NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Keputusan yang Mengubah Segalanya

Kabar dari Alisha

Daniel berdiri di hadapan meja kerja Adrian sambil memegang tablet di tangannya.

"Pak, saya baru menerima kabar dari Nona Alisha."

Adrian mengangkat wajah dari dokumen yang sedang diperiksanya.

"Bagaimana jawabannya?"

Daniel melirik layar tabletnya sebentar sebelum menjawab.

"Nona Alisha bersedia menerima tawaran pernikahan kontrak Anda. Namun, beliau meminta agar seluruh ketentuan yang sudah dibicarakan sebelumnya dicantumkan secara jelas dalam perjanjian."

Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Bagus. Setidaknya dia sudah mengambil keputusan."

"Apakah saya boleh mulai menyiapkan dokumen finalnya, Pak?"

"Ya. Pastikan semua ketentuan tertulis dengan jelas. Terutama mengenai biaya pengobatan ibunya, hak dan kewajiban kami selama pernikahan, serta jangka waktu perjanjian."

Daniel mengangguk.

"Untuk jangka waktunya, tetap satu tahun, Pak?"

"Tepat satu tahun sejak pernikahan kami berlangsung. Setelah itu, kami akan mengikuti ketentuan yang disepakati dalam perjanjian."

"Baik, Pak. Saya akan memastikan semuanya tercantum dengan benar."

Adrian terdiam sebentar sebelum kembali berbicara.

"Ada satu hal lagi yang perlu kamu atur."

Daniel menunggu instruksi berikutnya.

"Hubungi rumah orang tuaku. Katakan bahwa aku akan berkunjung bersama seseorang yang ingin kuperkenalkan kepada mereka."

Daniel sedikit mengangkat alis.

"Apakah yang Anda maksud Nona Alisha?"

"Benar."

"Apakah saya perlu memberi tahu mereka bahwa Anda berencana menikah?"

Adrian mengangguk.

"Katakan bahwa aku ingin membicarakan rencana pernikahan dengannya. Aku tidak ingin datang begitu saja tanpa memberi mereka kesempatan untuk mempersiapkan diri."

"Baik, Pak. Saya akan menghubungi mereka."

Daniel mencatat instruksi tersebut sebelum meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Adrian kembali memandang layar komputernya.

Seharusnya, ia merasa lega karena Alisha akhirnya menerima tawarannya. Dengan demikian, ia bisa mulai menyelesaikan persoalan yang selama ini menjadi tekanan dari kedua orang tuanya.

Namun, entah mengapa, pikirannya justru tertuju pada perempuan sederhana itu.

Alisha tidak langsung menerima tawarannya. Ia mengajukan berbagai pertanyaan, mempertimbangkan setiap kemungkinan, dan memastikan dirinya tidak kehilangan hak untuk menentukan kehidupan sendiri.

Adrian menghargai sikap tersebut.

Ia tidak membutuhkan istri yang hanya mengangguk terhadap semua perkataannya.

Ia membutuhkan seseorang yang memahami kesepakatan mereka dan bersedia menjalaninya tanpa menuntut sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.

Meskipun begitu, Adrian tahu bahwa ada satu hal yang harus dilakukannya terlebih dahulu.

Ia harus memperkenalkan Alisha kepada keluarganya.

Bagaimanapun, pernikahan bukan sekadar urusan dirinya sendiri. Kedua orang tuanya berhak mengetahui perempuan yang akan menjadi istrinya.

Adrian mengambil ponsel, lalu menghubungi ibunya.

Panggilan itu tersambung setelah beberapa dering.

"Adrian? Tumben sekali kamu menelepon Ibu pada jam kerja," terdengar suara Ratna Mahendra dari seberang.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, Bu."

"Apa? Ada masalah di perusahaan?"

"Tidak. Aku ingin berkunjung ke rumah besok."

Ratna terdengar terkejut.

"Besok? Kamu mau pulang ke rumah?"

"Iya."

"Baiklah. Tapi kenapa mendadak sekali?"

Adrian terdiam sesaat.

"Aku ingin memperkenalkan seseorang kepada Ibu dan Ayah."

Di seberang telepon, Ratna mendadak diam.

Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar jauh lebih antusias.

"Seseorang? Maksudmu temanmu?"

"Kurang lebih begitu."

"Adrian, jangan membuat Ibu penasaran. Siapa orangnya?"

"Besok Ibu akan bertemu dengannya."

Ratna tertawa kecil.

"Baiklah. Ibu tidak akan bertanya lagi. Ibu tunggu besok."

Setelah panggilan berakhir, Adrian meletakkan ponselnya.

Ia tidak tahu bagaimana reaksi ibunya setelah mengetahui rencananya untuk menikahi Alisha.

Namun, ia berharap pembicaraan itu berjalan lancar.

---

Malam Sebelum Pertemuan

Di rumah sederhana, Alisha sedang duduk di samping ibunya yang beristirahat di tempat tidur.

Ratih Amanda terlihat lebih tenang malam itu. Setelah meminum obat, ia bersandar pada bantal sambil memandang putrinya yang sedang merapikan meja kecil di dekat ranjang.

"Alisha."

Alisha menoleh.

"Iya, Bu?"

"Kamu sudah makan malam?"

"Sudah, Bu."

Ratih memperhatikan wajah putrinya.

"Besok kamu bekerja?"

Alisha berhenti merapikan meja.

Ia sebenarnya sudah berencana menemui Adrian besok untuk membicarakan perjanjian lebih lanjut. Namun, ia belum tahu bagaimana menjelaskan kepergiannya kepada ibunya.

"Besok Alisha ada urusan sebentar setelah bekerja, Bu."

"Urusan apa?"

"Ada seseorang yang ingin membicarakan pekerjaan dengan Alisha."

Ratih mengangguk perlahan.

"Baiklah. Kalau begitu, jangan pulang terlalu malam."

"Iya, Bu."

Alisha duduk di tepi ranjang, kemudian menggenggam tangan ibunya.

"Bu, kalau suatu hari Alisha harus membuat keputusan besar, Ibu akan mendukung Alisha, kan?"

Ratih menatap putrinya dengan lembut.

"Tergantung keputusan seperti apa, Nak."

Alisha menunduk.

"Misalnya, kalau keputusan itu Alisha ambil demi membantu Ibu."

Ratih terdiam.

Kemudian, ia mengusap punggung tangan putrinya.

"Alisha, Ibu tahu kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu. Tapi Ibu tidak ingin kamu mengorbankan seluruh kebahagiaanmu hanya karena keadaan Ibu."

Mata Alisha mulai terasa panas.

"Ibu jangan berpikir begitu."

"Justru karena Ibu memikirkanmu, Ibu mengatakan ini. Ibu ingin kamu memiliki kehidupan yang baik. Ibu ingin kamu bahagia, bukan hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Ibu."

Alisha berusaha tersenyum.

"Aku bahagia kalau Ibu sehat."

Ratih membalas senyum putrinya.

"Kalau begitu, kita sama-sama berusaha, ya."

Alisha mengangguk.

Ia kemudian membantu ibunya berbaring dengan nyaman dan membetulkan selimutnya.

Setelah memastikan Ratih tertidur, Alisha keluar dari kamar.

Ia duduk di ruang tengah dan mengambil ponsel.

Ada pesan baru dari Daniel.

Daniel:

Selamat malam, Nona Alisha. Saya ingin menginformasikan bahwa rancangan perjanjian sedang disiapkan. Besok, Pak Adrian ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan langkah selanjutnya. Beliau juga berencana memperkenalkan Anda kepada kedua orang tuanya.

Alisha membaca pesan tersebut dengan saksama.

Memperkenalkan dirinya kepada keluarga Adrian.

Pikiran itu membuatnya gugup.

Ia bahkan belum pernah bertemu dengan orang tua Adrian, sementara besok ia akan datang sebagai perempuan yang ingin dinikahi putra mereka.

Alisha mengetik balasan.

Alisha:

Selamat malam, Pak Daniel. Baik, saya mengerti. Apakah saya perlu mempersiapkan sesuatu untuk pertemuan besok?

Tidak lama kemudian, Daniel membalas.

Daniel:

Tidak ada persiapan khusus, Nona. Pak Adrian hanya ingin Anda datang dengan nyaman dan menjadi diri sendiri.

Alisha tersenyum tipis membaca jawaban tersebut.

Ia meletakkan ponsel di meja, kemudian menatap langit malam dari jendela ruang tengah.

Besok akan menjadi hari yang penting.

Ia hanya berharap bisa melewati semuanya dengan baik.

---

Pertemuan dengan Keluarga Mahendra

Keesokan harinya, pukul sepuluh pagi, Alisha berdiri di depan cermin kecil di kamarnya.

Ia mengenakan blus putih sederhana, rok panjang berwarna cokelat muda, dan sepatu datar yang biasa dipakainya ketika pergi bekerja.

Rambutnya disisir rapi dan dibiarkan tergerai.

Ia tidak mengenakan perhiasan mencolok ataupun riasan berlebihan.

Alisha ingin tampil sopan tanpa berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Sebelum berangkat, ia menghampiri ibunya.

"Bu, Alisha pergi dulu, ya."

Ratih yang sedang duduk di ruang tengah menoleh.

"Mau ke mana, Nak?"

"Ada urusan yang harus Alisha selesaikan."

Ratih mengangguk.

"Baiklah. Hati-hati di jalan."

Alisha mencium tangan ibunya.

"Iya, Bu."

Setelah berpamitan, ia keluar rumah.

Sebuah mobil hitam sudah menunggunya di depan pagar.

Adrian turun dari kursi belakang ketika melihat Alisha keluar.

"Nona Alisha."

Alisha menghampirinya.

"Selamat pagi, Pak Adrian."

"Pagi. Kamu sudah siap?"

"Sudah."

Adrian memperhatikan penampilannya sekilas.

"Kita akan pergi ke rumah orang tuaku. Mereka sudah menunggu."

Alisha mengangguk, meskipun rasa gugup mulai muncul.

"Baik, Pak."

Adrian membukakan pintu mobil untuknya.

Alisha masuk, lalu duduk dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuan.

Ketika mobil mulai bergerak, Adrian meliriknya.

"Kamu gugup?"

Alisha spontan menoleh.

"Sedikit."

"Jangan terlalu khawatir. Ayah dan ibuku tidak akan menginterogasimu."

Alisha tersenyum tipis.

"Saya hanya takut mereka tidak menerima saya."

Adrian kembali menatap jalanan.

"Aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa aku ingin memperkenalkan seseorang yang ingin kunikahi. Mereka setuju untuk bertemu denganmu."

Alisha terdiam.

"Anda sudah mengatakan bahwa Anda ingin menikahi saya?"

"Ya."

"Tapi mereka belum tahu banyak tentang saya?"

"Belum. Karena itu, aku ingin kalian berkenalan secara langsung."

Alisha mengangguk pelan.

Ia berusaha menenangkan dirinya.

Bagaimanapun, ia tidak bisa terus-menerus menghindari kenyataan bahwa jika menerima tawaran Adrian, ia harus menghadapi keluarga pria itu.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman yang luas.

Alisha menatap bangunan di hadapannya melalui jendela.

Rumah itu terlihat elegan, dengan taman yang tertata rapi dan pepohonan yang menghiasi sisi jalan menuju pintu masuk.

Ia belum pernah mengunjungi rumah sebesar itu sebelumnya.

"Sudah sampai," kata Adrian.

Alisha mengangguk.

Adrian turun lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuknya.

"Ayo."

Alisha mengikuti langkahnya menuju pintu utama.

Seorang perempuan paruh baya menyambut mereka dengan ramah.

"Selamat pagi, Tuan Adrian."

"Selamat pagi, Bu Sari. Ayah dan Ibu ada di dalam?"

"Ada, Tuan. Nyonya Ratna dan Tuan Hendrik sedang menunggu di ruang keluarga."

Adrian mengangguk.

"Terima kasih."

Ia kemudian menoleh kepada Alisha.

"Ayo masuk."

Alisha menarik napas perlahan sebelum melangkah melewati pintu.

Di ruang keluarga, Ratna Mahendra sedang duduk di sofa bersama suaminya, Hendrik Mahendra.

Begitu melihat Adrian datang bersama seorang perempuan muda, Ratna langsung berdiri.

"Adrian!"

Adrian menghampiri mereka.

"Selamat pagi, Bu. Ayah."

Hendrik mengangguk.

"Pagi. Jadi, ini perempuan yang ingin kamu perkenalkan kepada kami?"

Adrian menoleh kepada Alisha.

"Benar. Ini Alisha Amanda."

Alisha segera membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

"Selamat pagi, Om, Tante. Nama saya Alisha Amanda."

Ratna tersenyum hangat.

"Selamat pagi, Alisha. Silakan duduk, Nak. Jangan sungkan."

"Terima kasih, Tante."

Alisha duduk di sofa, sementara Adrian mengambil tempat di sebelahnya.

Ratna memperhatikan Alisha dengan penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapannya tidak membuat gadis itu merasa dihakimi.

"Kamu tinggal di mana, Alisha?"

"Saya tinggal di rumah sederhana bersama ibu saya, Tante."

"Oh, jadi kamu tinggal bersama ibumu?"

"Iya."

"Kalau boleh tahu, sekarang kamu bekerja di mana?"

"Saya bekerja di toko roti."

Ratna mengangguk.

"Sudah lama?"

"Hampir dua tahun, Tante."

"Bagus sekali. Berarti kamu sudah cukup berpengalaman."

Alisha tersenyum kecil.

"Saya masih banyak belajar, Tante."

Hendrik yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.

"Yang penting kamu mau belajar dan bertanggung jawab. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus."

Alisha menoleh kepadanya.

"Benar, Om."

Ratna kemudian memandang putranya.

"Adrian, kenapa kamu tidak pernah menceritakan Alisha sebelumnya?"

Adrian menjawab dengan tenang.

"Karena kami baru membicarakan hubungan ini dengan serius."

Ratna tampak terkejut.

"Hubungan?"

Adrian mengangguk.

"Aku ingin menikahi Alisha."

Suasana ruang keluarga mendadak hening.

Ratna menatap putranya dengan mata sedikit membesar.

Sementara Hendrik meletakkan majalah yang sejak tadi dipegangnya.

"Kamu serius, Adrian?"

"Ya, Ayah."

Ratna duduk kembali perlahan.

Ia memandang putranya, kemudian mengalihkan tatapan kepada Alisha.

"Alisha, apakah kamu juga sudah memikirkan hal ini?"

Alisha merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia tidak menyangka akan langsung ditanya seperti itu.

Namun, ia berusaha menjawab dengan tenang.

"Iya, Tante. Kami sudah membicarakannya."

Ratna mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, Ibu ingin kalian menjelaskan bagaimana kalian sampai mengambil keputusan ini."

Adrian mulai menjelaskan bahwa mereka telah mengenal satu sama lain dan sedang mempertimbangkan pernikahan dengan serius.

Ia tidak mengungkapkan perjanjian rahasia di antara mereka.

Alisha pun menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan sopan, tanpa menceritakan hal-hal yang belum boleh diketahui orang lain.

Hendrik mendengarkan dengan saksama.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya berbicara.

"Adrian, Ayah tidak akan melarangmu menikah. Tetapi Ayah ingin memastikan bahwa kamu memahami tanggung jawab yang akan kamu ambil."

"Aku memahaminya, Ayah."

"Menikah bukan hanya soal membawa seseorang ke rumah ini. Kamu harus menghormati pasanganmu dan memastikan dia merasa aman dalam kehidupan yang akan kalian jalani."

Adrian mengangguk.

"Aku mengerti."

Ratna tersenyum kepada Alisha.

"Alisha, Ibu tidak tahu banyak tentang kehidupanmu. Tapi dari cara kamu berbicara, Ibu bisa melihat bahwa kamu berusaha menjadi pribadi yang mandiri."

Alisha menunduk sedikit.

"Terima kasih, Tante."

"Kalau memang kalian sudah mempertimbangkan semuanya, Ibu menerima keputusan kalian."

Alisha terkejut.

"Benarkah, Tante?"

Ratna tertawa kecil.

"Tentu saja. Mengapa tidak? Selama kalian saling menghormati dan bertanggung jawab, Ibu tidak punya alasan untuk menolakmu hanya karena kamu berasal dari keluarga sederhana."

Mata Alisha terasa hangat mendengar perkataan itu.

Sejak awal, ia takut akan dianggap tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Adrian.

Namun, Ratna justru menerimanya dengan baik.

Hendrik pun mengangguk.

"Ayah juga menerima Alisha. Yang terpenting, kalian tidak mengambil keputusan ini dengan gegabah."

Adrian menatap kedua orang tuanya.

"Terima kasih, Ayah. Ibu."

Ratna kemudian menggenggam tangan Alisha.

"Mulai sekarang, kamu tidak perlu terlalu tegang kalau datang ke rumah ini, ya. Anggap saja kami keluarga yang bisa kamu ajak berbicara."

Alisha tersenyum tulus.

"Terima kasih banyak, Tante. Saya akan berusaha menjaga kepercayaan kalian."

Ratna mengusap tangannya dengan lembut.

"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun hari ini, Nak. Kita akan saling mengenal perlahan-lahan."

Untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran Adrian, Alisha merasa sedikit lebih tenang.

Setidaknya, ia tidak perlu menghadapi penolakan dari keluarga pria itu.

Namun, di balik sambutan hangat tersebut, masih ada rahasia yang harus ia simpan.

Rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, Adrian, dan Daniel.

---

Pembicaraan tentang Pernikahan

Setelah suasana menjadi lebih santai, Ratna meminta Bu Sari menyiapkan minuman dan makanan ringan.

Mereka kemudian melanjutkan percakapan di ruang keluarga.

Hendrik menatap Adrian.

"Kalau kalian memang ingin menikah, sudahkah kalian memikirkan kapan akan melaksanakannya?"

Adrian menggeleng.

"Belum menentukan tanggal, Ayah. Ada beberapa hal yang masih harus kami persiapkan."

"Bagus. Jangan terburu-buru. Pastikan seluruh dokumen yang diperlukan sudah siap."

Ratna mengangguk setuju.

"Ibu juga ingin kalian membicarakan tempat tinggal setelah menikah. Adrian memang memiliki rumah sendiri, tetapi Alisha juga harus merasa nyaman."

Adrian melirik Alisha.

"Kami akan membicarakannya."

Ratna kemudian menoleh kepada Alisha.

"Kalau kamu memiliki keinginan atau hal yang membuatmu khawatir, jangan ragu membicarakannya dengan Adrian. Kalian tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi kalian perlu belajar mendengarkan satu sama lain."

Alisha mengangguk.

"Baik, Tante."

Hendrik kembali berbicara.

"Bagaimana dengan ibumu, Alisha? Apakah beliau sudah mengetahui rencana ini?"

Pertanyaan itu membuat Alisha terdiam.

Adrian juga tidak langsung menjawab.

Mereka belum menceritakan rencana pernikahan tersebut kepada Ratih.

Alisha menatap kedua orang tua Adrian dengan hati-hati.

"Ibu saya belum mengetahui rencana ini secara lengkap, Om. Saya ingin berbicara dengannya ketika semuanya sudah lebih jelas."

Ratna mengangguk memahami.

"Itu bisa dimengerti. Beliau tentu perlu waktu untuk memahami keputusanmu."

"Iya, Tante."

Hendrik kemudian memandang Adrian.

"Kalau begitu, jangan menunda terlalu lama untuk membicarakannya dengan keluarga Alisha. Pernikahan adalah keputusan besar bagi kedua belah pihak."

"Aku akan mengurusnya, Ayah."

Adrian tidak ingin pembicaraan itu berlanjut terlalu jauh.

Ia mengetahui bahwa Alisha belum siap mengungkapkan seluruh keadaan kepada ibunya.

Namun, ia juga memahami bahwa suatu saat nanti mereka harus membicarakan rencana tersebut dengan Ratih.

Ratna kemudian berdiri.

"Sudah hampir waktunya makan siang. Alisha, kamu mau makan bersama kami?"

Alisha segera menjawab dengan sopan.

"Kalau tidak merepotkan, saya bersedia, Tante."

"Tidak merepotkan sama sekali. Justru Ibu senang kamu bisa datang."

Mereka kemudian berjalan menuju ruang makan.

Sepanjang makan siang, Ratna berusaha membuat Alisha merasa nyaman. Ia bertanya tentang makanan yang disukai Alisha dan sesekali menceritakan pengalaman Adrian ketika masih kecil.

"Adrian itu dari kecil memang pendiam," kata Ratna sambil tersenyum. "Kalau sedang marah, dia tidak banyak bicara. Dia hanya diam, lalu mengurung diri di kamar."

"Ibu," tegur Adrian datar.

Hendrik tertawa kecil.

"Benar. Dia juga tidak suka kalau ada yang mengganggu barang-barangnya."

Alisha tidak bisa menahan senyum.

"Benarkah, Om?"

"Tentu. Waktu kecil, dia pernah marah hanya karena Ayah memindahkan mobil-mobilan kesayangannya."

Ratna tertawa.

"Dan sekarang dia sudah dewasa, tetapi masih sulit sekali diajak bercanda."

Alisha melirik Adrian sekilas.

Pria itu tampak tidak senang menjadi bahan pembicaraan keluarganya sendiri.

Namun, Alisha justru merasa bahwa suasana itu membuatnya lebih mudah bernapas.

Untuk sesaat, Adrian tidak terlihat seperti CEO dingin yang selalu menjaga jarak dari orang lain.

Ia terlihat seperti seorang anak yang sedang duduk bersama kedua orang tuanya.

Setelah makan siang selesai, Ratna kembali mengajak Alisha berbicara.

"Ibu berharap setelah ini kamu lebih sering datang, ya."

Alisha tersenyum.

"Baik, Tante."

"Dan kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, kamu boleh menghubungi Ibu."

"Terima kasih banyak."

Ratna mengangguk puas.

Ia merasa senang karena putranya akhirnya memperkenalkan seseorang yang tampak sopan dan tidak berusaha menarik perhatian dengan cara berlebihan.

Bagi Ratna, hal itu sudah cukup untuk menjadi awal yang baik.

---

Rahasia yang Tetap Tersimpan

Menjelang sore, Adrian dan Alisha berpamitan kepada kedua orang tuanya.

Ratna mengantar mereka sampai ke teras.

"Alisha, hati-hati di jalan, ya."

"Iya, Tante."

"Kalau ada waktu, datang lagi."

Alisha tersenyum.

"Baik."

Hendrik yang berdiri di dekat pintu juga memberikan pesan kepada putranya.

"Adrian, bicarakan semua persiapan dengan baik. Jangan hanya menyerahkan semuanya kepada orang lain."

Adrian mengangguk.

"Aku mengerti, Ayah."

Setelah berpamitan, Adrian dan Alisha berjalan menuju mobil.

Adrian membukakan pintu penumpang untuk Alisha, kemudian masuk ke sisi lainnya.

Mobil mulai meninggalkan halaman rumah keluarga Mahendra.

Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara.

Alisha masih memikirkan bagaimana Ratna dan Hendrik menerimanya.

Akhirnya, ia menoleh kepada Adrian.

"Orang tua Anda sangat baik."

Adrian meliriknya sebentar.

"Mereka memang begitu."

"Saya sempat takut mereka tidak menerima saya."

"Sepertinya ketakutanmu tidak terbukti."

Alisha tersenyum kecil.

"Iya."

Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Terima kasih karena karena sudah memperkenalkan saya kepada mereka terlebih dahulu."

Adrian mengangguk singkat.

"Itu memang perlu dilakukan."

Alisha memandang keluar jendela.

Meskipun keluarga Adrian telah menerimanya dengan baik, masih banyak hal yang harus mereka persiapkan.

Ia belum tahu bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti.

Ia juga belum tahu apakah dirinya akan mampu menjalani satu tahun bersama seorang pria yang tidak mencintainya.

Namun, setidaknya satu kekhawatirannya telah berkurang.

Keluarga Adrian tidak menolaknya.

Sementara itu, Adrian kembali memikirkan percakapan dengan kedua orang tuanya.

Mereka menerima Alisha tanpa banyak pertanyaan, bahkan mulai membicarakan persiapan pernikahan.

Adrian tahu bahwa mereka akan semakin berharap pernikahan itu berjalan dengan baik.

Padahal, hanya dirinya, Alisha, dan Daniel yang mengetahui bahwa pernikahan tersebut didasarkan pada sebuah perjanjian rahasia.

Dan rahasia itu harus tetap terjaga.

Rancangan Perjanjian

Sore itu, setelah mengantar Alisha pulang, Adrian kembali ke kantor.

Daniel sudah menunggu di ruang kerjanya dengan sebuah map hitam di atas meja.

"Pak, rancangan perjanjian sudah selesai saya susun untuk pemeriksaan awal."

Adrian mengambil map tersebut.

"Apakah semua ketentuan sudah dimasukkan?"

"Sudah, Pak. Saya juga memastikan bagian mengenai biaya pengobatan ibu Nona Alisha tercantum dengan jelas."

Adrian membuka halaman demi halaman.

Daniel kemudian menjelaskan beberapa bagian penting, termasuk jangka waktu pernikahan selama satu tahun, hak dan kewajiban kedua belah pihak, serta ketentuan setelah perjanjian berakhir.

Adrian membaca setiap bagian dengan teliti.

"Bagus. Kirimkan salinan rancangan ini kepada Alisha agar dia bisa memeriksanya juga."

"Baik, Pak."

"Jangan minta dia menandatangani sebelum seluruh ketentuan dipahami dan disepakati."

Daniel mengangguk.

"Tentu. Saya akan mengatur pertemuan untuk membahas dokumen ini bersama Anda dan Nona Alisha."

Adrian menutup map tersebut.

"Setelah semuanya disepakati, barulah kita membicarakan tanggal pernikahan."

"Baik, Pak."

Daniel mengambil map itu kembali untuk menyiapkan salinannya.

Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat berkata, "Saya senang keluarga Anda menerima Nona Alisha dengan baik, Pak. Itu akan membuat persiapan selanjutnya lebih mudah."

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap dokumen di atas meja.

"Ya. Tapi kita tetap harus memastikan semuanya berjalan sesuai kesepakatan."

Daniel mengangguk, lalu keluar dari ruangan.

Adrian kembali duduk sendirian.

Di atas meja, rancangan perjanjian itu tergeletak dengan rapi.

Satu tahun.

Itulah waktu yang telah disepakati.

Setelahnya, mereka akan menentukan langkah masing-masing sesuai ketentuan yang telah dibuat.

Adrian tidak berniat mengubah rencana tersebut.

Baginya, pernikahan itu adalah jalan keluar dari tekanan yang selama ini dihadapinya.

Namun, ia belum tahu bahwa semakin dekat ia mengenal Alisha, semakin sulit pula baginya untuk menganggap perempuan itu hanya sebagai bagian dari sebuah perjanjian.

Dan Alisha pun belum menyadari bahwa keputusan yang diambilnya demi sang ibu akan membawanya memasuki kehidupan yang jauh lebih rumit daripada yang pernah dibayangkannya.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!