❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞
Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alone Again
Day 7
"Dek?"
"Apa, Bang? Aku lagi buru-buru mau ke kampus, nih."
"Sorry kalau Abang sengaja baca buku harianmu. Bukunya udah Abang balikin ke tempat semula."
"Oh, oke, Bang."
"Kamu nggak marah?"
"Buat apa juga aku marah? Lagian, Abang juga udah terlanjur baca isinya. Sebenarnya aku malah mau bilang terima kasih sama Abang."
"Terima kasih buat apa?"
"Kalau bukan karena Abang yang ngajak aku ke toko buku waktu itu, aku nggak akan bisa balik ke masa ini, Bang."
"Tapi kok Abang masih nggak percaya, ya?"
"Ya, terserah. Bukan urusanku juga. Abang mau percaya atau nggak, juga nggak ada efek sampingnya di hidupku, Bang."
"Sialan! Ya udah, kalau gitu Abang ada permintaan. Kan kamu harus berterima kasih sama Abang."
"Minta apa? Cepetan! Aku mau berangkat ke kampus."
"Abang minta nomor telepon kakaknya Bara, dong."
Ara yang sudah bersiap-siap berangkat ke kampus itu langsung melemparkan buku-bukunya yang cukup tebal ke arah Biru.
"Uhuk!"
Biru meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya, sedangkan Ara sudah lebih dulu meninggalkan kamar tanpa sedikit pun merasa bersalah.
...---...
"Gimana, Ra? Bara ada ngehubungin lo nggak kemarin? Gue yakin dia pasti udah nonton videonya."
Sora tiba-tiba muncul di samping Ara yang sedang berjalan santai di koridor kampus. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas.
"Dia nggak ngehubungin gue sama sekali, Sor. Lagi nggak megang ponsel kali dia."
Ara hanya bisa menghela napas pelan. Sebenarnya, ia sangat merindukan Bara.
Setelah Yohan mengirimkan link video cover tersebut kepada Bara, Ara berharap laki-laki itu akan menghubunginya. Namun, hingga hari berganti, tidak ada satu pun pesan yang masuk dari Bara.
Mungkin Bara memang sedang tidak memegang ponselnya. Atau mungkin... Ara terlalu berharap.
"Eh, kan lo sempat ketemu sama Kak Marissa waktu itu? Lo ngejelasin gimana ke dia tentang lo yang udah tahu penyakit adeknya duluan?"
"Gue cuma bilang gue nggak sengaja tahu aja, sih. Gue sempat bingung gimana harus ngejelasinnya. Untung aja kakaknya nggak nanya lagi."
"Oh. Terus, kira-kira dia masuk kuliah nggak hari ini?"
"Kok lo jadi kepo banget gini? Naksir lo?"
"Yaelah, kan gue cuma nanya, Ra. Siapa tahu lo kangen berat sama dia."
"Kangen banget, sih, sebenarnya."
Raut wajah Ara yang semula tampak murung mendadak berubah ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Bara? Tanpa sepengetahuan Ara, tangan Bara juga sempat memasukkan sesuatu ke dalam tasnya yang sedikit terbuka.
"Kangen sama gue, ya, Ra?"
Astaga, kaget.
"Bara?"
Ara segera membalikkan tubuhnya. Di hadapannya, Bara sedang tersenyum manis. Namun, senyum Ara perlahan memudar ketika ia memperhatikan wajah Bara yang terlihat sangat pucat.
Tanpa berpikir panjang, Ara langsung memeluknya erat di depan kelas. Tentu saja, pemandangan itu seketika menjadi tontonan teman-teman mereka.
Kenapa hatiku rasanya sakit banget waktu lihat kondisi kamu yang selemah ini, Bara?
"Ra, gue malu diliatin banyak orang."
"Bodo amat. Gue nggak peduli. Lo kan pacar gue."
"Kalo orang udah jatuh cinta, ya gini. Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma figuran."
Sora memutar bola matanya malas. Ia langsung masuk ke dalam kelas setelah melihat kedua temannya masih berpelukan mesra di depan pintu.
Sementara itu, Ara masih menyembunyikan kesedihannya dengan membenamkan wajah di dada Bara yang bidang.
"Makasih, Ra."
"Hmm? Makasih buat apa?"
Ara melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap Bara. Maklum saja, tinggi Ara memang hanya sebatas ketiak Bara karena dirinya termasuk perempuan yang bertubuh mungil.
"Buat lagu itu. Tapi emangnya lagu itu beneran buat gue? Kok gue jadi kepedean gini."
"Emang buat lo, kok. Gimana? Suka, nggak?"
"Suka banget. Suara lo masih tetap merdu, Ra. Gue jadi pengin dengerin lo nyanyi tiap hari."
"Ya udah, tinggal request ke gue aja lo mau gue nyanyiin lagu apa."
Ara tersenyum kecil.
"Tapi lo udah ngeresapin arti lirik lagu itu belum?"
Bara mengangguk. Lagu yang dinyanyikan Ara memang memiliki makna yang begitu dalam. Tentang seseorang yang merasa kesepian, merasa tidak memiliki siapa pun untuk berbagi cerita, dan hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Padahal sekarang Bara sudah memiliki Ara. Seharusnya ia mulai belajar membuka diri. Seharusnya ia tidak lagi menanggung semuanya sendirian.
"Kalau udah siap, lo bisa kok berbagi beban sama gue."
"Berbagi beban? Maksud lo apa?"
Ara menarik napas panjang.
"Jujur, gue... gue sebenarnya udah tahu."
Senyum Bara perlahan menghilang.
"Tapi gue nunggu lo buat cerita ke gue. Makanya gue kasih lagu itu buat lo. Biar lo sadar kalau lo nggak sendirian."
Bara terdiam. Tangannya yang sedari tadi masih melingkar di pinggang Ara perlahan terlepas.
Tatapannya berubah datar. Tidak ada lagi senyum yang tadi menghiasi wajahnya. Tanpa mengatakan apa pun, Bara berbalik dan berjalan meninggalkan Ara.
"Bara!"
Ara segera meraih tangannya. Namun, Bara sama sekali tidak berbalik. Dengan kasar, ia melepaskan tangan Ara dan terus berjalan meninggalkan area kampus.
Ara hanya bisa berdiri mematung. Hal inilah yang sebenarnya paling ia takutkan. Ia takut Bara akan menjauh setelah mengetahui bahwa rahasianya sudah terbongkar.
Namun, Ara juga tidak sanggup membiarkan Bara terus menderita sendirian.
"Ra."
Teman-teman Ara yang sejak tadi hanya memperhatikan dari dalam kelas kini berhamburan menghampirinya.
"Lo nggak apa-apa? Mending biarin dia sendirian dulu. Atau nanti kita bantu lo buat bicara sama dia."
"Kalau dia nggak mau bicara atau ketemu sama gue lagi gimana, Vin?"
Suara Ara bergetar.
"Waktu yang gue punya sedikit."
Yuvin terdiam.
"Kita bakal bantuin lo, kok. Lo tenangin diri dulu aja. Masih mau kuliah? Atau mau gue anter pulang?"
"Kalian sedang apa di luar kelas?"
Suara berat yang sangat mereka kenal tiba-tiba terdengar.
"Sedang pentas drama? Kalau tidak mau ikut kelas saya, silakan pergi. Yang masih mau dapat nilai bagus, masuk ke kelas sekarang juga."
Keempatnya langsung menoleh.
Ara menghela napas pelan. Ia tidak punya pilihan selain kembali masuk ke kelas, diikuti Sora, Yuvin, dan Yohan yang tampaknya sedang mengumpati dosen killer mereka dalam hati.
Siapa lagi kalau bukan Pak Adam. Dengan lesu, Ara duduk di kursi pojok belakang. Ia membuka tasnya dengan malas. Mood-nya benar-benar sudah hancur.
Ditambah lagi, kelas Pak Adam memang terkenal membosankan. Cara mengajarnya hampir selalu sama, membacakan materi dari PowerPoint yang terpampang di layar LCD.
Ara menopang dagunya sambil menatap kosong ke depan. Namun, baru saja tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil buku, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang panjang dan kenyal menyentuh tangannya.
Ara membeku.
"Apaan ini?"
Karena penasaran, ia perlahan mengintip ke dalam tas. Matanya langsung membelalak.
"Ulaarrr!!!"
Ara spontan melempar tasnya ke lantai. Satu kelas langsung terkejut.
Pak Adam bahkan segera menghampiri Ara untuk memastikan apakah benar ada ular di dalam tas mahasiswanya itu.
"Ini hanya ular mainan, Ara!"
Pak Adam mengangkat benda tersebut dengan wajah kesal.
"Kamu sengaja mau membuat ulah di kelas saya lagi?"
"Ma... maaf, Pak. Bukan saya yang memasukkan ular mainan itu."
"Alasan!"
Pak Adam menunjuk pintu kelas.
"Daripada mengganggu kelas saya, lebih baik kamu keluar sekarang juga."
"Bara... Bara tadi yang masukinㅡ"
"Kenapa malah menyebut nama Bara? Bara saya lihat tidak masuk kelas hari ini."
Pak Adam semakin kesal.
"Sudah! Sekarang kamu keluar!"
Oke. Bagus juga kalau diusir dari kelas.
Ara langsung mengambil tasnya.
Aku bisa cari Bara.
Ia merampas ular mainan yang masih berada di tangan Pak Adam, kemudian meraih tasnya dan langsung meninggalkan kelas dengan wajah kesal.
Sementara itu, teman-temannya hanya bisa menatap Ara dengan tatapan prihatin.
Mereka sebenarnya ingin menyusul. Namun, mereka juga masih sayang dengan nilai masing-masing.
Sora menghela napas.
"Semoga lo nemuin Bara, Ra."
Karena mereka tahu, bagi Ara, empat belas hari itu bukan waktu yang panjang. Setiap menit yang terlewat berarti semakin sedikit waktu yang tersisa untuk menyelamatkan seseorang yang sangat ia cintai.