NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Detik-Detik Penggebekan

Pukul sepuluh pagi lewat dua puluh menit, atmosfer di kelas XI-A SMA Internasional Garudatama terasa bergulir secepat siput yang sedang encok. Bagi seorang Rendra Adijaya, setiap detak jarum jam dinding itu terdengar laksana suara hitung mundur menuju hari eksekusi mati di depan regu tembak.

Sebelum bel istirahat berdering, Rendra sebenarnya sempat mengunci diri di toilet cowok selama sepuluh menit penuh. Di depan cermin wastafel, dia menatap wajah blasteran Jermannya yang tampan tapi pucat pasi, lalu mencoba melatih ekspresi wajahnya agar terlihat sesangar dan sedingin mungkin.

"Oke, Rendra. Tarik napas, tebalkan rahang lo," gumam Rendra dengan suara berat fabrikasinya, menunjuk bayangannya sendiri di cermin. "Pas Naya nyamperin lo nanti, lo tinggal pasang muka datar, terus bilang: 'Maaf, lo salah orang. Gue ga main Discord.' Selesai. Gengsi pangeran sekolah lo bakal tetap tegak berdiri."

Namun, begitu dia kembali ke kelas dan bel istirahat pertama akhirnya berdering nyaring, seluruh simulasi keren yang dia latih di toilet langsung menguap tanpa sisa dari otaknya. Suara bel yang biasanya menjadi surga bagi para murid tertindas, kini terdengar bagai trompet sangkakala yang mengerikan di telinga Rendra.

"Rendra! Ih, Rendra ganteng bener hari ini," tiba-kira segerombolan siswi dari barisan depan berjalan menghampiri meja Rendra sambil membawa kotak bekal berwarna merah muda. "Ini aku ada bawa sandwich buatan sendiri loh, Rendra mau nyobain ga? Khusus buat kamu!"

Rendra menoleh lambat dengan gerakan patah-patah laksana robot kekurangan oli. Dia menatap cewek-cewek itu dengan pandangan mata yang kosong, redup, dan sedingin es kutub utara demi menjaga wibawa palsunya. "Gak. Makasih. Gue lagi kenyang," jawab Rendra pendek, menekan suaranya sedalam mungkin agar getaran panik di pita suaranya tidak terdengar oleh publik.

"Ih, cuek banget sih pangeran kita. Ya udah deh, kita ke kantin dulu ya, Rendra!" pamit cewek-cewek itu dengan wajah kecewa tapi tetap gemas.

"Ren, buruan ke kantin! Hari ini Ibu kantin katanya bikin siomay ikan tenggiri premium cabang kota, ntar kehabisan direbut anak kelas dua belas!" ajak Aldi heboh di sebelah Rendra, sudah siap melesat dengan dompet di tangan.

Rendra menggeleng lemah. "Gak, Di. Lo duluan aja. Perut gue... agak kurang bersahabat hari ini."

"Yaelah, lemes amat lo kayak kanebo basah. Ya udah, gue duluan ya! Jangan kangen lo!" Aldi langsung melesat keluar kelas dengan kecepatan penuh, menyusul gerombolan murid lainnya yang berhamburan keluar.

Hanya dalam waktu tiga menit saja, ruang kelas XI-A mendadak sepi melompong dan hening senyap. Hampir seluruh murid sudah bermigrasi ke area kantin, menyisakan dua manusia yang duduk di ujung kutub kasta sekolah yang berbeda jauh. Rendra di barisan tengah, dan Kanaya Putri di pojok kanan paling belakang.

Rendra buru-buru membuka buku paket Sejarah tebal bermotif candi di atas mejanya. Dia memosisikan buku tebal itu tegak berdiri, menutupi wajah tampannya secara total seolah-olah dia adalah murid teladan yang sedang belajar dengan sangat khusyuk demi persiapan olimpiade tingkat nasional. Padahal, mata Rendra sama sekali tidak membaca tulisan di buku. Matanya bergerak liar menatap halaman kosong yang buram, dan seluruh indra pendengarannya difokuskan penuh 100 persen ke arah belakang kelas.

Sret...

Suara gesekan kaki kursi kayu milik Naya di atas lantai semen terdengar sangat nyaring di dalam kelas yang sepi. Jantung Rendra langsung melompat bebas ke tenggorokan. Sisi wibu anxious Rendra menjerit histeris ingin mendadak pura-pura pingsan, kejang-kejang, atau mengalami kesurupan massal agar sidangnya ditunda, sementara saklar obsesinya di sudut otak yang lain malah bergetar hebat karena sang "Tuhan" di internet kini melangkah mendekatinya di dunia nyata.

Tap... Tap... Tap...

Suara derap langkah sepatu Naya terdengar berjalan perlahan mendekat dari arah belakang. Setiap ketukan sepatu itu rasanya seperti palu hakim yang siap mengetuk vonis hukuman mati untuk Rendra.

Sret!

Naya menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja Rendra. Cewek itu tidak langsung berbicara. Dia hanya berdiri tegap dengan posisi melipat kedua tangannya di depan dada, menatap bayangan kepala Rendra yang bersembunyi di balik buku Sejarah tebal dengan pandangan mata yang teramat sangat lekat dan sarat akan intimidasi.

Atmosfer di sekitar meja Rendra mendadak berubah menjadi sangat dingin, mencekam, dan kekurangan oksigen. Rendra tetap bertahan pada posisinya, memegangi pinggiran buku Sejarahnya dengan tangan yang gemetaran parah sampai bukunya ikut bergetar ritmis seperti terkena gempa bumi skala kecil.

Takk!

Naya mengetuk permukaan meja Rendra sekali menggunakan ujung kuku jarinya dengan santai.

"Nggak usah pura-pura mati lo, Rendra Adijaya. Buku Sejarah lo kebalik, Bambang," ceplos Naya dengan suara datar, ceplas-ceplos, dan penuh dengan nada sarkasme mematikan khas miliknya.

DEG!

Rendra langsung menurunkan bukunya dengan gerakan patah-patah mirip robot kehabisan baterai. Dan benar saja, foto wajah pahlawan nasional di sampul buku itu posisinya sedang jungkir balik lurus di depan matanya sendiri. Wajah blasteran Rendra yang tadinya pucat pasi laksana mayat, mendadak berubah warna menjadi merah padam sampai ke ujung leher karena rasa malu yang luar biasa hebat. Alibi pangeran keren yang dia latih di toilet tadi hancur lebur berkeping-keping.

"K-Kanaya... Ada apa ya? Tumben nyamperin meja gue?" tanya Rendra, mencoba memaksakan suara berat fabrikasinya keluar dengan terbata-bata demi menjaga gengsi pangeran sekolah yang sudah compang-camping di lantai kelas.

Naya tidak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Seulas senyum licik, penuh kemenangan, dan kepuasan batin terukir jelas di wajah cuek cewek pojok kelas itu. Dengan gerakan santai yang sengaja diperlambat untuk meneror mental korbannya, Naya merogoh ponsel pintarnya dari saku rok abu-abunya.

Dia menyalakan layar ponselnya yang terang, membuka sebuah aplikasi berlogo robot biru, lalu menyodorkannya tepat beberapa senti di depan hidung Rendra. Di layar ponsel Naya, terpampang jelas ruang obrolan privat mereka tadi malam dengan nama akun pro-player anonim milik Rendra yang sangat mencolok: @King_Ren.

"Mau lo jelasin sekarang ke gue secara jujur, atau perlu gue bacain ulang bagian chat lo yang soal 'nyamuk ganas Garudatama yang hobi gigit telinga orang ganteng' ini pake mikrofon ruang pengumuman sekolah biar anak-anak kelas sebelah pada denger semua, hah?" ancam Naya dengan nada mengintimidasi yang sangat kejam namun penuh komedi.

Rendra menatap layar ponsel itu dengan mata melotot sempurna laksana mau copot dari rongganya. Semua pembelaannya, alibi Bandungnya, hingga alasan nyamuk pintarnya kini resmi dihancurkan tanpa sisa oleh barang bukti nyata di depan matanya.

Pangeran sekolah yang diagung-agungkan satu angkatan karena ketampanan dan kecerdasannya, kini resmi tertangkap basah sebagai wibu manja serapuh kerupuk soto di depan cewek pojok kelas yang paling dia takuti sekaligus dia sembah. Detik-detik penggebekan sang admin sukses besar, pertahanan Rendra pecah total, dan babak interogasi maut resmi dimulai.

1
hujan rintik rintik
🤣 teringat sebuah manga Jepang yang pernah ku baca
TCN_Luna: manga apa tuch~ 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!