NovelToon NovelToon
The Mafia’S Possession

The Mafia’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Roman-Angst Mafia / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Jauhi suami saya!"

Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.

Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.

Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Sesampainya di halaman depan mansion keluarga Hurt usai menyelesaikan agenda perbelanjaan yang penuh pergolakan, pendar lampu penerangan luar menyambut kepulangan Lean dan Glow. Namun, atmosfer di sekeliling Lean mendadak berubah menjadi teramat pekat begitu kakinya melangkah keluar dari mobil.

Di dalam saku celana bahannya, ponsel khusus bersandi rahasia yang terhubung langsung dengan saluran komunikasi utama markasnya bergetar tanpa henti. Frekuensi getaran yang konstan dan tidak biasa itu menandakan satu hal: indikator bahaya tingkat tinggi telah aktif.

Lean memisahkan diri beberapa langkah dari Glow yang sedang berjalan mendahuluinya menuju pintu utama mansion. Dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan, Lean menggeser layar ponselnya dan menempelkan Benda itu ke telinganya.

"Tuan Muda Orion!" suara Marco—salah satu kepercayaan tertingginya di lini operasional lapangan—terdengar terengah-engah dari seberang garis, diselimuti oleh desis sirene yang samar dari kejauhan. "Kami dalam masalah besar. Sejam yang lalu, bengkel pusat di Queens disergap oleh pasukan bersenjata berat!"

Lean menyipitkan matanya, iris mata birunya memancarkan aura dingin yang membekukan. "Sebutkan unitnya."

"Bukan sekadar kepolisian distrik, Tuan," lanjut Marco dengan nada suara yang tertahan. "Tim taktis gabungan FBI dan CIA turun langsung ke lokasi bersama unit SWAT khusus. Mereka membawa surat penggeledahan darurat atas tuduhan kepemilikan dan distribusi substansi terlarang skala internasional."

"Narkoba?" tanya Lean singkat, suaranya teramat datar tanpa ada riak kepanikan sedikit pun.

"Benar, Tuan Muda," jawab Marco, nada penyesalan mendalam terdengar di suaranya. "Di lantai basemen rahasia—tepat di bawah area penyimpanan suku cadang—mereka menemukan ratusan kilogram kokain murni yang disembunyikan di dalam drum-drum oli penyegel. Benda-benda haram itu diselundupkan masuk tadi malam tanpa terdeteksi sistem sensor utama kita."

Hening sejenak. Rahang tegas Lean mengeras seketika.

Seorang pengkhianat.

Lean baru meninggalkan posisi pengawasan langsung di bengkel Queens selama kurang dari dua puluh empat jam untuk menyelesaikan urusan pernikahan daruratnya dengan Glow, dan celah sempit itu langsung dimanfaatkan oleh tikus-tikus bawah tanah untuk menyusupkan barang haram yang paling ia benci.

"Tuan Muda... pasukan bersenjata sudah mengepung seluruh blok," bisik Marco dengan napas yang makin memburu. "Bukti-bukti ini ditanam dengan sangat rapi dan mengarah langsung pada struktur kepemilikan tempat ini. Apa... apa saya harus menyerahkan diri sekarang dan mengaku sebagai pemilik tunggal bengkel ini demi melindungi nama Anda?"

Deg.

Jemari Lean mencengkeram ponselnya lebih erat. Tatapan matanya berkilat mematikan, menyapu bayangan kegelapan malam New York di sekelilingnya.

"Jangan pernah berpikir konyol, Marco," pangkas Lean dengan nada suara yang teramat dingin dan mengintimidasi. "Garis bisnis Ashford menjual keahlian, logistik, dan senjata untuk mempertahankan kekuasaan—kita bukan penyalur racun pemungut sampah seperti narkoba. Jangan pernah mengaku atas kejahatan murah yang tidak pernah kita lakukan."

Dari jarak sepuluh meter di dekat pintu kaca utama mansion, Glow menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh pelan, menatap sosok suaminya yang berdiri di bawah pendar remang lampu taman.

Glow memperhatikan bagaimana postur tubuh Lean yang biasanya santai dan menyebalkan kini berubah menjadi begitu tegap, kaku, dan memancarkan aura dominasi yang luar biasa gelap. Ia melihat rahang tegas pria itu mengeras dan tatapan matanya begitu tajam menatap ke hampa.

Meski Glow tidak mendengar apa yang sedang diperbincangkan di dalam telepon itu, tidak ada sedikit pun stigma buruk atau sangkaan negatif di dalam kepalanya. Glow hanya diam, menatap punggung suaminya dengan rasa penasaran yang mengendap pelan di lubuk hatinya.

Tanpa membuang waktu untuk mematikan sambungan teleponnya, Lean memutar tubuhnya. Ia tidak melangkah masuk ke dalam mansion, tidak mendatangi Lucifer, dan bahkan tidak memalingkan wajahnya untuk berpamitan pada Glow yang sedang berdiri memperhatikannya.

Lean melangkah lebar kembali menuju mobil sport hitamnya, membuka pintu dengan gerakan kasar, lalu menginjak pedal gas hingga raungan mesin V8 meledak membelah keheningan malam mansion keluarga Hurt. Kendaraan itu melesat cepat, meninggalkan kepulan asap dan bayangan Glow yang mematung menatap kepergiannya.

•••

Tiga puluh menit kemudian, jalanan di sekitar lokasi bengkel Queens telah lumpuh total.

Garis polisi berwarna kuning membentang sepanjang dua blok. Puluhan kendaraan taktis, mobil barikade SWAT, serta armada tidak bertanda milik agen federal mengepung lokasi tersebut dengan sorot lampu kilat merah-biru yang menyilaukan mata. Puluhan personel berseragam taktis lengkap dengan rompi anti peluru dan senapan serbu otomatis berdiri siaga di setiap sudut bangunan kusam itu.

Mobil sport hitam Lean berhenti tepat di tengah-tiga persimpangan jalan, memotong jalur barikade tanpa rasa takut sedikit pun.

Lean keluar dari kendaraan. Ia tidak lagi mengenakan raut wajah "tukang bengkel miskin" atau "suami provokatif" yang biasa ia tunjukkan di depan Glow. Pria itu melangkah maju dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi, memancarkan aura dingin, gelap, dan dominasi mutlak khas darah murni keluarga Ashford.

Beberapa agen bersenjata berat langsung mengarahkan moncong senjata mereka ke arah Lean saat pria itu melintasi garis polisi tanpa meminta izin.

"Berhenti di tempat! Jangan bergerak!" gertak seorang komandan komando SWAT dengan suara lantang melalui pengeras suara.

Lean tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Sorot mata birunya yang sejernih es menatap lurus ke arah sekumpulan petinggi berseragam yang berdiri di depan pintu utama bengkelnya. Beberapa perwira senior federal menatap Lean dengan pandangan meremehkan—menganggap pria ini hanyalah seorang pemilik bengkel jalanan kusam yang sebentar lagi akan membusuk di penjara federal.

Lean menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan kepala operasi gabungan tersebut.

"Siapa pelapornya?" tanya Lean dengan nada suara yang teramat datar namun sanggup membungkam keriuhan sirene di sekitarnya. "Apakah laporan palsu ini datang dari Reynal Space?"

Perwira senior berbadan tegap di hadapannya melangkah maju, menatap Lean dengan senyuman sinis. "Kami tidak perlu mengungkapkan identitas informan kami kepada seorang tersangka. Bukti ratusan kilogram kokain murni sudah ada di dalam basemenmu, Leander. Kau dan seluruh pekerja bangsatmu akan menghabiskan sisa hidup kalian di penjara maksimum!"

Lean mengangkat sebelah alisnya. Sebuah kedutan dingin muncul di sudut bibirnya saat ia melanjutkan kalimatnya tanpa mempedulikan gertakan perwira itu.

"Katakan pada Reynal Space," pangkas Lean tajam, "bahwa Rebelda Molloy tidak ada hubungannya dengan pemilik bengkel ini. Jika dia ingin bertarung memperebutkan wilayah, gunakan cara pria, bukan jebakan murah seperti ini."

Wajah sang perwira senior memerah padam akibat keangkuhan pria di hadapannya. "Tutup mulutmu! Bukti fisik sudah kami pegang dan secara hukum tempat ini disita atas nama pimpinan otoritas federal! Borgol pria ini sekarang!"

Dua personel SWAT melangkah maju dengan borgol baja di tangan mereka. Namun, sebelum jemari mereka berhasil menyentuh lengan Lean, sebuah dering nyaring berbunyi keras dari dalam saku mantel sang perwira senior.

Perwira itu menghentikan gerakannya, mengumpat pelan, lalu merogoh telepon genggam dinasnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar panggilannya—Direktur Utama Badan Perlindungan Keamanan Internasional yang berkedudukan langsung di bawah bendera konsorsium utama Ashford Group—wajah perwira itu seketika memucat bagaikan mayat.

Dengan tangan yang gemetar tipis, sang perwira mengangkat telepon tersebut dan menempelkannya ke telinga.

"Penyergapan di Queens batal detik ini juga," suara dingin dan tak berjiwa dari sang Direktur Utama bergaung langsung melalui saluran terenkripsi. "Tarik seluruh personelmu dari lokasi dalam waktu lima menit, atau surat pemecatan dan tuntutan pengkhianatan negara akan ditandatangani malam ini untukmu dan seluruh timmu."

"T-tapi Tuan Direktur..." bisik perwira itu dengan peluh dingin yang mulai membasahi dahinya. "Kami menemukan barang bukti dalam jumlah besar di—"

"Lokasi itu berada di bawah perlindungan tingkat tinggi militer," potong sang Direktur Utama tanpa toleransi. "Kau sudah melompati wewenangmu atas dorongan suap dari Reynal Space. Tarik pasukanmu sekarang, atau namamu akan hilang dari peta New York sebelum fajar!"

KLIK.

Sambungan telepon terputus secara sepihak.

Perwira senior itu menelan ludah dengan susah payah. Ia perlahan menurunkan ponselnya, menatap Lean dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa takut yang mendalam. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun lagi, perwira itu berbalik dan memberikan isyarat tangan panik ke arah seluruh pasukannya.

"Tarik mundur! Seluruh unit, balik ke markas sekarang! Batalkan penyergapan!" seru perwira itu dengan suara bergetar.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, raungan sirene dan kendaraan-kendaraan taktis itu bergerak cepat meninggalkan area jalanan Queens, mengosongkan lokasi seolah-olah serangan besar tadi hanyalah sebuah ilusi singkat.

Setelah area di depan bengkel kembali sunyi, dua sosok pria bertubuh tegap melangkah keluar dari dalam kegelapan lorong samping bangunan. Eric dan Marco—dengan pakaian yang agak berdebu—mendekat cepat ke arah tempat Lean berdiri.

Eric menundukkan kepalanya perlahan, lalu berbisik dengan nada penuh kehati-hatian di samping telinga tuannya.

"Tuan Muda..." bisik Eric pelan, "...soal nama Rebelda Molloy yang Anda sebutkan tadi. Nona Rebelda sendiri yang datang kemari mencari Anda secara pribadi semalam saat Anda sedang berada di mansion keluarga Hurt."

Lean menyipitkan matanya, mengarahkan pandangannya ke dalam kegelapan ruangan bengkelnya yang agak berantakan.

"Nona Rebelda mencoba masuk ke area pribadi Anda dan sempat bersitegang dengan penjaga sebelum akhirnya diusir oleh Marco," sambung Eric menjelaskan situasi latar belakang sabotase tersebut.

Lean mengibaskan tangannya pelan di udara—sebuah Isyarat penolakan yang teramat dingin dan mutlak.

"Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya," sahut Lean dengan nada suara yang membekukan malam, membalikkan tubuhnya untuk kembali melangkah menuju mobilnya. "Usir saja dia jika dia berani menampakkan kakinya kemari lagi."

1
Astrid Kucrit
gek sat set pria kanibal 🤣🤣
Astrid Kucrit: wkwkwkwowk 😂😂
total 2 replies
Astrid Kucrit
geli nggak glow 🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahah 🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan khawatir glow,suamimu sangat mencintaimu
Astrid Kucrit
seru nihh
Astrid Kucrit
hajar le 😂😂
Astrid Kucrit
siap2 pisah kamar 😂
Rosdianah 🌷: wkwkkw🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
makin dag dig dug bacanya...keren Thor /Good/
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... semangat 2 kk Thor 💪💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii ma'aciww 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di hajar kamu glow 🤣🤣
Astrid Kucrit
selamat berbuka puasa 🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
gpp up dikit kk..yg penting tetap semangat 💪 berkarya 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Bu Dewi
hari ini gak update tah kak..? bolak balik liat tapi belum ada update an/Smile//Smile//Smile/
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍
Rosdianah 🌷: huhu author minta maaf ya kak 🙏🏻 author sedikit sibuk dunia nyata hari ini. besok up banyak 🫠
total 1 replies
Nita Nita
pada hal gampang buat glow tau siapa lean 😎
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
kayak Mr and Mrs Smith Thor😜😜😜
Rosdianah 🌷: ow iya kak, wkwk🤭
total 3 replies
Bu Dewi
update lagi dunkz kak😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Nita Nita
Glow bkn bisa nembak ya
safaana
cerita othor emang gak pernah gagal meskipun ada sedikit typo tapi ke tutup sama jln ceritanya semangat Thor semoga sehat selalu
Rosdianah 🌷: Ma'aciww banget kak🫶
total 1 replies
safaana
aku penasaran itu Leon Ama kakaknya di banting kemana Thor,,gak ada jejak
Rosdianah 🌷: nanti di bab selanjutnya kak 🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat 2 up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
keren bgt🤗🤗orion...
Rosdianah 🌷: anak siapa itu🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!