NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Malam Sebelum Apel Besar

Malam sebelum apel besar, tiga map tersegel berjajar di meja Letkol Yusuf.

Map pertama berisi keterangan Adi dan konsep surat yang diberikan Hartono. Map kedua menyimpan surat anonim asli beserta hasil pemeriksaan tulisan. Map ketiga berisi aliran santunan mendiang Letda Suryadi Wijaya, buku kas lama, dan keterangan pemilik rekening perantara.

Kapten Iwan memeriksa nomor segel untuk ketiga kalinya.

"Pengakuan saksi sudah direkam dan ditandatangani tanpa tekanan," katanya. "Hasil pemeriksaan menyatakan koreksi pada konsep cocok dengan contoh tulisan Hartono. Paraf di buku kas juga ditambahkan setelah tinta catatan utama mengering."

Yusuf menyusun urutan penyampaian. "Biarkan Hartono bicara dulu. Jangan potong. Setelah tuduhannya lengkap, baru Adi masuk."

"Lalu konsep dan surat asli," jawab Iwan. "Setelah itu aliran dana."

Bara berdiri di ujung meja. Seragamnya sudah diganti, tetapi ia belum berniat pulang. "Jangan sebut nama Arum lebih dari yang diperlukan. Pilihannya bukan bahan tontonan."

Yusuf mengangguk. "Kita bahas tindakannya Hartono, bukan mengadili perempuan yang ia fitnah."

Di luar, markas mulai sepi. Hanya bunyi mesin kipas dan langkah petugas jaga yang terdengar melalui koridor. Iwan memasukkan ketiga map ke peti penyimpanan portabel yang akan dibawa ke aula esok pagi.

"Danbrig sudah menerima laporan ringkas," katanya. "Beliau belum mengumumkan akan hadir."

"Lebih baik," ujar Yusuf. "Hartono akan lebih berani kalau merasa hanya menghadapi kita."

Bara memandang jam. Hampir pukul sepuluh malam.

"Pulanglah," kata Yusuf. "Besok kamu perlu kepala jernih."

"Saya masih harus memastikan Arum tidak datang tanpa tahu apa yang akan didengarnya."

"Katakan secukupnya. Jangan biarkan dia mengetahui kematian ayahnya melalui angka yang dilempar di depan satu batalyon."

Kalimat itu membuat rahang Bara mengeras. Justru itulah yang paling ia takutkan.

Di Blok C-3, Arum belum tidur. Ia duduk di dekat meja makan sambil melipat saputangan yang baru selesai dijahit. Bu Yanti menemani dengan dua cangkir teh jahe yang mulai dingin.

"Katanya besok ada apel besar," ujar Bu Yanti pelan. "Orang-orang bilang ada yang mau menyerang Pak Mayor di depan komandan."

Arum berhenti melipat. "Dari mana Bu dengar?"

"Dari istri petugas aula. Hartono meminta tempat bicara. Bu Lastri juga mondar-mandir cari kabar."

Arum menatap jendela. Cahaya ruang tamu memantulkan wajahnya sendiri di kaca, lebih pucat daripada biasanya.

"Kalau surat itu tentang saya, apakah saya membuat beliau susah?"

Bu Yanti meletakkan cangkir. "Kamu sudah menjawab pilihanmu. Yang membuat susah adalah orang yang memalsukan cerita. Jangan ambil dosa orang lain lalu kamu pikul sendiri."

"Tapi kenaikan pangkat Pak Mayor bisa tertunda."

"Kalau begitu, berdirilah di tempat yang benar. Bukan lari karena takut orang bicara."

Arum meraba tepi saputangan. Pada salah satu sudutnya, ia menyulam huruf B kecil dengan benang hijau gelap. Tidak mencolok, hanya cukup untuk dikenali pemiliknya.

"Saya ingin hadir besok."

Bu Yanti meneliti wajahnya. "Yakin?"

"Saya takut. Tapi kalau mereka memakai nama saya untuk menjatuhkan beliau, saya tidak mau bersembunyi."

Pintu depan terbuka setelah ketukan singkat. Bara masuk dan berhenti ketika melihat keduanya masih terjaga.

"Kenapa belum tidur?"

Bu Yanti bangkit. "Menunggu orang yang juga belum pulang. Saya buatkan minum lagi."

"Tidak usah. Terima kasih sudah menemani."

Bu Yanti memahami isyarat itu. Ia mengambil selendangnya dan pamit, tetapi sebelum pergi ia menepuk tangan Arum. "Kamu tidak sendirian."

Setelah pintu tertutup, Bara duduk berhadapan dengan Arum.

"Besok Hartono mungkin membacakan tuduhan bahwa aku merusak perjodohanmu dan menyalahgunakan rumah dinas."

Arum mengangkat mata. "Apakah ada bukti untuk melawannya?"

"Ada."

"Cukup?"

"Cukup untuk membuktikan suratnya palsu. Ada hal lain yang sedang diperiksa, tetapi aku belum bisa menjelaskan semuanya malam ini."

Arum menahan banyak pertanyaan. Ia ingat janji Bara bahwa dirinya akan menjadi orang pertama yang tahu ketika bukti cukup. Maka ia tidak memaksa.

"Saya akan hadir."

"Kamu tidak wajib."

"Saya tahu." Ia menarik napas. "Justru karena itu saya memilih hadir."

Bara menatapnya lama. Di hadapannya bukan lagi perempuan yang memungut uang receh dari tanah sambil menelan penghinaan. Ketakutan masih ada, tetapi Arum tidak membiarkannya memilihkan arah.

"Duduklah di sisi Persit bersama Bu Yanti," katanya. "Kalau suasana terlalu berat, keluar. Tidak perlu meminta izin."

"Baik, Pak Mayor."

Arum mendorong saputangan yang tadi dijahit ke arahnya. "Ini untuk besok. Jahitannya tidak bagus, tapi..."

Bara mengambilnya. Ia melihat huruf kecil di sudut kain, lalu menyimpannya di saku dada.

"Bagus."

"Hanya satu huruf."

"Cukup untuk tahu siapa yang membuatnya."

Arum bangkit, mengambil seragam lapangan Bara yang sudah disikat bersih. Ia memeriksa kancing, tanda nama, dan lipatan kerah. Gerakannya sederhana, tetapi Bara membiarkannya menyiapkan semua tanpa mengambil alih.

"Pak Mayor," katanya sambil merapikan lengan seragam, "apa pun yang mereka katakan besok, saya akan menjawab kalau ditanya. Saya tidak akan membiarkan orang mengubah pilihan saya menjadi senjata."

Bara menutup tangannya di atas jemari Arum. "Besok kamu tidak perlu menyelamatkanku. Berdiri saja sebagai dirimu sendiri."

Di markas, Yusuf masih belum mematikan lampu. Iwan kembali membawa hasil terakhir dari pemeriksa dokumen. Ia menambahkan lembar itu ke map kedua, menandatangani daftar serah terima, lalu menyegel peti.

Di rumah Prasetyo, Hartono juga belum tidur. Ia berlatih mengucapkan tuduhan di depan cermin, membayangkan Bara terpaksa menjawab di depan seluruh satuan. Bu Yatmi melipat pakaian dengan tangan gemetar.

"Kalau mereka punya bukti?" tanyanya.

"Kalau punya, aku sudah dipanggil."

Keyakinan palsu itu menjadi satu-satunya penopang mereka malam itu.

Menjelang fajar, Bara duduk di ruang tamu Blok C-3 dengan seragam siap pakai di sampingnya. Arum tertidur sebentar di kursi, kepalanya bersandar pada dinding. Ia tidak membangunkannya.

Ketika Arum terjaga, ia menemukan secarik catatan di meja: duduk bersama Bu Yanti, bawa air, keluar jika sesak. Bukan kalimat romantis, tetapi perhatian Bara selalu datang dalam bentuk petunjuk yang bisa dipakai.

Arum membasuh wajah, mengenakan pakaian paling rapi yang dimilikinya, lalu melipat selendang ayahnya ke dalam tas. Ia belum tahu mengapa pagi itu ingin membawanya. Mungkin karena nama ayahnya adalah satu-satunya asal-usul yang selalu ia percaya, meski tak pernah mampu ia buktikan.

Bara memeriksa penampilannya dari ambang pintu. "Sudah makan?"

"Sedikit."

Ia meletakkan sebungkus roti di atas tas Arum. "Habiskan sebelum apel."

Arum hampir tersenyum. Bahkan ketika satu batalyon hendak menjadi saksi pertarungan, lelaki itu masih sempat memikirkan perutnya.

Di markas, peti berisi tiga rantai bukti sudah berada di bawah penjagaan dua petugas. Di rumah Prasetyo, Hartono mengenakan seragam terbaiknya seolah hendak menerima kemenangan.

Langit di atas asrama perlahan berubah pucat.

Lalu dari arah lapangan, suara persiapan terompet pertama terdengar.

Apel besar akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!