Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam seolah menyelimuti wilayah kota, kini di dalam rumah Raisa duduk di ruang tamu---tengah merenungi nasibnya menjadi janda muda.
Janda muda dengan satu anak.
Di ruang tamu itu hanya di terangi oleh cahaya remang-remang kekuningan dari lampu meja kecil di sudut ruangan.
Raisa duduk termenung di atas kursi kayu tuanya, malam ini dirinya mengenakan gaun berbahan katun warna biru tua yang longgar lengan pendek sampai lutut.
Gaun ini sederhana, namun bisa memberikan napas baginya untuk bergerak.
Nampak kedua telapak tangan Raisa memegang lembut perutnya yang masih rata, di dalam rahimnya yang berusia tiga minggu sedang tumbuh sebuah harapannya---seorang anak.
Anak ini yang menjadi alasannya untuk tetap hidup, dan dirinya memilih bercerai dari sang suami yang masih memendam rasa benci padanya.
Sungguh Raisa mengikuti kata hatinya, untuk bercerai dari sang suami.
"Sayang...besok mama akan resmi bercerai sama papa," bisik Raisa dengan suara bergetar.
Tak ada lagi air mata yang mengalir, seolah air matanya sudah mengering karena percuma saja mengeluarkan air mata.
Tangannya berulang kali membelai perutnya, seolah menyalurkan kekuatan batin seorang ibu kepada janin ini.
"Nanti kalau mama sudah bercerai... kamu jangan rewel di dalam sana, ya? Bantu mama."
Raisa bicara kepada anaknya, seolah mengeluarkan keluh kesahnya---yang sebenarnya dirinya tak punya siapapun lagi.
"Mama mau bangun karier baru jadi desainer baju di Bandung. Kita akan mulai semuanya dari nol, hanya ada mama dan kamu."
Raisa tersenyum tipis, kali ini tekadnya sudah bulat untuk menyembunyikan kehamilan ini selamanya dari Dion---dan nanti jika Dion mempertanyakannya, Raisa akan menjawab ini anak dari jual diri atau anak dari pria lain.
Tak peduli bagaimana tanggapan Dion mengenai dirinya sebagai wanita murah, toh selama jadi istri Dion Raisa sudah di perlakukan demikian.
Wanita ini akan membuat akta kelahiran untuk anaknya---disana Raisa hanya akan mencantumkan namanya sendiri dan tak akan ada nama Dion disana.
Karena dirinya tahu betul, jika pria egois itu sama sekali tak menginginkan anak ini.
"Aku akan membuat kartu keluarga dan akte kelahiran anak ini, hanya ada namaku dan anak ini disana. Aku juga akan melupakan kenangan pahit di kota ini," ucap Raisa terdiam menatap kosong ke depan.
Tak henti-hentinya Raisa terus mengusap perutnya, seolah dirinya ingin kehidupan baru tanpa Dion---pria yang membuat hidupnya dalam kegelapan.
"Apa ini karma aku Ya allah, karena dulu banyak mendzalimi orang termasuk Dion. Tapi hamba sudah menebusnya dengan jadi istri yang baik buat Dion."
Raisa nampak termenung akan pikirannya sendiri, bagaimana tanggapan orang-orang soal statusnya menjadi janda muda dengan anak satu.
"Hamba selalu berdoa siang dan malam untuk suami hamba dan pernikahan hamba, tapi kalo engkau tak menakdirkan jodoh hamba itu Dion...hamba akan terima dengan ikhlas."
Raisa terus mengusap perutnya, dan hatinya berkeluh kesah pada yang mahakuasa.
Tiba-tiba bunyi getar ponsel di atas meja membuyarkan lamunannya, layar ponsel itu menyala menampilkan sebuah pesan masuk dari pamannya yang tinggal di Bandung.
"Loh...Om Hardi?" ucap Raisa.
Hardi Adiratna---Paman Raisa atau adik dari mendiang ayahnya Raisa.
Hardi adalah seorang pegawai negeri sipil atau PNS yang sukses merintis usaha toko kue terkenal sejak masa muda.
Raisa melihat ada pesan tulisan dari pamannya, yang berusaha menguatkannya.
"Raisa...Om udah denger soal perceraianmu besok. Maaf Om nggak bisa kesana buat bantu dukung kamu, dan keputusanmu untuk pindah ke Bandung. Om dan tante akan membeli rumah kamu seharga lima miliar rupiah yang ada di Jakarta."
"Uangnya sudah Om siapkan, karena Om tahu kamu mau merintis usaha kamu membuka butik baju di Bandung nanti."
"Sekali lagi...Om minta maaf nggak bisa hadir di persidangan kamu besok dan memberikan dukungan."
Mata Raisa langsung berkaca-kaca dan air mata kembali luruh, kala membaca deretan kalimat itu
Tangannya membekap mulutnya sendiri, tak percaya atas pertolongan tuhan yang datang di saat merasa berada di titik terendah.
"Alhamdulillah... ya Allah, terima kasih," isak Raisa lirih sambil mendekap ponselnya ke dada.
Uang lima miliar rupiah dari pamannya akan di gunakan sedikit untuk usahanya, dan membeli perlengkapan bayi nanti saat di Bandung.
Sementara di belahan kota lain Jakarta, di Sebuah Club malam.
Di bawah sorot lampu neon merah, hijau, dan biru yang berputar liar mengikuti dentuman bas musik DJ yang memekakkan telinga.
Nampak Tiga wanita LC sedang bersulang dengan tawa yang bahagia.
Chelsea malam ini mengenakan atasan kemben warna merah menyala bentuk crop top, di padukan dengan rok hitam ketat di atas lutut.
Di sampingnya, ada teman seprofesinya---Cora.
Cora mengenakan atasan kemben berwarna biru muda yang berkilau kerlap-kerlip, memperlihatkan belahan dada dan paha di balik roknya yang minim.
Sementara si Luna tak kalah berani mengenakan kemben atasan Crop top warna hijau tua, di padukan rok ketat warna cokelat.
Luna berdiri tepat di samping Cora---posisi Cora di tengah antara Chelsea dan Luna.
Ketiganya tengah memegang gelas berisi sampanye mahal, demi merayakan perceraian Raisa dan Dion yang akan disahkan besok pagi di pengadilan agama.
"Anjay! Chel, akhirnya impian lu terwujud! Besok si perempuan sampah itu resmi ditendang, dan lu bakal langsung nikah sama Dion!" teriak Cora setengah berbisik di dekat telinga Chelsea agar suaranya tidak tenggelam oleh musik klub.
Cora meminum sampanye dengan gembira, seolah ikut merasa bahagia atas kemenangan Chelsea.
"Calon istri pengacara terkenal nih, senggol dong!" tambah Luna sambil tertawa lepas lalu meneguk wiski di gelasnya hingga tandas.
"Gila sih, lu hebat banget bisa bikin Dion benar-benar lepas dari istrinya secepat ini," lanjut Cora.
Chelsea tertawa sangat puas, kepalanya mendongak dengan angkuh saat mengangkat gelas itu dengan tinggi.
"Tenang aja, Guys! Begitu surat cerai Dion keluar besok, gua langsung tancap gas buat persiapan pernikahan. Kalian berdua tenang saja, kalian pasti bakal jadi bridesmaid gua. Gua bahkan udah siapin seragam mewah buat kalian!" tutur Chelsea.
"Anjayy! Tos dulu dong!" sahut Cora dan Luna bergantian, saling membenturkan gelas mereka dengan gelas Chelsea.
Chelsea minum dengan bahagia karena di dalam kepalanya sudah terbayang dirinya berjalan di atas altar pernikahan.
Namanya akan menjadi Nyonya Raharja dan menyandang status sebagai istri pengacara terkenal.
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.