NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Alexander dia merasa berat untuk pulang, meskipun sudah mengetahui bahwa ibunya sakit.

Namun, merasa berat bukan berarti dia tidak akan pulang.

Alexander tetap akan pulang, terlebih karena dia sadar bahwa besar kemungkinan ibunya jatuh sakit karena masalah yang terjadi akibat dirinya.

Dia sudah mendengar kabar bahwa ibu Hana mendatangi ibunya dengan emosi dalam sebuah pertemuan penting. Hal tersebut membuat ibunya yang berhati lembut langsung terpukul.

Namun, Alexander tidak menyalahkan siapa pun, apalagi ibu Hana.

Justru, dia merasa bersalah kepada wanita paruh baya yang selama ini sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.

“Kak Alexander sudah bangun?”

Alexander yang kegiatannya sempat terhenti karena larut dalam pikiran sedikit terperanjat ketika melihat Soraya.

Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi, kemudian kembali menatap Soraya.

“Apa aku mengganggu tidurmu?”

Ingin rasanya Soraya mengangguk dan membenarkannya, tetapi dia memilih memberikan alasan lain.

“Tidak. Aku hanya terbangun karena ingin ke toilet. Sekarang aku haus.”

Mendengar itu, Alexander dengan sigap langsung melepaskan sarung tangan cuci piring yang dikenakannya dan mengambilkan air minum untuk Soraya.

Ya, dia bangun sejak dini hari hanya untuk membereskan apartemen.

Bukan barang-barang pribadinya, melainkan hampir seluruh bagian apartemen.

Dia berpikir, setidaknya jika nanti pergi sekitar pukul sepuluh, Soraya tidak perlu repot-repot membersihkan sesuatu yang dapat membuatnya kelelahan.

Dalam hal ini, Soraya tidak bisa menahan diri untuk memuji kepribadian Alexander.

Seolah-olah satu-satunya kekurangan pria itu hanyalah ketidakmampuannya memasak.

“Terima kasih.”

Soraya mengembalikan gelas kepada Alexander, lalu memilih duduk di dapur.

“Kembalilah tidur. Kamu membutuhkan banyak istirahat.”

Soraya menggeleng.

“Tidak perlu. Aku di sini saja.”

Dia bersikeras untuk tetap duduk, tetapi membiarkan Alexander melanjutkan pekerjaan membersihkannya.

Sejujurnya, Soraya yang menyukai kebersihan tetapi sedang tidak memiliki banyak energi cukup menikmati pemandangan tersebut.

Terlebih lagi ketika Alexander dengan jujur mengatakan bahwa dia membersihkan apartemen agar Soraya tidak perlu repot ketika dirinya pergi nanti.

Apartemen yang bersih, sudah direnovasi, dibeli atas namanya, dan seorang Alexander yang akan pergi sebentar lagi benar-benar terasa seperti kebahagiaan yang sempurna bagi Soraya.

“Soraya ….”

Alexander tiba-tiba menarik kursi dan duduk di hadapan Soraya, membuat wanita itu yang sempat melamun kembali tersadar.

“Ada apa?”

Alexander berdeham kecil karena merasa sedikit tidak nyaman.

“Tolong jangan salah paham, tetapi boleh aku meminta nomor ponsel temanmu yang kemarin?”

Soraya mengerutkan kening.

“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin berjaga-jaga kalau tiba-tiba aku tidak bisa menghubungimu.”

Alis Soraya bertaut. Menurutnya, alasan tersebut terdengar tidak masuk akal, tetapi di saat yang sama juga ada benarnya.

“Kayaknya tidak perlu, deh. Ponselku selalu aktif.”

Alexander yang mendengar jawaban itu hanya mengatupkan bibir sambil mengangguk-angguk.

Dia sudah memiliki firasat bahwa idenya akan ditolak sejak semalam. Karena itu, dia telah menyiapkan cara lain.

Alexander tiba-tiba berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di dekat kulkas, kemudian kembali duduk di hadapan Soraya.

Soraya memperhatikan tingkahnya dengan sebelah alis terangkat.

Alisnya bahkan semakin tinggi ketika Alexander tiba-tiba membuka beberapa foto mobil.

“A-apa ini?” tanya Soraya gagap.

Alexander kembali menggulir layar ponselnya hingga menemukan foto sebuah sedan berwarna hijau mengilap dari merek kelas atas.

“Kupikir akan lebih baik kalau kamu memiliki mobil sendiri agar lebih mudah bepergian. Namun, membayangkan kamu pergi sendirian atau menyetir sendiri dalam kondisi hamil seperti sekarang rasanya tetap kurang baik.”

Soraya melongo.

Entah apa maksud Alexander mengatakan semua itu.

Terdengar seperti pria itu hendak memberinya mobil, tetapi pada saat yang sama seolah tidak benar-benar berniat memberikannya.

Hal tersebut membuat Soraya, yang sejak lama menginginkan mobil pribadi, hampir meledak karena kesal.

Bukan karena dia tidak mampu membeli mobil sendiri. Namun, ketika baru hendak memasuki kuliah, Laith menentang keinginannya dan mengatakan bahwa dia belum berada pada usia yang ideal untuk memiliki mobil sendiri.

Kini, ketika kuliahnya hampir selesai, keinginan lama itu kembali teringat.

Terlebih lagi, seolah-olah dia bisa mendapatkan mobil mewah dengan mudah jika Alexander benar-benar bersedia memberikannya.

“Ck, jauhkan ….”

Soraya kesal dan mendorong ponsel Alexander agar menjauh.

Rasanya dia sudah patah hati lebih dahulu karena pembicaraan yang bahkan belum jelas arahnya.

“Kamu tidak mau mobil?”

Soraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apaan, sih? Cuma mobil. Memangnya aku tidak bisa beli sendiri?”

Dia memutar bola mata dengan kesal.

Alexander kembali mengangguk.

“Baiklah. Untuk kondisi sekarang, kamu memang sudah membutuhkan mobil. Padahal, aku ingin memberi—”

Alexander sengaja menggantung kalimatnya.

Soraya langsung mengejar.

“Memberi apa? Kak Alexander mau memberikan aku mobil itu?”

Nada suaranya terdengar ketus, tetapi jantungnya berdegup penuh harap.

Ketika Alexander akhirnya mengangguk, Soraya seolah kehilangan akal sehatnya.

Pada akhirnya, Alexander mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dia berhasil memperoleh nomor ponsel teman-teman Soraya untuk berjaga-jaga dan memantau keadaan wanita muda itu, meskipun harus membayar dengan harga yang cukup mahal.

Sebuah mobil, seorang sopir, sekaligus pengawal perempuan.

Semua itu menjadi bagian dari pemberian Alexander untuk Soraya, meskipun wanita itu belum mengetahui seluruh rencananya.

Pada akhirnya, Alexander memang tidak cukup tega untuk benar-benar meninggalkan wanita muda yang sedang mengandung anaknya itu.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!