Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Sementara itu, Alina akhirnya tiba di rumahnya.
Matanya menatap rumah bercat putih yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya tumbuh, tertawa, menangis, dan menemukan ketenangan.
Rumah itu tidak terlalu besar. Halamannya dihiasi beberapa tanaman yang dirawat Bunda, sementara di dekat teras terdapat kursi kayu tempat Sena biasa duduk pada sore hari.
Alina membuka pagar, kemudian melangkah menuju pintu utama.
Tangannya merogoh tas untuk mengambil kunci. Alina sempat kesulitan memasukkannya ke lubang kunci karena pikirannya melayang ke mana-mana.
Setelah pintu terbuka, Alina melangkah masuk.
"Assalamualaikum..." Suaranya terdengar pelan, meskipun dia tau jika tidak ada yang menyauti salamnya tapi kebiasaan itu tetap dia lakukan.
Biasanya, setiap kali ia pulang, Bunda akan menyahut dari dapur atau Ayah akan memanggilnya dari ruang tengah. Terkadang, Sena bahkan sengaja berpura-pura tidak mendengar agar Alina datang menghampirinya sambil mengomel.
"Alin pulang..." gumamnya tanpa sadar dengan suara yang mulai bergetar.
Alina menutup pintu perlahan, kemudian meletakkan tas di atas sofa.
Matanya menyapu ruang tengah yang terlihat rapi Kate setiap hari bunda membersihkannya
Bantal-bantal masih tersusun rapi. Foto keluarga yang terpasang di dinding masih berada di tempatnya. Di atas meja, ada vas bunga kecil yang beberapa hari lalu dibeli Bunda.
Rumah ini masih sama tapi seolah kehilangan suara yang ada didalamnya.
Alina melangkah menuju dapur, dia membuka lemari es, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan, tetapi kemudian menutupnya kembali. Entah mengapa, perutnya terasa tidak berselera untuk mengkonsumsi apapun.
Alina kembali berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa tempat yang setiap hari dia duduki bersama ayah dan bundanya untuk menikmati waktu bersama keluarga.
Alina mengambil ponselnya. Alina membuka percakapan dengan Bunda dan menatap pesan terakhir yang dikirimkan ibunya sebelum keberangkatan.
Alin, kalau sudah sampai rumah, jangan lupa makan. Bunda kabari lagi nanti setelah kami sampai bandara.
Alina mengetik balasan singkat.
Alin sudah sampai, Bun. Bunda jangan khawatir. Temani Ayah baik-baik, ya. Alin sayang Bunda dan Ayah.
Setelah mengirim pesan itu, Alina meletakkan ponselnya di pangkuan.
Beberapa saat kemudian, layar ponselnya menyala karena sebuah notifikasi masuk. Alina buru-buru mengambilnya, berharap ada kabar dari bundanya. Namun, ternyata hanya notifikasi sebuah aplikasi biasa
"Ya Allah..." bisik Alina membiarkan dirinya menangis tanpa berusaha menyembunyikan kesedihannya.
...----------------...
Sore harinya, Alina perlahan membuka mata. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai membuatnya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bangun dari posisi tidurnya.
Alina mengulurkan tangan ke meja kecil di samping tempat tidur, mencari ponsel yang sejak tadi berada di sana.
Begitu layar ponselnya menyala, Alina langsung membelalakkan mata.
"HAH?! JAM EMPAT SORE?!"
Alina buru-buru duduk tegak, lalu memastikan kembali angka yang tertera di layar ponselnya.
Pukul 16.07.
Alina mengusap wajahnya berkali-kali, dia masih tidak menyangka jika telah tertidur begitu lama.
"Ya ampun! Aku tidur dari kapan sampai kapan, sih?"
Alina menguap lebar, kemudian meregangkan kedua tangannya ke atas kepala.
"Ya Allah, ternyata aku capek banget."
Alina melirik ponselnya lagi tidak ada panggilan darurat ataupun pesan baru dari Bunda. Alina sedikit lega, meskipun ia tetap berharap orang tuanya segera mengabari setelah tiba di Singapura.
Setelah duduk beberapa saat, ia akhirnya bangkit dari tempat tidur. Namun, baru beberapa langkah, Alina berhenti dan mengendus-endus tubuhnya sendiri.
Alina langsung memasang wajah jijik kepada dirinya sendiri.
"Ya ampun, Alin! Kamu ini manusia apa karung beras? Dari kemarin belum mandi!"
Alina baru menyadari bahwa sejak kemarin ia terlalu sibuk memikirkan pernikahan dan keberangkatan ayahnya sampai lupa mengurus diri sendiri dengan benar.
Bahkan setelah pulang ke rumah tadi, ia langsung tidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Enggak bisa dibiarkan. Kalau begini terus, nanti nyamuk saja bisa pingsan mencium aromaku."
Setelah mengomel kepada dirinya sendiri, Alina bergegas menuju kamar mandi.
Alina menyalakan pancuran, lalu membiarkan air membasahi tubuhnya. Perlahan, rasa lengket dan gerah yang menempel sejak kemarin mulai menghilang.
Setelah selesai mandi, Alina merasa tubuhnya jauh lebih segar. Ia mengenakan pakaian rumahan yang nyaman, mengeringkan rambut, lalu berdiri di depan cermin.
Wajahnya masih terlihat sedikit sembap. Ada sisa kelelahan yang tidak bisa hilang hanya dengan mandi, tetapi setidaknya sekarang ia merasa lebih segar daripada tadi. Alina merapikan rambutnya sambil menghela napas.
"Baiklah. Sekarang waktunya mencari makan."
Perutnya tiba-tiba berbunyi, seolah ikut menyetujui keputusan tersebut.
Alina menepuk perutnya sendiri.
"Iya, iya. Sabar. Majikanmu juga belum makan."
Alina turun ke lantai bawah, mengambil jaket, kemudian meraih kunci motor yang terletak di dekat pintu.
Sebelum keluar, Alina sempat menoleh ke ruang tengah.
Biasanya, Bunda akan bertanya hendak pergi ke mana setiap kali ia mengambil kunci motor. Kalau Sena sedang berada di rumah, ayahnya bahkan akan menawarkan diri untuk mengantarnya, meskipun tujuan Alina hanya membeli makanan di ujung jalan.
Alina terdiam beberapa detik.
Namun, ia segera menggeleng kecil.
"Sudah, jangan sedih terus. Perutmu butuh nasi, bukan air mata."
Setelah mengunci pintu rumah, Alina menyalakan motornya dan mulai berkendara menuju tempat nasi goreng langganannya.
...----------------...
Tempat nasi goreng itu berada di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari rumah Alina. Penjualnya menggunakan gerobak sederhana dengan spanduk yang warnanya sudah mulai pudar. Di sekelilingnya terdapat beberapa kursi plastik dan meja kecil untuk pelanggan yang ingin makan langsung di tempat.
Sudah bertahun-tahun ia menjadi pelanggan di sana. Bahkan, abang penjual nasi goreng itu cukup mengenalnya, termasuk kebiasaannya memesan nasi goreng spesial setiap kali datang.
Begitu tiba, Alina memarkirkan motornya di dekat gerobak, kemudian menghampiri penjual yang sedang sibuk memasak.
"Bang, nasi goreng spesial satu, ya!"
Abang penjual itu menoleh sambil tersenyum.
"Wah, Neng Alina! Tumben datang sore-sore."
"Iya, Bang. Lagi lapar banget."
"Biasanya juga lapar, Neng. Makanya datang ke sini."
Alina tertawa kecil.
"Ya, namanya juga manusia, Bang. Kalau enggak lapar, nanti abang enggak punya pelanggan."
"Betul juga. Tapi..." Abang nasi goreng itu melirik ke belakang Alina, seolah sedang mencari seseorang. "Tumben datang sendirian. Biasanya sama teman Neng yang itu."
"Teman yang mana, Bang?" Tanya Alina sambil mengangkat alisnya.
"Lho, yang tinggi itu. Yang suka duduk di sebelah Neng. Siapa namanya? Aska, kan?"
"Oh, Kak Azka?"
"Iya! Biasanya kalian datang berdua. Beli nasi goreng berdua, duduk berdua, pulangnya juga berdua. Saya sampai hafal."
Alina terkekeh mendengar penjelasan panjang itu.
"Memangnya kalau saya datang sendiri kenapa, Bang? Apa kalau enggak sama Kak Azka, nasi gorengnya enggak boleh dijual?"
Abang penjual itu langsung tertawa.
"Bukan begitu, Neng. Cuma aneh saja. Biasanya kalau ada Neng Alina, sebentar lagi pasti ada Mas Aska."
"Abang ini ada-ada saja."Alina menggeleng sambil tersenyum.
"Ya, saya cuma bilang fakta."
Alina memilih tidak melanjutkan perdebatan. Ia berjalan menuju salah satu kursi plastik yang berada di dekat gerobak, kemudian duduk sambil memperhatikan abang nasi goreng memasak pesanannya.
Suara spatula yang beradu dengan wajan terdengar cukup nyaring. Aroma bawang putih, kecap manis, dan bumbu nasi goreng yang sedang ditumis membuat perut Alina kembali berbunyi.
"Sabar sedikit lagi, ya. Sebentar lagi kita bahagia." Alina menepuk perut dengan pelan.
Abang nasi goreng yang mendengar gumaman itu menoleh.
"Ngomong sama siapa, Neng?"
"Sama perut saya, Bang."
Abang itu tertawa terbahak-bahak.
"Ya Allah, Neng. Perutnya diajak komunikasi juga!"
"Daripada saya ajak komunikasi abang, nanti dikira modus."
"Astaga! Anak ini!"
Meskipun hanya percakapan sederhana dengan penjual nasi goreng, setidaknya suasana itu berhasil membuat pikirannya sedikit lebih santai.
Alina kembali memperhatikan gerakan tangan abang penjual yang begitu cekatan mengaduk nasi di atas wajan. Sesekali api menyala lebih tinggi ketika minyak terkena panas, membuat Alina memperhatikan dengan kagum.
"Bang, kok abang enggak pernah takut kena api?"
"Ya, kalau takut api, saya jualan es teh, Neng."
Saat sedang memperhatikan Abang nasi goreng tersebut tiba-tiba seseorang memegang pundaknya,Alina langsung menoleh ternyata itu adalah Azka.
"Kak Azka,kakak ngapain disini?." bukankah pertanyaan Alina terdengar aneh?.
"Mau nyuci motor." Jawab Azka seenaknya.
Alina menatap Azka dengan malas.
"Ya mau beli nasi goreng lah Alina,Bang nasi goreng kayak biasanya satu."
Abang nasi goreng yang semula fokus menggoreng nasi langsung menoleh.
"Kan bener,kalau ada neng Alina pasti mas Aska juga ngikut."
"Tau nih bang,dia suka ngikutin aku." ucap Alina ke pedean.
"Enak aja, yang ngasih tau nasi goreng ini aja aku." Ucap Azka merasa gemas dengan Alina.
Penjual nasi goreng yang mendengar percakapan mereka langsung terkekeh. “Sudah, sudah. Daripada ribut, makan dulu. Nanti nasinya keburu dingin. Kalian ini kalau ketemu selalu ada saja bahan berantemnya.”
Aska mengangkat sendoknya seperti sedang memberikan pidato. “Ya kayak gitu bang, hubungan kita emang penuh tantangan.”
“Hubungan apaan?” Alina langsung menyela. “Hubungan antara pelanggan dan penjual nasi goreng!”
“Waduh, langsung ditegaskan begitu. Sakit juga, ya, hati Abang.”
Mereka kembali tertawa. Alina lalu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Rasanya masih sama seperti biasanya.
Aska yang sejak tadi makan sambil sesekali melirik Alina akhirnya meletakkan sendoknya.
“Ngomong-ngomong, kamu dari tadi sendirian?.”
Alina yang sedang mengunyah langsung memperlambat gerakannya. Alina memainkan sendoknya di antara nasi goreng yang masih tersisa.
“Bunda sama Ayah sudah berangkat ke Singapura tadi,” jawabnya pelan. “Mereka mau berobat. Aku pulang sendiri ke rumah.”
Ekspresi Aska perlahan berubah lebih serius.
“Sakit apa om Sena? Kamu kenapa ga bilang sama kakak, “Terus, kamu sendirian di rumah sekarang?”
“Sakit jantung dan harus operasi di Singapura."
“Pantas saja dari tadi kamu kelihatan seperti orang yang baru diusir dari alam mimpi,” Azka mencoba menghibur Alina.
Alina mendongak. “Kak Aska! Aku lagi cerita serius, tahu!”
“Lho, aku juga serius. Aku sedang menganalisis kondisi pasien yang baru bangun tidur.”
“Pasien apaan?”
“Pasien kurang nasi goreng.”
Alina menggelengkan kepala, tetapi sudut bibirnya kembali terangkat.
“Nyebelin banget, sih, Kakak.”
“Terima kasih atas pujiannya. Itu memang salah satu keahlian kakak.”
Aska kembali menyendok nasi gorengnya. Ia tidak memaksa Alina bercerita lebih jauh, Azka hanya duduk di sana, menemani gadis itu makan seperti yang biasa mereka lakukan.
Beberapa saat kemudian, Aska meliriknya lagi.
“Kalau nanti malam kamu merasa bosan di rumah, kabari saja aku.”
Alina mengangkat alis. “Memangnya Kakak mau jadi penghibur?”
“Boleh. Tarifnya murah kalau buat kamu.”
“Berapa emangnya?”
“Traktir nasi goreng.”
Alina langsung tertawa. “Ya ampun, kirain gratis!”
“Memangnya aku yayasan sosial?”
Tawa Alina kembali pecah mendengar candaan Azka.
Azka adalah salah satu orang yang merasa bahagia jika melihat tawa Alina yang begitu cantik. Dari awal bertemu hingga saat ini tidak pernah sedikitpun perasaannya berubah kepada Alina.