Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Karena penyelidikan Kasus Tangan Hilang membutuhkan banyak personel, Unit Penyelidikan Kasus Besar mendadak kekurangan tenaga.
Bahkan staf administrasi pun ikut ditarik ke lapangan.
Termasuk Nina.
Anehnya, Nina justru sangat senang.
Sebab, untuk pertama kalinya dia ditugaskan satu tim bersama Revan.
Bisa bekerja seharian dengan orang yang dia sukai sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.
Sepanjang perjalanan menggunakan TransJakarta, Nina beberapa kali melihat Revan yang tampak sangat santai.
Pria itu bahkan bersenandung kecil sambil memandang keluar jendela.
Sesekali dia mengobrol dengan Nina, tertawa, lalu kembali bersenandung.
Sepertinya Revan benar-benar sedang dalam suasana hati yang sangat baik.
Bukan tanpa alasan.
Dia sudah melupakan taruhan dengan Budi.
Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah satu hal...
Sistem Keajaiban telah kembali!
Bagaimana mungkin dia tidak bersemangat?
Begitu bangun pagi tadi, Revan bahkan belum sempat mencuci muka.
Dia langsung meraih sebungkus rokok dan menyalakan sebatang.
Namun, baru satu tarikan pertama—
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
Revan langsung batuk hebat.
Dadanya terasa seperti tersengat listrik.
Saat itulah suara familiar terdengar di dalam kepalanya.
“Sistem Keajaiban berhasil diaktifkan.”
Revan langsung membeku.
“Pola Gunung dan Air. Air mengalir menuju tempat yang lebih rendah, sementara gunung tetap berdiri tanpa bergerak. Pasang dan surut adalah hukum alam. Nasib baik dan buruk juga memiliki waktunya masing-masing.”
Revan langsung sadar.
Kali ini dia tidak boleh melewatkan satu kata pun.
Dia berusaha keras menghafalkan setiap kalimat yang muncul di kepalanya.
Namun bahasa yang digunakan sistem terlalu rumit.
Baru beberapa detik kemudian, sebagian besar kalimat itu sudah menghilang dari ingatannya.
Yang berhasil dia ingat hanya beberapa kata sederhana.
Gunung.
Air.
Pasang surut.
Meski masih belum benar-benar memahami cara kerja sistem tersebut, pengalaman sebelumnya membuat Revan cukup percaya diri.
Selama Sistem Keajaiban masih aktif, dia yakin kasus ini pasti bisa dipecahkan.
“Hahaha!”
Revan bahkan sempat tertawa sendiri.
“Tunggu saja, Budi si Bodoh.”
Dia mengepalkan tangan.
“Nanti gue lihat sendiri lo keluarin Rp3,6 juta dari kantong buat ganti rugi monitor gue!”
Dengan kepercayaan diri setinggi langit, Revan berangkat ke kantor.
Namun siapa sangka...
Hari itu justru hampir membuatnya kena semprot habis-habisan.
Ternyata saksi yang harus mereka temui adalah korban kedua dalam Kasus Tangan Hilang.
Namanya Larasati.
Berdasarkan berkas perkara, Larasati dulunya bekerja sebagai guru piano di salah satu sekolah musik ternama di Jakarta.
Sebelum kejadian itu, hidupnya berjalan normal.
Dia memiliki pekerjaan yang disukai, keluarga, dan masa depan yang cukup baik.
Semuanya berubah setelah tangan kanannya hilang.
Kariernya sebagai guru piano praktis berakhir.
Kehidupannya ikut hancur.
Bahkan suaminya akhirnya menceraikannya setelah kejadian tersebut.
Larasati juga merupakan orang pertama yang secara terbuka memprotes lambannya penanganan kasus ini.
Dia berkali-kali datang ke kantor polisi, menuntut agar pelaku segera ditemukan.
Keluhannya kemudian menarik perhatian media.
Tekanan publik semakin besar.
Pada akhirnya, beberapa pejabat kepolisian harus mempertanggungjawabkan kegagalan penanganan perkara tersebut, bahkan ada yang mengundurkan diri dari jabatannya.
Jadi, ketika Revan dan Nina datang menemuinya...
Mereka sudah bisa membayangkan bahwa wawancara ini tidak akan mudah.
Benar saja.
Begitu pintu dibuka dan mereka memperkenalkan diri, Larasati langsung meledak.
“Polisi datang lagi?”
Nada suaranya penuh kemarahan.
“Setahun lebih berlalu, tapi pelakunya masih berkeliaran! Kalian sebenarnya kerja atau tidak?”
Nina segera mencoba menenangkannya.
“Bu Larasati, kami hanya ingin menanyakan beberapa hal terkait perkembangan terbaru...”
“Perkembangan apa?”
Larasati memotong perkataannya.
“Bukankah dulu saya sudah memberikan semua keterangan? Saya sudah diwawancarai berkali-kali!”
Jari telunjuknya menunjuk ke arah mereka.
“Sekarang kalian datang lagi untuk apa? Mau mengorek luka lama saya?”
Revan yang berdiri di samping Nina mengernyitkan kening.
Suara perempuan itu benar-benar mengganggu telinganya.
“Sudah setahun lebih!”
Larasati terus berbicara.
“Setahun lebih, dan kalian bahkan belum menangkap siapa pelakunya!”
“Bu, kami memahami perasaan Ibu...”
“Memahami?”
Larasati tertawa sinis.
“Kalau benar-benar memahami, tangkap pelakunya!”
Dia menunjuk lengan kanannya yang sudah tidak ada.
“Lihat ini! Hidup saya hancur gara-gara kalian tidak becus!”
Revan mengepalkan tangannya.
Kalau bukan karena dia melihat sendiri kondisi lengan kanan Larasati yang terputus, mungkin sejak tadi dia sudah membalas semua ucapan perempuan itu.
Namun Nina jauh lebih sabar.
Dia tetap berbicara dengan nada lembut dan sopan.
“Bu Larasati, kami datang bukan untuk mengganggu Ibu. Ada korban baru pagi ini.”
Larasati langsung terdiam.
Nina melanjutkan.
“Modusnya sangat mirip dengan kejadian yang menimpa Ibu. Karena itu kami perlu memastikan apakah Ibu mengenal korban tersebut atau memiliki hubungan apa pun dengannya.”
Larasati mengerutkan kening.
“Korban baru?”
“Iya.”
“Saya tidak kenal.”
“Yakin?”
“Saya bahkan tidak mengenal korban pertama.”
Jawabannya tegas.
“Kalau begitu, Ibu tidak pernah bertemu mereka?”
“Tidak pernah.”
Nina mencatat jawabannya.
“Apakah Ibu pernah melihat mereka di acara tertentu? Sekolah musik? Lingkungan tempat tinggal? Atau melalui teman?”
“Tidak.”
Larasati menggeleng.
“Tidak pernah.”
Setelah hampir satu jam, wawancara akhirnya selesai.
Begitu keluar dari rumah Larasati, Revan masih terlihat bingung.
“Bukannya keterangan dia sudah lengkap?”
“Memang.”
Nina memasukkan buku catatannya ke dalam tas.
“Pemeriksaan kali ini bukan untuk mengulang penyelidikan lama.”
“Lalu?”
“Kita mencari kemungkinan hubungan antara para korban.”
Nina menjelaskan.
“Polisi ingin tahu apakah ketiga korban saling mengenal. Kalau ternyata mereka tidak punya hubungan sama sekali, berarti kemungkinan pelaku memilih korban secara acak menjadi lebih besar.”
Revan mengangguk pelan.
Baru sekarang dia memahami alasan mereka kembali mendatangi korban lama.
Ternyata penyelidikan kali ini memang jauh lebih terarah.
Setiap detail diperiksa ulang.
Tidak ada yang dianggap sepele.
Revan mulai mengakui dalam hati bahwa selama setahun terakhir, polisi sebenarnya sudah bekerja sangat keras.
Hanya saja...
Pelakunya terlalu sulit ditemukan.
Rumah Larasati berada di kawasan perumahan elit di pusat Jakarta.
Walaupun sudah tidak lagi mengajar piano, kehidupannya masih cukup nyaman.
Mantan suaminya meninggalkan sejumlah aset untuknya setelah perceraian, sehingga setidaknya dia tidak perlu khawatir soal kebutuhan sehari-hari.
Di sekitar kawasan itu juga berdiri berbagai pusat perbelanjaan besar dan gedung perkantoran.
Menjelang siang, lalu lintas mulai padat.
Ketika Revan dan Nina keluar dari kawasan perumahan, jalanan sudah dipenuhi kendaraan.
“Untung tadi kita naik TransJakarta.”
Nina menghela napas lega.
“Kalau bawa mobil sendiri, mungkin kita masih terjebak di sini sampai malam.”
Dia berjalan beberapa langkah.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di seberang jalan.
“Eh, Kak Revan!”
Nina menarik lengan Revan.
“Lihat!”
“Apa?”
“Itu!”
Nina menunjuk ke arah trotoar di bawah sebuah gedung tinggi.
Revan menoleh.
Matanya langsung membesar.
“Unta?”
Di sana berdiri seekor unta besar dengan dua punuk.
Seorang pria mengenakan pakaian khas Timur Tengah sedang memegang tali yang terikat pada unta tersebut.
Di leher hewan itu bahkan tergantung papan kecil bertuliskan:
FOTO BERSAMA UNTA - Rp5.000
“Unta!”
Nina langsung bertepuk tangan seperti anak kecil.
“Itu unta beneran!”
Revan yang tumbuh di Jakarta bagian selatan pun jarang melihat hewan seperti itu secara langsung.
Selain di kebun binatang, hampir tidak pernah.
Dia ikut berhenti.
“Gila...”
Pria pemilik unta itu tersenyum ramah.
“Gimana, Mbak, Mas? Mau foto?”
Dia menunjuk papan di leher unta.
“Cuma lima ribu rupiah sekali foto. Murah!”
“Iya, iya!”
Nina langsung menarik lengan Revan.
“Kak, ayo foto! Jarang-jarang bisa lihat unta sungguhan begini!”
“Gue—”
Belum sempat Revan menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah membawa unta tersebut mendekat.
Nina semakin bersemangat.
“Bisa naik?”
“Bisa dong, Mbak.”
“Kalau berdua?”
Nina memiringkan kepala.
“Kita berdua boleh naik bareng?”
Dia diam-diam berharap bisa duduk berdekatan dengan Revan.
Pria itu baru saja hendak menjawab ketika—
“PENCURI!”
Teriakan keras tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
“Tolong! Tangkap pencurinya!”
“Dia bawa tas saya!”
Revan, Nina, dan pemilik unta spontan menoleh.
Seorang pemuda mengenakan celana jeans berlari sekuat tenaga ke arah mereka.
Di tangannya ada sebuah tas wanita.
Jelas bukan miliknya.
“Pencuri?!”
Nina langsung tersadar.
“Hei! Berhenti!”
Dia menunjuk pemuda itu.
“Tangkap dia!”
Pencuri tersebut malah mempercepat langkah.
Nina buru-buru mendorong bahu Revan.
“Kak Revan! Kamu ngapain diam saja?”
“Kejar!”
Revan tetap berdiri di tempat.
“Kenapa harus gue?”
“Karena kita polisi!”
“Kita penyelidik kasus besar.”
Revan menunjuk ke arah pencuri yang semakin menjauh.
“Dan mengejar pencuri tas bukan tugas utama kita, kan?”
Nina hampir tidak percaya mendengarnya.
“Kak Revan, kamu ngomong apa sih?”
Dia langsung berlari beberapa langkah.
“Kita tetap polisi! Ada orang minta pertolongan, ya kita bantu!”
Nina melihat jalanan yang macet total.
Kendaraan nyaris tidak bergerak.
Dia mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi petugas terdekat.
Namun Revan malah melambaikan tangan.
“Sudahlah.”
Dia terlihat sama sekali tidak terburu-buru.
“Jangan buang waktu. Kita foto saja.”
Nina menatapnya dengan kesal.
“Serius?”
“Serius.”
Revan bahkan kembali melirik unta.
Tapi saat dia berbalik melihat ke arah pemilik tas yang tadi berteriak, Revan tiba-tiba terpaku di tempatnya. Seolah disambar petir, pandangannya mendadak kabur.
"Astaga... Kenapa... Kenapa dia?!"