NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Keheningan itu hanya bertahan beberapa tarikan napas. Seorang murid di tribun depan berdiri perlahan, wajahnya pucat, dan suaranya pecah ketika ia berteriak. "Iblis!"

Teriakan itu memantul ke seluruh lapangan, dan dalam sekejap tribun yang tadi berdesakan oleh sorak berubah menjadi gelombang hinaan.

"Dia menghancurkan dantian Bai Zhuo!"

"Dua orang dalam dua hari!"

"Bunuh saja sekalian, jangan setengah-setengah!"

Sorakan itu bukan lagi sorakan kemenangan, melainkan cemoohan yang menggema dari ratusan mulut sekaligus.

Yu Tian berdiri di tengah panggung dengan kedua tangan terkulai di sisi tubuhnya.

'Membunuh jauh lebih manusiawi daripada ini. Mati hanya mengakhiri. Hidup tanpa dantian berarti hidup menatap jalan yang sudah ditutup.' Ia menunduk menatap telapak tangannya sendiri, kepalan yang menghantam Bai Zhuo, dan menyadari bahwa tangan itu masih berdenyut dingin.

Batu pertama menghantam bahunya. Batu kedua menyusul dan mengenai lututnya, lalu batu ketiga, keempat, dan kelima beterbangan dari tribun yang kini berubah menjadi dinding wajah-wajah merah penuh amarah. Sebuah batu sebesar kepalan menghantam pelipis kiri Yu Tian dengan bunyi tumpul, dan pandangannya bergoyang sesaat. Darah hangat mengalir dari pelipis ke pipi, menetes ke dagu, dan jatuh ke lantai panggung satu demi satu. Telinganya berdenging keras, tetapi ia tidak mengangkat tangan untuk menangkis.

"Iblis tak tahu malu!"

"Pergi dari sekte ini!"

"Kau pikir kau siapa?"

Suara-suara itu bercampur menjadi gemuruh. Di barisan paling depan, Fang Ming berdiri dengan batu yang belum terlempar di tangannya, mulutnya terbuka dan wajahnya kehilangan warna.

Di sampingnya, Su Wen menatap Yu Tian dengan mata yang tidak bisa dibaca. Yu Tian melihat mereka sekilas dan tidak mengatakan apa pun.

'Lempar saja. Itu pantas.' Ia memejamkan satu mata yang terkena darah, dan tetap berdiri di tempatnya.

Gu Chen berdiri di tepi panggung dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal. Ia menatap Yu Tian, lalu menatap tribun, lalu menatap tabib yang masih membungkuk di samping tubuh Bai Zhuo, dan tidak melakukan apa-apa. Tetua Shen di teras timur sudah berdiri dari kursinya, tongkat tergenggam erat, tetapi ia pun tidak bergerak.

Lalu langit di atas lapangan berubah. Awan putih yang menggantung rendah terbelah di tengah, dan seberkas cahaya perak turun dengan hembusan angin yang menyapu debu dari seluruh panggung. Semua suara berhenti. Batu yang sudah terangkat di tangan sebagian murid terjatuh begitu saja, dan beberapa orang bahkan mundur tanpa sadar.

Seorang lelaki berjubah putih keperakan melayang turun di atas sebilah pedang tipis, dan mendarat tanpa suara di tengah panggung, tepat di antara Yu Tian dan tribun. Rambutnya yang separuh memutih diikat sederhana dengan tali kulit, wajahnya tenang dengan garis-garis halus di sudut mata, dan tatapannya menyapu seluruh lapangan dalam satu kali pandang. Tidak ada tekanan Qi yang keluar darinya, tetapi semua orang menunduk tanpa diperintah.

"Pertandingan sudah selesai." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas sampai ke baris terjauh. "Yu Tian menang. Mulai hari ini, ia diangkat menjadi murid dalam Sekte Awan Azure."

Keheningan pecah dalam sekejap. Murid-murid di tribun berseru serempak, dan dari teras timur seorang tetua berjubah merah bersulam api melompat berdiri sampai kursinya terguling. "Ketua Xuan Ming! Ia menghancurkan dantian sesama murid sekte! Dua orang dalam dua hari! Anak ini iblis, dan Ketua hendak menjadikannya murid dalam?"

Dua tetua lain di sampingnya ikut berdiri dengan wajah keras, dan suara protes mereka bercampur dengan teriakan murid-murid yang tidak lagi bisa menahan amarah.

Lelaki berjubah perak itu mengangkat satu tangan, dan hanya itu yang ia lakukan. Semua suara terhenti seketika, dan ratusan mulut menutup tanpa satu pun yang berani melanjutkan kalimatnya.

Ia menoleh perlahan ke arah teras timur, menatap tetua berjubah merah itu tanpa marah, dan suaranya tetap datar. "Aku tidak meminta pendapat kalian, Tetua Huo."

Tetua berjubah merah itu menelan ludah, dan wajahnya memucat. Xuan Ming berbalik menghadap Yu Tian yang masih berdiri berdarah-darah di tengah panggung, lalu mengangkat suaranya lagi, kali ini untuk seluruh lapangan. "Dan satu hal lagi. Ia bukan sekadar murid dalam. Mulai saat ini, Yu Tian adalah murid pribadiku."

Dengung kaget menyapu tribun, dan beberapa murid terhuyung mundur dengan mulut terbuka. Yu Tian mengangkat wajahnya perlahan. Darah dari pelipisnya sudah mengering sebagian di pipinya, dan mata kirinya masih setengah terpejam.

Ia menatap lelaki di depannya, dan tidak ada kesombongan di wajahnya kali ini, hanya kebingungan yang kosong. "Kau tahu apa yang kulakukan."

"Aku melihat semuanya." Xuan Ming tidak mengangkat alis, tidak tersenyum, dan tidak menjelaskan lebih jauh. Ia meletakkan satu tangan di bahu Yu Tian, dan cahaya perak melingkari kaki mereka berdua. "Berpeganglah."

Pedang tipis itu naik tanpa bunyi, membawa keduanya lepas dari panggung, melewati tribun yang menganga dan atap-atap aula yang mengecil di bawah kaki.

Teriakan murid-murid menjadi samar, kemudian lenyap sepenuhnya, dan angin dingin menampar luka di pelipis Yu Tian sampai perih. Di bawah mereka, lapangan latihan menyusut menjadi hamparan titik-titik kecil di antara awan, dan Yu Tian menutup mata sebentar.

Suara Xuan Ming terdengar lagi di sampingnya, pelan dan tenang. "Kau menahan pukulan di depan wajah Lan Shuang, tetapi tidak menahan apa pun pada Bai Zhuo. Kita akan bicarakan itu di atas sana."

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!