NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Pagi harinya Arya terbangun dengan leher yang terasa pegal luar biasa akibat tidur terduduk di sofa semalaman. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu pandangannya langsung tertuju ke arah ranjang. Gendis ternyata sudah bangun, sedang duduk menyandar sambil membolak-balik lembaran dokumen dan sesekali menatap laptop di atas meja lipatnya.

Aneh nya, wanita itu tidak simpati sedikit pun padanya meski lehernya sakit sekalipun.

Arya bangkit berdiri, merapikan kemeja kantornya yang sudah kusut dengan agak kesal. Ia melangkah mendekati ranjangnya Gendis.

"Kamu belum sembuh, kenapa sudah sibuk dengan pekerjaan," tegur Arya ketus, bersedekap dada. "Kamu mau pingsan lagi di sini?"

Gendis bahkan tidak menoleh. Jemarinya sibuk menandatangani beberapa berkas dari BRTV. "Ini tugas saya sebagai Produser Eksekutif, Pak Arya. Meskipun tubu saya libur, tapi otak saya tidak, harus tetap Kerja profesional."

Kalimat santai Gendis sukses membuat Arya mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sindiran itu telak mengingatkan Arya kalau wanita yang di depannya ini adalah orang jenius yang menyelamatkan program TV milik perusahaannya.

Pintu kamar rawat mendadak terbuka. Dokter Alex melangkah masuk membawa map rekam medis, disusul oleh Bu Sonya yang tampak segar dengan pakaian anggunnya.

"Pagi Gendis, Bu Sonya," sapa Alex ramah, sama sekali tidak menganggap keberadaan Arya yang berdiri di samping ranjang. "Kondisi fisikmu sudah lumayan membaik pagi ini. Trombosit mu mulai naik, jadi hari ini sudah boleh pulang."

Gendis menghembuskan napas lega. "Terima kasih banyak, Kak Alex."

"Baguslah kalau begitu," sela Bu Sonya cepat, lalu menoleh menatap Arya dengan tatapan memperingatkan. "Arya, kamu yang urus semua administrasi pembayarannya sekarang. Setelah itu, kita bawa Gendis pulang."

Arya berdehem pelan, membedah canggungnya. "Iya, Ma."

Baru saja Arya hendak memutar badan menuju pintu, suara Gendis memotong langkahnya.

"Tidak usah," ujar Gendis tenang. "Aku bisa pulang sendiri naik taksi, Ma. Atau minta tolong Kak Alex saja yang antar."

Langkah Arya seketika terhenti. Dadanya mendadak terasa panas mendengar nama Alex disebut begitu mudah dari mulut istrinya. Ia berbalik, menatap Gendis dengan alis bertaut tajam.

"Kamu ini bicara apa?" cetus Arya dengan nada tinggi yang menahan kekesalan. "Aku ini suami kamu. Dari mana ceritanya istri pulang dari rumah sakit malah sama laki-laki lain?!"

Gendis terkekeh pelan, menatap Arya dengan sebelah mata. "Bukannya Kamu sendiri yang bilang semalam, pernikahan kita ini cuma di atas kertas? Jadi untuk apa bertindak seolah-olah seperti suami sungguhan?"

Arya menggertakkan giginya rapat-rapat. Wajahnya memerah menahan malu dan gengsi di hadapan Mamanya dan Dokter Alex.

Bu Sonya langsung memukul bahu Arya keras. "Nah kan! Makanya kalau punya mulut itu dijaga, Arya! Sekarang kamu rasakan sendiri akibatnya! Terlepas dari masalah apa yang membuat kalian harus menikah, tapi Gendis, dia tetap suami kamu. Belajar untuk menerima keadaan nya ya, turuti saja apa katanya."

Alex yang memperhatikan percekcokan itu hanya mengukir senyum tipis yang memancing emosi Arya. "Pak Arya, kalau Pasien memang lebih nyaman saya yang antar, Anda tidak perlu memaksakan diri."

"Bukan urusan Anda, Dokter!" potong Arya dingin dan tajam. Ia melangkah maju, langsung meraih tas pakaian Gendis dengan kasar. "Saya yang akan urus administrasinya dan saya yang bawa istri saya pulang. Titik."

Tanpa menunggu balasan siapa pun, Arya berjalan cepat keluar dari kamar rawat dengan langkah lebar.

__

Satu jam kemudian, mobil mewah milik Arya tiba di halaman rumah mewah Bratadikara. Bu Sonya sengaja ikut pulang bersama mereka menggunakan mobilnya sendiri untuk memastikan Gendis diurus dengan benar.

Saat mereka bertiga baru saja melangkah masuk ke dalam ruang tamu, sebuah suara manja yang sangat familier mendadak menggema dari arah sofa.

"Arya, Sayang! Dari mana saja sih? Kamu dari kemarin susah banget dihubungi!"

Gea berdiri dari sofa dengan senyum lebar, melangkah anggun mendekati Arya tanpa menyadari situasi. Namun, langkah Gea seketika terhenti saat matanya menangkap sosok Gendis yang berdiri di sebelah Arya, disusul kehadiran Bu Sonya di belakang mereka.

Raut wajah Gea berubah drastis. "Lho? Kenapa wanita ini bisa ada di sini? Arya, kenapa si ART ini ikut kamu pulang? Kalian dari mana?"

Mendengar sebutan 'ART', napas Bu Sonya seketika memburu. Ibu mana yang terima menantunya direndahkan oleh wanita lain di rumahnya sendiri?

"Jaga mulutmu, Gea!" potong Bu Sonya dengan suara tegas dan dingin, melangkah maju berdiri pas di depan Gendis.

Gea terkejut, langsung memamerkan senyum manis yang dipaksakan. "E-eh, Tante Sonya... Maaf Tante, Gea cuma bingung kenapa perempuan ini—"

"Dia bukan perempuan biasa, dan dia bukan ART di rumah ini!" tegas Bu Sonya, menatap Gea dengan tatapan penuh kepuasan dan kecaman. "Gendis ini istri sah dari Arya Bratadikara! MENANTUKU!"

Gea melotot sempurna. Wajahnya yang tebal riasan seketika pucat pasi bagai mayat. Matanya bergetar menatap Arya dan Gendis bergantian.

"I-istri?!" bisik Gea tak percaya, suaranya gemetar. "Gak mungkin! Arya, ini bercanda kan?! Kamu menikah sama wanita kelas bawah ini?!"

Gea berniat meminta penjelasan, melangkah mendekat dan memegang lengan Arya dengan raut kepanikan. "Arya! Bicaralah! Tante Sonya bercanda kan? Kamu gak mungkin nikah sama dia tanpa kasih tahu aku!"

Arya merasa sangat serba salah. Di satu sisi ada Bu Sonya yang siap membantainya kalau ia membela Gea, di sisi lain ada Gendis yang menatapnya dingin tanpa beban, dan Gea yang terus mencecar tangannya.

Arya menghembuskan napas kasar, lalu menarik lengannya pelan dari genggaman Gea.

"Gea, yang dibilang Mama benar... Gendis memang istriku," ujar Arya dengan nada suara yang tertahan dan penuh canggung. Ia mengusap tengkuknya, berusaha menutupi rasa panik di wajahnya. "Nanti aku jelaskan, Sekarang kamu pulang dulu. Jangan di sini."

Gea terbelalak, benar-benar syok mendengar pengakuan langsung dari mulut Arya. Rasa malu dan cemburu membakar dadanya seketika.

Bu Sonya menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis. "Dengar kan? Sekarang silakan keluar dari rumah anakku!"

Gea mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dengan wajah merah padam dan nafas memburu, ia menatap Gendis dengan tatapan benci sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan rumah mewah itu seraya menghentakkan kakinya.

Gendis yang menyaksikan semua interaksi konyol itu dari awal hanya bersedekap dada. Ucapan Arya yang bilang nanti aku jelaskan pada Gea sama sekali tidak melukai hatinya sama sekali. Bagi Gendis, sikap Arya memang sudah bisa ditebak dan tidak lagi bernilai di matanya.

Setelah Gea pergi dan situasi mendingin, Arya berdeham keras untuk menutupi rasa malu dan canggungnya di depan Gendis dan Sang Mama. Ia memanggil koki rumah dan beberapa ART.

"Bi Bikah!" panggil Arya tegas.

"Iya, Tuan Muda?" sahut ART paruh baya itu tergesa-gesa.

Arya bersedekap dada, memalingkan wajahnya dari Gendis dengan raut gengsi setengah mati. "Mulai hari ini, buatkan makanan yang bergizi. Buat sup ayam atau bubur yang tidak pedas."

Bi Bikah agak kebingungan. "A-apa untuk Tuan Muda?"

"Bukan buat saya!" bentak Arya pelan dengan wajah agak memerah. "Buat dia! Dia baru keluar dari rumah sakit karena tipes. Jangan buat saya repot kalau sampai dia harus masuk rumah sakit lagi. Paham?!"

Bi Bikah menahan senyumnya lalu mengangguk. "Baik, Tuan Muda."

Gendis yang mendengar semua menggelengkan kepala pelan. Perhatian kaku ala Arya Bratadikara benar-benar terkesan konyol dan kekanak-kanakan.

Tanpa mengucap sepatah kata pun atau berterima kasih, Gendis melangkah melewati Arya begitu saja menuju kamarnya. Bu Sonya juga ikut menyusul Gendis ke kamar nya. Menganggap ucapan pria itu sekadar angin lalu.

Arya yang ditinggal berdiri sendirian di ruang tamu hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia merogoh ponsel di saku celananya yang mendadak bergetar.

Sebuah pesan masuk dari anak buah nya.

[Pak Arya, penelusuran awal mengenai kecelakaan Galang dan riwayat hidup Gendis Annisa sudah saya kirim ke email pribadi Anda. Ada hal besar yang disembunyikan oleh pihak GBTv.]

Bersambung..

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!