NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 24 — Pengkhianat di Balik Bayangan

Mobil melaju meninggalkan kawasan pelabuhan.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Suasana di dalam mobil terasa begitu tegang setelah peperangan yang baru saja mereka lalui.

Clara duduk di samping Fedro.

Di kursi belakang, Alena dan Aria duduk bersebelahan.

Sementara Adrian dan Amara berada di bagian depan bersama Rafael.

Raka mengendarai mobil lain di belakang mereka.

Clara sesekali melirik Alena dan Aria.

Dua perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

Kini keduanya duduk hanya beberapa meter darinya.

Mereka adalah saudara kandungnya.

Namun anehnya, Clara masih merasa seperti sedang duduk bersama dua orang asing.

“Alena.”

Suara Clara memecah keheningan.

Alena menoleh.

“Ya?”

“Dari mana kamu mendapatkan flashdisk itu?”

Alena terdiam.

“Dari seseorang.”

“Siapa?”

Alena menatap Aria sekilas.

“Aku tidak bisa mengatakannya.”

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena orang itu masih berada dalam bahaya.”

Clara hendak bertanya lagi, tetapi Aria tiba-tiba menyela.

“Bukan hanya dia.”

Clara menoleh.

“Maksudmu?”

Aria menggenggam flashdisk di tangannya.

“Siapa pun yang mengetahui terlalu banyak tentang E-17 akan menjadi target.”

Fedro menatap melalui kaca spion.

“Termasuk kalian bertiga.”

Aria mengangguk.

“Terutama Clara.”

Clara menyentuh liontin burung yang tergantung di lehernya.

“Kenapa aku?”

“Karena kunci utama ada padamu.”

Clara menghela napas.

“Semua orang terus mengatakan hal itu. Tapi tidak ada yang menjelaskan bagaimana cara menggunakan kunci ini.”

Alena menatap liontin tersebut.

“Karena kuncinya belum lengkap.”

Clara terkejut.

“Belum lengkap?”

Alena mengangguk.

“Liontinmu hanya bagian pertama.”

Clara menatap Aria.

“Dan bagian kedua?”

Aria membuka telapak tangannya.

Di sana terdapat sebuah cincin kecil berwarna hitam.

Clara langsung mengenalinya.

“Itu…”

“Bagian kedua.”

Alena kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.

Sebuah kartu tipis dengan simbol burung.

“Dan ini bagian ketiga.”

Clara terdiam.

“Jadi kita bertiga memang membawa bagian dari kunci?”

“Ya,” jawab Alena.

Clara menatap ketiga benda tersebut.

Liontin.

Cincin.

Kartu.

Semuanya memiliki simbol burung yang sama.

“Kalau begitu, apa yang terjadi jika ketiganya disatukan?”

Aria menatapnya.

“Pintu utama E-17 akan terbuka.”

Suasana kembali hening.

Fedro memperhatikan wajah Clara.

“Kamu tidak perlu melakukan ini malam ini.”

Clara menggeleng.

“Aku tidak takut.”

“Aku tahu.”

Fedro menggenggam tangannya.

“Aku hanya tidak ingin kamu mengambil keputusan saat sedang terbawa emosi.”

Clara tersenyum tipis.

“Aku tidak mengambil keputusan karena emosi.”

Ia menatap kedua saudarinya.

“Aku mengambil keputusan karena selama ini terlalu banyak orang yang berbohong kepadaku.”

 

Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di kediaman keluarga Adrian.

Namun begitu mobil memasuki halaman, Rafael langsung menyadari sesuatu.

“Berhenti.”

Mobil berhenti mendadak.

Clara menatapnya.

“Ada apa?”

Rafael menunjuk kamera keamanan di sisi pagar.

“Kamera itu mati.”

Adrian langsung menegang.

“Tidak mungkin.”

Rafael turun dari mobil dan memeriksa panel keamanan.

“Semua kamera di sisi timur mati.”

Fedro ikut turun.

“Sejak kapan?”

Rafael melihat layar panel.

“Sekitar dua puluh menit lalu.”

Clara langsung terdiam.

Dua puluh menit.

Artinya kamera mati tepat ketika mereka meninggalkan gudang.

“Berarti seseorang sudah masuk ke sistem keamanan rumah,” kata Clara.

Rafael mengangguk.

“Benar.”

Amara terlihat cemas.

“Apakah rumah kita diserang?”

“Belum tentu,” jawab Rafael.

Namun baru saja ia selesai berbicara, lampu rumah tiba-tiba padam.

Seluruh halaman menjadi gelap.

“Semua mundur!”

Rafael berteriak.

Fedro segera menarik Clara mendekat.

Adrian membawa Amara ke belakang kendaraan.

Alena dan Aria berdiri berdampingan.

Raka yang baru tiba langsung mengeluarkan ponselnya.

“Aku akan memeriksa bagian belakang.”

“Jangan sendiri,” kata Rafael.

Raka mengangguk.

“Aku ikut.”

Mereka bergerak menuju sisi rumah.

Beberapa detik kemudian terdengar suara benturan.

Brak!

Clara menegang.

“Raka!”

Tidak ada jawaban.

Fedro memegang bahunya.

“Jangan bergerak.”

Tiba-tiba lampu kembali menyala.

Namun keadaan rumah berubah.

Pintu utama terbuka.

Seorang penjaga tergeletak di dekat tangga.

Clara menutup mulut.

“Ya Tuhan…”

Adrian langsung berlari.

“Jangan!”

Rafael menahannya.

“Kita tidak tahu apakah masih ada orang di dalam.”

Adrian berhenti.

Ia menatap rumahnya dengan wajah penuh kecemasan.

Kemudian terdengar suara dari dalam.

“Adrian.”

Semua membeku.

Suara itu terdengar sangat familiar.

Adrian menatap pintu.

“Tidak mungkin.”

Clara menatapnya.

“Papi kenal suara itu?”

Adrian tidak menjawab.

Suara tersebut terdengar lagi.

“Masuklah.”

Adrian mengepalkan tangan.

“Dia sudah kembali.”

“Siapa?” tanya Clara.

Adrian menatap putrinya.

“Victor.”

 

Mereka memasuki rumah dengan sangat hati-hati.

Rafael berjalan paling depan.

Fedro berada di samping Clara.

Alena dan Aria mengikuti di belakang.

Ruang tamu terlihat berantakan.

Beberapa dokumen berserakan di lantai.

Namun tidak ada tanda Victor.

“Victor!” teriak Adrian.

Tidak ada jawaban.

Kemudian televisi menyala sendiri.

Sebuah video muncul.

Di layar terlihat seseorang yang wajahnya sengaja disamarkan.

Clara langsung berdiri.

Sosok itu berbicara.

“Selamat datang kembali, keluarga Evellyn.”

Adrian menatap layar dengan wajah tegang.

“Victor.”

Suara pria itu tertawa kecil.

“Kau masih mengingatku.”

“Tunjukkan wajahmu.”

“Belum waktunya.”

Clara melangkah maju.

“Kenapa kau mengejar keluargaku?”

Sosok itu terdiam.

Kemudian berkata,

“Bukan keluargamu yang aku kejar.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu siapa?”

“Kunci.”

Clara memegang liontinnya.

“E-17?”

“Benar.”

Sosok itu tertawa.

“Selama bertahun-tahun kami mencari tiga bagian kunci tersebut.”

Alena mengepalkan tangannya.

“Kami tidak akan memberikannya.”

“Tidak perlu.”

Suara itu terdengar santai.

“Kalian akan menyerahkannya sendiri.”

Clara menatap layar.

“Jangan terlalu yakin.”

“Kamu masih keras kepala seperti ibumu.”

Clara langsung terdiam.

“Ibumu juga mengatakan hal yang sama sebelum dia meninggal.”

Adrian maju.

“Jangan bawa istriku ke dalam masalah ini.”

Sosok itu tertawa.

“Adrian, justru kematian istrimu adalah awal dari semuanya.”

Clara menatap ayahnya.

“Papi.”

Adrian tidak menjawab.

Clara kembali menatap layar.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu?”

Sosok itu terdiam cukup lama.

Kemudian berkata,

“Tanyakan kepada ayahmu.”

Layar tiba-tiba mati.

Clara langsung menoleh kepada Adrian.

“Papi.”

Adrian memejamkan mata.

“Ayah sudah menjelaskan semuanya.”

“Belum.”

Clara berjalan mendekatinya.

“Papi menyembunyikan sesuatu lagi.”

Amara menundukkan kepala.

Clara menatap kedua orang tuanya.

“Apa yang terjadi pada Ibu di gudang itu?”

Adrian menarik napas panjang.

“Waktu itu…”

Ia berhenti.

“Papi datang terlambat.”

Clara terdiam.

“Ibumu sudah berada di sana.”

“Bersama Victor?”

“Ya.”

“Apa yang terjadi?”

Adrian menatap putrinya.

“Victor bukan orang yang membunuh ibumu.”

Clara membeku.

“Lalu siapa?”

Adrian tidak menjawab.

Amara akhirnya berkata,

“Orang yang membunuh ibumu adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarga kita.”

Clara merasa tubuhnya menegang.

“Siapa?”

Amara menangis.

“Kami tidak pernah menemukan bukti yang cukup.”

Clara mengepalkan tangan.

“Papi!”

Adrian akhirnya berkata,

“Kami mencurigai salah satu orang yang bekerja untuk keluarga Evellyn.”

“Namanya?”

Adrian menatap Rafael.

Clara mengikuti tatapan ayahnya.

Rafael membeku.

“Apa?”

Clara menatapnya.

“Kenapa Papi melihat Rafael?”

Adrian menggeleng.

“Bukan Rafael.”

Rafael menghela napas lega.

“Lalu siapa?”

Adrian menjawab,

“Orang yang menghilang setelah kematian ibumu.”

Clara mengerutkan kening.

“Siapa?”

“Pamanmu.”

Clara terdiam.

“Aku punya paman?”

Adrian mengangguk.

“Namanya Gabriel.”

Amara langsung memalingkan wajah.

Clara semakin bingung.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena Gabriel adalah orang pertama yang kami curigai.”

 

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.

Semua langsung menoleh.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian seseorang muncul di tangga.

Clara membelalakkan mata.

“Gabriel?”

Seorang pria paruh baya berdiri di sana.

Wajahnya tenang.

Ia tersenyum.

“Adrian.”

Adrian langsung berdiri di depan Amara.

“Kau.”

Gabriel menatapnya.

“Sudah lama sekali.”

Clara menatap pria itu.

“Apakah kamu paman kami?”

Gabriel mengangguk.

“Ya.”

Alena maju.

“Kenapa kamu kembali?”

Gabriel tersenyum.

“Karena waktunya sudah tiba.”

Aria memegang cincin hitamnya.

“Kamu bagian dari E-17?”

Gabriel tertawa.

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Gabriel menatap ketiga saudari itu.

“Aku orang yang selama ini menjaga kalian.”

Clara mengerutkan kening.

“Menjaga?”

“Benar.”

“Kalau begitu kenapa Papi mencurigaimu?”

Gabriel menatap Adrian.

“Karena Adrian tidak pernah mengetahui seluruh kebenaran.”

Adrian mengepalkan tangan.

“Jangan memutarbalikkan keadaan.”

Gabriel tersenyum.

“Kau masih sama.”

Ia kemudian menatap Clara.

“Namun sekarang semuanya sudah berubah.”

Clara bertanya,

“Apakah kamu membunuh ibuku?”

Ruangan langsung sunyi.

Gabriel tidak menjawab.

Clara menunggu.

Akhirnya Gabriel berkata,

“Tidak.”

Clara menghela napas.

“Kalau begitu siapa?”

Gabriel menatap Aria.

Aria terlihat terkejut.

“Kenapa melihatku?”

Gabriel menjawab,

“Karena orang yang membunuh ibumu…”

Ia berhenti.

“…adalah orang yang membesarkanmu.”

Aria membeku.

“Apa?”

Amara menutup mulutnya.

Adrian langsung berteriak,

“Gabriel, cukup!”

Namun Clara sudah memahami sesuatu.

“Aria.”

Aria menatapnya.

“Siapa yang membesarkanmu?”

Aria mundur selangkah.

“Aku…”

Suaranya bergetar.

“Aku dibesarkan oleh keluarga Harland.”

Gabriel mengangguk.

“Benar.”

Aria menatapnya.

“Lalu apa hubungannya?”

Gabriel menjawab,

“Keluarga Harland adalah bagian dari jaringan E-17.”

Aria tampak tidak percaya.

“Tidak.”

“Mereka mengambilmu bukan hanya untuk melindungimu.”

Gabriel menatapnya.

“Mereka mengambilmu karena kamu adalah bagian dari rencana mereka.”

Clara langsung mendekati Aria.

“Jangan percaya semuanya begitu saja.”

Aria menatap Gabriel dengan mata berkaca-kaca.

“Kau bohong.”

“Aku berharap begitu.”

Gabriel mengambil sebuah foto lama dari sakunya.

Ia meletakkannya di meja.

Foto seorang wanita sedang menggendong bayi.

Aria menatap foto tersebut.

“Itu…”

“Itu ibumu.”

Aria membeku.

“Bukan.”

Gabriel menunjuk pria di samping wanita itu.

“Dan pria itu adalah kepala keluarga Harland.”

Aria menggenggam foto tersebut.

Tangannya gemetar.

“Kenapa?”

Gabriel berkata,

“Karena ibumu pernah mencoba melarikan diri dari mereka.”

Clara menatap Adrian.

“Jadi Ibu mencoba menyelamatkan Aria?”

Adrian mengangguk perlahan.

“Ya.”

Aria menangis.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Amara mendekat.

“Karena kami takut mereka akan menemukanmu.”

Aria menatap Amara.

“Jadi kalian sebenarnya tidak membuangku?”

Amara menggeleng.

“Kami menyelamatkanmu.”

Aria menutup wajahnya.

Clara memeluk adiknya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Namun suasana kembali berubah ketika ponsel Gabriel berdering.

Ia melihat layar.

Wajahnya berubah.

Clara memperhatikan.

“Siapa?”

Gabriel tidak menjawab.

Ponselnya kembali berdering.

Kemudian sebuah pesan masuk.

Gabriel membukanya.

Clara sempat melihat tulisan di layar.

Kau terlalu banyak bicara.

Gabriel langsung menghapus pesan tersebut.

Namun terlambat.

Rafael sudah melihatnya.

“Gabriel.”

Pria itu menoleh.

“Kamu bekerja untuk siapa?”

Gabriel terdiam.

Raka yang baru kembali masuk ke ruangan.

“Aku sudah memeriksa sekitar rumah.”

Ia berhenti ketika melihat Gabriel.

“Siapa dia?”

Clara menjawab,

“Paman kami.”

Raka menatap Gabriel dengan curiga.

Kemudian ia berkata,

“Dia bukan orang yang masuk ke sistem keamanan.”

Gabriel mengerutkan kening.

“Apa?”

Raka menunjukkan layar ponselnya.

“Orang yang meretas sistem memakai akses internal.”

Semua menoleh kepada Adrian.

Adrian terkejut.

“Mustahil.”

Raka menggeleng.

“Bukan mustahil.”

Ia menunjuk daftar akses.

“Ada satu akun yang digunakan.”

Clara mendekat.

“Punya siapa?”

Raka menatap layar.

“Rafael.”

Semua membeku.

Rafael langsung menegang.

“Apa?”

Raka menunjukkan data tersebut.

“ID keamananmu digunakan dua puluh menit lalu.”

Clara menatap Rafael.

“Rafael?”

Rafael menggeleng.

“Aku tidak melakukannya.”

Fedro langsung berdiri di depan Clara.

“Jangan ada yang bergerak.”

Rafael menatap Clara.

“Aku bersumpah, bukan aku.”

Namun sebelum siapa pun berbicara, Gabriel tersenyum tipis.

“Sekarang kalian mengerti?”

Clara menatapnya.

“Mengerti apa?”

Gabriel berkata,

“Musuh tidak perlu masuk ke rumah kalian.”

Ia menunjuk Rafael.

“Mereka hanya perlu menggunakan nama orang yang kalian percaya.”

Rafael mengepalkan tangan.

“Ini jebakan.”

Clara mengangguk.

“Aku tahu.”

Namun kemudian layar ponsel Rafael menyala.

Sebuah pesan masuk.

Kau masih percaya padanya?

Di bawahnya terdapat sebuah foto.

Foto Rafael sedang berbicara dengan Damian beberapa hari sebelumnya.

Clara menatap foto itu.

Wajah Rafael langsung pucat.

“Aku bisa menjelaskan.”

Clara tidak berkata apa-apa.

Fedro berdiri semakin waspada.

Sementara Alena menatap Rafael dengan penuh kecurigaan.

Aria menggenggam tangan Clara.

Gabriel justru tersenyum.

Dan dari luar rumah terdengar suara mesin motor.

Banyak sekali.

Raka melihat ke arah jendela.

“Tidak mungkin…”

Clara mendekat.

Di luar pagar, puluhan motor berhenti.

Namun kali ini mereka tidak mengenakan lambang burung hitam.

Mereka menggunakan lambang ular merah.

Geng Serigala Merah telah menemukan mereka.

Rafael menatap Clara.

“Percaya padaku.”

Clara menatapnya dalam.

“Aku ingin percaya.”

Ia mengepalkan tangan.

“Tapi sekarang…”

Tatapannya beralih kepada foto Damian.

“…aku membutuhkan bukti.”

Suara mesin motor semakin keras.

Fedro berdiri di samping Clara.

“Kalau mereka datang untuk perang…”

Clara menatap keluar jendela.

“...mereka akan mendapatkannya.”

Namun sebelum mereka bergerak, ponsel Clara berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan keluar dari rumah.

Musuh yang sebenarnya bukan berada di luar.

Dia sudah berada di dalam.

Clara perlahan mengangkat wajah.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Adrian.

Amara.

Alena.

Aria.

Fedro.

Raka.

Rafael.

Gabriel.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Kemudian lampu kembali padam.

Dalam kegelapan, terdengar suara seseorang berbisik tepat di belakang Clara.

“Jangan percaya siapa pun.”

Clara berbalik cepat.

Namun tidak ada siapa pun.

Ketika lampu darurat menyala, semua orang masih berada di tempat masing-masing.

Kecuali satu hal.

Flashdisk E-17 yang sebelumnya berada di tangan Aria…

telah menghilang.

Aria membelalakkan mata.

“Tidak…”

Clara menatapnya.

“Siapa yang mengambilnya?”

Tidak ada jawaban.

Dan untuk pertama kalinya, ketiga saudari Evellyn menyadari bahwa musuh mereka mungkin sudah berada di tengah-tengah keluarga sendiri.

Permainan E-17 baru saja memasuki tahap berikutnya.

Dan kali ini, pengkhianat tidak datang dari luar.

Ia sudah berada di antara mereka.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!