NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Prang.

Sebuah vas keramik antik dari zaman dinasti hancur berkeping-keping menghantam dinding ruang tamu Keluarga Mahendra.

Bratasena berdiri dengan dada naik turun menahan amarah yang nyaris meledakkan kepalanya.

Di depannya, sepuluh algojo bayaran terbaiknya tergeletak di lantai dengan berbagai kondisi patah tulang yang mengerikan.

"Sepuluh orang bersenjata tajam dihabisi oleh satu pemuda desa dengan tangan kosong?" teriak Bratasena menggelegar ke seluruh ruangan.

Pemimpin algojo yang tulang rusuknya remuk hanya bisa merintih ketakutan sambil memegangi dadanya.

"D-dia bukan manusia biasa, Tuan Besar Bratasena, gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata kami."

"Dia juga menitipkan pesan, menyuruh Anda mencuci leher dan bersiap menyerahkan seluruh harta Anda sebelum lelang dimulai," lapor pemimpin algojo itu dengan suara bergetar.

Bratasena menendang meja kaca di depannya hingga pecah berantakan.

Trang.

"Panggil wanita murahan pacar Rio itu kemari sekarang juga!" perintah Bratasena kepada pengawalnya yang berjaga.

Siska diseret secara paksa dari kamar perawatan Rio oleh dua orang pengawal bertubuh besar.

Wanita itu dilemparkan ke lantai ruang tamu tepat di bawah kaki Bratasena yang sedang murka.

Bruk.

"Ampun Tuan Bratasena, saya tidak tahu apa-apa soal kejadian malam ini!" tangis Siska memeluk kaki pria paruh baya itu.

Plak.

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Siska hingga sudut bibirnya berdarah dan tubuhnya terpental ke samping.

"Kau bilang pemuda bernama Gibran itu hanya anak petani miskin yang bodoh dan lemah."

"Tapi anak petani miskin itu baru saja mematahkan tulang sepuluh pembunuh bayaranku dalam waktu kurang dari dua menit!" bentak Bratasena mencengkeram rambut Siska.

Siska menangis histeris merasakan perih di kulit kepalanya yang seperti mau terkelupas.

Rasa penyesalan yang luar biasa kini benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya malam ini.

Pria yang dulu selalu memanjakannya dan membelikannya makanan dengan sisa uang gajinya, kini berubah menjadi monster mengerikan.

"Saya sungguh tidak tahu dari mana dia mendapatkan kemampuan itu, Tuan Besar!" mohon Siska terisak-isak menyedihkan.

"Dulu dia selalu menuruti semua perkataan saya seperti anjing yang patuh, dia sangat mencintai saya setengah mati."

Bratasena melepaskan cengkeramannya dan menatap Siska dengan tatapan penuh kelicikan yang kotor.

"Kalau begitu gunakan masa lalu itu untuk mencari tahu apa kelemahannya."

"Atau kau akan ikut terkubur bersama Rio jika kita kalah di pelelangan nanti," ancam Bratasena dengan suara pelan yang mematikan.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk utama ruang tamu tersebut.

Prok prok prok.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian batik sutra mahal melangkah masuk diiringi empat asisten yang membawa koper logam.

"Tuan Bratasena terlalu memusingkan seorang pemuda ingusan yang kebetulan pandai berkelahi."

Bratasena langsung mengubah raut wajah marahnya menjadi senyum ramah yang sangat lebar menyambut pria tersebut.

"Master Seno, Anda akhirnya tiba juga di kota kami ini," sapa Bratasena membungkuk sedikit memberikan penghormatan.

Master Seno adalah ahli giok peringkat tiga nasional yang diundang khusus dengan bayaran puluhan miliar rupiah.

Pria itu memiliki tatapan mata yang sangat tajam dan jari-jari tangan yang dipenuhi cincin batu permata langka.

"Fokus saja siapkan uang untuk memborong batu Raja Hijau di pelelangan akbar nanti, Tuan Bratasena."

"Biar urusan menilai batu dan mempermalukan Keluarga Larasati beserta anjing penjaga barunya itu menjadi urusanku," ucap Master Seno dengan kesombongan tingkat dewa.

Di waktu yang sama, Gibran baru saja selesai menikmati sarapan siangnya di balkon kamar hotel mewahnya.

Ponselnya bergetar menampilkan pesan masuk dari jaringan informasi rahasia Keluarga Larasati.

Tit.

"Master Seno, peringkat tiga nasional dari ibu kota provinsi telah tiba di kediaman Mahendra," baca Gibran dengan suara pelan.

Gibran menyesap kopi hitamnya sambil menatap pemandangan kota di bawah sana dengan sangat santai.

"Peringkat tiga nasional ya, kuharap dia tidak menangis terlalu keras saat batu andalannya kalah dengan batu penyangga jembatanku nanti," kekeh Gibran ringan.

Tring tring.

Ponsel Gibran kembali berdering dan kali ini menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Gibran menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya secara perlahan.

"Halo, siapa di sana?" sapa Gibran datar.

"Gibran... Ini aku, Siska. Tolong jangan matikan teleponnya, kumohon," terdengar suara wanita menangis terisak-isak dari seberang panggilan.

Senyum di wajah Gibran langsung hilang tak berbekas, digantikan oleh tatapan sedingin es di kutub utara.

"Dari mana kau mendapatkan nomor baruku ini, Siska?" tanya Gibran dengan nada yang sangat mematikan.

"Itu tidak penting Gibran, aku hanya ingin minta maaf atas semua kesalahanku di terminal waktu itu."

"Rio dan ayahnya menyiksaku di sini, mereka memperlakukanku seperti binatang, tolong selamatkan aku Gibran," rengek Siska dengan nada memelas yang sangat menyayat hati.

Gibran menyandarkan tubuhnya ke kursi balkon dan memutar bola matanya karena merasa muak mendengar kebohongan itu.

"Kau sendiri yang memilih masuk ke dalam kandang anjing itu demi uang, Siska."

"Sekarang nikmati saja gigitan mereka, karena aku sama sekali tidak peduli padamu lagi," jawab Gibran tanpa perasaan.

"Gibran, aku tahu kau masih mencintaiku kan, ingatkah kau saat kita berhujan-hujanan bersama di desa dulu?" bujuk Siska mencoba memainkan emosi masa lalu.

"Bratasena menyuruhku mencari kelemahanmu, tapi aku tidak akan memberitahukannya asalkan kau mau membawaku pergi dari sini."

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!