NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Jejak yang Terputus Dua Tahun

"Biasakan. Kita baru mulai."

Setelah aula kosong, Arya membawa Kevin ke ruang direktur kecil di samping kantor Anindya. Dinding kaca langsung berubah buram ketika pintu dikunci.

Kevin meletakkan laptop di meja. "Sekarang kita bicara soal perusahaan atau soal yang sebenarnya?"

"Keduanya."

Di layar muncul aliran transaksi vendor PE. Kevin menunjuk perusahaan konsultasi kosong yang menerima Rp8,4 miliar.

"Rekeningnya dibuka delapan bulan lalu. Direktur terdaftar seorang pensiunan yang tinggal di rumah kontrakan. Identitasnya dipakai orang lain. Uang keluar lagi dalam enam transaksi kecil sebelum berakhir di dompet digital dan pembelian aset kripto. Profesional, tapi bukan kelas tertinggi."

"Jangan sentuh dulu. Pasang pemantau."

"Sudah." Kevin mengganti tampilan. "Sekarang soal Prof. Sri. Orang terakhir yang kita cari, pengemudinya, masih tidak punya jejak resmi. Tidak ada BPJS aktif, rekening bank, pajak, atau SIM baru atas identitas lama."

Arya memandang foto buram seorang perempuan di layar. Foto itu diambil sepuluh tahun lalu di luar laboratorium ibunya. Pengemudi bernama Lestari berdiri di samping mobil dengan wajah setengah tertutup cahaya.

"Dua tahun," kata Arya. "Kita kehilangan jejak selama dua tahun penuh."

"Gue sudah menyisir catatan kematian. Tidak ada yang cocok. Kalau dia masih hidup, dia memakai identitas baru atau tinggal di luar sistem."

"R. bilang ada pergerakan di Surabaya."

"Satu pembayaran tunai ke klinik kecil, memakai nomor keluarga lama. Belum cukup untuk memastikan."

Arya memperbesar alamat klinik. "Cari rekaman sekitar, tapi jangan masuk ke server medis. Data pasien bukan mainan. Gunakan kamera jalan, parkir, dan toko di sekitar."

Kevin mengangguk. "Gue kirim orang lapangan."

Pintu diketuk. Anindya masuk bersama kepala pemasaran membawa proposal tebal.

"Kalau rapat rahasia kalian selesai, saya butuh keputusan investasi," katanya.

Kevin segera mengubah layar menjadi dasbor keamanan. "Saya cuma menunjukkan betapa buruknya sistem lama, Bu."

"Saya sudah tahu itu dari wajah kepala TI."

Kepala pemasaran membuka presentasi tentang pusat inkubasi kreator konten. PE akan menyediakan studio kecil, pelatihan produksi, pengelolaan hak cipta, dan akses merek bagi kreator baru dengan pembagian pendapatan transparan.

"Pasar iklan bergeser," jelasnya. "Kalau kita hanya bergantung pada film dan televisi, pendapatan akan terus tertekan."

Arya membalik anggaran. "Kontrak eksklusif berapa lama?"

"Dua tahun."

"Terlalu panjang untuk kreator baru. Buat enam bulan evaluasi, lalu perpanjangan berbasis target yang disepakati. Hak atas kanal tetap milik kreator. PE hanya memegang lisensi komersial selama kontrak."

Anindya membaca catatannya. "Biaya studio?"

"Gunakan dua ruang produksi yang kosong sejak proyek tahun lalu dibatalkan. Anggaran renovasi dipotong dari vendor acara yang sedang ditinjau."

"Anda sudah memeriksa ruangnya?"

"Tadi pagi."

Kepala pemasaran menunggu keputusan.

Arya menutup proposal. "Setujui tahap pertama untuk dua puluh kreator. Semua klausul denda diperiksa legal berdasarkan kebijakan baru. Kalau modelnya berhasil tiga bulan, baru diperluas."

Kepala pemasaran belum beranjak. "Pak, ada satu keberatan dari keuangan. Proyek ini diperkirakan baru balik modal setelah delapan bulan."

"Kalau semua berjalan sesuai proposal," kata Arya. "Tapi proposal menganggap seluruh kreator mulai dari nol. Pilih lima orang yang sudah punya audiens kecil dan lima belas yang punya kemampuan produksi. Yang pertama memberi arus kas, yang kedua memberi aset jangka panjang."

"Kalau kreator yang sudah punya audiens meminta uang muka?"

"Berikan pilihan: uang muka kecil dengan pembagian pendapatan biasa, atau tanpa uang muka dengan porsi pendapatan lebih besar. Jangan jebak mereka dengan utang produksi."

Anindya menambahkan garis di lembar anggaran. "Bentuk komite seleksi yang melibatkan kreatif, legal, dan keuangan. Tidak boleh hanya berdasarkan jumlah pengikut."

"Saya mengerti, Bu."

"Dan laporkan metrik retensi penonton, bukan hanya jumlah tayang," lanjut Arya. "Angka besar yang dibeli tidak membangun bisnis."

Kepala pemasaran mengangguk lebih cepat. Ketika masuk tadi, ia mengira membawa proposal kepada wali saham yang hanya akan memilih antara setuju dan menolak. Ia keluar dengan model bisnis yang lebih jelas daripada saat proposal itu selesai dibuat.

Anindya menambahkan, "Buat indikator yang bisa diaudit. Tidak ada pembelian pengikut atau buzzer untuk mengejar angka."

"Siap, Bu."

Kepala pemasaran pergi membawa proposal yang sudah penuh catatan. Kevin bersandar di kursi.

"Hari kedua jadi bos, sudah bikin kerajaan influencer."

"Pusat produksi," koreksi Anindya. "Bukan kerajaan."

"Sama-sama punya rakyat yang hidup dari algoritma."

Ponsel Arya bergetar. Pesan terenkripsi dari R. hanya berisi satu kalimat.

Saksi lama mungkin terlihat di dekat Wonokromo. Verifikasi berjalan.

Arya mengunci layar sebelum Anindya melihat. Perubahan kecil pada wajahnya tetap tertangkap.

"Ada masalah?" tanya Anindya.

"Belum."

"Itu jawaban orang yang punya masalah."

"Kalau sudah menjadi masalah perusahaan, saya beri tahu."

Anindya tidak memaksa. Ia membawa proposal kembali ke kantornya, tetapi kecurigaan di matanya bertambah.

Di sisi lain kota, Reno duduk di ruang kerja rumah Halim dengan ponsel menempel di telinga.

"Pa, siapa sebenarnya pemegang saham baru PE?"

Suara Hendra terdengar tidak sabar. "Perwalian saham masuk ke keluarga Adiwangsa. Nama wali belum muncul lengkap di laporan publik. Kenapa?"

"Ada orang bernama Arya di sana."

"Arya siapa?"

Reno terdiam. Selama ini ia bahkan tidak pernah bertanya nama lengkap mantan suami Bella.

"Arya saja. Katanya dia dekat dengan Anindya."

"Kalau kau ingin tahu, jangan bertanya seperti anak kecil. Datang sebagai mitra. Halim menguasai jaringan layar. PE pasti membuka pintu untuk proposal kerja sama."

"Bagaimana kalau mereka menolak?"

"Maka kau tahu mereka sedang menyembunyikan sesuatu."

Panggilan berakhir.

Reno menatap undangan kerja sama program varietas yang disiapkan stafnya. Nama Grup Sinema Halim tercetak besar di bagian atas. Ia akan masuk melalui pintu depan, duduk di hadapan pemilik baru, dan menunjukkan bahwa PE tetap membutuhkan keluarganya.

Di kantor yang sama sekali berbeda, Kevin menutup tirai digital dan kembali membuka foto lama Lestari.

"Bos, kalau saksi ini hidup, orang yang membuatnya hilang selama sepuluh tahun pasti juga akan bergerak."

"Karena itu jangan dekati sebelum kita tahu siapa yang mengawasi."

"Dan kalau R. benar?"

Arya menatap titik lokasi di peta Surabaya.

"Kita tidak kehilangan jejak dua tahun," katanya. "Seseorang sengaja memutusnya."

Kevin memperbesar satu rekaman buram dari kamera toko. Sosok berjaket menyeberang cepat, wajahnya tak terlihat.

"Gue akan cari ujung benangnya."

"Cari, tapi jangan biarkan mereka melihat tanganmu."

Pada waktu yang sama, Reno mengambil kunci mobil dan berkata kepada asistennya, "Siapkan proposal. Besok gue datang ke PE."

Ia tersenyum pada bayangannya di kaca.

"Kali ini gue mau lihat siapa yang sebenarnya bermain di balik meja itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!