Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERAYAAN SUKSESI
Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru Grand Ballroom Hotel Grand Royale. Malam ini, gedung paling mewah di pusat kota itu disewa sepenuhnya oleh klan Valenti. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan gelak tawa basa-basi dari ratusan tamu undangan berkemeja mahal. Namun, di balik kemewahan yang kasat mata, aroma asap cerutu dan bahaya yang pekat mengudara di setiap sudut ruangan.
Puluhan pria berjas hitam dengan rambut tersisir rapi berdiri tegap di sepanjang dinding. Tangan mereka bersilang di depan tubuh, namun pandangan mata mereka tidak pernah berhenti mengawasi pergerakan setiap orang. Mereka adalah prajurit elit Valenti, siap mencabut senjata dalam hitungan detik jika ada hal yang mencurigakan.
Di dalam kamar VIP di lantai atas yang terpisah dari keramaian pesta, Leo Valenti berdiri di depan cermin seukuran tubuh. Ia membenarkan letak dasi kupu-kupu hitamnya dengan gerakan tenang. Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, wajahnya tegas dengan rahang kaku dan sepasang mata tajam yang menatap lurus ke arah bayangannya sendiri. Malam ini bukan sekadar pesta ulang tahun klan, melainkan malam penyerahan takhta. Mulai besok, seluruh bisnis, jaringan pasar gelap, dan otoritas klan Valenti akan berpindah penuh ke tangannya.
Pintu jati tebal di belakangnya berdecit pelan. Pria tua berambut perak melangkah masuk dengan tongkat berukir kepala serigala di tangan kanannya. Don Antonio Valenti, sang raja tua yang telah memimpin klan selama tiga dekade terakhir, menatap putra tunggalnya melalui cermin dengan binar bangga yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Pakaian itu sangat cocok untukmu, Leo," puji Antonio dengan suara berat yang menyisakan sedikit serak.
Leo membalikkan badan lalu menunduk sedikit sebagai tanda hormat.
"Terima kasih, Ayah," sahut Leo singkat.
Antonio berjalan mendekati anaknya. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cincin emas tua bermotif lambang serigala bersayap—simbol kekuasaan tertinggi klan Valenti. Dengan tangan yang agak gemetar namun tetap tegap, Antonio menggenggam jemari Leo dan menyematkan cincin itu di jari manis anaknya.
"Cincin ini tidak hanya memberikanmu kekuasaan untuk memerintah puluhan ribu orang, Leo," ucap Antonio seraya menatap dalam-dalam mata putranya. "Cincin ini juga membawa beban darah dari setiap orang yang bergantung padamu. Jangan pernah membiarkan rasa ragu menguasai kepalamu, walau hanya sedetik."
"Saya mengerti, Ayah," janji Leo tegas. "Saya tidak akan mempermalukan nama keluarga kita."
Di tengah momen hening yang sarat makna tersebut, pintu kamar VIP kembali terbuka. Marco, tangan kanan kepercayaan Antonio yang telah mengabdi lebih dari lima belas tahun, melangkah masuk. Pria bertubuh jangkung dengan senyum tipis yang selalu bertengger di bibirnya itu membungkuk hormat ke arah ayah dan anak tersebut.
"Maaf mengganggu momen hangat Anda berdua, Don Antonio," sapa Marco halus. "Para petinggi klan bawahan dan tamu dari konsorsium luar daerah sudah berkumpul di hall utama. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat calon pemimpin baru mereka."
Antonio mengangguk pelan seraya membalikkan badan.
"Apakah semua pengamanan di area luar dan dalam sudah dipastikan aman, Marco?" tanya Antonio memastikan.
"Semua sudah dalam kendali penuh, Don," jawab Marco tanpa ragu. "Tiga lapis tim pengawal menjaga setiap pintu masuk, lorong, hingga atap gedung. Tidak ada satu lalat pun yang bisa masuk tanpa izin kita."
"Bagus," balas Antonio puas. Ia menepuk bahu Leo pelan. "Ayo turun. Malam ini adalah milikmu."
Ketiganya berjalan melintasi lorong privat menuju balkon atas ballroom sebelum nantinya turun ke panggung utama. Di sepanjang koridor, puluhan anak buah menundukkan kepala saat Antonio dan Leo melintas. Marco berjalan setengah langkah di belakang Leo, tetap menjaga postur tubuh yang sopan dan terlatih.
Ketika mereka akhirnya melangkah keluar menuju panggung utama di lantai bawah, gemuruh tepuk tangan langsung membahana memenuhi ruangan. Ratusan tamu berdiri dari kursi mereka, memberikan penghormatan kepada sang Don legendaris dan calon penggantinya. Lampu sorot putih berdaya tinggi langsung mengarah lurus ke panggung, menyinari Leo yang berdiri tegap di samping ayahnya.
Dari atas panggung, Leo menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Di antara deretan tamu berjas mahal, ia melihat wajah para pimpinan klan bawahan. Beberapa menatapnya dengan rasa kagum dan takut, namun tak sedikit pula yang memperlihatkan tatapan menilai—menunggu apakah anak muda ini memiliki taring yang sama tajamnya dengan sang ayah.
Antonio melangkah mendekati mimbar emas dan mengetuk mikrofon pelan. Seketika itu juga, seluruh ballroom menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu suara pun yang berani menyela sang Don.
"Para sekutu, sahabat, dan anggota keluarga Valenti yang saya hormati," buka Antonio dengan vokal yang bergema kuat di seluruh ruangan. "Malam ini, kita berkumpul tidak hanya untuk merayakan kejayaan klan yang telah berdiri tegak selama puluhan tahun di kota ini. Malam ini adalah bukti bahwa klan Valenti tidak akan pernah goyah oleh zaman."
Tepuk tangan singkat kembali terdengar sebelum Antonio melanjutkan bicaranya.
"Usia saya tidak lagi muda, dan zaman terus berubah," lanjut Antonio seraya menoleh ke arah Leo dan memberi isyarat agar anaknya mendekat. "Kota ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki keberanian, tetapi juga visi yang tajam. Seseorang yang siap memimpin kita semua menuju era baru."
Leo melangkah mendekati mimbar. Dadanya berhembus teratur, menahan gejolak adrenalin yang mulai naik.
"Dengan ini, di hadapan Anda sekalian," seru Antonio dengan suara lantang, "saya menyerahkan seluruh tongkat kepemimpinan dan kekuasaan klan Valenti kepada putra saya, Leo Valenti!"
Suara gemuruh tepuk tangan pecah memekakkan telinga. Lampu kilat kamera dari wartawan internal klan saling bersahutan. Ratusan gelas diangkat ke udara sebagai bentuk penghormatan.
Leo berdiri tegak di tengah sorotan lampu utama, menerima uluran tangan ayahnya yang menjabatnya dengan erat. Dari samping panggung, Marco berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya, ikut bertepuk tangan pelan. Senyum tipis masih terpatri di wajah tangan kanan ayahnya itu, namun pandangan matanya tampak dingin dan sukar diartikan.
Leo tersenyum tipis ke arah para tamu, mengangkat tangan kanannya yang kini dihiasi cincin serigala emas. Pada detik itu, di bawah kemewahan gedung yang megah dan sorak-sorai ratusan pengikutnya, Leo merasa takdirnya telah terkunci. Ia adalah raja baru kota ini, dan tidak ada satu orang pun yang bisa merampas takhta itu darinya.
Namun, di tengah keriuhan pesta yang memuncak, Leo tidak menyadari bahwa di balik kegelapan luar gedung, puluhan bayangan hitam tengah bergerak cepat mengepung seluruh akses keluar. Malam perayaan yang megah ini baru saja dimulai, dan aroma darah sudah menanti di balik pintu yang terkunci.