6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. RUMAH MBOK DARMI
Jalan aspal di depan kami itu nyata. Aspalnya hitam, ada garis putih di tengahnya. Lampu jalan menyala kuning temaram. Suara jangkrik di sawah. Ini dunia nyata. Bukan hutan, bukan balai desa tipuan.
Aku dan Farhan terduduk di pinggir jalan aspal itu, napas kami ngos-ngosan. Kain kafan putih yang tadi kami bawa, sekarang ada di tanganku lagi, tapi sudah berubah menjadi kain lapuk yang berlumut dan bau tanah kuburan. Hanya satu nama yang tersisa di kain itu yang masih bisa terbaca jelas.
SELVI.
Nama Farhan, Maya, Bima, Riko, Sinta, dan Mbok Darmi sudah hilang, tinggal lubang-lubang yang menganga seperti luka bakar.
Farhan melihat kain itu, lalu melihatku. Wajah Farhan pucat pasi, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi.
"Selvi... kita udah keluar? Kita selamat?" tanya Farhan dengan suara serak.
Aku mengangguk, tapi air mataku tidak berhenti mengalir. "Kita keluar, Han... tapi mereka... mereka gak ikut keluar..."
Farhan menunduk. Dia tahu apa maksudku. Teman-teman kami masih di dalam. Terjebak di dalam hutan itu, menjadi warga tanpa bayangan.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ada sorot lampu mobil. Mobil pick-up sayur yang melaju pelan. Kami langsung berdiri di tengah jalan, melambaikan tangan seperti orang gila.
"TOLONG! TOLONG PAK! BERHENTI!" Farhan berteriak.
Mobil pick-up itu berhenti. Sopirnya seorang bapak tua dengan topi caping. Dia kaget melihat kami berdua yang penuh lumpur, luka, dan bau kuburan.
"Astaga! Kalian kenapa, Nduk? Kalian dari mana? Kok bisa di jalan hutan jam segini?" tanya bapak itu.
"Pak, antar kami ke balai desa Karangjati Pak! Teman kami hilang di dalam hutan! Ada 4 orang!" aku memohon sambil memegang pintu mobil.
Mendengar nama Karangjati, wajah bapak itu langsung berubah pucat. Sama pucatnya seperti dua pemuda motor trail tadi.
"Karangjati? Desa Karangjati? Nduk... Desa Karangjati sudah tidak ada... sudah 27 tahun tidak ada... desanya hilang ditelan hutan larangan tahun 1998... waktu KKN mahasiswi..."
Aku dan Farhan saling pandang. Hilang 27 tahun? Tidak ada?
"Pak... kami KKN di sana seminggu ini Pak... ada balai desanya... ada Pak Lurah Karjo..." Farhan mencoba menjelaskan.
Bapak sopir itu menggelengkan kepalanya cepat. Dia terlihat ketakutan.
"Pak Lurah Karjo itu Lurah terakhir Karangjati! Dia mati kebakar sama warga karena bikin perjanjian sama penunggu sumur! Sumur belakang balai desa! Kalian... kalian masuk ke desa mati itu?!"
Bapak itu langsung tancap gas, meninggalkan kami berdua di pinggir jalan.
"KALAU KALIAN MAU HIDUP, JANGAN PERNAH LIHAT KE BELAKANG! LARI KE ARAH MASJID DI UJUNG JALAN! DISANA AMAN!" teriak bapak itu dari dalam mobilnya yang semakin menjauh.
Masjid? Aku melihat ke ujung jalan aspal. Di sana memang ada cahaya hijau dari menara masjid. Masjid kecil di pinggir hutan.
Tanpa pikir panjang, aku dan Farhan lari ke arah masjid itu. Kami lari sekencang-kencangnya. Kami tidak melihat ke belakang, seperti pesan bapak sopir dan pesan Mbok Darmi.
Tapi saat kami berlari, aku mendengar suara langkah kaki di belakang kami. Bukan satu, tapi banyak. Langkah kaki yang menyeret tanah, seperti kaki yang tidak memakai sandal.
"Selvi... Farhan... jangan tinggalin kami..."
Suara Maya. Suara Sinta. Suara Bima. Suara Riko. Memanggil dari belakang.
Farhan berbisik, "Jangan dengar, Vi... jangan dengar... itu bukan mereka..."
Kami terus lari sampai akhirnya sampai di halaman masjid. Masjid itu kecil, dari kayu jati, dengan lampu neon yang terang. Di dalamnya ada seorang kakek tua sedang wudhu, dengan jenggot putih panjang.
Melihat kami, kakek itu langsung berdiri.
"Kalian dari Karangjati ya?" tanya kakek itu. Suaranya tenang, tapi matanya tajam.
Aku mengangguk sambil menangis. "Kek... tolong kami..."
Kakek itu menyuruh kami masuk ke dalam masjid. Dia mengunci pintu masjid dengan rapat. Dia mengambil air wudhu dan memercikkannya ke kepala kami.
Saat air wudhu itu menyentuh kepala kami, abu doa yang tadi ditabur Mbok Darmi berasap. Asap putih keluar dari kepala kami.
Kakek itu melihat asap itu dan mengangguk.
"Kalian ditolong sama Mbok Darmi... penenun terakhir..." kata kakek itu.
"Kakek kenal Mbok Darmi?" tanyaku.
Kakek itu duduk, mengambil tasbihnya. Dia mulai bercerita.
"Mbok Darmi itu KKN angkatan 1998 di Karangjati, sama seperti kalian, 6 orang juga. Namanya bukan Mbok Darmi, nama aslinya Darmini. Dia satu-satunya yang selamat dari 6 orang. 5 temannya diambil sumur. Sejak itu, dia gila. Dia tinggal di pinggir Hutan Larangan, di gubuk kecil, kerjaannya cuma satu: menenun kain kafan. Setiap ada anak KKN yang masuk ke Karangjati, dia akan tenun kain dengan nama mereka, untuk memperingatkan. Dia sudah memperingatkan puluhan angkatan KKN, tapi tidak ada yang percaya. Sampai akhirnya, 10 tahun lalu, dia meninggal di gubuknya itu, di dalam hutan. Karena kedinginan dan kelaparan. Warga sini menemukan jasadnya sudah jadi tulang, masih memeluk alat tenunnya."
Cerita kakek itu membuatku merinding. Jadi Mbok Darmi yang menolong kami tadi... adalah arwah Mbok Darmi yang masih setia menjaga?
"Terus rumahnya? Rumah kayu yang kami masuki tadi?" tanya Farhan.
"Itu bukan rumah... itu kuburannya... pohon beringin besar itu adalah nisan hidupnya... siapa pun yang masuk ke dalam pohon itu, akan melihat rumah Mbok Darmi... itu adalah tempat perlindungan terakhir yang dia buat dengan doanya... sebelum dia mati, dia berdoa... Ya Allah, jadikan kuburanku rumah bagi siapa pun yang tersesat di hutan ini..."
Air mataku mengalir lagi. Mbok Darmi... bahkan setelah mati, dia masih menolong kami.
Kakek itu kemudian melihat kain kafan lapuk di tanganku. Dia mengambilnya dengan hati-hati.
"Kain ini... ini kain terakhir yang ditenun Mbok Darmi... lihat, namanya sendiri sudah hilang... artinya dia sudah ikhlas... tugasnya sudah selesai... dia sudah menolong kalian berdua keluar..."
Kakek itu melipat kain itu dan memberikannya kembali padaku.
"Simpan kain ini, Nduk... ini bukan kain biasa... ini adalah kunci... kunci untuk menutup sumur itu selamanya..."
Kunci? Menutup sumur?
"Caranya gimana, Kek?" tanya Farhan.
Kakek itu menunjuk ke arah hutan yang gelap dari jendela masjid. Dari jendela masjid, kami bisa melihat hutan itu. Hutan yang tadi kami lari. Di tengah hutan, ada satu titik cahaya merah yang berkedip-kedip. Seperti bara api.
"Itu sumur... sumur itu masih buka... karena masih ada satu nama yang belum diambil..."
Kakek itu melihat ke arahku. Ke arah kain di tanganku.
Nama SELVI.
Tinggal namaku seorang yang tersisa.
"Sumur itu butuh 6 nama untuk kenyang, Nduk... 5 sudah diambil: Bima, Riko, Sinta, Maya, Farhan... tinggal kamu yang terakhir... kalau kamu tidak balik ke dalam dan menutupnya dari dalam dengan kain ini... sumur itu akan terus mencari... akan terus manggil anak-anak KKN angkatan selanjutnya... akan terus makan korban..."
Aku lemas. Jadi aku harus balik lagi ke dalam hutan? Ke dalam sumur itu?
Farhan langsung berdiri, memegang tanganku. "Gak! Gak boleh! Selvi gak boleh balik lagi! Kita udah selamat! Biarin aja sumur itu! Biarin aja desa itu hilang!"
Kakek itu menggeleng. "Kalau tidak ditutup, 7 tahun lagi akan ada KKN lagi yang masuk ke sana... dan akan terulang lagi... seperti 1998, 2005, 2012, 2019, dan sekarang 2025... setiap 7 tahun, sumur itu lapar..."
Setiap 7 tahun? Jadi ini adalah siklus?
Aku melihat kain di tanganku. Aku melihat nama SELVI yang masih utuh. Aku melihat ke arah hutan yang gelap, dengan titik merah berkedip itu.
Aku ingat wajah Maya yang memintaku menyampaikan maaf ke ibunya. Aku ingat janji kami 6 orang saat berangkat KKN kemarin: kita berangkat 6, pulang harus 6.
Tapi sekarang tinggal aku sendiri.
Aku berdiri. Aku mengusap air mataku.
"Kek... ajarin aku cara nutup sumur itu..."
"SELVI! KAMU GILA!" Farhan berteriak dan menarikku.
Aku memeluk Farhan. Pelukan terakhir.
"Han... kamu jaga kain ini baik-baik... kalau aku gak balik... kamu kasih tau kampus... kasih tau semua orang... jangan pernah ada KKN lagi di Karangjati... Desa ini tidak ada di peta..."
Aku melepaskan pelukan Farhan. Aku mengambil kain kafan itu. Aku berjalan ke arah pintu masjid.
Kakek itu membuka pintu masjid untukku. Dia memberikan sebuah obor bambu yang menyala terang.
"Bawa obor ini... ini obor terakhir Pak Lurah Karjo yang asli... yang belum padam... api ini yang bisa nutup sumur... lempar kain dan obor ini ke dalam sumur bersamaan..."
Aku mengangguk. Aku membawa obor itu. Aku melangkah keluar dari masjid, kembali ke arah hutan. Kembali ke arah titik merah berkedip itu.
Di belakangku, aku mendengar Farhan menangis memanggil namaku. Tapi aku tidak menoleh ke belakang. Aku terus berjalan ke dalam hutan.
Semakin aku masuk ke dalam hutan, semakin gelap. Pohon-pohon besar menutup cahaya bulan. Tapi obor di tanganku menyala terang, membuat bayanganku panjang di tanah.
Dan anehnya, kali ini, bayanganku ada. Bayanganku tidak hilang.
Aku berjalan terus sampai akhirnya aku sampai lagi di depan sumur itu. Sumur tua belakang balai desa. Pintu batunya terbuka lebar. Dari dalamnya keluar asap hitam dan bau bangkai yang menyengat.
Dari dalam sumur, aku mendengar suara. Suara teman-temanku.
"Selvi... masuk... sini... kita nunggu kamu... kita lengkap lagi... berenam..."
Aku melihat ke dalam sumur. Di dalam sana, gelap, tapi aku bisa melihat 5 pasang mata yang menyala merah. Mata Bima, Riko, Sinta, Maya, dan Farhan.
Farhan? Bukankah Farhan masih di masjid?
Aku menoleh ke belakang. Jauh di belakang, di ujung hutan, aku masih melihat cahaya masjid. Dan aku melihat sosok Farhan masih berdiri di halaman masjid, melambaikan tangan.
Lalu siapa yang di dalam sumur yang bermata Farhan itu?
Ternyata... Farhan yang di masjid tadi... bukan Farhan yang selamat... tapi...
Sebelum aku sempat berpikir, sebuah tangan pucat menarik kakiku dari dalam sumur.
Tangan Maya.
"GILIRAN KAMU KAK SELVI..."
Tangan Maya yang pucat itu mencengkeram pergelangan kakiku dengan sangat kuat. Kukunya panjang, hitam, menancap ke kulitku sampai berdarah. Dinginnya bukan main, seperti es dari dasar sumur yang tidak pernah kena matahari.
Aku menjerit dan mencoba menendangnya, tapi tangan itu semakin kuat menarikku ke bibir sumur. Obor bambu yang aku bawa hampir jatuh.
"MAYA LEPASIN! ITU BUKAN KAMU! KAMU BUKAN MAYA!" Aku berteriak sambil menangis.
Dari dalam sumur yang gelap, muncul wajah Maya. Tapi bukan Maya yang aku kenal. Wajahnya pucat, matanya hitam semua tanpa putih, senyumnya robek sampai ke telinga, dan dari mulutnya keluar air sumur yang keruh dengan jentik-jentik hitam.
"Kak Selvi... temenin Maya di bawah... dingin di bawah... sepi..."
Di belakang Maya, muncul wajah-wajah lain. Bima, Riko, Sinta, dan... Farhan. Mereka semua berdesakan di dalam lubang sumur yang sempit itu, menatapku dengan mata merah menyala, mengulurkan tangan mereka ke arahku.
"SELVI... MASUK... KITA LENGKAP LAGI BERENAM..."
Aku menoleh ke belakang, ke arah cahaya masjid yang masih terlihat jauh. Farhan yang asli masih di sana, berdiri di halaman masjid, melambaikan tangan, memanggil namaku.
"SELVI! JANGAN MASUK! LEMPAR KAINNYA! LEMPAR OBORNYA!"
Suara Farhan asli itu membuatku sadar. Aku ingat pesan kakek di masjid. Lempar kain dan obor bersamaan ke dalam sumur.
Aku memegang kain kafan lapuk yang tinggal satu nama SELVI itu dengan tangan kiri, dan obor yang menyala terang dengan tangan kanan.
Tangan Maya masih menarik kakiku. Aku sudah setengah badan masuk ke dalam sumur. Bau bangkai dari dalam sumur sangat menyengat, membuatku mau muntah. Aku bisa melihat dasar sumur yang tidak ada airnya, hanya lumpur hitam dan tulang-belulang yang berserakan. Tulang-tulang mahasiswa KKN dari tahun-tahun sebelumnya. Ada puluhan tengkorak di bawah sana.
"MAAFKAN AKU SEMUA..."
Aku berteriak, dan dengan sekuat tenaga, aku melemparkan kain kafan itu ke dalam sumur, tepat ke arah wajah-wajah mereka.
Saat kain itu menyentuh wajah Maya, kain itu langsung terbakar dengan sendirinya. Api putih muncul dari kain itu, bukan api merah. Api putih yang sangat terang dan panas.
Wajah Maya menjerit kesakitan. Bukan jeritan manusia, tapi jeritan seperti makhluk halus yang kepanasan.
"AAAAAAARRRRRGGGGHHH!"
Mereka berlima di dalam sumur menjerit bersamaan, melepaskan cengkeraman tangan mereka dari kakiku.
Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Aku langsung melemparkan obor bambu yang menyala terang itu ke dalam sumur, menyusul kain kafan yang terbakar putih.
BRAKKK! DUMMM!
Saat obor dan kain bertemu di dalam sumur, terjadi ledakan cahaya yang sangat besar. Cahaya putih menyilaukan mata, seperti matahari kecil yang meledak di dalam sumur.
Seluruh hutan bergetar. Pohon-pohon beringin besar bergoyang keras. Tanah di sekitarku retak.
Dari dalam sumur, aku mendengar suara jeritan yang sangat keras, jeritan ribuan suara jadi satu. Bukan hanya suara teman-temanku, tapi suara semua korban sumur itu selama puluhan tahun. Mereka menjerit, menangis, dan kemudian... tertawa lega. Seperti arwah yang akhirnya bebas.
Cahaya putih itu naik dari dalam sumur, membentuk pusaran angin yang berputar-putar di atas sumur. Di dalam pusaran cahaya itu, aku melihat mereka.
Aku melihat Bima, Riko, Sinta, Maya, dan Mbok Darmi. Tapi kali ini wajah mereka tidak menyeramkan. Wajah mereka cerah, bersih, tersenyum dengan tulus. Mereka melambaikan tangan ke arahku.
Maya yang paling depan, berbisik dengan suara yang jelas dan hangat, bukan suara cekikikan lagi.
"Makasih Kak Selvi... Maya udah bebas... sekarang giliran kami yang jaga hutan ini... biar gak ada korban lagi..."
Bima dan Riko mengacungkan jempol. Sinta menangis bahagia. Mbok Darmi tersenyum sambil menenun, tapi kali ini yang ditenunnya adalah kain putih bersih tanpa nama, kain untuk surga.
Mereka berlima naik ke atas bersama pusaran cahaya putih itu, semakin tinggi, sampai akhirnya menghilang di antara bintang-bintang.
Sumur itu kemudian bergetar lagi. Pintu batunya yang besar yang tadi terbuka lebar, perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Menutup rapat.
BRAKKKK!
Tanah di sekitar sumur menutup lubang sumur itu. Rumput liar tumbuh dengan cepat di atasnya, menutupi bekas sumur itu dalam hitungan detik. Seolah-olah sumur itu tidak pernah ada.
Titik merah berkedip yang tadi aku lihat dari masjid, padam.
Hutan menjadi sunyi. Sunyi yang damai, bukan sunyi yang mencekam.
Aku masih terduduk di tanah, napas terengah-engah. Kain kafan dan obor sudah tidak ada. Yang ada hanya tanah kosong bekas sumur yang sekarang ditumbuhi bunga-bunga kecil berwarna putih. Bunga yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Dari belakang, aku mendengar suara langkah kaki berlari ke arahku.
"SELVI! SELVI!"
Farhan. Farhan asli. Dia berlari dari arah masjid, bersama kakek tua penjaga masjid.
Farhan memelukku dengan sangat erat. Dia menangis.
"Kupikir kamu mati... kupikir kamu diambil juga..."
Aku memeluk Farhan balik. Air mataku mengalir, tapi kali ini air mata lega.
Kakek penjaga masjid melihat tanah bekas sumur yang sudah tertutup bunga putih itu. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Sudah selesai, Nduk... sumur sudah kenyang... tapi kali ini kenyangnya dengan doa, bukan dengan tumbal... Mbok Darmi dan teman-temanmu sudah menutupnya dari dalam... tugas mereka sudah selesai..."
Kakek itu mengambil bunga putih kecil dari tanah bekas sumur dan memberikannya padaku.
"Bawa ini... ini bunga penutup... tanam di depan kampusmu... biar tidak ada lagi yang tersesat ke Karangjati..."
Aku mengambil bunga itu. Bunga itu hangat.
Kami bertiga berjalan kembali ke arah masjid. Meninggalkan hutan yang sekarang sudah benar-benar sunyi.
Tapi saat kami hampir sampai di jalan aspal, aku menoleh sekali lagi ke arah hutan, untuk terakhir kalinya.
Dan di antara pohon-pohon, aku melihat 6 bayangan berdiri berjejer, melambaikan tangan ke arahku. Bayangan Bima, Riko, Sinta, Maya, Farhan palsu yang tadi di sumur, dan Mbok Darmi.
Mereka tersenyum. Dan kali ini, mereka punya bayangan.
Mereka sudah bebas.
Aku melambaikan tangan balik, dan melanjutkan berjalan ke arah cahaya masjid.
Cerita KKN kami di Desa Karangjati... selesai. Tapi nama-nama mereka akan tetap ada di kain kafan terakhirku.
komen gais kasih semangat biar aku tambah semangat Menulis Novel nya hehehe🥰💪❤️
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐