Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Siapa Pemilik Kalung Sebenarnya?
Angin sore berhembus pelan menyapu halaman rumah megah Keluarga Hutapea yang berdiri kokoh di atas bukit permai. Pagar besi tinggi berukir emas tampak berkilau terkena pantulan sinar matahari yang mulai turun, seakan tak akan pernah terbuka bagi siapa pun yang bukan berasal dari darah mereka. Cynthia berdiri terpaku di depan gerbang itu, jantungnya berpacu kencang seakan hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Di tangannya, foto bayi yang sudah menguning dan buku harian bersampul kulit itu digenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya ditarik dalam-dalam, lalu dibuang perlahan untuk menenangkan kegelisahan yang menggelora di dada. Ia harus berani. Demi jati dirinya, demi masa depannya yang selama ini tertutup kabut tebal.
Namun saat Cynthia baru saja melangkah melewati gerbang yang terbuka itu... matanya membelalak tak percaya. Kakinya seketika terasa berat seakan tertanam di tanah yang keras.
Di teras rumah yang luas dan indah itu, sudah berdiri Ibu kandung Karen dan Karen. Keduanya tiba lebih dulu. Dan yang membuat darah Cynthia tertahan di sekujur tubuh — di leher Karen, melingkar indah sebuah kalung berhias berlian berbentuk separuh hati. Cahayanya memantul terang berkilauan, seakan menyindir keberadaan Cynthia yang berdiri kaku di sana dengan pakaian sederhana dan wajah yang masih basah oleh keringat perjalanan.
Ibu kandung Karen menyadari kedatangan Cynthia dari kejauhan. Wanita itu tersenyum tipis namun dingin, matanya menyiratkan peringatan tajam yang tak boleh dibantah. Ia segera menggandeng tangan putrinya, lalu berjalan mendekati sepasang suami istri yang baru saja keluar dari pintu utama rumah itu — Tuan dan Nyonya Hutapea, orang tua kandung Cynthia yang selama belasan tahun tak pernah berhenti mencari keberadaan putri tunggal mereka yang hilang.
"Inilah dia, Tuan, Nyonya..." suara Ibu kandung Karen terdengar lembut dan penuh kepalsuan, seakan ia adalah wanita paling tulus di dunia. "Inilah putri yang selama ini kalian cari tanpa kenal lelah. Namanya Karen. Kalung penanda yang kalian tinggalkan di ruang inkubator rumah sakit belasan tahun lalu... ada padanya utuh tanpa kurang satu pun."
Karen menundukkan kepala pura-pura menahan tangis yang tak sungguh-sungguh keluar. Dengan jari gemetar namun penuh kesengajaan, ia menyentuh kalung berlian yang melingkar di lehernya, lalu menatap Tuan dan Nyonya Hutapea dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat.
"Ibu... Ayah..." suaranya bergetar halus. "Karen rindu sekali. Rindu sejak kecil tak pernah hilang walau sehari pun. Karen selalu bermimpi bisa berdiri di hadapan Ayah dan Ibu seperti saat ini..."
Nyonya Hutapea seketika tak mampu lagi menahan air matanya. Wanita itu melangkah cepat dengan tangan gemetar, lalu merengkuh Karen dalam pelukan yang begitu erat dan penuh rindu. Tubuhnya terguncang menahan isak tangis bahagia.
"Anakku... akhirnya kau kembali ke pelukan Ibu. Ibu mencarimu setiap hari, setiap malam, tak pernah berhenti berdoa semoga kau selamat dan tumbuh sehat..."
Tuan Hutapea pun tampak berkaca-kaca, menatap Karen dengan pandangan takjub dan bahagia yang mendalam. Segala kebahagiaan, pelukan hangat, air mata rindu, dan senyum yang tak pernah pudar — semuanya tertuju sepenuhnya pada Karen seakan-akan dialah putri yang hilang itu.
Sementara itu, Cynthia berdiri terpaku di belakang dengan napas tertahan. Matanya memandang tak percaya ke arah kalung berlian di leher Karen. Itu... itu kalung penanda yang seharusnya miliknya. Yang seharusnya melingkar di lehernya sejak lahir. Yang seharusnya menjadi bukti keberadaannya. Mengapa kini ada di leher Karen? Mengapa wanita yang selama ini ia anggap keluarga sendiri melakukan hal keji sekeji ini padanya?
Dengan sisa keberanian yang nyaris habis tertelan rasa sakit, Cynthia melangkah maju perlahan. Suaranya bergetar hebat namun berusaha terdengar tegas.
"Itu... itu kalungku. Bukan milik Karen."
Seketika suasana di teras yang luas itu menjadi hening seketika. Semua mata beralih menatap Cynthia dengan pandangan yang berbeda-beda. Wajah Ibu kandung Karen seketika berubah dingin dan tajam. Karen menatap Cynthia sejenak, lalu dengan cepat menunduk dan menangis tersedu-sedu seakan merasa sangat terluka.
Nyonya Hutapea melepaskan pelukannya pada Karen, lalu menatap Cynthia dengan dahi berkerut bingung. "Siapa kau, Nona? Dan apa maksud ucapanmu yang begitu berani?"
"Saya..." Cynthia menelan ludah yang terasa pahit, berusaha menata napas yang tersengal. "Saya yang sebenarnya putri kalian. Kalung itu... diambil dari saya secara diam-diam dan dipakaikan ke Karen agar saya tak dipercaya. Foto bayi ini... buku harian ini... semuanya membuktikan bahwa saya..."
Belum sempat Cynthia menyelesaikan ucapannya, Ibu kandung Karen sudah maju selangkah lebih dulu berdiri di hadapan Tuan dan Nyonya Hutapea. Wanita itu menatap Cynthia dengan pandangan tak percaya yang bercampur rasa kecewa seakan terluka sekali.
"Cynthia... apa yang kau katakan ini sungguh-sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa kau mengaku-ngaku seperti itu di tempat yang seharusnya menjadi tempat bahagia bagi Karen? Padahal kalung penanda itu sudah ada di leher Karen sejak kami menemukannya bertahun-tahun lalu. Kalung penanda adalah benda sakral yang tak mungkin tertukar begitu saja. Kau... kau iri melihat kebahagiaan Karen, bukan? Itu sebabnya kau datang ke sini berusaha merebut tempatnya?"
"Saya tidak iri!" Cynthia membela diri dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya. "Saya tidak pernah iri pada Karen! Kalung itu milik saya! Buku harian dan foto bayi ini adalah bukti..."
Namun bukti yang Cynthia genggam di tangannya terlihat begitu sederhana dan rapuh dibandingkan kalung berlian yang berkilau memukau di leher Karen — benda yang sudah langsung diakui oleh Tuan dan Nyonya Hutapea sebagai penanda sejati putri mereka. Karen kembali bersandar lemah di bahu Nyonya Hutapea sambil menangis tertahan, seakan tak kuasa menahan rasa sakit hatinya.
"Ibu... maafkan Karen... sepertinya Cynthia tak ikhlas melihat Karen akhirnya menemukan orang tua kandungnya..."
Mendengar itu, Nyonya Hutapea menatap Cynthia dengan pandangan yang telah berubah sepenuhnya. Tak ada lagi rasa penasaran, melainkan rasa kecewa dan ketidaksukaan yang mulai tumbuh.
"Cukup. Kalung penanda adalah bukti yang tak terbantahkan oleh apa pun. Karen-lah putri kami yang sesungguhnya. Tolong tinggalkan tempat ini dan jangan mengganggu kebahagiaan kami hari ini."
Hati Cynthia terasa diremas hingga hancur berkeping-keping. Bukti fisiknya telah dirampas dan dipakai oleh orang lain. Kebenaran yang ia bawa tak dipercaya sama sekali. Di hadapan orang tua kandungnya sendiri... ia dianggap pengganggu, pembohong, wanita yang iri hati.
Cynthia mundur perlahan dengan langkah yang terasa begitu berat. Air matanya jatuh tanpa suara membasahi pipi yang dingin. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Semua seakan membelanya Karen. Dengan hati yang remuk redam, Cynthia berbalik perlahan dan pergi meninggalkan rumah megah itu. Di belakangnya, suara tawa bahagia yang tak seharusnya menjadi milik Karen... terdengar sayup-sayup menusuk hingga ke tulang sumsum.
Dan di kejauhan, di balik rimbunnya pepohonan, sepasang mata memantau peristiwa itu dengan kepalan tangan yang erat. Pria itu belum pergi. Ia menunggu. Dan hatinya bergetar hebat menahan amarah melihat air mata wanita yang dicintainya jatuh karena tipu daya yang begitu keji.