NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyamaran

Lampu gantung berbahan kristal hitam memancarkan pendar redup di atas meja oval berlantai marmer di Ruang Rapat Eksekutif Sektor Zero. Udara di dalam ruangan itu begitu pekat oleh aroma tembakau mahal, kopi pahit, dan ketegangan politik bawah tanah yang membakar.

Argus duduk di ujung meja kebesarannya, mengapit cerutu tebal yang asap putihnya membumbung perlahan. Di sekelilingnya, para eksekutif tertinggi Red Crows telah berkumpul. Mike berdiri tegap di sisi kanan dengan jas hitam yang terkancing sempurna; Lukas menyandarkan badannya ke kursi seraya memutar-mutar kacamata hitam di jarinya; Joe sibuk memproyeksikan layar holografik Tiga Dimensi; sementara Demian dan Dr. Anthony mengamati data keuangan serta jaringan distribusi yang terpampang di udara.

"Narkotika jenis baru ini bukan sekadar barang selundupan biasa," suara Argus memecah kesunyian, tebal dan penuh otoritas mutlak. "Barang sintetis ini mulai menggerogoti wilayah kekuasaan kita di Sektor Barat dan Selatan. Penjualan senjata dan logistik kita menurun karena para pelanggan beralih pada barang haram yang merusak otak ini. Yang lebih sialan... sang dalang bergerak dari balik bayangan tanpa menyentuh jaringan mafia resmi."

Joe menggeser layar holografik, menampilkan grafik aliran transaksi dan pemetaan wilayah. "Jaringannya sangat rapi, Tuan Argus. Pemasoknya menggunakan sistem sel terputus. Namun dari hasil peretasan peladen komunikasi lokal selama tiga hari terakhir, kami menemukan satu titik konsentrasi utama yang menjadi pusat transaksi serta laboratorium uji coba terselubung mereka."

"Di mana lokasi titik terakhir itu?" tanya Mike dingin.

"SMA Bintang," jawab Joe singkat.

Lukas yang sedang memutar kacamatanya mendadak tertawa pelan. "Sekolah menengah atas elit di pusat Kota Atlas? Yang benar saja, Joe! Tempat itu kan communicates isi anak-anak pejabat dan pengusaha kaya! Masa bandar narkotika kelas berat bersembunyi di balik seragam sekolah?"

"Justru karena itu," sela Dr. Anthony seraya membetulkan kacamata bacanya. "Anak-anak pejabat dan pengusaha kaya adalah tameng terbaik. Polisi tidak akan berani sembarangan menggeledah sekolah elit tersebut tanpa bukti otentik, dan dana dari anak-anak kaya itu menjadi sumber perputaran uang yang sangat cepat."

Pintu ganda berbahan baja tebal Ruang Rapat mendesis terbuka.

Sesosok pemuda tegap melangkah masuk. Daren baru saja kembali dari area luar markas setelah menghirup udara segar malam Kota Atlas menunggangi motor sport kustomnya. Jaket kulit hitam yang melingkupi bahu tegapnya tampak sedikit basah oleh embun malam. Tato kanji vertikal berwarna merah pekat—Akuma no Urami—di leher bagian kanannya memancarkan aura dingin yang mengintimidasi saat lampu ruangan menyinarinya.

"Kau memanggilku, Tuan Argus?" tanya Daren datar, membungkukkan badannya tipis.

Argus mematikan cerutunya pada asbak kristal di meja, lalu menatap lurus ke arah Daren. Sebuah senyuman dingin namun sarat makna terukir di bibirnya.

"Kau datang di waktu yang tepat, Daren," kata Argus. "Aku punya tugas khusus untukmu. Sebuah misi yang membutuhkan kecerdasan, akting, dan naluri membunuh yang terkontrol."

Daren menaikan sebelah alisnya. "Perintah apa, Tuan?"

"Besok pagi, kau akan masuk ke SMA Bintang," tegas Argus. "Kau akan menyamar sebagai siswa pindahan baru dari luar kota. Tugas utamamu adalah memetakan jaringan pemasok narkotika itu, menemukan siapa dalang utamanya di dalam sekolah tersebut, lalu menghancurkannya hingga ke akar-akarnya."

Daren terpaku di tempatnya berdiri. Manik mata kelabunya membelalak pelan, sebuah reaksi terkejut yang sangat jarang terlihat dari pemuda dingin itu.

"Menyamar... sebagai siswa SMA?" ulang Daren, suaranya dipenuhi rasa tidak percaya. Dia menatap Argus dengan raut wajah sangat serius. "Tuan Argus, kenapa memilihku? Di antara para personel kita, ada banyak agen intelijen wanita atau rekrutan muda yang terbiasa dengan penyamaran sipil. Mengapa harus aku yang dikirim ke sana?"

Argus terkekeh rendah, menyandarkan tubuh besarnya ke sandaran kursi.

"Alasannya sangat masuk akal, Daren," jawab Argus tenang. "Pertama, usiamu baru dua puluh satu tahun. Paras wajahmu masih sangat muda dan segar untuk ukuran remaja belasan tahun. Dengan sedikit penataan rambut dan seragam sekolah, tidak ada satu pun orang biasa yang akan mengira kau adalah seorang petarung berdarah dingin dari Red Crows."

Argus memiringkan kepalanya sedikit, menunjuk ke arah Joe. "Kedua, Joe telah memalsukan seluruh dokumen identitasmu. Dalam berkas sipil baru, kau adalah Daren Ardiansyah, remaja usia tujuh belas tahun yang pindah dari sekolah swasta luar daerah karena bisnis orang tuamu. Dan yang paling penting... kau memiliki naluri kewaspadaan tingkat tinggi yang tidak dimiliki oleh agen biasa."

Lukas ikut menengahi seraya terkekeh tengil. "Lagipula, Bocah! Mana ada agen biasa yang punya kemampuan mematahkan leher orang dalam hitungan detik kalau keadaan mendadak kacau? Kau ini kombinasi sempurna antara wajah keturunan bangsawan dan mesin pembunuh murni!"

Daren terdiam selama beberapa detik. Tatapan matanya beralih menatap tangan kanannya sendiri.

Sekolah. Sebuah kata yang sangat asing di dalam benaknya.

Sejak usia lima tahun, di saat anak-anak sebayanya duduk di bangku kelas, belajar membaca, bermain di lapangan sekolah, dan memiliki teman sebaya, Daren justru dikurung di gudang bawah tangga oleh keluarga Deni. Hari-harinya diisi oleh sabetan gesper, kain pel, dan cucian piring. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya mengenakan seragam putih-abu-abu, duduk di dalam kelas, atau mendengar bel sekolah berbunyi.

Sebuah letupan perasaan asing—gabungan antara rasa penasaran, semangat yang terpendam, dan ketertarikan mendalam—mendadak mekar di dalam dada Daren.

Daren merapatkan jemarinya, menatap Argus dengan mata yang menyala mantap. "Saya menerima misi ini, Tuan Argus. Saya akan menyelesaikan perburuan ini di dalam sekolah itu."

Argus tersenyum puas. "Bagus. Seluruh fasilitas pendukungmu sudah disiapkan di dunia atas."

Daren diberikan fasilitas kelas atas untuk menunjang penyamarannya di lingkungan sekolah elit tersebut.

Malam itu juga, Daren dipindahkan ke sebuah rumah mewah bergaya minimalis modern dua lantai yang terletak di dalam perumahan elit khusus pengusaha di pusat Kota Atlas. Rumah itu dilengkapi dengan garasi luas, interior serba mewah, pelayan pribadi yang telah disumpah setia oleh Red Crows, serta sistem keamanan terselubung.

Di dalam kamar utamanya yang luas di lantai dua, sebuah seragam sekolah SMA Bintang berserta tas punggung kulit berwarna hitam sudah tergantung rapi di depan cermin besar.

Daren melangkah mendekati cermin tersebut. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh kain kemeja putih bersulamkan logo SMA Bintang di dada kiri. Kain itu terasa begitu halus dan bersih—sangat berbeda dari kaus lusuh berlubang yang dulu dikenakannya saat menjadi babu Deni.

Daren melepas pakaian taktisnya, lalu mencoba mengenakan seragam putih-abu-abu itu.

Saat dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, Daren hampir tidak mengenali sosoknya sendiri. Kemeja putih itu membungkus dada tegap dan bahu atletisnya dengan sangat pas. Kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka tipis, secara alami menyembunyikan sebagian besar tato kanji Akuma no Urami di leher kanan bagian bawahnya, namun tetap menyisakan goresan tinta merah pekat yang mengintip misterius di balik garis rahang tegasnya.

Rambut hitamnya yang dipotong rapi jatuh dengan elegan menutupi dahinya. Wajahnya yang tampan dengan alis tebal dan mata kelabu dingin menciptakan perpaduan visual yang sangat kontras: perpaduan antara ketampanan polos seorang murid teladan dengan aura bahaya tersembunyi dari seorang pembunuh.

"Daren Ardiansyah..." gumam Daren pelan pada pantulan dirinya. "Mari kita lihat seperti apa dunia sekolah yang sebenarnya."

Keesokan harinya, pukul 06.45 WIB.

Gerbang besi raksasa SMA Bintang yang megah berdiri kokoh di kawasan elit pusat kota. Mobil-mobil mewah keluaran terbaru—mulai dari sedan sport, SUV mahal, hingga mobil pengawal pribadi—mengantre menurunkan anak-anak pengusaha, pejabat, dan selebriti Kota Atlas.

Suara riuh gelak tawa siswa-siswi berseragam rapi memenuhi pelataran sekolah yang bersih. Siswi-siswi berparas cantik dengan rok abu-abu di atas lutut berjalan bergerombol seraya berbincang mengenai tren terbaru, sementara para siswa laki-laki sibuk bersenda gurau di dekat tempat parkir kendaraan.

VRRRROOOOMMMM!

Raungan suara mesin bersilinder besar yang sangat menggelegar mendadak memecahkan keriuhan suasana pagi di depan gerbang utama.

Sebuah motor sport kustom berwarna hitam pekat meluncur anggun menembus antrean mobil mewah. Bodi motor yang dilapisi cat tanpa pantulan cahaya serta desainnya yang liar namun futuristik seketika menyedot perhatian ratusan pasang mata yang ada di pelataran.

Motor itu melaju pelan menyusuri jalur parkir khusus, lalu berhenti di area utama tempat parkir kendaraan roda dua yang tampak sangat lengang.

Pria yang menungganginya mematikan mesin. Keheningan seketika menyergap pelataran saat deru mesin itu terhenti.

Daren melepas helm full-face hitamnya, menaruhnya di atas tangki motor. Dia mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit berantakan diterpa angin pagi, lalu mengusap kerah kemeja putih sekolahnya yang sedikit berdebu.

Saat Daren turun dari motornya dan berdiri tegap dengan tinggi badannya yang menjulang dan postur atletisnya yang sempurna, suasana di sekitarnya mendadak hening.

"Astaga... Siapa dia?!" bisik seorang siswi berambut panjang di barisan gerbang dengan mata membelalak tak berkedip.

"Apa dia siswa baru? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" timpal siswi di sebelahnya seraya merapikan rambutnya dengan terburu-buru.

"Gila... mukanya tampan sekali! Mirip model dari luar negeri!"

"Lihat gaya berdirinya... Tampak dingin sekali tapi aura dominannya kuat banget!"

Bisik-bisik kagum, helaan napas terpesona, dan pandangan terkejut dari ratusan siswi langsung menyebar cepat bagaikan api menyambar jerami kering. Ketampanan Daren yang matang, dipadukan dengan garis rahangnya yang tegas, mata kelabu yang tenang, serta aura dingin yang misterius secara instan menjadikannya pusat perhatian mutlak di seluruh penjuru SMA Bintang pagi itu.

Beberapa siswa laki-laki yang merupakan anggota geng populer di sekolah tersebut menatap Daren dengan pandangan tidak suka dan cemburu. Mereka merasa terancam oleh kehadiran siswa baru yang secara mendadak menggeser kepopuleran mereka dalam hitungan detik.

Daren menggendong tas kulit hitamnya di bahu kanan. Dia sama sekali tidak memedulikan pandangan terpesona para siswi maupun tatapan sengit dari para siswa di sekitarnya. Indera kewaspadaannya—yang telah ditempa selama enam tahun di dunia bawah tanah—justru sibuk memindai setiap sudut lingkungan sekolah.

Matanya yang tajam mengamati kamera pengawas di lorong-lorong gedung, menghitung jalur evakuasi tercepat, serta membaca gerak-gerik beberapa siswa di sudut lapangan yang tampak mencurigakan.

Daren menyunggingkan senyuman dingin yang sangat tipis di balik wajah tampannya seraya melangkah lebar menuju gedung utama sekolah.

"Permainan penyamaran dimulai..." bisik Daren pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!