Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POLA YANG SAMA
Ruangan kembali hening. Beberapa anggota dewan masih membaca dokumen yang berada di atas meja, sementara yang lainnya memperhatikan dua tas berisi uang tunai dengan ekspresi penuh pertanyaan.
Salah satu anggota dewan akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Aglaea. “Bu Aglaea. Apakah semua dokumen ini benar?” Aglaea tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap tiga amplop coklat yang berada di atas meja. Tatapannya kemudian berpindah kepada dua tas besar yang terbuka.
"Dokumen tersebut bisa dibuat sendiri." Jawab Aglaea secara singkat.
"Lalu bagaimana dengan blueprint kos Anaxa yang merupakan laboratorium rahasia?" Dewan kampus melontarkan pertanyaan lain
"Apakah sudah dipastikan kos tersebut adalaah laboratorium tersembunyi? Sudahkah mendapatkan buktinya secara langsung?"
"Ibu?!" Ucap Keenan yang langsung disuruh tenang oleh anggota dewan lainnya.
"Bisa jelaskan mengenai kedua tas berisi uang ini?" Dewan kampus melontarkan pertanyaan terakhir. Dan jawaban Aglaea seakan membalik keadaan yang tadinya timpang.
"Uang bisa dipinjam dari Bank." Ucap Aglaea singkat, padat, dan dingin.
Dimas, Keenan, dan Alya kehilangan kata mendengar jawaban bu Aglaea. Sementara para Dewan kampus kembali berbisik-bisik mengenai kejadian ini dan kemudian mengambil keputusan.
"Saudara Dimas. Apakah anda mempunyai bukti lain yang dapat memverifikasi keaslian surat-surat ini dan dua tas besar berisi uang?"
"Itu semua bukti asli pak! Kami sama sekali tidak mengada-ngada kan bukti!" Nada suara Dimas naik beberapa tingkat.
"Bukti bisa direkayasa." Ucap Aglaea dingin sembari melipat kedua tangannya di dada
"Alasan bu Aglaea cukup masuk akal. Bukti bisa sengaja direkayasa. Sidang hari ini ditutup sampai ada bukti yang teruji valid." Palu di ketuk. Dan dewan sidang lainnya beranjak meninggalkan ruangan.
Dimas, Keenan, dan Alya masih terpaku di tempat. Sementara mahasiswa lain yang bubaran ruang sidang pada menatap ke arah mereka bertiga dan mentertawakan nya.
"Drama banget gak sih? Masa ada laboratorium rahasia beneran? Kayaknya mereka kebanyakan ngibul karena satu kelompok sama Anaxa. Hahaha." Ucap salah satu mahasiswa.
"Mereka gak masuk akal." Kata mahasiswa lain
Keenan mereka tangannya mencoba menahan diri setelah mendengar mereka mengejek Anaxa dan membicarakan teman-temannya
Tetapi Dimas sepertinya sudah kepalang emosi, didekati nya Bu Aglaea yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa ibu tidak mengakui perbuatan ibu sendiri?!!"
Aglaea bangkit dari duduknya kemudian menatap Dimas dengan dingin "Harus kah?"
"Ibu?!"
Aglaea hanya diam tak bergeming. Kemudian memutuskan untuk melangkah pergi keluar ruangan sidang tanpa penjelasan lagi.
Dimas hampir mengejarnya dan membuat perhitungan dengan bu Aglaea, tetapi Alya menahan tangannya. "Jika kebawa emosi, itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah ini. Sepertinya kita harus ke ruang bawah tanah untuk mencari bukti tambahan."
Keenan mengangguk setuju. Dimas pun berusaha menarik nafas menahan amarah, kemudian menyetujui ucapan Alya. "Baiklah."
Dan mereka bertiga bergegas ke tangga darurat. Namun sepanjang mereka menelusuri lorong kampus, banyak mahasiswa yang mencuri pandang ke mereka dan bergosip.
Dimas kembali mengepalkan tangannya kepalang emosi atas tindakan bu Aglaea yang membuat terjadinya salah paham yang fatal. Namun segera ditenangkan oleh Keenan. "Santai aja bro."
"Huum." Gumam Alya
Mereka pun sampai di tangga darurat di lantai dasar. Keenan melihat pintu shaft berwarna merah tersebut dan langsung mengeluarkan alat pembuka kunci dari saku nya. "Keren sih kayak film film detektif. Semoga bisa." Keenan mulai mencoba membuka pintu itu dan beberapa saat kemudian...
"Krieeet."
Kunci pintu shaft tersebut berhasil dibuka. Kernan hampir berteriak heboh, tetapi mulutnya langsung dibekap oleh Dimas. "Sttt... Jangan berisik. Nanti ketahuan." Setelah itu Dimas membuka bekapan tangan nya. Keenan langsung berkomentar "Ewh... Asin tangan lu."
"Hei. Serius dulu dong." Ucap Alya akhirnya
Pintu shaft pun dibuka. Mereka membelalak kan mata karena benar saja dibalik pintu itu ada tangga tersembunyi yang mengarah ke bawah. Dimas pun berinisiatif untuk masuk pertama, diikuti oleh Alya dan Keenan dipaling belakang. Pintu shaft kembali ditutup dan mereka bertiga memulai penjelajahan.
Mereka menuruni tangga dan sampai lah ke lantai dasar. Mata mereka langsung memindai rak arsip, map, foto, dokumen, komputer lama, lemari terkunci, meja penelitian, rekaman suara, ruangan observasi kecil... Serta beberapa folder yang berserakan di atas lantai.
Alya bergegas menuju ke folder yang berserakan di lantai tersebut, membacanya beberapa saat kemudian dia terkejut. "Ini... Dokumen tentang Anaxa."
"Hah mana?" Keenan langsung menghampiri Alya kemudian membaca dokumen yang sama
Sementara itu Dimas membaca dokumen dokumen lain yang berserakan. "Alya. Keenan. Ternyata dokumen-dokumen ini... Subjek penelitian nya bukan hanya Anaxa. Ada subjek 1 sampai 6..."
Seketika Alya dan Keenan seperti disambar oleh petir. Mereka berdua langsung mengecek dokumen yang Dimas bilang. Dan benar saja, dokumen tersebut mencatat tentang subjek-subjek sebelum Anaxa
"Damn... Ini sih gila." Kata Keenan
"Kumpulin semua dokumen nya buat barang bukti." Kata Dimas langsung disetujui Keenan
Alya berusaha mencari bukti-bukti yang lain. Perempuan itu berjalan keliling, melihat dokumen-dokumen lain di rak, melihat map, dan tanpa sengaja pandangannya jatuh ke tape recorder tua. "Dimas. Keenan. Perlu juga gak dengerin kaset? Siapa tau kita dapat info lain."
"Wait biar aku cari." Ucap Dimas. Ikut berkeliling ruangan juga, sampai akhirnya menemukan sekumpulan kaset di laci komputer. Dimas mengambil salah satunya dan menyerahkan nya ke Alya dan Alya memasukkan kaset itu ke tape recorder dan menyalakan nya.
Awalnya hanya terdengar suara desis dari kaset lama sebelum suara seorang perempuan mulai terdengar. Suaranya terdengar samar dan sedikit disamarkan.
“Subjek 03, sesi observasi ke-17. Bagaimana kondisi Anda hari ini?”
“Baik.”
Pewawancara kemudian menanyakan hubungan Subjek 03 dengan orang-orang di sekitarnya. Apakah dia memiliki teman dekat, apakah dia nyaman berada di tengah banyak orang, dan apakah dia mengalami kesulitan memulai percakapan. Hampir semua jawabannya menunjukkan pola yang sama.
“Saya tidak terlalu punya teman,” jawab Subjek 03. “Saya juga lebih nyaman sendiri.”
“Apakah Anda kesulitan memahami perasaan orang lain?”
“Tidak. Saya biasanya bisa tahu kalau seseorang sedang sedih atau marah.”
“Bagaimana Anda mengetahuinya?”
“Dari ekspresi wajah, nada suara, dan cara mereka berbicara.”
Pewawancara kemudian bertanya apakah Subjek 03 pernah merasa sangat terpengaruh oleh penderitaan orang lain meskipun orang tersebut bukan seseorang yang dekat dengannya. Subjek 03 mengaku hal itu sering terjadi dan terkadang membuatnya memikirkan kondisi orang tersebut selama berhari-hari.
“Kalau seseorang membutuhkan bantuan, tetapi membantu mereka justru merugikan diri Anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan?”
Subjek 03 terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Saya mungkin tetap membantu.”
Suara beberapa lembar kertas terdengar dari rekaman. Kemudian pewawancara membacakan catatan observasinya dengan nada datar. “Respons empatik tinggi. Sensitivitas terhadap kondisi emosional orang lain tinggi. Kemampuan interaksi sosial rendah. Kecenderungan menarik diri tinggi.”
Dimas yang sejak tadi mendengarkan mulai mengerutkan dahi. Ada sesuatu dari hasil observasi tersebut yang terasa familiar.
Kemudian suara pewawancara kembali terdengar. “Subjek 03 menunjukkan karakteristik yang sesuai dengan kriteria seleksi EVA-213.”
Klik.
Rekaman berhenti.
Dimas terdiam cukup lama. Keenan yang berdiri di sampingnya ikut menatap tape recorder tersebut.
“Dim...” Keenan menelan ludah. “Kriteria seleksi EVA-213?”
Dimas tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan berpindah kepada dokumen EVA yang berada di atas meja.
“Kayaknya...” Dimas menarik napas pelan. “Anaxa bukan satu-satunya yang punya karakteristik seperti itu.