Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?
perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Malam hari nya di sebuah apartemen di kawasan elit di sebuah kamar terlihat Mona sedang kesal dan mengadu ke Adnan
"sialan"Mona mengumpat sambil memukul meja
BUGH!
"Adnan! Elva si jalang sialan itu sangat keterlaluan! Dia tidak hanya masih hidup, juga telah menggantikan ku dalam program! Kenapa dia sangat suka berselisih dengan ku?"lanjut Mona dengan sangat marah sementara Adnan Hanya bisa melihat nya dengan canggung
"Elva tidak mati... "Adnan berkata sambil berpikir
'Ini sangat aneh, para pembunuh itu gagal melakukan misi nya'
"Kemunculan nya yang tiba-tiba membuat ku ketakutan, bagaimana kalau dia mengekspos konspirasi ku?"Mona bertanya dengan nada takut
"Jangan panik! Jika aku memberitahu pria di belakang kita bahwa dia masih hidup, menurut mu berapa lama dia bisa bertahan?" Adnan menjelaskan sambil tersenyum dingin
"Ya kau benar , biarkan dia bernafas sebentar lagi! Sungguh mengganggu!" Mona berkata sambil menghela nafas lega
"Lupakan wanita yang merepotkan itu, biarkan aku menghibur mu dengan baik!" Adnan berkata sambil menangkap tangan Mona dan memasukkan jari Mona ke mulut nya membuat wajah Mona merona karna rangsangan
Setelah beberapa saat berlalu terlihat Mona duduk di tepi kasur dengan Adnan ya g berbaring di atas kasur, tubuh Mona mulai dari pangkal leher ke area dada di penuhi oleh tanda merah bekas percintaan mereka
"Kau mau pulang untuk tidur?" Adnan bertanya sambil menguap
"Ya, seseorang menunggu ku di rumah"Mona menjawab sambil tersenyum tipis
"Aku meminta mu untuk pindah tapi kau menolak, dan kau bersikeras berbagi kamar yang sama dengan elva! Aku benar-benar tidak bisa mengerti itu" Adnan berkata dengan heran sambil duduk di kasur
"Tidak kah menurut mu itu sangat mengganggu?"lanjut Adnan tidak habis pikir
"Tidak! Aku akan terus mengganggu nya, mengelabui mata nya dan menyakiti hatinya dan biarkan dia tahu bahwa dia adalah pecundang dalam hal percintaan. Selama dua masih mencintai mu!"Mona menjelaskan sambil tersenyum dingin
"Membosankan!"Adnan berkata dengan nada malas
"Dia telah mempermalukan ku, aku akan menunjukkan kepada nya tubuh ku yang penuh dengan kecupan mu" Mona berkata dengan nada puas sambil mengambil tas nya
"gayanya saat pura-pura tidak peduli itu terlihat sangat konyol!" lanjut Mona sambil berjalan keluar kamar
Di koridor apartemen terlihat Mona berjalan dengan perasaan bahagia sambil bersenandung Mona bahkan tidak repot-repot menutup tubuh nya yang penuh tanda percintaan itu, Mona pun sampai di depan kamar apartemen nya dia menekan tombol di pintu
BIIP
Saat Mona masuk Mona terkejut karena di sofa ruang tamunya terlihat seorang wanita paruh baya duduk di sana
"Apa kau nona Mona? Kemasi barang-barang mu dan pergi sekarang juga!" wanita itu berkata dengan nada kesal
"Apa yang terjadi?"Mona bertanya dengan Bingung
"Nona elva terlah menghentikan penyewaan rumah dan aku akan mencari penyewa baru" wanita itu menjelaskan sambil menunjukkan dokumen penyewaan apartemen nya
"Aku juga penyewa! berani nya dia memutuskan uni tanpa persetujuan ku!"Mona berteriak marah dan kesal
"Sewa rumah telah di bayar nona Elva tetapi kau telah tinggal di sini terlalu lama tanpa pembayaran apa pun"wanita itu berkata sambil menatap Mona dengan tatapan sinis
"Pria yang mengantarkan mu pulang tempo hari lalu adalah pacar nona Elva Kirana? Dasar tidak tahu malu! Jika aku adalah nona Elva, aku sudah merusak wajah mu sejak awal"wanita itu berkata sambil melipat tangannya ke dada nya menatap Mona dengan tatapan jijik dan marah
KELUAR!
wanita itu berteriak sambil melempar kan dokumen itu ke wajah Mona, sementara Mona hanya bisa diam sambil mengigit bibir nya sambil berbalik pergi dari sana dengan menahan amarah dan rasa malunya