NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *31

Mbok Yah juga marah pada Mang Mamat karena tidak berada di sisi Zihan sebelumnya. Karena jika Mang Mamat bersama Zihan, pasti hal buruk ini tidak akan terjadi.

Tapi bagaimanapun, nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan bisa diubah menjadi nasi kembali. Yang bisa mereka lakukan hanyalah satu, berpikir bagaimana cara memperbaikinya agar semuanya bisa kembali seperti semula.

"Den Zihan harus tenang dulu sekarang. Karena ini masalah yang besar dan juga rumit, maka Den Zihan harus menyelesaikan dengan pikiran yang tenang. Dan juga, semua ini butuh waktu. Jadi harus sabar ya, Den." Si Mbok berucap sambil mengelus punggung Zihan.

Zihan tidak langsung menjawab. Tapi isak tangisnya terdengar mereda karena ucapan si Mbok barusan. Hingga akhirnya, pelukan itu longgar dan terlepas.

"Mbok benar. Apa yang Aulia lihat, memang tidak salah. Tapi, kenyataan dibalik yang ia lihat itu tidak sama dengan apa yang ia lihat. Tapi sayangnya, dia tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan, Mbok."

"Tapi ... ini juga bukan salah Aulia, Mbok. Karena masa laluku yang sangat buruk, siapapun akan berpikir yang sama dengan yang Aulia pikirkan. Lagipula, dia sudah bilang kalau dia tidak akan percaya lagi padaku jika aku sendiri yang bikin ulah."

"Ya Tuhan ... kenapa aku begitu bodoh? Dengan mudahnya aku terjebak dalam jebakan orang yang benci padaku. Karma ini terlalu berat bagi aku, Tuhan."

"Den, tenanglah. Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Dan jangan terlalu menyesali keadaan. Semua yang terjadi sudah suratan Yang Maha Kuasa. Jadi, jangan berpikir yang buruk-buruk terlalu jauh ya. Karena semua tidak akan terjadi jika Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagipula, Mbok yakin kalau apa yang terjadi pasti ada hikmahnya ya, Den."

Begitulah akhirnya Zihan bisa sedikit tenang. Meskipun hanya tenang pada permukaan yang terlihat saja, tapi setidaknya, dia bisa menyembunyikan apa yang sedang hatinya rasakan saat ini.

Sementara itu, Aulia sedang dalam perjalanan menuju rumah tantenya. Dia tidak kembali ke desa, karena kembali ke desa bukan pilihan yang baik bagi dirinya maupun Zihan. Karena di desa, dia tidak akan mendapat pembela. Apalagi ketenangan karena keluarganya pasti berpikir apa yang ia lakukan saat ini adalah kesalahan. Meskipun kenyataan sudah terlihat dengan nyata.

Namun, di rumah tantenya, dia pasti bisa mendapatkan pembelaan sekaligus ketenangan. Karena tantenya pasti berpikir lebih baik dari orang tua kandungnya sendiri. Karena itu, Aulia memilih untuk berteduh di sana.

Ditambah lagi, jarak kota tantenya dengan kota tempat tinggal Aulia tidak jauh. Hanya bersebelahan saja. Karena itu, untuk mencapai kota tempat ia menempuh pendidikan sebelumnya pun hanya membutuhkan beberapa jam saja. Hingga akhirnya, ia bisa tiba di rumah si Tante yang sebelumnya sudah menjadi tempat tinggal Aulia selama beberapa tahun.

Ketika mobil taksi online yang ia tumpangi berhasil mengantarkan dirinya sampai ke depan rumah mewah dengan dua lantai yang sangat ia rindukan. Aulia pun bergegas turun. Dengan gemetaran, tangan Aulia langsung menekan bel rumah tersebut setelah tiba di depan pintu utama dari rumah tersebut.

"Tunggu sebentar!" Terdengar suara yang sudah sangat ia rindukan dari dalam rumah. Itu adalah suara tantenya yang sudah cukup lama tidak ia temui.

Yah, meskipun beberapa kali sempat ngobrol lewat video call. Tapi tetap saja, bertemu langsung dengan bertemu lewat layar itu tidak sama. Meski bisa melihat wajah, tapi tidak bisa disentuh dengan kulit.

Pintu pun terbuka secara perlahan. Mata Aulia langsung berkaca-kaca ketika melihat sosok yang perlahan tampil dari balik pintu yang terbuka itu.

"Aulia!" Si Tante pun langsung berseru dengan suara tinggi ketika melihat keponakannya yang datang.

"Tante."

Keduanya pun langsung berpelukan dengan erat. Si Tante yang sudah lama tidak bertemu keponakan yang sudah ia anggap anak itupun langsung membelai lembut rambut Aulia.

"Ya Tuhan, Nak. Apa yang telah terjadi padamu sekarang? Kenapa tiba-tiba datang malam-malam begini, Sayang?"

"Ceritanya panjang dan sulit untuk aku ucapkan sekarang, Tante." Aulia bicara dengan nada sedih. Si Tante yang melihat hal itupun langsung sadar akan hal buruk yang sedang keponakannya alami.

"Ya Tuhan, ya Tuhan. Ya sudah, ayo masuk sekarang, Nak! Jangan cemas akan semua hal. Ada Tante di sini sekarang. Rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Jadi, jangan berpikir jika kamu sendirian ya, Nak."

Aulia pun hanya memberikan anggukan pelan saja. Selanjutnya, mereka masuk ke dalam. Si Tante lalu meminta pembantunya menyediakan makan buat Aulia. Tapi sebelum itu, dia meminta si Bibi mengantarkan koper Aulia ke dalam kamar yang dulunya adalah milik Aulia. Kamar itu tidak perlu dibersihkan. Karena Tante Aulia tetap meminta pembantunya untuk merawat kamar keponakan juga anaknya seperti biasa. Seperti saat anak juga keponakannya masih tinggal di rumah itu.

Sementara si Bibi menyiapkan makan, Aulia pun disuruh membersihkan diri di kamarnya. Tanpa membantah, Aulia melakukan apa yang tantenya katakan. Yah, dia adalah orang tua terbaik bagi Aulia. Lebih baik dari bunda kandungnya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Aulia pun turun dari kamarnya. Si Tante sudah menunggu di ruang keluarga sendirian. Kali ini, Aulia langsung menyadari ada yang kurang di sana.

"Mm ... Tante, di mana Om sekarang? Kok kayak gak ada di rumah?"

Ya, selain Tante kandungnya yang sangat baik, suami tantenya juga tak kalah baiknya pada Aulia. Dia lebih baik dari ayah Aulia sendiri. Karena Om-nya lebih hangat dari ayah kandung Aulia. Karena itu, Aulia begitu nyaman dan tenang tinggal di rumah ini.

"Om kamu emang sedang gak ada di rumah, Li. Dia lagi kerja ke luar kota. Yah, jadinya Tante tinggal sendiri deh sekarang."

"Kamu kan tahu kalau Om mu itu emang suka keluyuran jika tanggal segini. Suka ninggalin Tante sendirian. Jika ada kamu dulu, Tante kan gak mikirin soal kesepian. Tapi beruntung juga sih, suami Zery itu bisa ngebantu. Kalo nggak, pasti makin kesepian lagi deh Tante karena Om kamu yang sering pergi buat bekerja."

Zery. Ketika nama itu tantenya sebut, Aulia langsung teringat akan sepupunya yang juga menikah karena perjodohan. Tapi, sepertinya pernikahan mereka sangat berbeda jauh. Soalnya, pernikahan Zery begitu bahagia. Meskipun menikah karena dijodohkan, tapi pasangan itu bisa menumbuhkan cinta yang luar biasa. Bahkan, sampai begitu saling mencintainya pasangan itu satu sama lain.

"Ee ... bagaimana kabar Kak Zery sekarang, Tan? Apa dia baik-baik saja?" Aulia bertanya dengan suara pelan.

"Kak mu itu baik-baik aja, Li. Bahkan, sangat baik sekarang."

Mendengar itu, Aulia bahagia. Tapi, dalam hatinya juga merasa sedih jika ingat perihal nasibnya yang buruk. Sama-sama dijodohkan, tapi tidak bisa sama-sama bahagia. Karena itu, dia merasa sangat sedih.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!