NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:786.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Di dalam ruang rapat utama kantor PT Buana, atmosfer justru terasa sangat panas dan mencekam. Hendra duduk dengan tubuh kaku, sementara Arumi berada di sampingnya dengan wajah yang ditekuk masam, masih berusaha memasang gila hormatnya meskipun keadaan sedang di ujung tanduk.

Di seberang meja kayu jati panjang itu, duduk Pak Roni selaku kepercayaan senior PT Adiwangsa, didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam yang berdiri tegap di dekat pintu. Di atas meja, bertumpuk berkas-berkas bukti hitam di atas putih yang sangat tebal.

"Jadi, bagaimana, Pak Hendra?" Pak Roni membuka suara, memecah keheningan dengan nada baritonnya yang tenang namun mengintimidasi. Ia mengetuk berkas di depannya dengan ujung pulpen mahal.

"Ceo kami tidak mau bertele-tele. Kami memberikan anda dua pilihan mutlak. Pertama, bayar ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah secara tunai minggu ini atas kerugian proyek material yang anda oplos. Atau kedua, silakan anda dan tim logistik anda mempertanggungjawabkan perbuatan curang ini di dalam penjara."

Mendengar kata 'penjara', Hendra seketika mati kutu. Wajahnya yang biasanya angkuh kini mendadak pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang kusut.

"S–sepuluh miliar, Pak Roni? Tolong, angka itu terlalu besar untuk perusahaan kami yang baru saja kehilangan saham utamanya. Apakah tidak bisa dinegosiasikan lagi? Kita bisa bicarakan ini baik-baik secara kekeluargaan."

"Kekeluargaan?" Pak Roni terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Saat anda memutuskan untuk memotong anggaran besi dan semen demi meraup keuntungan pribadi, apa anda memikirkan keselamatan orang-orang yang menempati bangunan kami? Tidak ada negosiasi, Pak Hendra."

Arumi yang sejak tadi menahan kekesalannya, tiba-tiba menggebrak meja dengan centil.

"Heh, Pak! Jangan sok mengancam ya! Perusahaan kami ini sudah bertahun-tahun berdiri, kami punya nama! Jangan karena masalah sepele seperti ini, anda langsung mau memenjarakan calon suami saya!"

Hendra langsung menyenggol lengan Arumi dengan panik. "Arumi, diam!"

"Ih, kenapa diam sih, Mas?!" sahut Arumi dengan nada tinggi dan angkuh, menatap tajam ke arah Pak Roni. "Kita ini orang terpandang. Mas Hendra, kamu jangan mau diintimidasi. Tenang saja, kita pasti bisa bangkit lagi! Uang sepuluh miliar itu kecil kalau proyek kita yang lain cair. Kita tidak akan miskin cuma karena masalah modal begini!"

Pak Roni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Arumi dengan pandangan kasihan bercampur geli.

"Nona Arumi, saya sarankan anda menyimpan kesombongan anda. Karena menurut data audit keuangan yang kami terima, aliran dana korupsi material ini sebagian besar mengalir ke rekening pribadi anda untuk membeli barang-barang mewah. Jadi, jika Pak Hendra masuk penjara, anda adalah orang pertama yang akan menyusulnya memakai baju oranye."

Deg!

Kalimat Pak Roni barusan sukses membuat Arumi bungkam seketika. Mulutnya yang tadi berkicau sombong langsung terkunci rapat, wajahnya mendadak ikut pucat pasi.

Arumi segera mendekatkan tubuhnya ke arah Hendra, berbisik panik namun tetap berusaha memberikan masukan yang menurutnya cerdas.

"Mas tidak usah lewat dia. Kita harus menemui CEO atau pemilik utama PT Adiwangsa secara langsung! Kita buat janji temu malam ini, Mas. Rayu pemiliknya, ajak makan malam, atau tawarkan kompensasi lain. Pasti pemilik aslinya bisa diajak kerja sama dibanding asisten kaku ini!"

Hendra yang mendengar bisikan Arumi langsung membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, rasa takut yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya.

"Jangan gila kamu, Arumi!" bentak Hendra dengan suara berbisik yang tertahan, matanya melirik Pak Roni dengan gelisah. "Pokoknya, jangan sampai kita menemui pemilik PT Adiwangsa! Mau ditaruh mana wajahku nanti! Dia Ceo hebat, tidak sepertiku!"

Arumi mengernyitkan dahi, bingung dengan kepanikan Hendra yang berlebihan. "Lho, kenapa tidak boleh, Mas? Bukankah itu jalan satu-satunya agar kita tidak dipenjara? Memangnya kenapa kalau kita bertemu pemiliknya? Apa kamu takut?"

Hendra mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Arumi bahwa pemilik sah dari PT Adiwangsa, raksasa korporasi yang sedang memegang leher mereka saat ini, belum pernah ia temui? Pemiliknya terkesan misterius dan tak pernah menampakkan diri di pertemuan manapun.

"Pokoknya jangan bantah kata-kataku, Arumi! Cari jalan lain, tapi jangan pernah sebut soal pemilik PT Adiwangsa lagi!" seru Hendra tajam.

Arumi yang tidak tahu apa-apa justru semakin gencar merayu. Ia menggenggam lengan Hendra, mengguncangnya pelan dengan tatapan memohon.

"Mas, dengerin aku kali ini saja. Kenapa kamu ketakutan begitu? Kita harus menemui atasan Pak Roni atau CEO PT Adiwangsa secara langsung, Mas! Ayo dong, minta jadwal temu. Kita tanyakan baik-baik, siapa tahu pemiliknya mau kasih keringanan."

Hendra yang sebenarnya murni panik karena gengsi perusahaannya hancur, akhirnya terpengaruh oleh desakan Arumi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Pak Roni kembali.

"Pak Roni... begini, apakah ada kemungkinan saya bisa bertemu langsung dengan atasan nda? Pemilik atau Direktur Utama PT Adiwangsa? Saya ingin meluruskan masalah ini secara personal."

Pak Roni tidak langsung menjawab. Ia menatap Hendra dan Arumi bergantian dengan senyuman misterius yang sulit diartikan.

"Anda yakin ingin bertemu dengan bos saya, Pak Hendra?"

"Iya, Pak! Tolong hubungi atasan anda sekarang," sahut Arumi dengan nada sok perintah.

Pak Roni terkekeh pelan. Ia bangkit dari kursinya, membawa ponselnya, lalu melangkah sedikit menjauh ke sudut ruangan yang sepi untuk menghubungi sang nyonya besar. Panggilan itu langsung diangkat.

"Halo, Nyonya Ningsih," ucap Pak Roni setengah berbisik. "Saat ini saya sedang bersama pak Hendra dan wanita selingkuhannya di ruang rapat. Mereka mati kutu, Nyonya. Tapi... mereka terus merayu dan memaksa saya agar bisa bertemu langsung dengan pemilik PT Adiwangsa untuk meminta keringanan."

Di seberang telepon, Ningsih yang sedang bersantai di rumah baru bersama Luna seketika menyunggingkan senyum dingin yang teramat licik. Rasa puas menjalar di dadanya mendengar musuh-musuhnya mulai mengemis.

"Oh, ya? Mereka mau bertemu denganku?" tanya Ningsih dengan nada suara yang begitu tenang. "Kalau begitu, kabulkan saja permintaan mereka, Pak Roni. Katakan pada Hendra dan perempuan gatal itu, aku bersedia menemui mereka besok pagi di kantor pusat. Aku ingin melihat bagaimana rupa wajah mereka saat tahu siapa yang memegang kendali atas hidup mereka sekarang."

"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan," jawab Pak Roni puas.

Pak Roni mematikan telepon, lalu kembali ke meja rapat dengan wajah datar. Ia menatap Hendra dan Arumi yang sedang menunggu dengan cemas.

"Atasan saya sudah setuju. Besok pagi jam sembilan, silakan datang ke kantor pusat PT Adiwangsa. Pemilik aslinya sendiri yang akan menyambut anda."

Arumi langsung tersenyum penuh kemenangan, menyenggol bahu Hendra dengan bangga.

"Tuh kan, Mas! Apa aku bilang, mereka pasti mau ketemu kita. Siap-siap besok kita selesaiin masalah ini!"

"Makasih, sayang. Sudah selalu ada di sampingku." Hendra bernapas lega, mengira ini adalah awal dari keselamatannya.

1
Emilia
Paling benci orang lupa kulit.
Emilia
Karya othor bagus semua, aku pada ku thor
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!