin Dimas sedih teteh ngga percaya sama Dimas!”

Dimas segera turun dari mobil. Poppy yang tak percaya Dimas baru saja melawannya langsung turun dan mengejarnya. Irzal pun ikut turun. Poppy menarik tangan Dimas yang hendak masuk ke dalam rumah.

“Dimas, kenapa kamu kaya gini hah! Udah berani ngelawan, ngebantah teteh, kamu bener-bener ya bikin teteh pusing!”

“Karena Dimas kecewa sama teteh! Seharusnya di saat seperti ini teteh tetep percaya sama Dimas, tapi teteh bisanya cuma nyalahin Dimas!”

Pintu rumah terbuka, mama keluar dari dalam rumah.

“Ada apa ini ribut-ribut di luar, Dimas, Poppy,” tanya mama. Dimas tidak menjawab pertanyaan mama, dia langsung masuk ke dalam.

“Dimas!” panggil Poppy.

“Poppy, ada apa sih, ngga biasanya kamu marah-marah kaya gini sama Dimas?”

“Ngga ada apa-apa ma, maaf kalau kita bikin ribut. Kita pulang dulu ya ma,” Irzal mencoba meredakan suasana.

Dia segera menarik tangan Poppy untuk masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama mobil meluncur meninggalkan mama yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mama segera masuk ke dalam rumah sambil memanggil Dimas.

Poppy terdiam, dia masih kesal dengan sikap Dimas tadi.

“Gara-gara aa ngebela dia makanya dia jadi bersikap kurang ajar kaya gitu,” Poppy mulai bersuara, kali ini dia menumpahkan kekesalannya pada suaminya.

“Terus kamu mau aku ikutan marah, apa belum cukup kamu dari tadi marahin dia?”

Poppy diam, malas menanggapi ucapan Irzal. Tak lama mereka sampai di rumah. Poppy langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Dia membuka pintu kamar lalu melempar tas nya ke atas kasur dengan kesal. Kesal dengan Dimas, Irzal, mereka berdua sama saja, tidak mengerti perasaannya. Tak lama Irzal masuk ke dalam kamar, Poppy buru-buru mengambil baju tidurnya lalu keluar menuju kamar mandi.

Irzal baru saja selesai mengganti baju, lalu melihat ke tempat di mana sofa berada. Sofanya tidak ada, Irzal kebingungan. Dia keluar menuju balkon, tidak ada, lalu keluar kamar, melihat ke ruang tengah, sofanya juga tidak ada. Kemudian melihat ke kamar Rena.

Pasti di kamar Rena.

Irzal langsung menuju kamar Rena, membuka pintu namun terkunci. Dia mengetuk-ngetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban.

“Rena... buka Rena!”

Rena tetap tak menjawab, dengan kesal Irzal masuk ke kamarnya lagi.

Setelah berganti pakaian, Poppy masuk ke dalam kamar. Dia melihat Irzal sedang duduk di depan meja kerjanya. Poppy mengambil tasnya dari atas ranjang lalu menaruhnya di dalam lemari, kemudian berjalan menuju ranjang.

“Besok kamu harus minta maaf sama Dimas.”

Poppy menghentikan langkahnya lalu melihat kepada Irzal.

“Kenapa aku harus minta maaf? Yang bikin masalah dia, bukan aku,” emosi Popy kembali terpancing.

“Karena kamu udah keterlaluan tadi. Tanpa denger alasannya kamu terus marahin dia. Setidaknya kasih dia kesempatan untuk menjelaskan.”

“Udah deh a, ngga usah sok peduli. Sejak kapan kita saling peduli dengan urusan masing-masing? Aku minta mulai saat ini jangan ikut campur lagi urusan aku dengan keluargaku.”

Mendengar ucapan Poppy, Irzal langsung berdiri. Berjalan ke arahnya.

“Dimas adik aku, bagaimana cara aku mendidiknya itu urusan aku, dan aa ngga usah ikut campur,” Poppy kembali menegaskan kata-katanya.

“Aku suami kamu, suka ngga suka, mau ngga mau urusan keluarga kamu adalah urusan aku sekarang. Dimas bukan cuma adik kamu, sekarang Dimas juga adik aku!” suara Irzal mulai meninggi.

“Wah, sejak kapan Dimas jadi adik kamu a? Sejak kapan aa peduli?!”

“Sejak kita menikah!” pekik Irzal.

“Pernikahan bukan cuma di antara kita berdua, tapi ada keluarga kita juga. Kamu tanya sejak kapan aku peduli? Sejak kita menikah aku sudah berkomitmen untuk menjaga kamu, mama dan juga Dimas, cuma kamu yang ngga pernah mau melihat!” imbuhnya.

Emosi Irzal mulai terpancing. Dia menumpahkan semua kekesalan yang dirasakannya pada Poppy akhir-akhir ini.

“Aa ngelakuin itu semua karena ummi kan?”

“Jadi kamu pikir apa yang aku lakuin selama ini karena perintah ummi? Kamu bener-bener picik ya, aku lakuin itu karena rasa tanggung jawab aku sebagai seorang suami! Tapi kamu, kamu ngga bisa menghargai suami kamu sendiri!”

“Lalu bagaimana dengan aa sendiri? Apa aa pikir sikap aa selama ini ngga bikin aku sakit? Aku merasa cuma dianggap beban di hidup aa, beban yang harus aa tanggung seumur hidup karena sudah menikahi aku!”

“Aku ngga pernah anggap kamu beban! Kamu aja yang selalu berpikir negatif tentang aku, kamu selalu menanggapi dengan salah apa yang sudah aku lakukan, selalu sibuk dengan pikiran dan prasangka kamu sendiri!”

“Karena aa ngga pernah mengatakannya dengan jelas! Aa yang selalu membuat aku berprasangka. Apa aa sadar yang aa lakukan selama ini hanyalah memenuhi kewajiban aa sebagai seorang suami tapi apa pernah aa memperlakukan aku layaknya seorang istri? Aku bukan robot yang ngga punya perasaan. Aa pikir aku ngga sakit setiap kali aa menarik ulur hati aku dengan sikap aa yang berubah-ubah. Apa arti aku dalam hidup aa aku ngga pernah tau dan aku ngga berani untuk memikirkannya. Setidaknya berikan aku batasan yang jelas sejauh mana aku bisa melangkah dalam pernikahan ini!”

Poppy tak dapat menahan airmatanya yang mulai jatuh bercucuran. Dia mulai menangis. Akhirnya keluar sudah apa yang selama ini dipendamnya. Walaupun pernikahan ini adalah hasil perjodohan, tapi sebagai seorang wanita dia tak memungkiri membutuhkan perhatian dan kasih sayang suaminya. Sikap Irzal yang ambigu membuatnya bingung dan selalu bertanya-tanya.

Irzal terdiam, baru kali ini dia melihat Poppy seperti ini.

“Poppy, maafin aku,” suara Irzal mulai melembut.

“Ngga ada yang perlu dimaafin a. Aa ngga salah, mungkin aku aja yang terlalu berharap lebih dengan pernikahan kita.”

Irzal berjalan menghampiri tapi Poppy melangkah mundur.

“Tolong jangan buat aku salah paham lagi dengan sikap aa. Berhenti menarik ulur perasaanku, aku cape a.”

Tanpa berkata Irzal memilih keluar kamar. Seperginya Irzal, Poppy langsung menjatuhkan dirinya ke kasur. Membenamkan wajahnya ke atas bantal lalu menangis sesenggukan.

Irzal turun ke lantai bawah, menuju dapur. Dia mengambil minuman dingin dari dalam kulkas, menarik kursi makan, kemudian duduk termenung sambil meminum segelas air dingin. Tak lama ummi datang menghampiri, ikut duduk di sampingnya. Dipegangnya tangan Irzal.

“Ada apa Zal? Suara kalian sampai terdengar ke kamar ummi,” ucap ummi lemah lembut.

“Ngga ada apa-apa ummi.”

“Zal... dalam rumah tangga ada pertengkaran atau masalah itu hal yang wajar. Semakin banyak masalah yang datang, maka akan semakin bijak kita menghadapinya. Bagaimana cara kita menghadapi masalah yang datang hari ini akan mempengaruhi cara kita dalam menghadapi masalah di masa yang akan datang, intinya adalah sabar.”

Ummi terdiam sebentar, dia menatap anak laki-lakinya ini.

“Kamu lagi ada masalah sama Poppy?” Irzal mengangguk pelan.

“Kamu tahu, selama tiga puluh tahun ummi menikah dengan abi, semarah apa pun abi, sekesal apa pun abi sama ummi, abi tidak pernah meninggikan suaranya pada ummi. Kamu tahu kenapa?” kali ini Irzal hanya menggeleng.

“Karena wanita lebih banyak menggunakan perasaannya. Sedikit saja nada suaramu naik, maka akan ada luka di hati istri kamu. Apalagi kalau sampai berteriak, membentak, itu akan sangat menyakitkan hati,” jelas ummi.

“Wanita itu ingin dipahami, dimengerti. Tapi untuk memahami hati wanita itu susah-susah gampang, butuh banyak kesabaran. Kewajiban seorang suami tak melulu soal materi, harus ada perhatian, rasa sayang dan bisa memberi kenyamanan pada pasangan,” lanjutnya.

Hati Irzal menjadi lebih tenang setelah mendengar nasehat ummi. Namun dia masih belum bisa berhenti memikirkan apa yang tadi Poppy katakan. Dia sungguh menyesal telah membuat Poppy menangis seperti tadi.

“Ya sudah, sekarang kamu tidur, besok kan harus kerja.”

Irzal terjaga dari lamunannya. Dia menuruti perkataan ummi, segera kembali ke kamarnya.

Irzal membuka pintu pelan-pelan. Poppy sudah tertidur. Irzal naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping Poppy. Dia memandangi punggung Poppy, dibelainya puncak kepala istrinya. Tak ada reaksi darinya. Perlahan dia memeluk Poppy dari belakang. Kemudian berbisik lirih di telinganya.

“Maafin aku.”

Suara adzan subuh terdengar. Irzal membuka matanya. Poppy masih belum bangun. Cukup lama dia memandangi wajah cantik istrinya. Saat bibirnya akan mencium, tiba-tiba Poppy menggeliat. Irzal memejamkan matanya, berpura-pura masih tidur.

Poppy bangun dari tidurnya. Irzal masih tertidur di sampingnya. Ingatannya kembali pada pertengkaran mereka semalam.

Apa benar-benar ngga ada tempat untukku di hatimu a? Apa ini yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan? Hiks.. sedih banget nasibmu Poppy. Punya suami baik, ganteng, tapi kamu cuma jadi pajangan untuknya. Maaf a, untuk pertama dan terakhir kalinya ijinin aku menciummu.

Poppy mendekatkan wajahnya pada Irzal. Kemudian mencium pipi suaminya. Setelah itu dengan cepat berlari keluar kamar. Irzal membuka matanya. Dadanya berdegup kencang, dirabanya pipi yang terkena ciuman Poppy. Rasa bahagia menyeruak dari dalam hatinya.

1
P_nR
keren 👍🏻 nano nano rasanya 😘
Andini Hana Fakhirah
aku sudah menduga itu adit
Sindy Sintia
aku mikir Santi minta cucu kembar sepasang, hanya untuk di pisahkan dr Ega dan Alea,, Santi mau kuasain anak perempuan Ega sendirian, biar Ega dan Alea rasain gimana dulu Santi kehilangan anak perempuan nya(kakak Ega)
Sindy Sintia
tapi permasalahan blom selesai ,, Fanny yang mau Alea jd bonekanya,, Santi dan tombak yg benci ega
Sindy Sintia
jawaban ku bener Adit masih hidup.. bukan Adit pengagum debby
Sindy Sintia
kaya Adit sengaja menghilang semntra biar mereka ga gangguin Ega deh, atau Adit udah oplas tp blom berani kluar dr persembunyian nya
Sindy Sintia
lahiran caesar juga pengorbanan tau, malah harusnya yg lahir sesar tu lebih di hormati KRNA sakit ny setalah bayi lahir tu ya tuhan,, mmng aku lahiran normal 3x ga rasain sesar, tp liad org yg lahiran sesar ngilu sendiri tau
Sindy Sintia
ya iya lha Santi Willy dan tombak tak pernah ada dalam pikiran Ega ,, karena mereka semua juga ga pernah mikirin Ega , jadi setimpal kan
Sindy Sintia
hamil kembar kayanya macan betina, makan nya seabrek ahahahah
Sindy Sintia
ku kira irzal akan kejar sampai ke kerak telor haahahah
Sindy Sintia
koq aku mikir Santi di perkosa orang tapi ga jujur ke Hilman klw itu bukan anak Hilman, atau waktu lahiran anak kandung Santi ninggal di tukar dgn Ega yg entah anak siapa
Sindy Sintia
kira2 siapa yg ikutin ya.. Sugeng bukan ya?
Sindy Sintia
Sarah ga sadar apa , waktu itu 7 tahun Regan dengan sabar nunggu, sesabar nya manusia pasti akan ada sabar itu ada batasnya
Sindy Sintia
Lukman ga nyadar diri,, kelakuan nya sama kayak sarah
Sindy Sintia
ajaran Rena somplak
Sindy Sintia
mending salah masukin kancing, drpd salah masukin lobang,, akibat kelamaan menduda hahahah
Sindy Sintia
irzal sama Regan kesabaran nya setebal buku berbab2 ya.. mereka berjuang dapetin mantan istri, lha alea berjuang dapetin Ega lagi
Sindy Sintia
Debby jahil nya kayak Ega dan Rena gak sih,, usil2 somplak
Sindy Sintia
percaya deh yg nikah sama rena bakal awet muda karena ketularan somplak nya, hahhaah
Sindy Sintia
ya trulang lagi cemburu Poppy tanpa mau bertanya,, hadeh.. kebiasaan deh,kmrin irzal cemburu dia ngerasa ga punya salah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!