Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PRESIDIR GUNAWAN STROKE DI KANTOR POLISI
Kantor Polisi Daerah Jakarta Selatan. Ruang Interogasi.
Pukul 10.00 pagi.
Gunawan Mahardika duduk di kursi besi dingin tanpa bantalan. Jas biru dongkernya yang dulu selalu licin dan harum kini kusut, kotor, dan bau asam keringat. Rambut yang biasanya rapi pakai pomade mahal tampak berantakan. Wajahnya pucat pasi, lingkar hitam pekat di mata karena dua hari tidak tidur.
Di depannya, ada dua berkas di atas meja besi.
Dokumen pertama: Laporan Audit Internal Grup Mahardika Q2 2026 yang bocor di lobi Gedung Vion kemarin, catat rugi bersih 1,8 triliun.
Dokumen kedua: Surat Perintah Penangkapan atas nama Gunawan Mahardika atas pasal penggelapan dana dan laporan keuangan fiktif proyek di Jakarta Selatan.
Dua hari lalu, Gunawan adalah Presdir Grup Mahardika yang paling ditakuti. Semua orang bungkuk hormat kalau ia lewat, pejabat lomba cium tangan.
Kemarin, di lobi Gedung Vion Tower, ia ikut bersimpuh di kaki Alesha, wanita miskin yang dulu ia rendahkan di Hotel Grand Mulia dengan ucapan, "Wanita seperti kamu tidak pantas masuk keluarga Mahardika."
Hari ini, ia tersangka.
"Presdir Gunawan," ucap penyidik dingin. "Kami sudah periksa semua pembukuan perusahaan Anda. Proyek properti fiktif di Jakarta Selatan senilai lima ratus miliar itu Anda tanda tangan sendiri. Kemana aliran dananya?"
Gunawan dongak dengan sisa tenaga. Matanya merah.
"Itu... itu semua fitnah! Ini jebakan busuk Vion! Ia... sengaja mau hancurkan saya karena saya tolak rencana nikah anak saya dengan..."
"Menolak?" potong penyidik sambil geser tablet ke depannya dan muter sebuah video.
Di layar, tampak jelas Gunawan di Hotel Grand Mulia dua hari lalu ketawa sinis sambil bilang ke Alesha yang pakai gaun pengantin sederhana, "Wanita miskin seperti kamu mana layak jadi menantu saya! Putri saya Clarissa adalah putri presdir, bukan seperti kamu anak petani!"
Video itu sudah viral. Lima juta views di TikTok dengan judul: PRESIDIR ANGKUH HINA PENGANTIN MISKIN, KINI RESMI JADI TERSANGKA.
Wajah Gunawan makin pucat lihat tayangan itu.
"Presdir, kami juga terima laporan resmi dari OJK. Utang 2,3 triliun Anda ke Konsorsium Vion sudah jatuh tempo. Jaminan 40% saham Grup Mahardika sudah dieksekusi Nyonya Alesha Vion pagi ini. Artinya, Anda bukan lagi presdir. Anda bukan siapa-siapa."
Kalimat terakhir itu menghantam batin Gunawan seperti palu godam.
Bukan siapa-siapa.
Dua kata yang paling ia takuti sepanjang hidup di dunia bisnis.
Tekanan darah tinggi yang selama bertahun-tahun ia tutupi pakai obat mahal mendadak melonjak drastis. Kepalanya berdenyut nyeri luar biasa. Pandangannya gelap.
"Kalian... kalian tidak berhak... saya... saya Gunawan Mahardika... saya..."
Jarinya coba meraih gelas air mineral di atas meja, tapi gemetar hebat bikin gelas jatuh dan pecah berkeping. Airnya tumpah ke lantai.
Sekujur tubuh Gunawan tiba-tiba kejang kaku. Bola matanya melot ke atas. Buih putih keluar dari sudut bibirnya.
"Pak! Pak Gunawan! Bertahan!"
Penyidik panik setengah mati dan teriak panggil tim medis.
Gunawan tersungkur jatuh dari kursi besi ke lantai ruang interogasi yang dingin, tubuhnya bergetar hebat dengan lumpuh total di sisi kiri.
Serangan strok.
Presdir yang kemarin duduk di kursi kehormatan dengan senyum angkuh kini tersungkur strok di lantai ruang interogasi yang dingin, sebatang kara, tanpa pengacara, tanpa keluarga.
Karena keluarganya sendiri...
Di waktu yang sama, di RSUD Jakarta, Clarissa yang masih pakai seragam OB abu-abu, baru selesai sikat toilet Alesha untuk kesekian kalinya, dapat telepon dari polisi.
"Nona Clarissa Mahardika? Ayah Anda, Gunawan Mahardika, alami strok di ruang interogasi. Beliau kini di IGD RS Polri. Silakan segera datang."
Clarissa menjatuhkan sikat kloset kuning di tangannya. Ember pel terguling, air kotor mengalir basahi lantai koridor khusus CEO.
"Ayah... AYAH!"
Ia lari tinggalkan Vantec Tower dengan seragam pesuruh basah kuyup, tanpa izin ke Alesha, nerobos hujan lebat yang tiba-tiba turun di ibu kota.
Di IGD RS Polri yang bau obat menyengat dan padat pasien kurang mampu, Clarissa mendapati ayahnya terbaring di brankar dorong sempit, jauh dari fasilitas kamar VIP mewah yang biasa ia tempati. Selang infus nancap di punggung tangannya. Sudut bibirnya miring ke kiri, lengan kirinya terkulai lemas tak berdaya.
Tidak ada dokter pribadi berjaga. Tidak ada perawat khusus. Cuma ada perawat magang yang kewalahan.
"Ayah..." Clarissa jatuh berlutut di sisi brankar, nangis histeris dengan seragam abu-abu basah kuyup kena hujan. "Ayah, bangun, Ayah..."
Gunawan buka kelopak mata pelan. Mata yang dulu tajam dan angkuh kini kosong dan berair. Ia pandang putrinya yang sangat dibanggakan, kini jadi pesuruh kantor, basah kuyup, bersimpuh di lantai IGD yang kotor.
Air mata netes dari sudut mata Gunawan yang tidak simetris.
Ia coba angkat tangan kanan yang masih bisa untuk usap kepala Clarissa.
"Cla... rissa..." suaranya cadel dan terbata karena strok.
Tangis Clarissa makin pecah.
Tepat di luar IGD, terparkir mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat, di balik kaca gelapnya, Alesha dan Vion mengamati pemandangan pilu itu.
Alesha pakai kacamata hitam, wajah tanpa ekspresi.
Vion duduk di sisinya, melingkar lengan di pinggang wanita itu.
"Mau turun, Ratuku?" bisik Vion halus.
Alesha diam sepuluh detik penuh, memandangi Clarissa yang bersimpuh di lantai kotor IGD pakai seragam pesuruh dan Gunawan yang terkulai tak berdaya di brankar sempit.
Dulu, di Hotel Grand Mulia, Gunawan yang perintahkan security usir ibu Alesha yang datang dari desa bawa ayam kampung buat nikah putrinya. "Usir wanita kampung itu! Baunya mengganggu!"
Hari ini, putri kandung kesayangannya justru bersimpuh di lantai IGD bau amis.
"Tidak," jawab Alesha pelan. "Biarin aja. Ini buah karma. Perintahkan orang kita untuk lunasi semua biaya rumah sakitnya. Jangan biarin dia mati begitu aja. Saya mau dia tetap napas, hidup untuk lihat bagaimana Grup Mahardika saya bangun lagi dari rugi 1,8 triliun jadi untung sepuluh triliun. Dan dia cuma bisa lihat itu dari kursi roda."
Vion senyum puas, lalu angguk kecil ke sopir pribadi.
Rolls-Royce itu meluncur pergi, ninggalin hujan lebat di depan gedung IGD RS Polri.
Di dalam ruangan, Clarissa masih bersimpuh di lantai kotor, genggam jari ayahnya yang lumpuh, meratapi nasib dengan seragam pesuruh basah kuyup.
Tidak ada yang datang nolong. Semua tenaga medis sibuk tangani pasien lain.
Sementara itu, di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian baru selesai kerja sebagai driver ojek dengan uang delapan puluh ribu. Ia baca berita dari layar ponsel teman seprofesi: PRESIDIR GUNAWAN MAHARDIKA STROKE DI KANTOR POLISI USAI UTANG 2,3 TRILIUN DIEKSEKUSI NYONYA VION.
Rian menjatuhkan helm usangnya ke aspal.
Satu per satu, orang-orang yang dulu nistakan Alesha kini hancur lebur di depan matanya sendiri.
Dan Alesha, wanita yang sempat ia buang begitu saja, kini berdiri di puncak kejayaan, memandangi mereka semua dari lantai sembilan puluh sembilan.