NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Profesor Johan mengucek kedua matanya dengan kasar, rahang bawahnya nyaris jatuh menyentuh lantai saking terkejutnya.

"I-itu tidak mungkin... alatnya pasti rusak!" gumam Profesor Johan seperti orang linglung menatap kaca.

"Detak jantungnya kembali normal dengan tekanan darah yang sangat sempurna? Mustahil hal ini terjadi di dunia medis!"

Paman Hermawan yang sedang menelepon polisi langsung mematung kaku seperti patung batu.

Ponsel mahal di tangannya terlepas dan jatuh berantakan ke lantai, namun dia tidak mempedulikannya sama sekali.

Matanya melotot horor melihat ayahnya yang divonis mati lima menit lalu kini mulai membuka kelopak matanya secara perlahan.

Kiara yang terduduk di lantai ikut mendongak, matanya yang basah kini memancarkan cahaya kelegaan yang luar biasa besar.

Di dalam ruangan, Genta menyeka keringat di dahinya dan mencabut seluruh jarum hitam itu dengan sekali sapuan tangan.

Jarum-jarum itu kembali masuk ke dalam kantung beludru dan menghilang ditelan inventaris sistem tanpa jejak.

Kakek Kiara mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih silau menyesuaikan dengan cahaya lampu terang ICU.

Pandangannya jatuh pada sosok pemuda berseragam kebersihan lusuh yang berdiri menjulang santai di samping ranjangnya.

"Teknik akupuntur yang luar biasa ganas itu..." ucap Kakek Kiara dengan suara serak namun jelas di telinga Genta.

"Hanya ada satu orang gila di dunia ini yang berani menusuk titik kematian untuk memancing kehidupan."

Kakek tua itu mencoba bangun, Genta dengan sigap membantu menopang punggungnya dengan bantal.

"Kau... kau pasti murid dari kawan lamaku di Gunung Rinjani, bukan?" tanya kakek itu tersenyum haru.

Genta mengangguk pelan memberikan sedikit rasa hormat kepada pria yang sangat dihormati oleh mendiang gurunya.

"Benar Tuan Besar, namaku Genta, dan aku diutus ke sini untuk mengantarkan wasiat terakhir Guruku yang baru saja berpulang."

Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Kakek Kiara mendengar sahabat penolong hidupnya telah tiada.

"Orang tua keras kepala itu... dia bahkan masih mengirimkan muridnya untuk menyelamatkan nyawaku sekali lagi di akhir hidupnya."

Kakek Kiara memegang tangan Genta dengan erat, rasa syukur yang luar biasa memancar dari genggaman lemahnya.

"Terima kasih anak muda, kau mewarisi kehebatan gurumu dengan sangat sempurna."

Genta hanya tersenyum tipis merespons pujian itu, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu kaca.

Klik.

Pintu ruang ICU yang terkunci itu akhirnya dibuka lebar-lebar dari dalam oleh Genta.

Puluhan anggota keluarga Prameswari yang tadinya mengutuk Genta kini berdiri membeku di lorong, tidak ada satu pun yang berani melangkah masuk.

Genta melangkah keluar dengan santai, dia berhenti tepat di depan Profesor Johan yang masih gemetar ketakutan.

"Kau menyebut dirimu dokter bedah saraf nomor satu di negara ini?" tanya Genta dengan nada suara merendahkan yang sangat menusuk.

"Kau bahkan tidak bisa membedakan mana penyakit alami dan mana racun yang menyumbat pembuluh darah belasan tahun."

"Pulanglah, bakar ijazah medismu itu, dan jangan pernah berani memegang pisau bedah lagi jika matamu buta secara medis."

Profesor Johan menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memerah karena malu yang luar biasa menghancurkan harga dirinya seketika.

Dia tidak berani membalas sepatah kata pun, karena fakta kakek tua yang bernapas normal di dalam sana terlalu telak untuk dibantah.

Genta kemudian menggeser tatapannya ke arah Paman Hermawan yang wajahnya sepucat mayat berumur tiga hari.

"Dan kau paman yang terhormat," sapa Genta dengan senyum sinis yang mengintimidasi jiwa.

"Kupikir kau harus membatalkan panggilanmu ke polisi kota, karena ayahmu sepertinya belum berniat membagikan warisannya padamu hari ini."

Paman Hermawan mundur selangkah, keringat dingin membasahi seluruh punggung jas mahalnya melihat aura Genta.

Di saat semua orang masih dilanda syok berat, Kiara bangkit dari lantai dengan sisa tenaganya yang ada.

Wanita dingin yang selalu menjaga wibawanya itu berlari menghampiri Genta tanpa mempedulikan tatapan keluarganya yang kebingungan.

Bruk!

Kiara langsung memeluk erat tubuh Genta yang berbalut seragam kebersihan lusuh itu, menyembunyikan wajahnya yang menangis di dada suaminya.

Aroma keringat Genta bercampur dengan parfum mahal Kiara, menciptakan suasana yang aneh namun sangat menyentuh hati.

"Terima kasih... terima kasih Genta," isak Kiara berulang kali meremas kemeja usang Genta.

"Aku berhutang nyawa kakekku padamu, aku berhutang segalanya padamu hari ini."

Genta sedikit terkejut dengan pelukan mendadak ini, namun dia membiarkan istrinya itu menumpahkan sisa keputusasaannya.

Tangan Genta ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menepuk pelan punggung Kiara untuk menenangkannya seperti anak kecil.

"Sudah kubilang sejak awal, Nona Kiara," ucap Genta dengan suara santai yang khas dan percaya diri.

"Kematian harus meminta izinku dulu sebelum berani menyentuh orang di sekitarmu mulai sekarang."

Dari dalam ruangan, suara Kakek Kiara yang menggelegar penuh amarah memecah momen emosional suami istri tersebut.

"Hermawan! Masuk kau ke sini sekarang juga, dasar anak tidak tahu diuntung!" teriak Kakek Kiara murka.

"Aku mendengarmu berteriak meminta Kiara membagi harta saat aku meregang nyawa tadi di luar sana!"

Paman Hermawan langsung jatuh berlutut di lantai lorong, tubuhnya bergetar hebat menghadapi kemurkaan ayahnya yang bangkit dari kubur.

Sementara itu, di dalam kepala Genta, suara mekanis sistem menyala beruntun menyambut kemenangan mutlaknya hari ini.

Ding!

[Misi penyelamatan mustahil berhasil dieksekusi dengan sempurna.]

[Sistem mencatat peningkatan reputasi Master secara masif di kalangan elit keluarga Prameswari.]

[Membuka akses Toko Sistem Level 1 dan memberikan hadiah poin pengalaman medis tambahan.]

Senyum puas mengembang di wajah Genta sambil terus mengelus punggung istrinya yang masih terisak di pelukannya.

Permainan perebutan kekuasaan di kota metropolitan ini ternyata berjalan jauh lebih memuaskan dari yang dia rencanakan di gunung.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!