Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Utang yang Menjerat
Satu setengah bulan setelah kejadian di arena berkuda, aku kembali ke Bekasi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.
Om Bram membutuhkan dokumen bermeterai diantar ke kantor notaris sebelum sore. Fikri terjebak rapat, Deni sedang mendampingi tamu perusahaan, dan aku tidak memiliki kelas setelah pukul dua belas. Aku menawarkan diri mengantar karena kantor itu hanya beberapa kilometer dari jalan menuju kontrakan lamaku.
Om Bram sempat menolak.
"Saya bisa pakai kurir resmi," katanya.
"Aku cuma mengantar amplop dan minta tanda terima. Supir tetap ikut."
Setelah memeriksa bahwa dokumen tidak memerlukan kewenangan khusus, dia setuju. Aku menandatangani daftar serah terima di kantor notaris dan mengirim foto tanda terima kepada Fikri.
Urusan seharusnya selesai di sana.
Namun saat mobil melewati jalan kecil dekat pasar, aku melihat seorang perempuan didorong ke dinding gang oleh laki-laki bertubuh besar.
Aku mengenali bajunya lebih dulu. Motif bunga yang sama pernah dipakai saat dia berdiri di depan gerbang sekolah dan menuduhku mempermalukan keluarga.
"Pak, pelan sedikit," kataku kepada sopir.
Mobil berhenti di sisi jalan yang tidak menghalangi lalu lintas. Dari balik kaca, wajah perempuan itu terlihat jelas.
Bu Winarsih.
Dia tampak lebih tua. Rambutnya dicat hitam tetapi akar putih terlihat, tubuhnya lebih berisi, dan riasan tebal tidak bisa menyembunyikan mata cekung. Bentuk tubuh tersebut mengingatkanku pada Bu Nar di Namira Boutique, tetapi aku belum berani menyatukan keduanya sebagai fakta.
Aku membuka album bertanda tanya di ponsel dan memperbesar foto buram dari butik. Sudut bahu, syal yang menutup rambut, dan bentuk tubuh memang mirip. Namun foto itu tidak menunjukkan wajah atau bekas luka dengan cukup jelas.
"Pak, jangan ambil foto orang di jalan," kataku ketika sopir hendak menawarkan bantuan. "Kita cuma lihat dari sini."
Aku tidak ingin rasa takut berubah menjadi pengawasan tanpa dasar. Jika Bu Nar benar Bu Win, aku membutuhkan bukti yang diperoleh secara wajar. Jika bukan, seorang pekerja toko tidak pantas dicurigai hanya karena tubuhnya menyerupai seseorang dari masa laluku.
Laki-laki di depannya menunjuk selembar kertas.
"Jatuh tempo sudah lewat dua minggu, Win," katanya. "Bang Sapri nggak bisa terus dengar alasan."
"Saya bayar kalau anak saya kirim uang."
"Reno di luar pulau sudah berbulan-bulan nggak kirim. Kamu masih main kartu, masih pinjam, lalu bilang tunggu anak."
Beberapa orang warung memperhatikan dari jauh. Tidak ada yang mendekat. Bang Sapri tidak memukul, tetapi suaranya sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar.
"Tiga hari," katanya. "Setelah itu barang kontrakan diambil sesuai perjanjian. Jangan lari lagi."
"Barang saya nggak cukup."
"Itu masalahmu."
Dia pergi bersama dua orang lain. Bu Win tetap berdiri di gang, memegang kertas yang kusut di tangannya.
Pemilik warung mendekat setelah Bang Sapri menjauh dan menanyakan apakah Bu Win membutuhkan air. Bu Win menepis tangannya. Dia masuk ke kontrakan sebentar, lalu keluar membawa telepon yang layarnya retak. Dari potongan percakapan, aku mendengar dia meminta pinjaman kepada seseorang dan ditolak.
"Saya akan bayar setelah dapat uang besar," katanya. "Tunggu beberapa hari."
Janji itu terdengar seperti semua janji lama yang pernah dia ucapkan. Tidak ada rencana, hanya keyakinan bahwa masalah berikutnya bisa menutup masalah sebelumnya.
Aku merasakan campuran emosi yang sulit disebut.
Perempuan itu pernah membiarkanku lapar, memukulku, mengambil peninggalan ibuku, dan menyerahkanku kepada rentenir. Melihatnya menghadapi akibat utang seharusnya terasa seperti keadilan.
Namun yang kurasakan bukan puas. Hanya lelah.
"Neng Sekar mau turun?" tanya sopir.
"Nggak."
Jika aku mendekat, Bu Win mungkin membuat keributan atau menganggapku datang untuk mempermalukannya. Aku juga tidak ingin membayar utang judi yang akan membuka pintu pinjaman baru.
Di sebelah gang ada warung sembako. Aku mengambil amplop kosong dari tas dan memasukkan lima ratus ribu rupiah, jumlah yang cukup untuk makanan beberapa hari tetapi tidak cukup menutup utang besar.
Aku menulis satu kalimat tanpa nama.
`Untuk makan. Bukan untuk berjudi atau membayar pinjaman baru.`
"Pak, bisa titip ke pemilik warung? Bilang berikan setelah kita pergi."
Sopir menatapku melalui kaca depan. "Kalau uang ini menimbulkan masalah?"
Pertanyaannya masuk akal. Aku meminta dia tetap di dekat mobil sementara aku sendiri berbicara kepada pemilik warung perempuan. Aku menjelaskan bahwa amplop itu bantuan sekali saja, tidak boleh dianggap janji pembayaran atau pengakuan atas utang Bu Win. Pemilik warung mengenal Bu Win dan bersedia menyerahkannya setelah mobil pergi.
Aku tidak turun untuk menemui Bu Win.
Mobil bergerak kembali. Dari kaca belakang, aku melihat pemilik warung memanggilnya dan memberikan amplop.
Bu Win membukanya di tempat.
Matanya membaca tulisan singkat itu, lalu kepalanya langsung terangkat ke arah mobil. Jarak kami sudah cukup jauh, tetapi aku tahu dia mengenali tulisanku.
Dia berlari beberapa langkah ke jalan.
"Sekar!"
Sopir memperlambat, menunggu perintahku.
"Terus jalan," kataku.
Suara Bu Win masih terdengar dari belakang.
"Kamu enak jadi anak orang kaya sekarang! Aku yang susah kamu kasih recehan begini?!"
Beberapa orang menoleh. Dia meremas amplop, lalu mengangkatnya seperti bukti penghinaan.
"Dulu kamu makan dari rumahku! Sekarang bayar utangku kalau memang merasa hebat!"
Aku menutup jendela yang sempat terbuka sedikit.
Tanganku dingin, tetapi tidak lagi gemetar seperti saat berusia enam belas. Kata-katanya tidak bisa mengubah kenyataan. Aku tidak berutang biaya hidup kepada orang yang mengambil warisanku dan mencoba menjualku. Bantuan tadi adalah pilihanku, bukan kewajiban.
Ponselku bergetar. Om Bram menanyakan apakah dokumen sudah sampai.
`Sudah. Tanda terima sudah kukirim ke Fikri.`
Aku tidak menceritakan pertemuan itu. Bukan karena ingin melindungi Bu Win atau menanggung sakit sendirian. Saat itu aku menilai kejadian tersebut selesai dan tidak ingin memberi perempuan itu ruang lebih besar dalam hidup kami.
Meski begitu, aku mengirim pesan kepada Dinda setelah mobil masuk jalan tol.
`Saya ketemu Bu Win. Dia terlilit utang lagi. Saya aman, masih sama supir.`
Dinda menelepon hampir seketika. Aku menjelaskan bahwa tidak ada kontak langsung dan kami sudah meninggalkan lokasi.
"Kamu akan bilang Om Bram?" tanyanya.
"Belum. Aku cuma lewat."
"Setidaknya simpan lokasi dan waktunya. Bukan buat membalas, buat jaga-jaga."
Aku menandai titik jalan pada peta dan menyimpan tanda terima notaris yang membuktikan alasan perjalananku. Saran itu terasa berlebihan, tetapi setelah Nadia dan arena berkuda, aku belajar bahwa firasat sebaiknya dicatat tanpa langsung dijadikan tuduhan.
Mobil berbelok di ujung jalan.
Sebelum gang hilang dari pandangan, aku melihat Bu Win tidak lagi berteriak. Dia berdiri diam sambil menatap kendaraan kami. Amplop masih diremas di satu tangan, sedangkan tangan lain perlahan meraih ponsel dari saku.
Tatapannya membuatku berpikir bahwa aku mungkin salah menganggap semuanya selesai.