NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aldo menghela nafas panjang dan melepaskan ketegangan di otot bahunya.

Dia menatap tajam ke arah Kevin yang sedang menatap layar dengan mata memerah karena marah dan malu.

"Uang tidak bisa membeli selera lidah orang orang yang jujur, Kevin," gumam Aldo sangat pelan.

Kevin menendang loker besi di dekatnya dengan keras.

Brak.

"Ini belum berakhir, gembel! Aku hanya kurang beruntung dengan selera norak para kritikus itu!" teriak Kevin ke arah Aldo.

"Terima saja kekalahanmu dengan jantan, Kapten Kevin," balas Aldo dingin.

Teeet.

Suara sirine dari arah pintu penghubung galeri memotong pertengkaran mereka berdua.

Seorang kru televisi masuk dengan membawa papan klip di tangannya.

"Seluruh peserta diminta segera masuk kembali ke dalam galeri utama sekarang juga," perintah kru tersebut.

"Juri sudah menunggu kalian untuk memberikan evaluasi akhir."

Para peserta berjalan beriringan masuk ke dalam galeri dengan perasaan yang campur aduk.

Tim Biru berjalan dengan dada membusung sementara Tim Merah berjalan menunduk bersiap menerima hukuman.

Ketiga juri sudah berdiri di podium dengan wajah yang jauh lebih serius dan menyeramkan dari sebelumnya.

Mereka sama sekali tidak terlihat senang meskipun salah satu tim berhasil memenangkan hati tamu VIP.

"Berbaris di depan meja masing masing," perintah Chef Arya dengan suara baritonnya yang menggema.

Semua peserta langsung menempati posisi mereka dengan rapi dan hening.

"Tim Biru, selamat atas kemenangan telak kalian di ruang makan VIP siang ini," ucap Chef Renata memecah keheningan.

"Garang Asem Salmon buatan kalian sukses memberikan kejutan yang tidak terduga bagi lidah para kritikus."

"Terima kasih banyak, Chef," jawab seluruh anggota Tim Biru serempak dengan senyum lebar.

Namun senyum mereka langsung lenyap saat Chef Arya memukul podium dengan telapak tangannya.

Brak.

"Jangan tersenyum dulu, Tim Biru. Karena aku punya masalah yang sangat besar dengan cara kerja kalian di dapur tadi," ancam Chef Arya.

Suasana galeri mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.

Danang mulai berkeringat dingin lagi dan menelan ludahnya dengan susah payah.

"Kami memantau semua pergerakan kalian melalui belasan kamera yang ada di langit langit ruangan ini," lanjut Chef Arya tajam.

"Danang, maju ke depan sekarang juga."

Nama Danang dipanggil dengan nada yang sangat menyeramkan bak panggilan dari malaikat maut.

Danang melangkah maju dengan kaki gemetar dan berdiri tepat di tengah lorong menghadap podium.

"I-iya, Chef," jawab Danang pelan.

"Sebagai kapten yang kalian pilih sendiri, apa yang sebenarnya terjadi di pertengahan waktu memasak tadi?" interogasi Chef Arya.

Danang memutar otaknya mencari alasan yang paling masuk akal untuk menyelamatkan wajahnya.

"S-saya menyadari ikan salmonnya terlalu hancur untuk disajikan secara pan seared, Chef."

"Jadi saya memutuskan untuk merubah menu menjadi garang asem agar sisa dagingnya bisa terselamatkan."

Mendengar kebohongan besar itu, mata Aldo langsung memicing tajam namun dia tetap diam di posisinya.

Beberapa anggota Tim Biru juga terlihat tidak nyaman namun mereka takut untuk memotong pembicaraan.

"Oh, jadi itu murni ide cemerlang dari otakmu sendiri?" tanya Chef Bram sambil tersenyum sinis.

"Benar, Chef. Saya yang memberikan komando penuh untuk merubah menu tersebut," jawab Danang makin berani berbohong.

Chef Arya mengambil sebuah tablet elektronik dari atas meja dan memutar sebuah rekaman video.

Dia menyambungkan layar tablet itu ke layar besar di belakang podium agar semua orang bisa melihatnya.

Rekaman itu menampilkan secara jelas momen saat Danang menghancurkan lima puluh potong salmon di atas wajan.

Dan yang paling krusial, rekaman itu memutar dengan jelas suara Aldo saat merebut spatula dari tangan Danang.

"Mulai detik ini, aku yang mengambil alih komando dapur Tim Biru," suara rekaman Aldo bergema ke seluruh ruangan.

Wajah Danang seketika berubah sepucat mayat saat kebohongannya ditelanjangi di depan semua orang.

Keringat dingin mengalir deras membasahi kerah celemek birunya.

"Kau pembohong besar yang tidak punya urat malu sama sekali, Danang," desis Chef Arya dengan mata menyala marah.

"K-kamera itu pasti salah rekam, Chef. S-saya bisa jelaskan," gagap Danang mencoba membela diri.

"Diam! Aku tidak butuh alasan sampah dari seorang kapten pecundang sepertimu!" bentak Chef Arya membungkamnya.

Chef Renata ikut menatap Danang dengan raut wajah sangat kecewa.

"Seorang kapten boleh melakukan kesalahan dalam perhitungan resep."

"Tapi seorang kapten yang mencuri hasil keringat anggotanya untuk mencari muka adalah hal yang paling menjijikkan di dapur ini."

"Aldo Raditya, maju ke depan dan berdiri di sebelah kaptenmu ini," perintah Chef Bram.

Aldo melangkah maju dengan tenang dan berdiri tegap dengan jarak dua langkah dari Danang.

"Katakan padaku, Aldo. Atas dasar apa kau berani merebut posisi kapten secara paksa di tengah waktu memasak?" tanya Chef Arya.

Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah jebakan yang bisa berujung pada diskualifikasi karena melanggar aturan kepemimpinan.

Aldo menatap mata Chef Arya tanpa rasa takut sedikitpun dan menjawab dengan lantang.

"Atas dasar insting bertahan hidup dan rasa tanggung jawab terhadap tim, Chef."

"Jelaskan maksudmu," tuntut Chef Arya melipat tangannya.

"Kapten Danang telah menghancurkan satu satunya protein utama kami dan dia mematung karena panik."

"Jika saya membiarkannya terus memimpin, Tim Biru pasti akan menghidangkan piring kosong ke hadapan tamu VIP."

"Saya lebih memilih melanggar aturan dan merebut paksa dapur daripada harus pulang membawa kekalahan yang memalukan."

Jawaban Aldo yang jujur, logis, dan penuh ketegasan itu membuat suasana galeri menjadi sunyi.

Bahkan Kevin yang berada di barisan Tim Merah tidak bisa menemukan celah untuk mengejek jawaban tersebut.

Chef Arya terdiam beberapa saat lalu menghela nafas panjang.

"Di dunia militer, tindakanmu ini disebut desersi atau pemberontakan yang hukumannya adalah hukuman mati," ucap Chef Arya dingin.

Jantung Rina berdetak sangat cepat mendoakan agar Aldo tidak diusir dari galeri.

"Tapi di dalam dapur profesional, kemampuan untuk mengambil alih krisis dan menyelamatkan hidangan adalah nyawa dari sebuah restoran."

"Kau memiliki insting seorang koki kepala sejati, Aldo."

Pujian dari Chef Arya tersebut langsung membuat ketegangan di dada Aldo menghilang seketika.

"Namun, apa yang kau lakukan tetap sebuah pelanggaran struktural yang tidak bisa dibenarkan sepenuhnya."

Chef Arya menunjuk ke arah Danang yang masih berdiri gemetar.

"Dan kau, Danang. Kegagalanmu dan kebohonganmu sudah mencoreng kehormatan galeri ini."

"Tapi karena Tim Biru berhasil memenangkan tantangan, aturan kompetisi melarang kami untuk mengeliminasi kalian hari ini."

Danang menghela nafas sangat lega hingga tubuhnya sedikit merosot ke bawah.

"Tim Biru aman dari zona eliminasi hari ini, kalian semua boleh naik ke atas balkon keselamatan," perintah Chef Renata.

Sorak sorai pelan kembali terdengar dan anggota Tim Biru mulai berjalan menaiki tangga menuju balkon di lantai dua.

Aldo berbalik untuk menyusul rekan rekannya namun panggilan Chef Arya kembali menghentikan langkahnya.

"Tunggu, Aldo. Kau tidak ikut naik ke atas balkon."

Langkah Aldo terhenti dan dia menoleh ke belakang dengan wajah bingung.

"M-maksud Anda apa, Chef? Bukankah seluruh Tim Biru aman?" tanya Aldo mencoba tenang.

"Benar, Tim Biru aman. Tapi tindakan pemberontakanmu tadi tidak bisa dilepaskan begitu saja tanpa konsekuensi."

"Sebagai hukuman karena melangkahi wewenang kapten, kau akan melepaskan celemek birumu."

Mata Aldo membulat sempurna dan Rina yang baru setengah jalan menaiki tangga langsung menjerit kaget.

"Kau akan bergabung dengan Tim Merah di bawah sana dan ikut bertarung dalam Pressure Test malam ini," vonis mutlak Chef Arya.

Suasana galeri langsung dipenuhi suara gumaman terkejut dari seluruh peserta.

Hukuman ini benar benar di luar dugaan karena Aldo justru dihukum masuk ke zona eliminasi padahal dia yang memenangkan timnya.

Di barisan Tim Merah, Kevin langsung tersenyum menyeringai sangat lebar seperti iblis yang mendapatkan mangsanya.

"Selamat datang di neraka, gembel," gumam Kevin pelan sambil menatap Aldo yang mematung.

Aldo menelan ludahnya perlahan dan menatap ketiga juri dengan rahang yang mengeras.

"Saya menerima konsekuensinya, Chef," jawab Aldo pada akhirnya.

Dia melepaskan celemek birunya dan berjalan menuju barisan Tim Merah yang sedang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.

Pertarungan hidup dan mati kini benar benar berada di depan matanya sendiri.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
makasi crazy up nya
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Was pray
Rina mentalnya tempe ketakutan mesti perut mules. kok gak pusing atau yg lain.. masak hobi kok perut mules. 🤭
Was pray
Aldi sering kalah duluan bangun paginya sama Kelvin
Was pray: si Aldo thooor...
total 2 replies
sitanggang
terlalu monoton, hanya seputaran galery memasak saja. gak ada konteks diluar gallery , sprti org yg pinjamkan uang 50k atw kluarganya yg me onton di tv semisalnya🙄
kiyoe: kan Aldo yatim piatu kak
total 2 replies
ceuceu
di tunggu up nya thor
Was pray
nah benar kan? sejelek apapun hasil masakan Kevin tetap lolos, lama lama jadi kurang greget baca novel ini
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
ceuceu
aneh kok bisa jojo bertahan pdhl ga bisa masak ceroboh,knp ga tereleiminasi dari awal thor,masak apa si jojo selama tanding?
ceuceu
baru tau tehnik membuka kluwek
kiyoe: wkwk berarti belum pernah masak pakai kluwek yaa kak 🤭
total 1 replies
ceuceu
danang sotoy arogan
ceuceu
serakah bgt kevin
ceuceu
perjuangan seorang anak demi masa depan
Was pray
beberapa kali Kevin melakukan kesalahan dalam memasak tapi tetap juga lolos... ini ntar memasak bebek betutu yg amburadul juga lolos lagi kah?
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
kiyoe: Terimakasih kak selalu mensupport saya 🙏
total 1 replies
Was pray
Danang and Jojo selevel Danang sok pintar tapi o'on Jojo berpikir lemot tapi mau belajar walau pelan, kalau Dua koki ini digabungkan satu tim bisa mengundang tim damkar.... 🤣🤣🤣
Was pray
kok bisa lolos audisi si Jojo k as lau masak dop aja keasinan? ntar kalau Jojo bukan warung makan bisa bisa pembelinya bisa pada darah tinggi tuh..... 😄😄😄
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
Was pray
ya salah tim biru sendiri yg memilih Danang jadi kapten tim, kalau udah kacau baru menyesal
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!