NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penggemar Rahasia x Kelereng Janji Yang Hilang

‎   Hari-hari setelah insiden berdarah di Semanggi dan pemecatan sepihak dari Koh Lim menjadi titik balik bagi Reza. Alih-alih meratapi nasib atau mengutuk keadaan, ia menjadikan kemalangan itu sebagai bahan bakar tambahan. Baginya, setiap detik yang terbuang untuk mengeluh adalah waktu yang terbuang untuk mendekat ke Guangzhou.

‎

‎Beruntung, status penganggurannya tidak bertahan lama. Berkat rekomendasi dari bapak kosnya, Reza diterima bekerja sebagai peracik mi instan paruh waktu di "Warkop Berkah", sebuah warung tenda 24 jam di pinggiran Kutek yang selalu disesaki mahasiswa kelaparan di tengah malam. Pekerjaan ini jauh lebih melelahkan dari kedai kopi sebelumnya; ia harus berhadapan dengan kepulan asap kompor, cipratan minyak, dan teriakan mahasiswa yang memesan Indomie kuah telor kornet dengan berbagai tingkat kepedasan yang tidak masuk akal. Namun, gajinya lumayan, dan yang terpenting: ia mendapat jatah makan gratis setiap malam.

‎

‎Reza kembali ke rutinitas gilanya. Pagi kuliah, sore mendekam di Perpustakaan Pusat (Perpusat) UI, dan malam hingga dini hari ia menjelma menjadi maestro Warkop. Buku-buku tata bahasa Mandarin dan kumpulan Hanzi selalu menemaninya di sela-sela melayani pelanggan.

‎

‎Di tengah badai rutinitas itulah, sebuah anomali mulai terjadi. Anomali itu bernama Dini.

‎

‎Mbak Dini, begitu Reza memanggilnya, adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2001. Cantik, modis, dan berasal dari keluarga yang cukup berada. Pertemuan intens mereka dimulai sejak malam nahas di IGD RS UKI. Saat melihat Reza berlari menerobos pintu rumah sakit dengan napas tersengal, kemeja basah oleh keringat, dan tanpa ragu membuang pekerjaannya demi seorang sahabat, sesuatu di hati Dini berdesir.

‎

‎Di mata Dini yang terbiasa dikelilingi pria-pria necis ibukota yang seringkali hanya mengandalkan harta orang tua, sosok Reza adalah spesies langka. Kurus dan dekil, memang. Tapi ketulusan, kerja keras, dan sorot matanya yang selalu fokus pada tujuan membuat Dini diam-diam menaruh hati.

‎

‎Masalahnya, membuat Reza sadar akan eksistensi romantis seorang wanita sama sulitnya dengan menjelaskan rumus logaritma kepada seekor kucing. Radar asmara Reza sudah lama dikunci dan kuncinya dibuang ke Laut China Selatan.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Demi melancarkan aksinya, Dini memulai "Operasi Modus". Target pertamanya adalah habitat alami Reza di sore hari: Perpustakaan Pusat UI.

‎

‎Perpusat bukanlah tempat favorit Dini. Suhunya yang terlampau dingin, suasananya yang sepi senyap, dan bau kertas tua seringkali membuat Dini terserang sakit kepala. Namun, demi melihat wajah pemuda pujaannya, Dini rela mengorbankan waktu nongkrongnya di mal.

‎

‎Suatu sore, Reza sedang duduk di sudut lantai dua, keningnya berkerut dalam menatap kamus Mandarin-Indonesia yang tebalnya menyaingi bantal tidur. Kelereng baret motif pusaran merah-biru kesayangannya tergeletak di atas meja, menemani tumpukan kertas buram yang penuh dengan coretan Hanzi.

‎

‎Tiba-tiba, kursi di seberangnya ditarik. Dini duduk di sana dengan senyum semringah, membawa sebuah buku bersampul tebal. Wangi parfum vanilla yang lembut seketika menggeser bau apak buku tua di sekitar meja itu.

‎

‎"Eh, Mbak Dini. Tumben ke Perpusat? Lagi ada tugas akhir ya?" sapa Reza ramah, tanpa melepaskan pandangannya dari huruf kapital di bukunya.

‎

‎Dini menopang dagunya dengan tangan, menatap wajah lelah Reza dengan penuh kekaguman. "Iya nih, Za. Lagi pengen rajin aja. Suasana di sini enak ya buat fokus."

‎

‎Beberapa meja dari tempat mereka, dua teman genk Dini, Siska dan Maya, sedang mengintip dari balik rak buku biologi dengan wajah menahan tawa.

‎

‎"Sumpah, si Dini gila ya. Sejak kapan dia doyan masuk perpus? Kemarin aja dia muntah baca handout dua halaman," bisik Siska.

‎

‎"Lihat tuh bukunya," tunjuk Maya sambil cekikikan menahan suara. "Dia bawa buku 'Sejarah Dinasti Ming'. Udah gitu bacanya kebalik lagi. Modusnya tingkat dewa."

‎

‎Dini yang tidak sadar bukunya terbalik terus mencoba mengajak Reza mengobrol. "Za, kamu nggak capek baca huruf keriting gitu terus? Nggak pusing matanya?"

‎

‎Reza akhirnya mendongak, tersenyum kecil. "Pusing sih, Mbak. Tapi ini kan tiket saya. Kalau saya nggak hafal mati ini semua, beasiswa ke Tiongkok cuma jadi mimpi siang bolong."

‎

‎"Kamu ambisius banget ya buat ke sana. Emang ada apa sih di Cina, Za? Masa depan? Atau... jangan-jangan ada cewek yang kamu kejar?" pancing Dini, mencoba menggali informasi. Hatinya berdebar menunggu jawaban Reza.

‎

‎Reza terdiam sejenak. Tangannya secara refleks menyentuh kelereng di atas meja, mengelusnya perlahan. Bayangan senyum gingsul dan hidung belepotan debu melintas di kepalanya. Namun, ia hanya tertawa pelan. "Ada deh, Mbak. Pokoknya ada janji yang harus ditepati aja."

‎

‎Mendengar itu, Dini mengira Reza hanya sedang berbicara tentang janji kesuksesan pada keluarganya. Hati Dini semakin berbunga-bunga. Pria yang bertanggung jawab, batinnya kegirangan, sama sekali tidak menyadari keberadaan hantu masa lalu bernama Chintya.

‎

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Kegagalan Dini untuk mendapatkan momen romantis di perpustakaan (karena Reza 90% fokus pada buku dan 10% pada percakapan) tidak membuatnya menyerah. Sasaran berikutnya adalah Warkop Berkah.

‎

‎Setiap malam, sekitar pukul delapan, mobil Honda Jazz milik Dini akan terparkir di pinggir jalan dekat tenda Warkop. Dini, dengan pakaian santai namun tetap stylish, akan duduk di bangku plastik paling dekat dengan gerobak tempat Reza meracik makanan.

‎

‎"Za! Kayak biasa ya. Indomie rebus soto, telor setengah matang, sawinya dikit aja, cabenya dua," pesan Dini dengan ceria.

‎

‎"Siap, Mbak Dini! Bos Warkop, meja VIP satu porsi!" seru Reza sambil menuangkan air ke dalam panci.

‎

‎Kehadiran Dini yang nyaris tanpa absen setiap malam ini tentu saja menguntungkan omzet Warkop. Wajah cantik Dini seringkali menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa jomblo dari fakultas teknik atau MIPA untuk ikut mampir dan makan berlama-lama demi bisa mencuri pandang ke arah senior FIB tersebut. Reza menganggap Dini sebagai "penglaris" tidak resmi warungnya.

‎

‎"Mbak Dini ini doyan banget Indomie ya. Nggak takut usus buntu, Mbak, makan mi instan tiap malam?" goda Reza sambil meletakkan mangkuk berasap di meja Dini.

‎

‎"Selama yang bikin kamu, usus aku aman kok, Za," jawab Dini sambil tersenyum manis, sebuah gombalan maut yang cukup untuk membuat pria normal mana pun salah tingkah.

‎

‎Namun Reza bukanlah pria normal. "Wah, Mbak bisa aja. Berarti skill masak saya udah sekelas chef hotel nih. Kalau gini caranya, saya bisa buka cabang di Guangzhou nanti," balas Reza polos, sama sekali tidak menangkap gelombang asmara yang dipancarkan Dini. Ia malah kembali ke gerobaknya untuk mengaduk es teh manis.

‎

‎Dini menghela napas panjang, menatap mangkuk mi-nya dengan pasrah. Ini anak polosnya kebangetan atau emang pura-pura bego sih? keluhnya dalam hati.

‎

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Kebutaan Reza terhadap kode-kode keras Dini akhirnya membuat Poltak jengah. Pemuda Batak yang kini luka di kepalanya sudah mengering dan perbannya sudah dilepas itu merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan temannya.

‎

‎Suatu malam sepulang kerja, saat mereka sedang duduk lesehan di kamar kos Reza, Poltak membuka sesi konseling dadakan.

‎

‎"Za, aku perhatikan makin hari matamu ini makin rabun," buka Poltak sambil mengunyah kacang kulit.

‎

‎Reza yang sedang menyikat giginya di depan pintu kamar mandi menoleh dengan mulut penuh busa. "Mmm? Maksud lo? Minus gue nambah?"

‎

‎"Bukan minus matamu, tapi minus pekamu!" Poltak melempar kulit kacang ke arah Reza. "Kau sadar nggak sih kelakuan Kak Dini belakangan ini? Tiap sore dia ngikutin kau ke perpus, baca buku sejarah aja kebalik. Tiap malam dia makan Indomie di warungmu. Kulitnya yang mulus itu bisa jerawatan semua kebanyakan makan mecin demi nengok mukamu yang kucel itu, Za!"

‎

‎Reza berkumur dan meludah, lalu mengelap mulutnya dengan handuk kecil. Ia berjalan masuk dan duduk di depan Poltak.

‎

‎"Lo tuh kebanyakan nonton sinetron Tersanjung, Tak," Reza tertawa meremehkan. "Mbak Dini tuh anak orang kaya, pergaulannya sama anak-anak bermobil. Lo inget Kevin si kampungan yang nyiram gue es teh? Nah, level Mbak Dini tuh harusnya cowok-cowok tajir kayak gitu, bedanya Mbak Dini baik hati. Dia ke Warkop ya karena emang Warkop gue enak. Dia ke perpus karena dia mulai insaf mau ngerjain skripsi."

‎

‎Poltak menepuk jidatnya lebar-lebar. "Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu yang otaknya cuma isi huruf Cina ini. Za, cewek mana yang mau nongkrong di perpus berjam-jam cuma buat ngeliatin orang baca kamus kalau bukan karena cinta? Aku ini biar muka preman, tapi insting asmaraku tajam! Kak Dini itu naksir kau, Kawan!"

‎

‎Reza terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kembali senyum Dini, kedatangannya yang rutin, dan parfum vanilla-nya yang selalu tertinggal di perpustakaan. Sedetik kemudian, Reza menggeleng tegas.

‎

‎"Nggak mungkin, Tak. Lagian, anggaplah lo bener, anggaplah dia naksir gue... gue nggak bisa bales."

‎

‎"Kenapa? Karena kau miskin? Bah, cinta sejati nggak mandang harta, Za!"

‎

‎Reza merogoh sakunya, mengeluarkan kelereng motif pusaran itu, dan meletakkannya di telapak tangan. Matanya melembut. "Bukan soal miskin, Tak. Lo tahu kan kompas gue ngarah ke mana? Hati gue udah gue kunci rapat-rapat, dan kuncinya udah dibawa terbang ke Guangzhou lima tahun yang lalu. Nggak ada ruang buat Mbak Dini, atau cewek mana pun di kampus ini."

‎

‎Melihat keseriusan di mata sahabatnya, Poltak hanya bisa menghela napas berat. Ia tahu betul keras kepalanya Reza. Sekali anak ini menetapkan tujuan, badai topan pun tidak akan bisa menggeser posisinya. "Terserah kau lah, Za. Tapi aku cuma kasihan sama Kak Dini. Dia itu cewek baik. Kalau kau memang nggak ada rasa, jangan biarkan dia berharap terlalu lama. Bisa kualat kau bikin anak orang patah hati."

‎

‎Nasihat Poltak malam itu membekas di benak Reza. Ia mulai merasa tidak enak hati. Mungkin benar, sikap ramahnya selama ini disalahartikan. Ia harus mencari cara untuk membuat batasan yang jelas tanpa harus menyakiti perasaan senior yang sangat baik padanya itu.

‎

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Di sisi lain kampus, Dini sudah berada di titik nadir kesabarannya. Saran dari teman-temannya di kantin hari itu menjadi pendorong terakhir.

‎

‎"Din, cowok kayak Reza itu nggak mempan dikasih kode. Otaknya isinya kerja, belajar, kerja, belajar. Lo kalau mau maju, harus to the point. Tembak langsung!" saran Maya berapi-api.

‎

‎"Masa gue cewek yang nembak duluan? Gengsi dong," keluh Dini, mengaduk-aduk es jeruknya dengan sedotan.

‎

‎"Hari gini mikirin gengsi? Keburu dia direbut cewek lain, atau keburu dia terbang ke Cina kayak yang sering dia omongin itu, baru lo nangis darah!" tambah Siska memanaskan suasana.

‎

‎Tekad Dini bulat. Ia tidak mau memendam perasaan ini lebih lama lagi. Hari ini, ia akan mengatakan semuanya pada Reza. Ia akan menyatakan perasaannya dan memintanya menjadi kekasihnya.

‎

‎Sore itu, udara Depok cukup cerah. Dini sudah berdandan maksimal. Ia memakai gaun casual berwarna peach kesukaannya, rambutnya digerai rapi, dan tak lupa semprotan ekstra parfum vanilla di pergelangan tangannya. Dengan jantung berdegup kencang bak dentuman drum marching band, Dini berjalan menyusuri lorong panjang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

‎

‎Dari arah berlawanan, Reza sedang berjalan terburu-buru. Tangan kirinya memeluk setumpuk tebal buku fotokopian materi tata bahasa Mandarin, sementara tangan kanannya menggenggam erat kelereng kesayangannya di dalam saku celana. Pikirannya melayang pada materi ujian lisan yang akan diadakan besok pagi. Ia menghafal tone dan pelafalan dalam hati, benar-benar buta dengan lingkungan sekitarnya.

‎

‎Dini melihat sosok Reza dari kejauhan. Hatinya bersorak. Ini saatnya, batin Dini menyemangati diri sendiri. Ia mempercepat langkahnya, bersiap menyapa Reza dengan senyum terbaik yang sudah ia latih di depan cermin toilet kampus.

‎

‎"Reza!" panggil Dini setengah berteriak.

‎

‎Mendengar namanya dipanggil, Reza tersentak dari lamunannya dan mendongak secara mendadak. Ia terkejut melihat Dini yang tiba-tiba sudah berada sangat dekat di depannya. Karena langkah Reza yang sedang cepat dan tidak fokus, kakinya tersandung ujung ubin lorong yang sedikit mencuat.

‎

‎Keseimbangan Reza hilang.

‎

‎"Eh—"

‎

‎BRUK!

‎

‎Tabrakan tak terelakkan. Tubuh Reza yang terhuyung ke depan menabrak bahu Dini. Benturan itu membuat tumpukan buku fotokopian Reza terlempar ke udara bak kembang api, berhamburan memenuhi lantai lorong fakultas. Dini yang kaget ikut terpelanting ke belakang, namun dengan sigap Reza berhasil menarik lengan seniornya itu sehingga Dini tidak sampai jatuh ke lantai.

‎

‎"Aduh! Maaf, Mbak Dini! Saya nggak lihat jalan, lagi ngafalin—" ucapan Reza terputus secara tiba-tiba.

‎

‎Mata Reza membelalak lebar. Saat ia terjatuh dan berusaha menyeimbangkan diri, tangannya refleks keluar dari saku celana. Kelereng baret motif pusaran merah-biru, benda paling berharga dalam hidupnya, kompas yang selalu menuntunnya, terlepas dari genggamannya.

‎

‎Ting... ting... klotak, klotak.

‎

‎Kelereng kaca itu jatuh membentur lantai ubin keras. Suaranya terdengar sangat nyaring di telinga Reza, seolah waktu tiba-tiba melambat. Kelereng itu memantul liar dua kali, berputar tak terkendali, lalu meluncur cepat melewati sepatu-sepatu mahasiswa yang lewat, menuju ke arah selokan terbuka pembatas taman di sisi lorong fakultas.

‎

‎Reza membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Nafasnya tercekat di tenggorokan.

‎

‎"Kelereng gue..." bisik Reza dengan suara bergetar, wajahnya seketika pucat pasi bak disiram air es. Benda peninggalan Chintya, simbol janjinya, jimat penyelamat kewarasannya, kini menggelinding menjauh, menuju lubang gelap selokan.

‎

‎Dini yang baru saja merapikan gaunnya dan bersiap menanyakan keadaan Reza, menatap pemuda itu dengan kebingungan. Rencana pengakuan cinta yang telah disusun rapi di kepalanya mendadak menguap, digantikan oleh kebingungan melihat reaksi Reza yang tampak seperti orang yang baru saja kehilangan separuh nyawanya.

‎

‎---

‎

‎Apakah hilangnya kelereng tersebut akan membuat Reza menghentikan langkahnya menuju Cina dan mulai menyadari kehadiran Dini yang selalu ada di sisinya?

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!