NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026 - Pernikahan Terpaksa

Arkana tidak datang menemuiku selama tiga hari.

Makanan diletakkan di depan pintu. Bi Sum hanya diizinkan masuk ketika dua penjaga berdiri di luar. Ponselku disimpan Arkana, tetapi buku, piano elektrik, dan formulir beasiswa tetap berada di kamar.

Dia tidak merantai tubuhku.

Dia hanya mengunci semua pintu yang mungkin kupilih.

Pada pagi hari keempat, Bi Sum membawa gaun biru gelap dan sepatu datar.

"Tuan meminta Nona bersiap."

"Untuk apa?"

Bi Sum menahan air mata. "Catatan Sipil."

Aku tertawa karena alternatifnya adalah berteriak. "Dia membatalkan pernikahan."

"Sepertinya Tuan berubah pikiran."

"Dia sering melakukannya saat keputusan orang lain tidak sesuai keinginannya."

Aku menolak berganti pakaian sampai Arkana akhirnya muncul. Wajahnya rapi, kemejanya hitam, dan matanya menunjukkan ia juga tidak tidur selama tiga malam.

"Pakai gaunnya," katanya.

"Tidak."

"Kita akan menikah hari ini."

"Kita seharusnya menikah tiga hari lalu karena aku memilihmu. Pilihan itu sudah kauhancurkan."

Arkana menutup pintu di belakangnya. "Aku mencoba melepaskanmu. Hasilnya kau kembali membawa pisau."

"Jadi pernikahan ini hukuman?"

"Jaminan."

"Kertas tidak akan membuatku berhenti membencimu."

"Mungkin waktu akan melakukannya."

"Dan kalau tidak?"

"Setidaknya aku memberimu waktu untuk hidup cukup lama sampai kau menemukan jawaban lain."

Aku memandang lelaki yang pernah menyerahkan semua jalan keluar kepadaku. Kini dia berdiri di antara aku dan pintu, menggunakan ketakutannya sebagai hukum.

"Kalau aku menolak di depan petugas?"

"Aku tidak akan menyakitimu."

"Bukan itu yang kutanyakan."

Arkana terdiam, lalu berkata, "Aku akan membawa kita pulang dan bertanya lagi besok."

Itulah bentuk paksaannya. Tidak ada ancaman pada tubuhku, hanya hari-hari tanpa ujung di kamar terkunci sampai jawabanku berubah.

Aku mengenakan gaun itu.

Di mobil, kami duduk terpisah. Konvoi berhenti di belakang gedung kantor pencatatan sipil. Arkana menggunakan pintu samping untuk menghindari wartawan, tetapi bisik-bisik tetap mengikuti kami di lorong.

"Itu wali yang mengadopsinya, bukan?"

"Mereka tidak sedarah."

"Tetap saja, dia membesarkannya."

"Lihat perbedaan usia mereka."

Aku mendengar semuanya. Arkana juga. Tangannya mengepal, tetapi dia tidak memerintahkan siapa pun diam.

Seorang perempuan yang menunggu bersama pasangannya menatapku terlalu lama. Ketika mata kami bertemu, ia berbisik, "Kau masih bisa pergi kalau tidak yakin."

Pasangannya menarik lengannya, takut Arkana mendengar.

"Terima kasih," jawabku.

Arkana memang mendengar. Ia menoleh kepada perempuan itu, lalu kembali menatap lurus ke depan. Dulu satu tatapan darinya cukup untuk mengosongkan ruangan. Hari itu ia membiarkan orang asing mempertanyakan dirinya karena mungkin jauh di dalam hati, dia tahu perempuan itu benar.

"Semua orang akan membicarakan kita," kataku.

"Biarkan."

"Mereka akan mengatakan kau membesarkan seorang anak untuk dinikahi."

"Aku tahu apa yang kulakukan dan tidak kulakukan."

"Aku juga tahu. Tapi aku yang akan dituduh menggoda wali sendiri demi uangmu."

Arkana akhirnya menatapku. "Siapa pun yang mengatakan itu akan berurusan denganku."

"Itulah masalahnya. Kau selalu berpikir kekuasaan dapat menyelesaikan akibat dari kekuasaanmu sendiri."

Dia tidak menjawab. Pengeras suara memanggil nomor antrean kami, menyelamatkannya dari jawaban yang tidak dimiliki.

Di depan ruang verifikasi, Gilang berdiri dengan setelan abu-abu dan map perusahaan. Ia pasti mengetahui jadwal dari jaringan kantor Arkana. Dua penjaga bergerak menghalangi, tetapi Arkana mengangkat tangan.

"Biarkan dia," katanya.

Gilang memandang wajahku, lalu pintu ruang pencatatan. "Kau ingin melakukan ini, Laras?"

"Pertanyaan itu seharusnya diajukan empat hari lalu."

Rahang Gilang menegang. "Kalau kau bilang tidak, aku membawamu pergi sekarang."

Para penjaga melangkah maju.

Arkana berkata tenang, "Coba."

Aku berdiri di antara dua lelaki yang sama-sama menganggap keselamatanku sebagai alasan untuk menentukan arah langkahku.

"Berhenti," kataku. "Aku tidak akan dijadikan hadiah atau medan perang."

Gilang mengendurkan tangan. Arkana tidak.

Seorang petugas memanggil namaku. Aku masuk sendirian untuk verifikasi. Perempuan di balik meja memeriksa usia, identitas, hubungan adopsi tanpa darah, serta dokumen status kami.

"Saya perlu bertanya tanpa calon suami Anda berada di ruangan," katanya. "Apakah Anda memahami pencatatan ini dan datang atas kehendak sendiri?"

Aku memandang pintu tertutup.

Jika menjawab tidak, proses berhenti hari itu. Namun aku akan kembali ke kamar terkunci. Gilang mungkin menyerbu vila. Darah akan tumpah karena dua lelaki gagal menerima satu jawaban.

"Saya memahami dokumennya," kataku.

"Dan kehendak Anda?"

Keheningan memanjang.

"Saya akan menandatangani."

Petugas itu tidak tersenyum. "Itu bukan jawaban yang sama."

Aku menelan rasa pahit. "Ya. Saya datang untuk menandatangani."

Ia menatapku beberapa detik lagi, lalu melanjutkan pemeriksaan. Secara administrasi, aku dewasa, tidak memiliki hubungan darah dengan Arkana, dan memenuhi dokumen yang diminta. Secara hukum di atas kertas kami dapat dicatat. Kertas tidak pernah bertanya apa yang menunggu di rumah.

Arkana masuk ketika namanya dipanggil. Kami duduk berdampingan di depan meja. Tidak ada musik. Tidak ada bunga. Cincin spider lily tetap di jariku karena aku lupa melepasnya, atau mungkin karena sebagian diriku masih terlalu lemah untuk melakukannya.

"Tanda tangan di sini," kata petugas.

Arkana menandatangani lebih dulu.

Pena terasa berat dalam tanganku. Aku menulis `Larasati` perlahan. Nama perempuan mati, nama anak yang selamat, dan kini nama istri dari pembunuh keluarganya.

Stempel jatuh di atas dokumen.

Selesai.

Petugas menyerahkan salinan kepada kami. "Simpan dokumen ini dengan baik. Perubahan status harus diurus melalui prosedur resmi, bukan hanya kesepakatan pribadi."

Aku hampir tertawa. Kesepakatan pribadi adalah satu-satunya hal yang tidak kami miliki.

Ketika kami keluar dari ruang pencatatan, dua orang dengan kamera sudah menunggu di ujung lorong. Entah siapa yang membocorkan jadwal. Kilatan pertama menyala sebelum penjaga sempat menutup jalan.

"Pak Arkana, apakah benar perempuan itu anak angkat Anda?"

"Nona Larasati, apakah keluarga menyetujui?"

"Apakah pernikahan ini terkait pemindahan aset Wardhana Group?"

Arkana melepas jas dan mengangkatnya untuk menutupi wajahku. Aku menepis kain itu.

"Jangan sembunyikan aku setelah memaksaku berdiri di sini," kataku.

Dia menurunkan jas. Untuk pertama kalinya kami berjalan di depan kamera sebagai pasangan yang sah di atas kertas, tanpa berpegangan tangan dan tanpa satu pun wajah bahagia.

Bisik-bisik akan menjadi berita sebelum kami tiba di rumah. Sangkar itu kini bukan hanya memiliki kunci, tetapi juga nama resmi yang dapat dibaca seluruh kota.

Di luar ruangan, Gilang masih menunggu. Arkana berbicara dengan petugas lain, memberi kami beberapa detik tanpa pengawal dekat.

"Malam ini," bisik Gilang, "biarkan tirai balkonmu terbuka jika kau ingin keluar."

"Jangan lakukan sesuatu yang bodoh."

"Terlambat. Aku sudah belajar dari dua orang terbaik."

Dia menjauh sebelum Arkana kembali.

Dalam perjalanan pulang, buku nikah sipil berada di antara kami. Arkana menyentuh punggung tanganku.

"Aku akan memperbaiki ini," katanya.

Aku menarik tangan. "Kau tidak bisa memperbaiki sesuatu sambil terus memegang palu."

Malam turun ketika mobil memasuki gerbang vila. Arkana mengantarku sampai kamar dan berdiri di ambang pintu.

"Tunggu aku," katanya.

"Aku sudah terlalu lama menunggu."

Pintu kembali dikunci setelah dia pergi.

Aku berjalan ke balkon dan membuka tirai.

Di luar pagar, lampu sebuah mobil menyala sekali lalu padam.

Kak Gilang sudah datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!