Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Srek. Srek.
Langkah kaki tiga pemburu primitif itu terdengar berisik menginjak dedaunan kering.
Raka mengendap-endap di belakang mereka dengan sangat hati-hati tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Sepatu kets putih barunya terasa sangat nyaman dan ringan untuk bermanuver di dalam hutan lebat ini.
"Dulu gue sering ngendap-endap buat nyuri mangga tetangga, nggak nyangka skill ini kepakai di dunia lain," batin Raka tersenyum tipis.
Ia menjaga jarak aman sekitar belasan meter di belakang ketiga pria berwajah beringas itu.
Dari percakapan mereka, Raka menyimpulkan bahwa bapak tua penjual herbal itu sedang dalam bahaya besar.
Ketiga pemburu ini rupanya berasal dari desa yang sama dan iri melihat bapak tua itu membawa pulang pusaka botol kaca ke desanya.
"Hei, lihat itu ada jejak darah segar di rumput!" seru salah satu pemburu yang berkepala botak.
Pria bertubuh paling kekar yang memimpin kelompok itu langsung berjongkok mengamati rerumputan basah tersebut.
"Pasti si tua bangka itu terluka saat lari dikejar kita tadi," ucap pria kekar itu menyeringai jahat.
"Ayo cepat kita kejar, mereka pasti belum lari terlalu jauh!"
Ketiga orang itu berlari makin cepat menembus semak belukar yang berduri.
Raka ikut mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak kelompok pemburu liar tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan ketakutan seorang perempuan dari arah depan.
"Tolong! Tolong jangan sakiti ayahku!"
Raka mengenali suara melengking itu, itu adalah suara gadis remaja yang ia temui pagi tadi.
Raka segera mempercepat larinya dan bersembunyi di balik sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut tebal.
Ia mengintip dari balik batu itu dan melihat pemandangan yang seketika membuat darahnya mendidih.
Bapak tua itu sedang terduduk di tanah sambil meringis memegangi kakinya yang berdarah parah.
Sementara gadis remaja itu berdiri merentangkan tangan mungilnya di depan sang ayah untuk melindunginya dari para pemburu.
"Serahkan pusaka kaca itu pada kami sekarang juga, Karta!" bentak pria kekar itu sambil menodongkan tombak kayunya.
Ternyata nama bapak tua itu adalah Karta, Raka baru mengetahuinya detik ini.
"Tidak akan pernah! Ini adalah pemberian Dewa Hutan, kalian akan dikutuk parah kalau berani merampasnya!" teriak Karta dengan suara serak.
Ketiga pemburu primitif itu malah tertawa keras hingga perut mereka berguncang mendengar ancaman Karta.
"Dewa Hutan apanya? Kau pasti mencuri pusaka botol ini dari reruntuhan kuil kuno di atas gunung," ejek pria botak di sebelah si kekar.
"Kalau kau tidak mau menyerahkannya baik-baik, kami akan membunuhmu lalu mengambil anak gadismu sebagai budak desa," ancam pemburu ketiga yang wajahnya penuh bekas luka sayatan.
Gadis bernama Lin itu menangis ketakutan tapi ia menolak keras untuk bergeser satu inci pun dari depan ayahnya.
"Tolong biarkan kami pergi dengan tenang. Kami berjanji tidak akan pernah kembali ke desa itu lagi," mohon Lin terisak keras.
"Sudah terlambat anak manis, habisi si tua itu sekarang juga!" perintah pria kekar tanpa belas kasihan sama sekali.
Pria berwajah bekas luka itu tertawa jahat lalu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi bersiap menusuk dada Karta.
Karta memejamkan matanya pasrah menunggu ajal sementara Lin menjerit histeris menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Syut! Tak!
Sebuah batu sebesar kepalan tangan melayang sangat deras dan menghantam dahi pria berwajah luka itu dengan telak.
"Aaaaargh!"
Pria itu menjerit kesakitan luar biasa dan langsung menjatuhkan tombaknya sambil memegangi dahinya yang memancurkan darah.
Semua orang di sana terkejut dan seketika menoleh ke arah sumber lemparan batu tersebut.
Raka melangkah keluar dari balik batu besar pelindungnya dengan tangan dimasukkan santai ke dalam saku jaket kulitnya.
"Berisik sekali kalian ini, mengganggu waktu tidur siangku saja," ucap Raka dengan nada sedingin es dan sangat berat.
Ketiga pemburu itu mematung membeku melihat kedatangan sosok asing di hadapan mereka.
Pakaian Raka yang berupa jaket kulit hitam mengkilap, kaos putih bersih, dan sepatu kets putih terlihat sangat asing di mata mereka.