Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Ketakutan
Satu minggu akhirnya berlalu, pencarian Jingga di sungai tidak membuahkan hasil apa pun.
Hal itu membuat kantong mata Bryan dan Arga menjadi sangat hitam. Rambut keduanya acak-acakan, kumis dan janggut mereka tidak tercukur dengan rapi l, bahkan setiap hari akan selalu ada bau alkohol yang tercium dari tubuh mereka.
Tasya yang melihat itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil mencengkram gaunnya, "memang apa bagusnya si Jingga sialan itu? Bukankah selama ini aku sudah menemani mereka, memberikan semua yang kupunya untuk mereka, tapi begitu Jingga pergi sebentar saja mereka sudah terlihat seperti ini. Tidak pernah lagi mengunjungiku selama satu minggu terakhir ini, bahkan aku harus kembali sendirian dari rumah sakit," gerutu Tasya benar-benar tak percaya kalau dua pria itu tak bisa hidup tanpa Jingga.
Ketika dia sedang berbicara, seorang pelayan wanita mendekat sambil berkata, "apakah Nona Tasya tidak tahu soal isi surat wasiat kedua orang tua Nona besar?"
Tasya berbalik menatap pelayan itu dengan rasa kesal, beraninya pelayan itu berbicara padanya?
"Kau tidak tahu siapa aku?! Beraninya kau lancang berbicara padaku secara sembarangan!" Betak Tasya.
Pelayan itu langsung gemetar ketakutan, ia segera berlutut dan berkata, "Saya minta maaf Nona Tasya, hanya saja saya pikir Nona mungkin tidak mengetahui sebuah kebenaran."
Tasya mengerucutkan keningnya menatap pelayan itu, "kebenaran apa yang tidak aku ketahui dari keluarga ini? Apa menurutmu pelayan sepertimu lebih tahu dibanding aku yang adalah Putri keluarga Amazon?!"
"Pergilah!" Pelayan pribadi yang ditugaskan Bryan untuk menjaga Tasya akhirnya datang membuat pelayan yang berlutut itu merasa lega dan segera pergi dengan tergesa-gesa.
"Kenapa kau menyuruhnya pergi? Apa kau mau menggantikannya dihukum?" Tanya Tasya menatap emosi pada pelayan pribadinya.
"Nona, sebenarnya apa yang dikatakan pelayan itu benar. Nona Tasya mungkin belum tahu satu hal, tentang isi surat wasiat Tuan besar untuk keluarga Amazon, pasti isi surat itulah yang membuat kedua tuan muda sangat tertekan setelah Nona Muda tidak ditemukan," ucap pelayan pribadi.
"Memangnya apa isi surat wasiat itu sehingga sangat penting untuk menemukan Jingga? Bukankah sekarang aku adalah Putri angkat keluarga Amazon, jadi kalau Jingga meninggal dan keluarga Amazon mencari pewaris baru, maka seharusnya akulah yang menjadi pewaris baru itu! Kalau tidak, akan sia-sia gelarku sebagai Putri keluarga Amazon," gerutu Tasya yang sama sekali tidak mengerti apapun.
Pelayan pribadi itu menahan diri untuk tidak menghela nafas di depan Tasya, ia dengan hati-hati berkata, "Saya dengar rumornya kalau isi surat wasiat itu menjelaskan jika Nona Jingga meninggal sebelum memiliki anak maka seluruh harta warisan yang ditinggalkan keluarga Amazon akan diserahkan ke badan amal. Bahkan tuan Arga dan tuan Bryan tidak memiliki kemampuan untuk mencegah hal itu terjadi jika Nona besar benar-benar meninggal."
"Apa?! Ada hal seperti itu?!" Tasya menggigit bibir bawahnya, ini benar-benar kesialan!
Sedari dulu dia selalu berharap Jingga meninggal lebih awal supaya dia menjadi satu-satunya putri keluarga Amazon dan mendapatkan Bryan dan Arga secara terang-terangan.
Tapi ternyata orang yang sudah mati malah membuat hal merepotkan seperti ini.
'Kalau tahu begini, aku tidak akan membiarkan Jingga benar-benar mati di sungai. Kalau begitu, jika orang luar sudah mengetahui kematian Jingga, maka kami semua harus...' Tasya menggelengkan kepalanya, ia segera berlari kembali ke kamar diikuti pelayan pribadinya.
"Nona tenang saja, sampai saat ini masalah ini masih bisa ditutupi, jadi--"
"Diam! Tinggalkan aku sendiri!" Bentak Tasya merasa pusing mendengar ucapan pelayan pribadinya.
Pelayan itu hanya bisa mundur dengan tenang, tidak berani membuat masalah dengan perempuan bertemperamental buruk seperti Tasya.
Tasya memukul meja dengan keras, menggertakkan giginya sambil menatap wajahnya di cermin, "si sialan itu benar-benar mati? Tapi kalau dia benar-benar hidup, tidak mungkin sudah satu minggu ini dia belum kembali juga, 'kan!"
Tasya berbalik meramas rambutnya dengan kasar. Kalau Jingga mati sekarang, maka pengorbanannya selama ini akan sia-sia!
Tok tok tok...
Pintu kamar diketuk oleh seseorang membuat tasya langsung berlari ke arah pintu dan membuka pintunya.
Di depan berdiri Bryan yang masih tampak kuyu, jelas terlihat beban yang dipikulnya masih sangat berat.
"Kak Bryan, bagaimana keadaan Kak Jingga? Apakah belum ada tanda-tanda?" Tanya Tasya panik.
Bryan menggelengkan kepalanya, melangkah masuk ke kamar Tasya dan duduk di sofa, "aku harus memberitahumu hal buruk yang mungkin akan terjadi ke depannya," kata Bryan diikuti helaan nafas yang panjang.
"Kak Bryan," Tasya memegang erat kedua tangan Bryan dengan perasaan yang kacau.
Hidup setenang ini tidak mungkin berlalu begitu cepat, kan?
"Kita mungkin tidak bisa menyembunyikan hilangnya Jingga terlalu lama, mungkin dalam beberapa hari ke depan pihak luar akan mengetahuinya sehingga aku disini untuk memberitahumu agar mempersiapkan diri. Kita mungkin akan meninggalkan keluarga Amazon dalam beberapa waktu ke depan karena semua harta peninggalan keluarga Amazon akan disumbangkan ke badan amal jika Jingga benar-benar mati," ucap Bryan membuat seluruh tubuh Tasya menjadi lemas dan runtuh lantai.
"Kak, kau sedang bercanda kan? Kak Jingga tidak mungkin mati, dia pandai berenang, terakhir kali dia masih berpegangan pada sepotong kayu, aku yakin dia selamat, mungkin dia hanya tersesat di suatu tempat. Kirim lebih banyak orang untuk mencarinya ke gunung, Kak Jingga harus diselamatkan, dia tidak boleh pergi begitu saja!" Ucap Tasya dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Bryan memegang pundak Tasya, "Tasya, kami sudah melakukan berbagai hal untuk mencarinya, tetapi tidak ada satupun jejak yang kami temukan. Pencarian sudah diperluas sampai 10 km dari tempat kejadian, tapi kita tetap tidak menemukan petunjuk apapun. Kemungkinan besar dia telah..."
Tasya menggeleng, "tidak, itu tidak mungkin! Ini semua salahku, kalau saja aku tidak datang ke keluarga ini, Kak Jingga pasti masih baik-baik saja bersama kalian berdua. Ini semua salahku! Akulah dalang di balik musibah ini!" Tasya memukul dirinya sendiri, menangis meraung-meraung.
Di depan pintu kamar, asisten Rama berdiri sambil menahan senyumnya, dia akhir-akhir ini selalu senang melihat 3 orang itu menderita, tidak bisa tidur maupun makan dengan baik.
'Baru begini saja kalian sudah panik, apa lagi nanti kalau kalian benar-benar di usir dari sini. Tapi hebat juga Tasya ini, di situasi begini topengnya belum terbongkar,' Asisten Rama melangkah pergi.