Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 — Dunia Luar
Xiao Yun menganggukkan kepala tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan. Ketika Serigala Taring Batu telah berada hanya beberapa langkah darinya dan cakar tajamnya mulai terayun ke depan, Xiao Yun tidak memilih menghindar seperti dahulu. Sebaliknya, ia justru melangkah maju dengan mantap, memusatkan tenaga ke lengan kanannya, lalu mengayunkan sebuah pukulan lurus yang sederhana namun dipenuhi kekuatan fisik hasil penyempurnaan tubuhnya.
Benturan keras menggema di tengah hutan.
Tubuh Serigala Taring Batu langsung terpental beberapa meter ke belakang sebelum berguling berkali-kali di atas tanah. Makhluk itu segera berusaha bangkit, tetapi sorot matanya kini dipenuhi kebingungan, seolah tidak mampu memahami bagaimana seorang bocah kecil mampu menghempaskannya hanya dengan satu pukulan.
Xiao Yun sendiri sempat menatap kepalan tangannya dengan sedikit terkejut. Ia memang mengetahui tubuhnya menjadi lebih kuat, tetapi bahkan dirinya tidak menyangka kekuatan itu telah meningkat sedemikian besar.
Serigala tersebut kembali mengaum penuh kemarahan. Kali ini ia menerjang dengan lebih ganas sambil membuka rahangnya lebar-lebar. Xiao Yun tetap berdiri tenang hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah. Dalam sekejap, tubuhnya bergerak ringan, menghindari serangan lawan hanya dengan sedikit memiringkan badan, lalu sebuah pukulan kedua menghantam sisi kepala Serigala Taring Batu dengan kekuatan penuh.
Suara retakan tulang langsung terdengar jelas.
Tubuh binatang iblis itu terlempar beberapa meter sebelum jatuh keras ke tanah dan tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Seluruh pertarungan berakhir hanya dalam beberapa tarikan napas.
Xiao Yun kembali memandang kedua tangannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kemenangan semudah itu bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya sebelum memasuki Altar Pertama.
Luo Hai menganggukkan kepala dengan ekspresi puas. "Tubuhmu kini telah mencapai tingkat seorang kultivator Dao Hai tahap awal."
"Akan tetapi, jangan sampai keberhasilan kecil ini membuatmu lengah."
"Dunia di luar Hutan Terlarang jauh lebih luas daripada yang pernah kau bayangkan."
"Kultivator sejati yang akan kau temui nanti memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan binatang seperti itu hanya dengan satu lambaian tangan."
Xiao Yun tersenyum kecil sambil mengangguk penuh pengertian. Ia mengetahui bahwa gurunya tidak sedang meremehkan dirinya, melainkan mengingatkannya agar tidak cepat merasa puas.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menembus Hutan Terlarang. Di sepanjang jalan, Luo Hai mulai menceritakan berbagai hal mengenai dunia luar yang selama ini belum pernah diketahui Xiao Yun. Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Yan Utara hanyalah salah satu kerajaan besar di wilayah utara Benua Tianxu, sementara di balik kerajaan-kerajaan itu masih berdiri sekte-sekte kuno dan klan-klan besar yang telah bertahan selama ribuan tahun. Di tempat-tempat itulah para kultivator sejati berkumpul, mengejar puncak Dao dan memperebutkan berbagai peluang yang dapat mengubah nasib seseorang.
Xiao Yun mendengarkan setiap penjelasan gurunya dengan penuh perhatian. Semakin banyak cerita yang ia dengar, semakin ia menyadari betapa kecil dunia yang pernah dikenalnya selama tinggal di Desa Kabut. Di hadapannya kini terbentang perjalanan yang jauh lebih luas, dipenuhi berbagai misteri, bahaya, dan kesempatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanpa disadarinya, tujuan perjalanan berikutnya telah ditentukan sejak Kristal Warisan memperlihatkan peta sembilan altar kepadanya. Jauh di utara Kerajaan Yan, Pegunungan Tulang Naga telah menunggu kedatangannya, sementara takdir sebagai Pewaris Kesepuluh Nadi Kekosongan perlahan mulai bergerak menuju babak yang baru.
Setelah meninggalkan wilayah terdalam Hutan Terlarang, Xiao Yun dan Luo Hai terus melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan lebat. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menembus celah-celah dedaunan kuno dan membentuk bayangan panjang di atas tanah. Suasana di sekitar mereka terasa damai, jauh berbeda dibandingkan kekacauan yang baru saja terjadi di Altar Pertama. Sesekali terdengar suara burung liar atau hembusan angin yang menggoyangkan ranting-ranting pepohonan, tetapi tidak ada satu pun Binatang Iblis yang berani mendekat setelah merasakan sisa aura Warisan Nadi Kekosongan yang masih samar memancar dari tubuh Xiao Yun.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Xiao Yun berjalan sambil memikirkan semua kejadian yang baru saja dialaminya. Pemandangan sembilan altar yang muncul di dalam penglihatannya, perang kuno yang mengguncang langit dan bumi, sosok berjubah hitam yang hanya terlihat sesaat, hingga sembilan rantai raksasa yang masih menyegel Nadi Kekosongan di dalam tubuhnya terus berputar di benaknya. Semakin ia mengingat semua itu, semakin besar pula rasa penasarannya terhadap dunia yang belum pernah ia kenal.
Luo Hai yang melayang di sampingnya sesekali memperhatikan ekspresi muridnya. Ia mengetahui bahwa pikiran Xiao Yun sedang dipenuhi berbagai pertanyaan. Namun ada banyak hal yang bahkan dirinya sendiri belum mampu memberikan jawaban. Sebagian rahasia hanya dapat diketahui apabila Xiao Yun benar-benar berhasil menapaki jalan yang telah dipersiapkan oleh para pewaris terdahulu.
Setelah beberapa saat, Luo Hai akhirnya memecah keheningan dengan suara yang tenang namun terdengar lebih serius dibandingkan biasanya.
"Sudah waktunya kita memikirkan langkah berikutnya."
Ucapan singkat itu membuat Xiao Yun menghentikan langkahnya. Ia mengangkat kepala dan menatap gurunya. Meskipun Luo Hai tidak menjelaskan secara langsung, ia segera memahami maksud dari perkataan tersebut. Perjalanan mereka di Lembah Iblis telah berakhir. Warisan Altar Pertama sudah berhasil diperoleh, sedangkan tujuan berikutnya telah ditunjukkan oleh Kristal Warisan sebelum altar itu runtuh.
Xiao Yun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada yang jauh lebih tenang daripada biasanya.
"Guru... apakah kita akan segera pergi dari sini?"
Luo Hai menganggukkan kepala tanpa sedikit pun ragu.
"Ya. Tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di Lembah Iblis."
"Altar Pertama telah menyelesaikan tugasnya, warisan telah memilihmu sebagai Pewaris Kesepuluh, dan seluruh tempat itu bahkan telah runtuh setelah proses pewarisan selesai."
"Apa yang harus kau cari di sana sudah tidak tersisa lagi."
Tatapan Xiao Yun perlahan berubah serius.
Ia masih mengingat dengan sangat jelas peta kuno yang muncul dari Kristal Warisan. Peta itu tidak hanya memperlihatkan wilayah Benua Tianxu secara utuh, tetapi juga sembilan titik cahaya yang mewakili sembilan altar warisan. Meskipun sebagian besar masih tertutup kabut hitam, satu titik di bagian utara bersinar jauh lebih terang daripada yang lain, seolah sedang memanggil kedatangannya.
Luo Hai melanjutkan penjelasannya setelah melihat bahwa Xiao Yun masih tenggelam dalam pikirannya.
"Petunjuk menuju Altar Kedua telah muncul. Selama Kristal Warisan masih berada di tanganmu, arah itu tidak akan berubah."
Roh tua itu berhenti sejenak sebelum mengucapkan nama tempat yang telah muncul di dalam peta warisan.
"Altar Kedua berada di Pegunungan Tulang Naga."
Xiao Yun menganggukkan kepala perlahan. Nama itu bukan sesuatu yang benar-benar asing baginya. Sewaktu masih tinggal di Desa Kabut, ia pernah beberapa kali mendengar para pedagang pengembara menyebut wilayah tersebut ketika sedang berbincang dengan penduduk desa. Akan tetapi, baginya nama itu tidak lebih dari sebuah tempat yang sangat jauh. Tidak seorang pun di Desa Kabut pernah benar-benar mengetahui seperti apa keadaan Pegunungan Tulang Naga ataupun wilayah yang mengelilinginya.
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?