NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia

Suasana di dalam kamp benar-benar sunyi. Dinginnya malam di Alas Purba terasa menusuk hingga ke tulang, membuat kabut tebal merayap turun dan menyelimuti permukaan tanah.

Di dalam tenda utama yang terbuat dari bahan parasut tebal, Amara sudah tertidur lelap dengan dengkur halus, terbungkus rapat di dalam sleeping bag-nya.

Sementara itu, Kevin masih duduk menyandar di sudut tenda, tertidur dengan kacamata yang masih bertengger miring di hidungnya dan tablet data yang memeluk dadanya.

Hera melirik jam tangan digital taktis di pergelangan tangan kirinya. Angka hijau di layar menunjukkan pukul 23.30.

Setengah jam lagi menuju tengah malam. Namun, rasa kantuk sama sekali enggan menyapa kelopak mata profesor muda ini.

Pikirannya terus berputar pada data anomali elektromagnetik yang dicatat Kevin beberapa jam lalu. Ada sesuatu yang menariknya, sebuah dorongan kuat yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ilmiahnya.

Dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak membangunkan kedua asistennya, Hera memakai jaket gunungnya kembali. Dia mengambil senter taktis berukuran kecil dan menyelipkannya ke dalam saku.

Perlahan, dia membuka ritsleting pintu tenda, menembus udara dingin malam yang langsung menyergap wajahnya.

Di luar, api unggun di tengah kamp sudah menyusut menjadi bara merah yang sekarat.

Yudha duduk di atas batang kayu tumbang, memegang secangkir kopi yang sudah dingin dengan senapan yang melintang di pahanya. Matanya tampak sedikit mengantuk, tetapi dia langsung menegakkan tubuh begitu mendengar gesekan kain tenda.

"Profesor Hera? Belum tidur?" bisik Yudha dengan suara rendah, tidak ingin suaranya menggema di keheningan hutan.

"Belum, Yudha. Udaranya terlalu dingin," jawab Hera berbohong kecil. Dia berjalan mendekati perimeter kamp yang berbatasan langsung dengan kegelapan pekat.

"Di mana Baskara?"

"Komandan sedang keliling perimeter luar di sektor barat, Prof. Memastikan tidak ada hewan melata yang mendekat ke arah tenda," jawab Yudha sambil berdiri dan meregangkan otot-otot badannya yang kaku. "Sebaiknya Anda jangan jauh-jauh dari jangkauan pandangan saya. Hutan malam hari ini rasanya beda. Sepi banget, bahkan suara jangkrik saja tiba-tiba hilang sejak setengah jam lalu."

Hera tidak menyahut. Matanya menyipit, menatap lurus menembus kabut tebal ke arah koordinat dua pohon raksasa yang menjadi pembatas terlarang desa. Jaraknya hanya sekitar seratus meter dari posisi kamp mereka berdiri.

Tiba-tiba, mata tajam Hera menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di balik lapisan kabut yang tebal, tepat di dasar bayangan hitam dua pohon masif itu, muncul pendaran cahaya yang sangat redup.

Cahaya itu bukan kilatan tajam seperti petir atau lampu senter, melainkan sebuah kilauan lembut berwarna ungu dengan semburat keemasan di tepinya.

Cahaya itu berdenyut, seolah-olah bernapas mengikuti irama malam.

Jantung Hera berdegup kencang. Seluruh sel di tubuhnya berteriak memberikan konfirmasi. Itu dia.

"Yudha, lihat ke arah dua pohon besar itu," bisik Hera, suaranya bergetar karena kegembiraan yang luar biasa.

Yudha melangkah mendekati Hera, mengangkat senter taktisnya, namun Hera dengan cepat menepis tangan pengawal itu.

"Jangan dinyalakan senternya! Nanti pendarannya kalah. Lihat dengan mata telanjang. Di bawah pita merah."

Yudha memicingkan matanya, berusaha menembus pekatnya kabut Alas Purba. Detik berikutnya, dia terkesiap. "Itu, apa itu lampu? Tapi warnanya aneh. Tunggu, Prof, jangan maju!"

Hera sudah melangkah tiga kali ke depan, keluar dari batas kamp yang aman. Kerinduan akan kesembuhan ibunya mengalahkan segala rasa takut dan kepatuhannya pada aturan.

"Itu Dream Flower, Yudha. Aku yakin seratus persen," ucap Hera tanpa menoleh, langkah kakinya semakin cepat menembus rerumputan yang basah oleh embun malam.

"Lihat polanya. Bunga ungu dengan tepi emas yang memancarkan bioluminesensi. Mereka hanya mekar di malam hari saat kelembapan mencapai puncaknya!"

"Profesor Hera, berhenti!" seru Yudha, kali ini dengan nada panik. Dia segera mengejar langkah Hera dari belakang.

"Ingat kata Pak Danu! Itu tepat di bawah pohon berpita merah! Jangan mendekat ke sana!"

Suara seruan Yudha yang panik rupanya cukup keras untuk menembus keheningan malam dan membangunkan seisi kamp. Pintu tenda utama terbuka kasar, menampilkan Kevin yang kacamatanya hampir jatuh dan Amara yang masih setengah sadar dengan rambut berantakan.

"Ada apa? Ada serangan hewan?" teriak Kevin panik sambil membetulkan kacamatanya.

"Prof Hera mana?!" jerit Amara yang langsung melek sepenuhnya begitu melihat slot kosong di samping tempat tidurnya.

Dari arah kegelapan semak-semak di sektor barat, Baskara muncul seperti hantu malam. Gerakannya sangat cepat dan taktis.

Parangnya sudah telanjang di tangan kanan, sementara senter besarnya langsung menyorot ke arah siluet Hera dan Yudha yang sudah berada sekitar tiga puluh meter di luar kamp.

"Yudha! Amankan Profesor!" bentak Baskara dengan suara menggelegar, memotong keheningan Alas Purba. Langkah kakinya yang lebar langsung melesat mengejar mereka.

Namun, Hera seperti tidak mendengar teriakan-teriakan di belakangnya.

Matanya terpaku pada pemandangan menakjubkan di depannya. Semakin dia mendekat, kabut di sekitar dua pohon raksasa itu seolah-olah menipis secara ajaib, memberikan jalan bagi pandangannya.

Tepat di bawah dua batang pohon besar yang dililit oleh pita kain merah tebal yang sudah kusam, sekelompok bunga berbentuk mirip teratai kecil sedang merekah lambat.

Mahkota bunganya berwarna ungu pekat, hampir hitam, tetapi di setiap tepi kelopak tipisnya memancarkan cahaya emas yang terang dan hangat. Kelompok bunga itu bergoyang pelan meski tidak ada angin yang berembus di area tersebut.

Aroma mistis yang sangat manis, campuran antara wangi cendana dan nektar segar, mendadak memenuhi udara, membuat kepala siapa pun yang menghirupnya merasa sedikit melayang.

"Luar biasa" gumam Hera, berdiri terpaku hanya berjarak lima langkah dari pita merah. Air mata haru hampir menetes dari matanya.

"Struktur selnya, mereka benar-benar memancarkan energi biologis sendiri. Mama bisa sembuh."

"Prof, tolong kembali ke kamp!" Yudha akhirnya berhasil menyusul dan mencengkeram lengan jaket Hera dengan kuat, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh. Napas Yudha memburu.

"Lihat ke atas, Prof. Pohon ini, ukurannya tidak masuk akal. Dan pita merah ini, suasananya tidak beres. Kita ambil sampelnya besok pagi saja saat matahari terbit!"

"Besok pagi bunga ini akan layu dan senyawa aktifnya akan menguap, Yudha! Kita tidak punya waktu!" balas Hera sengit, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Yudha di lengannya dengan watak keras kepalanya yang keluar penuh.

"Lepaskan saya! Bunga itu ada di depan mata kita!"

Baskara tiba di lokasi dengan napas yang teratur namun wajahnya mengeras seperti batu karang. Senternya menyorot tajam ke arah dua pohon raksasa itu, lalu beralih ke kelompok bunga ungu emas di bawahnya.

Sebagai pria yang terbiasa dengan logika pertempuran, pemandangan bunga yang menyala sendiri ini membuat bulu kuduknya berdiri.

"Yudha, bawa Profesor kembali ke kamp sekarang. Ini perintah," kata Baskara dingin, suaranya tidak menerima bantahan. Dia memposisikan dirinya di antara Hera dan pohon berpita merah tersebut, parangnya terangkat siaga.

"Tempat ini berbahaya. Insting saya mengatakan ada yang salah dengan udara di sekitar sini."

Dari kejauhan, Kevin dan Amara berlari kecil menyusul dengan wajah pucat pasi. Begitu Kevin melihat bunga-bunga menyala tersebut, dia langsung memeriksa tablet di tangannya yang mendadak berbunyi nyaring.

"Prof Hera! Batalkan! Semua indikator sensor saya mendadak merah total!" teriak Kevin dengan suara gemetar dari jarak sepuluh meter. "Medan magnet di titik Anda berdiri melompat naik seribu persen! Ini tidak masuk akal secara fisika! Kita harus mundur!"

Amara yang melihat pita merah besar di depan mereka langsung bergidik ngeri, mengingat kata-kata Pak Danu tentang gerbang dunia lain.

"Prof Hera, tolong, ayo kita balik ke tenda. Aku takut banget"

Hera menatap timnya, lalu kembali menatap hamparan Dream Flower yang tampak melambai-lambai di bawah temaramnya pita merah. Jam tangannya berbunyi tit sekali, menandakan waktu telah bergeser ke angka 23.45. Lima belas menit lagi menuju tengah malam.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!