Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA KEBOHONGAN, SATU RENCANA
Sore itu rumah terasa terlalu sunyi.
Kenzo sudah pulang dan kini asyik menyusun balok di ruang tengah, membangun sesuatu yang katanya benteng dinosaurus. Laras duduk di sofa dengan secangkir teh yang sudah dingin. Ponselnya tergeletak di pangkuan, layarnya gelap.
Pukul empat lewat, ponsel itu bergetar. Bukan Mira. Nama yang muncul di layar membuat dadanya mengeras: **Mas Dimas**.
Ia menarik napas panjang, menghitung sampai tiga, lalu mengangkatnya.
"Halo, Mas."
"Ras, aku sudah sampai." Suara Dimas terdengar riang, terlalu riang. Di latar belakang ada bunyi samar seperti lobi hotel yang ramai. "Tadi kereta agak telat. Kamu lagi apa?"
"Lagi nemenin Kenzo main. Mas sudah makan?"
"Sudah, tadi sama klien." Jeda sebentar. "Kenzo ada di situ? apa dia Mau ngomong sama Papa?"
Laras menoleh ke anaknya. "Kenzo, Papa telepon."
Bocah itu berlari dan merebut ponsel dengan antusias. "Papa! Aku bikin benteng dinosaurus! Papa pulangnya kapan? Jangan lupa oleh-olehnya!"
Laras memperhatikan wajah kecil itu berbinar. Ia mendengar suara Dimas di seberang yang tertawa lembut, suara ayah yang penuh sayang. Dan itulah bagian yang paling menyakitkan: lelaki itu tidak berpura-pura mencintai anaknya. Ia memang mencintainya. Ia hanya juga mencintai kebohongannya sendiri.
Setelah Kenzo kembali ke baloknya, Laras mengambil ponsel itu lagi.
"Mas, hati-hati ya di sana. Jangan lupa istirahat."
"Iya. Kamu juga. Jangan tidur terlalu malam."
"Iya."
Sambungan terputus. Laras menatap layar yang kembali gelap, lalu tersenyum tipis.
*Kamu juga*, ulangnya dalam hati. *Seolah kamu masih peduli bagaimana tidurku.*
---
Pukul lima, Mira menelepon.
Laras membawa ponselnya ke halaman belakang, jauh dari telinga Kenzo. "Gimana, Mir?"
"Ras, kamu sudah duduk?"
"Aku berdiri. Langsung saja."
Terdengar helaan napas berat. "Aku kenal resepsionis di sana, temanku waktu kuliah. Dia nggak mau kasih data tamu, jelas, itu melanggar aturan. Tapi dia bilang satu hal yang boleh diceritakan: kamar atas nama Dimas Prasetyo memang sudah dipesan dua minggu lalu, dan tamu yang check in siang tadi adalah sepasang. Seorang pria dan seorang wanita."
Laras memejamkan mata. Meski sudah menduga, mendengarnya secara langsung tetap seperti ditampar.
"Dia juga bilang," lanjut Mira pelan, "si wanita mengenakan gelang perak. Dia ingat karena gelangnya unik."
"Liontin huruf V," bisik Laras.
"Kamu sudah tahu?"
"Sejak semalam."
Mira terdiam lama. Lalu suaranya pecah, antara marah dan iba. "Ras, aku ikut sakit hati. Kamu istri yang baik. Kamu nggak pantas diperlakukan begini."
"Terima kasih, Mir. Tapi sekarang bukan waktunya aku menangis." Laras menatap pagar pembatas yang memisahkan halaman belakangnya dari halaman Reza. "Aku mau tanya sesuatu. Kamu kerja di firma hukum. Kalau suatu hari aku memutuskan bercerai, apa yang harus aku siapkan?"
"Banyak. Bukti perselingkuhan, buku nikah, aset bersama, akta kelahiran Kenzo. Tapi Ras, kamu yakin mau bercerai? Kamu sudah memikirkannya?"
"Belum sepenuhnya." Laras menarik napas. "Tapi aku ingin siap kalau saatnya tiba. Aku nggak mau lagi jadi orang yang terkejut."
"Oke. Aku bikinkan daftar dokumen yang harus kamu kumpulkan. Dan Ras..."
"Ya?"
"Hati-hati dengan suami si perempuan itu. Maksudku, tetangga barumu itu. Kalau kamu bermain-main dengan mereka, bisa jadi bumerang."
Laras tidak menjawab. Sahabatnya terlalu mengenalnya, dan Laras tak ingin berbohong padanya.
"Terima kasih, Mir," katanya akhirnya, lalu menutup telepon.
---
Malam turun perlahan.
Setelah Kenzo tidur, Laras duduk sendirian di meja makan dengan buku catatan kecil di depannya. Buku catatan itu dulu dipakai untuk mencatat belanjaan bulanan. Malam ini halaman barunya berisi sesuatu yang berbeda.
Ia menulis dengan tangan yang tenang:
1. Bukti pesan dan struk hotel — sudah ada.***
*2. Identitas V — Vania, nomor 14.*
*3. Suami V — Reza. Baik. Terlalu baik.*
*4. Dimas pulang lusa.****
Ia berhenti, pena menggantung di atas kertas.
Di halaman itu, ada satu baris kosong yang sengaja ia tinggalkan. Baris kelima. Ia belum berani menulisnya, karena begitu ditulis, semuanya menjadi nyata.
Pena itu bergerak pelan.
*5. Apa yang paling Vania sayangi?*
Ia menatap kalimat itu lama sekali. Lalu, dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menulis jawabannya di bawahnya.
*Mas Reza.*
Laras meletakkan pena. Jantungnya berdebar keras, bukan karena senang, melainkan karena ia takut pada dirinya sendiri. Seseorang yang sepuluh tahun lalu menangis ketika menginjak semut tak sengaja kini duduk di meja makan, menulis rencana untuk menghancurkan seorang perempuan.
*Kau bukan orang jahat*, bisik suara di kepalanya.
*Tidak*, jawab suara lain. *Aku hanya perempuan yang baru saja belajar bahwa kebaikan tanpa batas hanya membuat orang lain merasa bebas menginjak.*
Ia hendak menutup buku itu ketika terdengar ketukan pelan di pintu belakang.
Laras tersentak. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Ia berjalan pelan ke dapur, mengintip dari balik gorden.
Di luar, di bawah lampu teras yang redup, berdiri Reza. Tangannya memegang sebuah wadah plastik kecil. Bahunya sedikit basah, seolah gerimis baru turun lagi.
Laras membuka pintu setengah.
"Mas Reza? Ada apa?"
"Maaf, Mbak, malam-malam mengganggu." Reza tampak canggung. "Saya mau mengembalikan wadah kue tadi siang, tapi tadi lupa. Dan..." Ia tertawa kecil, gugup. "Sebenarnya, ada yang mau saya tanyakan. Kalau boleh."
"Silakan."
"Lampu di rumah saya mati total. Mungkin sekering turun. Saya nggak begitu paham listrik, dan Vania yang biasanya tahu, malah lagi pergi. Mbak punya senter? Atau tahu tukang listrik yang bisa dipanggil malam begini?"
Laras menatapnya. Pria itu berdiri di bawah gerimis tipis, tersenyum kikuk, tampak seperti anak kecil yang tersesat di tempat asing. Dan di balik wajah itu tidak ada satu pun muslihat.
*Ini kesempatan*, bisik suara dingin di kepalanya.
*Jangan*, bisik suara lainnya, yang lebih lembut.
"Sebentar, Mas," katanya. "Saya ambilkan senter. Suami saya punya kotak peralatan, mungkin saya bisa bantu cek sekeringnya."
"Aduh, jangan merepotkan."
"Nggak repot." Laras tersenyum, senyum yang kali ini terasa asing di wajahnya sendiri. "Namanya juga tetangga."
---
Rumah Reza ternyata lebih rapi dari dugaan Laras.
Ruang tamunya hangat dengan sofa krem, rak buku penuh, dan foto-foto pernikahan di dinding. Laras berusaha tidak menatap foto-foto itu terlalu lama: Vania dalam gaun putih, tersenyum bahagia, Reza menatapnya dengan sorot mata yang tak mungkin dipalsukan.
Ia mengikuti Reza ke belakang, ke kotak sekering di dekat dapur. Cahaya senter bergoyang di dinding. Dalam keremangan, bahu mereka hampir bersentuhan.
"Nah, ini dia," kata Laras sambil menaikkan tuas kecil di kotak itu. Lampu menyala serentak, membuat keduanya tertawa kecil karena terkejut.
"Ya ampun. Ternyata semudah itu," kata Reza sambil menggeleng. "Saya bodoh sekali."
"Bukan bodoh. Cuma nggak pernah dipaksa belajar."
Reza menatapnya, dan untuk sesaat ada sesuatu di matanya, semacam pengakuan yang tak terucap. "Mbak benar. Selama ini Vania yang mengurus hal-hal begini. Dia lebih cekatan dari saya." Senyumnya meredup. "Dia selalu bilang, kalau bukan dia yang mengurus, rumah ini bakal berantakan."
Laras mendengar nada hangat dalam kalimat itu, nada seorang pria yang bersyukur pada istrinya. Dan dadanya terasa sesak.
"Mas Reza sangat mencintai Vania, ya?"
Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
Reza tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum, benar-benar tersenyum, dengan cara yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda. "Sangat. Dia segalanya buat saya. Delapan tahun menikah, dan saya masih merasa belum cukup memberi untuknya."
Kalimat itu seperti pisau kecil yang masuk pelan-pelan.
*Delapan tahun. Belum cukup memberi.*
Laras menunduk, pura-pura merapikan senter di tangannya. "Beruntung sekali dia punya suami seperti Mas."
"Saya yang beruntung." Reza menggeleng. "Kadang saya takut, Mbak. Takut suatu hari dia sadar saya ini membosankan. Terlalu sibuk bekerja, terlalu kaku. Dia perempuan yang ceria dan banyak teman, sedangkan saya..." Ia tertawa getir. "Maaf, saya jadi curhat pada orang yang baru kenal."
"Nggak apa-apa, Mas."
Keheningan menggantung sebentar di antara mereka. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan deras, menderu di atap seng dapur.
"Hujannya deras sekali," kata Reza. "Mbak tunggu sebentar saja, biar saya buatkan teh. Anggap saja terima kasih."
Laras ragu. Ia menoleh ke jam dinding. Kenzo tidur di rumah, tapi hanya terpisah satu dinding. Ia bisa kembali kapan saja.
"Sebentar saja ya, Mas."
Reza tersenyum lega. Ia menyalakan kompor, mengambil dua cangkir dari rak, gerak-geriknya kikuk seperti orang yang jarang menyentuh dapur sendiri. Laras duduk di kursi makan, memperhatikan punggungnya.
Pria ini kesepian.
Itu kesimpulan yang ia tarik, dan entah kenapa kesimpulan itu membuat sesuatu di dadanya berdenyut tidak nyaman. Pria itu tidak hanya baik. Ia juga lelah, haus perhatian, dan hidup bersama seseorang yang tak lagi menatapnya sebagaimana seharusnya.
*Sama sepertimu*, bisik suara di kepalanya.
Laras menggenggam cangkir teh panas yang disodorkan Reza. Hangatnya merambat ke telapak tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasakan sesuatu yang mirip ketenangan.
"Mbak Laras," kata Reza pelan sambil duduk di seberangnya. "Boleh saya bilang sesuatu? Mbak orang yang enak diajak bicara. Sudah lama saya nggak merasa nyaman begini dengan orang lain."
Laras mengangkat wajahnya dan menatap mata pria itu. Dalam cahaya lampu dapur yang hangat, ia melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat: ketulusan yang polos, tanpa pamrih.
Dan di saat yang sama, ia teringat kalimat dalam pesan itu. *Istrimu nggak curiga kan? Kasihan ya dia, terlalu polos.*
Tangannya mengencang di sekeliling cangkir.
*Kalau begitu*, pikirnya, *mari kita lihat siapa yang sebenarnya polos.*
Ia tersenyum lembut, senyum yang kali ini terasa begitu mudah.
"Terima kasih, Mas Reza," katanya. "Saya juga merasa begitu."
Di luar, hujan turun makin deras, menutupi bunyi langkah kecil di dalam hati Laras, langkah pertama menuju sesuatu yang tak bisa lagi ia hentikan.