Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 BIKSU
Malam di Perbatasan Utara tidak lagi menyisakan rasa hangat. Angin kering yang bertiup dari puncak gunung batu membawa serpihan es tipis, menyapu padang rumput tandus tempat Mu Jin menyalakan api kecil di balik celah tebing.
Mu Jin duduk bersandar pada dinding batu. Pedang besi hitamnya tergeletak di samping paha, bilahnya memantulkan cahaya jingga yang gemetar. Tangan kanannya yang kasar mengepal dan membuka perlahan, menguji kelenturan pergelangan yang kian terbiasa dengan beban besi kaku itu.
Dari balik kegelapan malam, derap langkah kaki yang teratur menggema pelan. Derap itu tidak terburu-buru, disertai gemerincing lembut genta logam.
Seorang biksu tua bergaun kasaya cokelat kusam melangkah mendekati perapian. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam, namun matanya yang teduh memancarkan ketenangan yang jernih. Di sampingnya, seorang murid muda berumur belasan tahun berjalan sambil memikul keranjang bambu berisi kitab-kitab daun lontar dan sedikit perbekalan.
“Bolehkah kami menumpang hangat di dekat apimu, Pengembara?” tanya biksu tua itu sambil merapatkan kedua telapak tangannya di dada, membungkuk hormat.
Mu Jin menatap mereka datar. Matanya tidak memancarkan keramahan, namun dia tidak mengusir mereka. Dia hanya menggeser posisi duduknya sedikit, memberi ruang di sisi lain perapian. “Api ini milik tanah,” kata Mu Jin serak.
Biksu tua itu tersenyum ramah, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga terasa asing di tengah dinginnya tanah perbatasan yang keras ini. Dia dan muridnya duduk perlahan, meluruskan kaki mereka yang lelah.
“Kami datang dari Kuil Sutra Emas di Selatan,” ujar sang biksu tua sambil mengeluarkan sepotong ubi bakar dingin dari dalam tasnya. “Nama panggilanku adalah Huai Ming, dan ini muridku, Zhi Kang. Kami sedang dalam perjalanan menuju Kuil Lemah Es di dataran tinggi utara.”
“Utara adalah tempat bertemunya para pemberontak dan darah,” kata Mu Jin dingin. “Kuil di sana mungkin sudah jadi abu.”
Biksu Huai Ming terkekeh pelan. Tidak ada rasa takut atau cemas di wajahnya. “Jika kuil itu sudah jadi abu, maka kami akan menyapu abunya dan berdoa di atas tanahnya. Rumah Buddha tidak terikat pada kayu atau batu, melainkan pada ketenangan jiwa yang membawanya.”
Murid muda bernama Zhi Kang menatap pedang besi hitam di samping Mu Jin dengan pandangan agak gentar. Pria di hadapan mereka tidak tampak seperti seorang pendekar yang gagah, melainkan seperti bayangan kusam yang memikul penderitaan teramat berat.
“Kau membawa pedang yang sangat berat, Anak Muda,” kata Biksu Huai Ming pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Mu Jin yang redup. “Tapi beban yang berada di dalam dadamu jauh lebih berat daripada besi itu.”
Mu Jin melemparkan ranting kayu kering ke dalam api. Percikan merah membumbung sebentar sebelum hilang ditelan malam. “Aku membawa pedang ini untuk mencari kebenaran. Bukan kebenaran yang tertulis di dalam kitab-kitabmu, tapi kebenaran tentang mengapa yang lemah harus selalu dibakar.”
Biksu Huai Ming mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada raut menghakimi di wajahnya, tidak ada tatapan kasihan yang merendahkan. Hanya ada kehangatan yang jujur.
“Kebenaran...” gumam biksu tua itu lembut. “Dunia Murim penuh dengan orang-orang yang mengejar kebenaran mereka sendiri. Bagi sebagian orang, kebenaran adalah kekuasaan. Bagi yang lain, kebenaran adalah pembalasan. Tapi tahukah kau apa arti kehidupan yang sebenarnya, Anak Muda?”
“Hidup hanyalah sisa dari pembantaian yang belum selesai,” balas Mu Jin datar, memotong tanpa ragu.
Biksu Huai Ming tersenyum kembali. Dia menggelengkan kepalanya pelan, menatap langit malam yang ditaburi bintang-bintang dingin.
“Hidup ini ibarat sebuah embun di atas daun lotus di pagi hari,” bisik biksu tua itu dengan suara yang mengalir tenang bagai air rawa. “Dia ada hanya untuk sekejap, diterpa angin dan disinari matahari sebelum akhirnya jatuh kembali ke tanah. Kehidupan ini sementara, penderitaan ini sementara, bahkan dendam yang paling pekat sekalipun hanyalah kabut yang akan menguap saat waktu tiba.”
“Embun tidak memiliki desa yang dibakar,” desis Mu Jin, matanya mendadak memercikkan kebekuan yang pekat. “Embun tidak harus melihat keluarganya dijadikan abu oleh pahlawan suci.”
Murid muda di sampingnya terperanjat mendengar nada dingin dari suara Mu Jin, namun Biksu Huai Ming tetap tenang. Senyum ramahnya tidak goyah sedikit pun.
“Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan air matamu, Anak Muda,” kata Biksu Huai Ming lembut. “Aku hanya tidak ingin kau membakar dirimu sendiri sebelum kau menemukan jawaban yang kau cari. Ketika kau mengejar kebenaran dengan amarah, kau hanya akan menemukan kebenaran yang patah. Tapi jika kau berjalan dengan hati yang tenang, kebenaran akan menampakkan dirinya apa adanya, tanpa topeng kebaikan atau kejahatan.”
Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam meraung pelan di luar celah tebing, namun di sekitar api unggun itu, kehangatan yang dibawa oleh sang biksu tua menciptakan ruang hening yang terasa aneh bagi Mu Jin.
Mu Jin tidak membalas lagi. Dia menyandarkan kepalanya ke batu dingin, memejamkan mata. Kata-kata tentang embun dan kehidupan yang sementara mengendap samar di benaknya, bertabrakan dengan bayangan api Lembah Nian yang tidak pernah padam di dalam ingatannya.
Esok pagi, saat matahari belum menyentuh puncak gunung, Biksu Huai Ming dan muridnya berdiri menyangkutkan keranjang mereka kembali. Sang biksu tua merapatkan tangannya, membungkuk dalam-dalam pada Mu Jin yang masih terduduk di dekat sisa abu api.
“Semoga perjalananmu membawamu pada kedamaian yang kau cari, Mu Jin,” ujar Biksu Huai Ming ramah sebelum melangkah pergi menembus kabut pagi menuju utara.
Mu Jin menatap dua sosok bergaun cokelat itu melangkah perlahan di jalur berbatu. Dia meraih pedang besi hitamnya, menyarungkannya erat di punggung, lalu kembali melangkah searah dengan mereka, menuju tanah utara yang kian dekat, tempat para raja dan iblis beradu takdir.