NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 14

Sinar matahari senja menyepuh deretan bangunan batu tiga tingkat di Kompleks Asrama Barat dengan warna tembaga suram. Udara pegunungan yang berhembus dingin membawa aroma tanah lembap dan kayu jati tua, menyapu lorong-lorong batu yang mulai dinaungi bayangan tebing. Kompleks tempat tinggal murid baru itu terbagi secara bertingkat mengikuti lereng tebing: paviliun bagian atas berdiri megah berhadapan langsung dengan arus energi spiritual dari puncak gunung, sedangkan deretan kamar di lantai paling bawah tenggelam dalam cekungan bayangan yang dingin dan gelap.

Ratusan murid baru berdiri berbaris di pelataran batu asrama, menghadap ke arah meja kayu jati besar tempat tiga orang murid senior berjubah biru tua duduk santai. Di atas meja tersebut, tertumpuk rapi ratusan keping plat besi berukir angka yang merupakan token kunci kamar.

Senior pemimpin di balik meja pendaftaran itu bernama Zhao Bo, seorang murid tahun kedua dengan bekas luka garisan tipis di pipi kirinya. Matanya menyapu barisan murid baru dengan pandangan bosan bercampur keangkuhan yang sangat ketara.

"Aturan di Asrama Barat sangat sederhana," seru Zhao Bo dengan suara lantang yang sengaja ditekan energi spiritual agar terdengar menindas. "Kamar lantai atas yang hangat dan kaya energi spiritual hanya diperuntukkan bagi murid-murid berbakat dari klan ternama. Sedangkan kamar lantai bawah diperuntukkan bagi kalian yang cuma beruntung bisa lolos dari desa-desa terpencil!"

Lu Fan dan rombongannya dari Kota Wushan melangkah maju ke depan meja dengan senyum lebar. Lu Fan menyenggol tas kain sutra yang berdenting halus—sebuah bentuk uang penyambutan terselubung—ke atas meja pendaftaran.

"Kamar nomor tiga di lantai atas untuk kelompok Kota Wushan," puji Zhao Bo dengan senyum puas setelah mengantongi tas sutra tersebut dengan cermat. "Tempat yang sangat layak untuk calon petarung berbakat dari kota besar."

"Terima kasih, Senior Zhao," sahut Lu Fan bangga sambil melirik tajam ke arah Shen Jue dan kawan-kawannya yang berdiri di barisan belakang.

Berikutnya, giliran kelompok murid asal desa perbatasan yang melangkah maju. Ruan Xi'er, Gongsun Zhi, dan Shen Jue berjalan bersama mendekati meja pendaftaran.

Zhao Bo menyilangkan tangannya di dada, menatap jubah linen abu-abu kusam yang dikenakan Shen Jue dengan sudut bibir terangkat meremehkan. Ia merogoh bagian paling bawah kotak kayu tua, lalu mengambil dua keping token besi yang sudah berkarat pada bagian ujungnya.

"Kalian bertiga," ejek Zhao Bo sambil melempar dua keping token besi itu secara kasar hingga berdenting keras di atas tanah batu tepat di depan kaki Shen Jue. "Kamar nomor sembilan di lorong ter bawah. Lorong itu agak lembap dan dingin, tapi sangat cocok untuk menumpuk belati rongsok dan tombak tua kalian."

Beberapa murid senior di belakang Zhao Bo terkekeh gembira melihat penghinaan terbuka tersebut. Lu Fan dari jauh ikut bersilap tangan sambil tersenyum culas, menunggu reaksi marah atau rintihan keputusasaan dari anak-anak desa tersebut.

"Kenapa dibuang ke tanah?! Kami datang ke sini mendaftar secara sah!" seru Xi'er dengan mata berkilat marah, dadanya naik turun menahan emosi.

Gongsun Zhi maju satu langkah, pangkal tombak hitamnya bergetar pelan saat menyentuh lantai batu, memancarkan hawa berat yang menekan. "Ambil kembali token itu dari tanah dan serahkan dengan benar," tuntut Gongsun Zhi dengan nada berat dan tegas.

"Bocah desa tidak tahu diri!" tawa Zhao Bo mengejek sambil membentangkan energi spiritual dari tubuhnya. "Di Asrama Barat, kata-kataku adalah hukum! Kalau kalian tidak mau mengambilnya di tanah, kalian boleh tidur di kandang kuda malam ini!"

Pendar aura kebiruan membumbung dari tubuh Zhao Bo, menekan udara di sekitar tempat mereka berdiri hingga terasa sesak. Tekanan aura dari senior tingkat dua itu cukup kuat untuk membuat beberapa murid baru di sekitar mereka gemetar ketakutan dan menundukkan kepala.

Namun, di tengah gejolak tekanan energi itu, Shen Jue melangkah maju dengan santai. Ia sama sekali tidak mempan oleh gertakan aura kebiruan milik Zhao Bo. Tatapan matanya yang gelap menatap lurus ke arah mata Zhao Bo—dingin, datar, dan teramat hampa, seolah-olah senior berkuasa di depannya itu hanyalah seonggok batu tak berharga di tepi jalan.

Shen Jue memiringkan kepalanya sedikit, menatap pergelangan lengan kanan Zhao Bo yang tegang.

"Energi kebiruan milikmu terlihat tebal," ucap Shen Jue tenang tanpa nada gemetar sedikit pun. "Tapi sayangnya, pondasi meridian di lengan kananmu itu retak akibat memaksa menyerap energi berlebih tiga bulan lalu."

Shen Jue mengambil satu langkah lagi mendekati meja, tatapannya begitu tajam menembus pertahanan batin lawan. "Kalau kau terus memaksakan aura menindas ini selama sepuluh detik lagi, pembuluh darah di siku kananmu akan pecah dan kau harus melipat tanganmu selama sebulan," sambung Shen Jue mendatar.

Kata-kata Shen Jue mengalir begitu mendatar, namun mengandung ketepatan analisis yang teramat mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Zhao Bo yang tadinya tersenyum sombong mendadak membeku. Rasa panas menyengat yang amat perih mendadak menusuk siku kanannya—titik cedera rahasia yang memang dirahasiakannya dari semua orang di akademi selama ini. Aura kebiruan yang membumbung di sekeliling tubuh Zhao Bo mendadak goyah dan padam seketika.

"K-kau... bagaimana kau tahu?!" tanya Zhao Bo gagap dengan wajah pucat pasi, memegangi siku kanannya yang gemetar hebat.

Shen Jue bahkan tidak sudi menjawab pertanyaan tersebut. Tanpa ada raut dendam, amarah, atau rasa bangga, Shen Jue membuang pandangannya secara dingin. Ia membungkuk perlahan, memungut dua keping token besi berkarat di atas tanah dengan gerakan halus dan tenang, lalu membalikkan badannya begitu saja.

Ia berjalan melewati Zhao Bo seolah-olah pria senior itu sama sekali tidak ada di sana—sebuah pengabaian absolut yang jauh lebih meremukkan harga diri daripada sebuah pukulan fisik.

"Ayo pergi," kata Shen Jue datar kepada Xi'er dan Gongsun Zhi.

"Tidak ada gunanya membuang waktu bicara dengan orang yang pembuluh darahnya hampir putus," tambah Shen Jue santai.

Xi'er yang tadinya emosi mendadak terpana melihat betapa mudahnya Shen Jue meruntuhkan gertakan senior angkuh tersebut tanpa perlu mengeluarkan senjatanya. Gadis itu tersenyum puas, melangkah mengikuti Shen Jue sambil melirik culas ke arah Zhao Bo yang masih berdiri terpaku memegangi sikunya.

Gongsun Zhi menghentakkan pangkal tombaknya sekali lagi ke tanah batu, melempar tatapan dingin ke arah Zhao Bo sebelum berbalik melangkah mendampingi Shen Jue.

Para murid baru di pelataran terdiam seribu bahasa, suasana mendadak senyap bagai kuburan. Lu Fan yang tadinya berharap melihat Shen Jue dipermalukan kini menggigit bibir bawahnya rapat-rapat dalam kecemasan baru yang merayap dingin di dadanya.

Shen Jue, Ruan Xi'er, dan Gongsun Zhi melangkah tenang menuruni tangga batu menuju lorong paling bawah Kompleks Asrama Barat, tempat lorong lembap dan Kamar Nomor Sembilan menanti perhentian mereka.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!