Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL MASALAH
Satu minggu kemudian, rumah itu akhirnya kembali hidup. Setelah menjalani renovasi, kediaman Maxime Sinclair tersebut kini berdiri dengan wajah baru. Perpaduan warna krem dan cokelat tua mendominasi interiornya, menciptakan kesan elegan sekaligus hangat. Jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya matahari menyusup ke dalam ruangan, sementara aroma kayu baru masih samar-samar tercium di beberapa sudut rumah. Semuanya tampak sempurna, setidaknya begitulah yang terlihat oleh siapa pun yang berkunjung.
Namun bagi Elma, rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Sebuah foto yang ditemukannya di kamar utama beberapa waktu lalu menyimpan cerita yang tidak pernah Maxime ceritakan kepadanya. Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka, bukan pertengkaran besar, bukan pula kata-kata kasar yang dilemparkan satu sama lain. Justru sebaliknya, perubahan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih menyakitkan: keheningan, percakapan seperlunya, dan jarak yang perlahan tumbuh di antara dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama. Elma tidak lagi berusaha mencari tahu, Ia sudah pernah bertanya namun Maxime memilih menghindar. Dan bagi Elma, itu sudah cukup untuk membuatnya berhenti berusaha.
"Barang-barang Nyonya sudah dipindahkan ke kamar sebelah, Tuan."
Maxime menghentikan langkahnya ketika mendengar laporan kepala pelayan rumah mereka. "Kamar sebelah?"
"Benar, Tuan. Nyonya Elma meminta agar seluruh barang pribadinya ditempatkan di sana."
Maxime menoleh perlahan. Keningnya berkerut. "Kenapa?"
Kepala pelayan itu tampak ragu sebelum akhirnya menjawab, "Nyonya mengatakan bahwa beliau ingin menggunakan kamar tersebut untuk sementara waktu."
"Untuk sementara waktu?" ulang Maxime, suaranya terdengar datar.
"Benar, Tuan."
Maxime tidak segera menjawab. Tatapannya beralih ke lorong yang mengarah ke kamar utama. Pintu kamar itu terbuka sedikit, memperlihatkan sebagian ruangan yang selama ini mereka rencanakan untuk ditempati bersama setelah renovasi selesai. Tempat tidur besar itu sudah ditata dengan seprai putih bersih. Dua meja kecil berdiri di kedua sisinya. Lemari pakaian yang semula kosong kini telah terisi sebagian oleh pakaian Maxime. Namun, barang-barang Elma tidak ada di sana.
Maxime mengatupkan rahangnya. "Di mana Elma sekarang?"
"Di ruang keluarga, Tuan."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Maxime berjalan menuju ruang keluarga. Ia menemukan istrinya sedang duduk di sofa dengan sebuah buku di tangan. Rambutnya tertata rapi, sementara gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya membuat perempuan itu tampak tenang seperti biasa. Terlalu tenang menurut Maxime, seolah- olah tidak ada sesuatu pun yang terjadi di antara mereka.
"Elma."
Perempuan itu mengangkat wajah. "Ya?"
Maxime berdiri beberapa langkah di hadapannya. "Kudengar kau memindahkan barang-barangmu."
Elma menutup bukunya perlahan. "Benar."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu membuat Elma terdiam sesaat. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia tidak menyangka Maxime akan bertanya seolah-olah dirinya sama sekali tidak mengetahui penyebabnya.
"Aku ingin tidur di kamar sebelah."
"Aku tahu itu." Maxime mengembuskan napas pendek. "Yang kutanyakan, kenapa?"
Elma menatap suaminya tanpa ekspresi berarti.
"Apakah aku harus meminta izin untuk memilih kamar yang ingin kutempati?"
"Tentu saja tidak. Tapi kita baru saja pindah ke rumah ini. Bukankah seharusnya kita menempati kamar utama bersama?"
Senyum tipis muncul di bibir Elma. Sayangnya, tidak ada kehangatan di sana. "Seharusnya begitu."
Maxime mengernyit. "Kalau begitu—"
"Tapi aku tidak ingin melakukannya sekarang."
Kalimat itu memotong ucapan Maxime. Elma meletakkan bukunya di atas meja, kemudian bangkit berdiri. Ia tidak ingin percakapan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Ia hanya ingin Maxime memahami bahwa dirinya tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
"Max, aku sudah pernah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak suka menebak-nebak sesuatu yang seharusnya bisa dijelaskan dengan jujur."
Maxime terdiam.
"Namun, kau memilih diam."
"Elma, ini bukan tentang—"
"Foto itu."
Dua kata tersebut membuat Maxime kehilangan kelanjutan kalimatnya. Untuk beberapa detik, suasana di antara mereka terasa membeku.
Elma memperhatikan perubahan kecil pada wajah suaminya. Rahang Maxime mengeras. Tatapannya sempat bergeser sebelum kembali menatapnya. Respons itu justru semakin memperkuat kekecewaan Elma. Bahkan sekarang, setelah satu minggu berlalu, laki-laki itu masih menunjukkan reaksi yang sama setiap kali foto tersebut dibicarakan. Seolah-olah ada sesuatu yang begitu besar di baliknya.
Sesuatu yang tidak ingin ia ketahui.
"Aku tidak memintamu menceritakan seluruh masa lalumu kepadaku, Max," lanjut Elma, suaranya lebih pelan. "Aku juga tidak pernah menuntutmu untuk menceritakan setiap hal yang pernah terjadi dalam hidupmu."
Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Aku hanya ingin tahu kenapa foto itu kau simpan di kamar kita."
Maxime menatapnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun, tidak satu pun berhasil melewati bibirnya. Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan belum sanggup ia hadapi sendiri? Maxime takut, bukan takut Elma akan marah, bukan pula takut perempuan itu akan menghakiminya. Maxime takut Elma akan memandangnya dengan cara yang berbeda. Pria aneh, beren gsek, ca bul, atau bahkan lebih buruk, pria psik opat, itulah yang ia pikirkan. Tatapan Elma yang selama ini perlahan mulai terasa akrab baginya mungkin akan berubah menjadi tatapan penuh kecurigaan.
Kehangatan kecil yang mulai tumbuh di antara mereka mungkin akan menghilang. Maxime menyadari bahwa ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang bahkan belum berani ia akui sebagai hal berharga. Namun, kesadaran itu tidak membuatnya lebih berani. Justru membuatnya semakin sulit berbicara.
"Aku belum bisa menjelaskannya," jawab Maxime akhirnya.
Elma mengangguk pelan. Entah mengapa, jawaban itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
"Baiklah." Hanya itu, tidak ada pertanyaan lanjutan, tidak ada desakan dan tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Elma justru tampak seperti seseorang yang baru saja mengambil keputusan setelah terlalu lama menunggu.
"Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kau siap."
Maxime sedikit mengendurkan bahunya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sesaat.
"Dan sampai saat itu tiba," lanjut Elma, "aku akan tidur di kamar sebelah."
Wajah Maxime kembali menegang. "Elma."
"Aku tidak sedang menghukummu, Max." Perempuan itu menatapnya lurus-lurus.
"Aku hanya tidak ingin terus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja ketika kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi."
"Aku tidak pernah memintamu berpura-pura."
"Tidak. Kau memang tidak pernah memintaku melakukan apa pun." Elma tersenyum hambar. "Tapi Itulah masalahnya, Max. Kau selalu membiarkanku menebak sendiri."
Kalimat itu menghantam Maxime lebih keras daripada yang ingin ia akui. Elma mengambil bukunya dari meja, kemudian melangkah melewatinya. "Aku lelah menebak-nebak isi pikiranmu. Aku lelah bertanya dan mendapatkan jawaban yang tidak pernah benar-benar jelas"
Langkahnya berhenti di ambang pintu ruang keluarga. "Kalau suatu hari nanti kau benar-benar siap untuk bercerita, kau tahu di mana aku berada."
Setelah mengatakan itu, Elma meninggalkannya sendirian. Maxime tidak mengejarnya, Ia hanya berdiri di tempatnya, memandangi pintu yang perlahan tertutup, dengan perasaan yang sulit ia beri nama. Rumah itu baru saja selesai direnovasi. Namun, pada hari pertama mereka menempatinya, ia sudah kehilangan sesuatu yang selama ini bahkan tidak pernah benar-benar ia miliki, berdekatan dengan Elma.
☆