Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pesta Sang Pangeran
Langit di perbatasan barat Kerajaan Chen merintih pelan saat hukum fana dipaksa merenggang. Retakan dimensi itu tidak memuntahkan lahar atau badai, melainkan membiaskan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
Jian Wu, jenius dari Sekte Pedang Bintang, melayang turun dengan jubah putih bersih yang tidak tersentuh debu sedikit pun. Di belakangnya, menyusul tiga sosok lainnya: seorang gadis cantik dengan tatapan angkuh bernama Jian Ling'er adik seperguruannya serta dua pengawal lapis baja dari sekte luar.
Begitu kaki mereka menyentuh tanah fana, tanah di sekitar mereka retak. Hukum dunia Kerajaan Chen langsung menekan kultivasi mereka yang sebenarnya berada di ranah Nascent Soul, memaksa Qi mereka menyusut dan terkunci rapat di batas Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment) Puncak.
"Hukum dunia sampah yang menyedihkan," Jian Wu mendengus jijik, merasakan energinya dibatasi. Ia mengibaskan lengan bajunya, menatap hamparan hutan dan desa-desa kecil di kejauhan.
"Kakak Seperguruan," Jian Ling'er melangkah maju, menutup hidungnya dengan saputangan sutra. "Udaranya sangat kotor. Di mana kita harus mencari Roh Dunia yang baru lahir itu? Mengapa kita tidak langsung membelah benua ini menjadi dua untuk mencarinya?"
"Jangan bodoh, Ling'er," Jian Wu tersenyum dingin. Ia menengadah ke arah langit yang kini mulai memunculkan kilatan-kilatan cahaya samar di berbagai penjuru benua fana, seperti bintang jatuh di siang bolong. "Kita bukan satu-satunya pemburu di ladang ini. Klan Iblis Darah, Sekte Teratai Es, dan belasan faksi serakah lainnya juga sedang turun ke dunia ini. Pemenangnya hanya satu."
Jian Wu menatap kedua pengawalnya. "Kita tidak akan bergerak membabi buta dan memancing perhatian sekte lain. Cari kerajaan terdekat. Patahkan kaki raja mereka, jadikan mereka anjing pelacak kita untuk mengumpulkan informasi tentang spiritual di dunia ini."
Jian Wu lalu menoleh pada adik seperguruannya dengan senyum penuh arti. "Dan sementara kita menunggu informasi terkumpul... kalian boleh bersenang-senang. Bunuh siapa pun yang menghalangi mata kalian. Di dunia tanpa dewa ini, kitalah dewanya."
Berbanding terbalik dengan invasi diam-diam yang mulai menyebar di perbatasan, Aula Bunga Persik di Ibukota Kerajaan Chen dipenuhi oleh tawa, musik, dan aroma anggur manis.
Hari ini, Pangeran Ketiga Lin Chen merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas.
Lin Chen duduk di kursi kehormatan di samping ibunya, mengenakan jubah sutra biru yang elegan. Wajahnya yang luar biasa tampan menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan. Bisik-bisik dari kerajaan tetangga yang tadinya menyebutnya cacat atau buruk rupa, seketika berubah menjadi tatapan kagum dan iri yang luar biasa.
"Chen'er, buka mulutmu," Permaisuri Lin Yue tersenyum hangat, menyodorkan sepotong manisan teratai menggunakan sumpit emas.
Lin Chen membuka mulutnya dengan patuh dan mengunyah manisan itu dengan senyum manis.
"Enak, Ibu," puji Lin Chen tulus. Ia tahu ibunya telah begadang semalaman hanya untuk memastikan manisan ini dibuat sempurna. Baginya, mempertahankan senyum di wajah wanita ini jauh lebih penting.
Namun, saat musik sedang dimainkan, sebuah fluktuasi Qi yang sangat tipis menyentuh telinga Lin Chen. Itu adalah transmisi bayangan dari Xie Yan.
(Ketua. Hujan bintang jatuh di berbagai penjuru benua. Deteksi Paviliun Mawar mengonfirmasi kedatangan entitas-entitas dengan kultivasi yang setara denganmu. Sektor Langit atau entitas yang lebih tinggi telah tiba.)
Lin Chen tetap tersenyum pada tamu di depannya, mengambil cangkir tehnya, namun balas mengirimkan transmisi Qi dengan nada seorang tiran.
(Awasi mereka. Jangan pancing konfrontasi terbuka. Jika mereka memiliki niat jahat, interogasi mereka dalam diam. Aku serahkan 'tamu-tamu' ini pada mainan barumu dan pisau Mo Yuan. Jika kalian bisa melumpuhkannya, potong lidah mereka dan cari tahu apa yang mereka cari.)
Di ujung transmisi, tawa licik Xie Yan terdengar samar. (Sesuai perintahmu. Ruang penyiksaan kami sudah terlalu lama kosong.)
(Satu hal lagi, Xie Yan,) nada Lin Chen berubah menjadi sangat serius. (Sampaikan pada semua anggota: nyawa kalian jauh lebih berharga daripada informasi apa pun. Jika kultivator alam atas itu terlalu kuat, lari. Jangan ada yang mati.)
Ada jeda sejenak di ujung sana, sebelum Xie Yan menjawab dengan nada yang jauh lebih hormat. (Kami mengerti, Kakak Pertama.)
(Dan beritahu Mo Yuan,) lanjut Lin Chen, matanya melirik ke arah langit-langit aula. (Dia harus memacu kultivasinya hingga batas maksimal bulan ini. Gerbang formasi kuno di markas Jurang Utara bisa menteleportasikan satu orang ke Alam Abadi jika diisi penuh. Aku ingin dia naik lebih dulu. Kita tidak akan hanya bertahan di dunia fana; kita akan mulai membangun fondasi Aliansi Bayangan Langit di tanah para dewa itu sendiri.)
Transmisi ditutup. Lin Chen kembali meletakkan cangkir tehnya, menerima ucapan selamat dari Pangeran Pertama Lin Feng yang menepuk bahunya dengan bangga.
Tiga hari kemudian, di sebuah kota perdagangan bernama Kota Daun Gugur, tidak jauh dari perbatasan barat.
Jalanan kota yang biasanya ramai oleh pedagang kini dipenuhi jeritan ketakutan. Kios-kios hancur berantakan. Di tengah jalan utama, Jian Ling'er gadis angkuh dari Sekte Pedang Bintang sedang menunggangi seekor kuda spiritual yang ia rampas, tertawa riang sambil mengayunkan cambuk apinya ke arah warga fana yang berlarian.
"Menarilah, semut-semut kotor! Hahaha!" tawa Jian Ling'er menggelegar, menikmati 'hiburan' yang diizinkan oleh kakak seperguruannya. Di belakangnya, dua pengawal sekte luar sedang menghitung kepingan emas yang mereka rampok dari kas kota.
Di sudut jalan yang sama, di sebuah kedai arak lantai dua yang atapnya setengah hancur akibat cambukan Jian Ling'er, dua sosok remaja sedang duduk menikmati hidangan babi panggang seolah dunia di bawah mereka tidak sedang runtuh.
Mo Yuan mengunyah potongan daging terakhirnya, menatap ke arah luar jendela dengan mata abu-abunya yang dingin. Di sebelahnya, Shen Lu sedang mengelap pedang besinya menggunakan kain putih bersih.
"Berisik sekali. Padahal babi panggang di sini cukup enak," gerutu Mo Yuan, meminum araknya dalam satu tegukan.
"Kakak Pertama bilang kita hanya boleh mengawasi dan mundur jika mereka berbahaya," Shen Lu mengingatkan dengan nada datar, matanya tidak lepas dari bilah pedangnya. "Gadis itu dan pengawalnya memiliki aura Foundation Establishment. Kita masih setengah langkah di bawah mereka."
"Xie Yan juga bilang, jika kita bisa menangkapnya untuk diinterogasi, itu lebih baik," Mo Yuan menyeringai, menampilkan gigi serigalanya. Ia berdiri, meregangkan otot-otot lehernya hingga berbunyi gemeretak. "Lagipula, aku butuh lawan yang kuat untuk mendobrak sisa kemacetan di Dantian-ku agar aku bisa segera pergi ke alam atas sesuai perintah Kakak Pertama."
Tepat saat Mo Yuan berbicara, cambuk api milik Jian Ling'er melesat liar ke udara, secara kebetulan menghantam jendela kedai lantai dua tempat mereka berada.
PRANG!
Sisa-sisa jendela kayu hancur. Cambuk api itu menyambar meja mereka, menghancurkan piring berisi babi panggang yang belum sempat dihabiskan oleh Mo Yuan.
Keheningan yang luar biasa membekukan seketika menyelimuti lantai dua kedai tersebut.
Shen Lu berhenti mengelap pedangnya. Mata pedangnya memantulkan kilatan es. Mo Yuan menatap sisa-sisa babi panggang di lantai, rahangnya mengeras.
Di bawah, Jian Ling'er mendongak, menatap kedua remaja berpakaian hitam di lantai dua dengan tatapan merendahkan. "Kalian berdua! Kenapa kalian tidak berlutut saat melihat kultivator dari Alam Abadi?! Turun ke sini dan jilat sepatuku, atau aku akan membakar kalian bersama kedai rongsokan ini!"
Mo Yuan perlahan melompat turun dari jendela, mendarat dengan suara debuman berat yang membuat jalanan retak. Shen Lu menyusul, mendarat seringan bulu di sampingnya, pedang besinya kini telah terhunus sempurna.
"Kau merusak makan siangku, dasar jalang," desis Mo Yuan, aura pembunuh yang ia asah di jalanan meledak, menantang dominasi arogansi Alam Abadi. "Mari kita lihat, apakah darah orang-orang abadi terasa lebih manis jika diumpankan pada kadal peliharaan Xie Yan."
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣