Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Di Bawah Meja Pak Renard
Karina tidak menjawab pertanyaan Renard malam itu.
Ia hanya berkata, "Kalau kamu ingin tahu siapa dia, tanya langsung kepadanya. Aku nggak akan menjawab pertanyaan yang bukan milikku."
Lalu ia menutup telepon.
Kalimat itu mengikuti Renard sampai Rabu siang.
Tanya langsung.
Masalahnya, ia tidak tahu harus bertanya kepada Liana atau Nona Terapis lebih dulu.
***
Liana masuk ke kantor Renard membawa kotak sampel dari divisi parfum. Tiga blotter diberi kode angka, dua vial disegel, dan formulir evaluasi dijepit pada papan tipis.
"Sampel untuk lini premium," katanya. "Tim minta keputusan sebelum jam tiga."
Renard melihat kotak itu, lalu melihat tangannya.
"Taruh di meja."
Liana menaruh semua sampel sesuai urutan. "Yang 03 punya ketahanan terbaik, tapi pembukanya terlalu tajam. Saya sarankan uji ulang dengan bergamot lebih rendah."
"Kamu sudah makan siang?"
"Sudah."
"Apa?"
"Nasi dan ayam. Bukan kopi."
Renard mengangguk puas. "Bagus."
Liana hendak keluar, tetapi melihat tangan pria itu terletak kaku di atas meja. Ibu jarinya berulang kali mengusap sisi telunjuk. Gerakan kecil yang sudah ia kenali sebagai tanda awal kegelisahan.
"Sejak kapan?"
"Sejak rapat pagi."
"Kenapa nggak bilang?"
"Karena aku masih bisa bekerja."
"Pena kemarin juga masih bisa dipakai sebelum patah."
Renard menatapnya. "Kamu menyamakan aku dengan alat tulis?"
"Alat tulis lebih mudah disuruh istirahat."
Sudut bibir Renard bergerak. Namun ketegangan di lehernya tidak hilang.
Liana menutup pintu sampai menyisakan celah dua jari. Di luar, Rizal, Bayu, dan Dimas masih berada di area kerja. Pintu yang terkunci justru akan mengundang lebih banyak pertanyaan.
"Lima menit," katanya. "Setelah itu kita evaluasi lagi."
"Kita?"
"Saya dan Bapak. Dokter kalau perlu."
Renard berdiri dari kursi. "Boleh?"
Ia mengulurkan tangan.
Liana menatap telapak itu, lalu meletakkan tangannya di sana. "Boleh."
Jari Renard menutup pergelangannya. Ibu jarinya menempel tepat di atas nadi, bergerak perlahan satu kali.
Denyut Liana melonjak.
"Terlalu kuat?" tanyanya.
"Nggak."
"Nadimu cepat."
"Bapak sedang memegangnya."
"Jadi aku penyebabnya?"
"Saya nggak bilang begitu."
"Tapi juga nggak menyangkal."
Liana menatap titik di antara alisnya, mencari jawaban aman. Renard menunggu. Ibu jarinya kembali bergerak di atas nadi, perlahan, seolah sedang membaca pengakuan dari setiap denyut.
"Detak jantung bisa naik karena banyak hal," kata Liana akhirnya.
"Contohnya?"
"Kafein. Stres. Kurang tidur. Atasan yang terlalu banyak bertanya."
"Kamu minum kopi?"
"Nggak."
"Sudah makan. Tidurmu tujuh jam menurut laporan perjalanan. Berarti tinggal satu."
"Stres," jawab Liana cepat.
Renard tersenyum tipis. "Tentu."
Panas menjalar sampai telinga Liana. Ia seharusnya menarik tangan, tetapi wajah Renard sudah tidak sepucat tadi. Alasan profesional membuatnya bertahan. Alasan lain tidak berani ia beri nama.
"Itu penjelasan medis?"
"Itu keluhan pegawai."
Renard melonggarkan genggaman, tetapi tidak melepaskan. Panas di telapak tangannya berkurang sedikit demi sedikit. Aroma melati-kamboja dari kulit Liana menekan gelombang mual yang sejak pagi mengganggunya.
Ia menarik Liana setengah langkah lebih dekat.
"Pak Renard."
"Kamu boleh berhenti."
Liana tidak berhenti.
Jarak antara mereka tinggal selebar tangan yang terhubung. Renard menunduk, menatap wajah yang di ruang terapi hanya boleh ia bayangkan. Mata Liana terbuka, jelas, dan gugup. Tidak ada kain hitam untuk menyembunyikan reaksi siapa pun.
"Kalau aku bertanya sesuatu..."
Tiga ketukan cepat terdengar di pintu.
Liana dan Renard langsung menjauh.
Dimas muncul di celah pintu dengan wajah panik. "Maaf, Pak. Pak Handoko sudah di depan."
"Jadwalnya besok."
"Beliau bilang cuma butuh sepuluh menit. Timnya sudah ikut naik."
Dari belakang Dimas terdengar suara berat menyapa Rizal. Pak Handoko benar-benar sudah berada di koridor, hanya beberapa langkah dari kantor.
Liana melihat tangannya sendiri. Pergelangan blusnya terlipat. Rambut di sisi wajah jatuh berantakan setelah Renard tadi menariknya mendekat. Kalau ia keluar sekarang, ia akan berpapasan langsung dengan salah satu direktur mitra terbesar Tan Group.
"Lewat ruang istirahat," kata Renard pelan.
"Pintunya sedang diperbaiki dari pagi."
"Kamar mandi?"
"Pak Handoko bisa tinggal lama. Kalau saya keluar dari kamar mandi Bapak..."
Kalimat itu tidak perlu diselesaikan.
Suara Pak Handoko semakin dekat. "Renard ada, kan?"
Liana melihat meja kerja besar di tengah ruangan.
Renard mengikuti arah pandangnya. "Jangan."
"Nggak ada pilihan."
"Aku bisa menyuruhnya menunggu."
"Dia sudah melihat pintunya terbuka."
Liana mengambil kotak sampel, mendorongnya ke sisi meja, lalu berjongkok.
"Liana."
"Sepuluh menit," bisiknya. "Katanya cuma sepuluh menit."
Sebelum Renard bisa mencegah, ia sudah masuk ke bawah meja.
Ruang di sana lebih sempit daripada perkiraan. Ada laci rendah di sisi kanan, panel kabel di kiri, dan hanya bagian tengah yang cukup untuk tubuhnya. Liana melipat kaki dan merapatkan lutut ke dada.
Renard menarik kursinya masuk tepat ketika Dimas membuka pintu lebih lebar.
"Pak Handoko. Silakan."
"Maaf mendadak." Pak Handoko berjalan masuk sambil membawa tablet. "Saya kebetulan ada di gedung sebelah."
"Tidak masalah. Duduklah."
Renard duduk di belakang meja.
Kedua kakinya kini berada di kanan dan kiri Liana.
Perempuan itu menahan napas.
Lutut Renard hampir menyentuh bahunya. Ujung sepatu pria itu hanya beberapa sentimeter dari map yang tadi ikut dibawanya. Aroma cedar dan kopi terasa lebih pekat di ruang sempit, bercampur panas dari perangkat komputer.
Di atas meja, suara Pak Handoko mulai menjelaskan perubahan proyeksi biaya.
Renard menjawab dengan nada paling tenang yang pernah Liana dengar.
"Kenaikan delapan persen nggak bisa dibebankan seluruhnya pada kami."
"Tapi biaya distribusi berubah."
"Perubahan itu sudah masuk klausul penyesuaian. Maksimal empat persen."
Di bawah meja, Liana mencoba menggeser kaki yang mulai kram.
Kepalanya menyentuh sisi laci.
Tok.
Percakapan berhenti.
"Suara apa?" tanya Pak Handoko.
Renard tidak berkedip. "Sistem pendingin komputer. Teknisi belum selesai memperbaikinya."
"Oh."
Liana menutup mulut dengan kedua tangan.
Renard menggeser kursinya sedikit ke depan. Lututnya menekan ringan bahu Liana, memberi tanda agar ia diam. Tekanan itu tidak menyakitkan, tetapi membuat wajah Liana semakin panas.
Ia mengetuk sekali sisi sepatu Renard.
`Saya paham.`
Tangan Renard turun dari meja. Telapaknya menemukan puncak kepala Liana dan berhenti di sana.
Sentuhan itu mengejutkan keduanya.
Ia seharusnya langsung menarik tangan. Sebaliknya, jari Renard menahan rambut Liana agar tidak tersangkut pada rel laci. Ibu jarinya bergerak sekali di belakang kepalanya.
Napas Liana menghangat di kain celana Renard. Ia buru-buru memalingkan wajah ke sisi lain, tetapi ruangnya terlalu sempit.
Di atas sana, suara Renard tetap dingin.
"Kami bisa menyetujui lima persen jika jadwal pengiriman dimajukan dua minggu."
Pak Handoko tertawa. "Kamu selalu mencari keuntungan."
"Saya mencari keseimbangan."
Liana hampir ingin tertawa karena pria yang mengatakan keseimbangan itu sedang duduk kaku agar tidak menginjak asistennya sendiri.
Bahunya bergetar kecil.
Jari Renard menyusup sedikit ke antara rambutnya, menahan lebih mantap.
`Jangan bergerak.`
Gerakan itu seharusnya hanya peringatan. Namun belaian singkat di kulit kepala membuat punggung Liana meremang. Ia menggigit bibir untuk menahan suara.
Anehnya, kegelisahan Renard hilang sepenuhnya.
Ia tidak lagi merasa mual. Tangan yang tadi gemetar kini stabil. Kehadiran Liana begitu dekat sampai tubuhnya menganggap tidak ada ancaman di dunia ini, padahal secara sosial mereka hanya berjarak satu gerakan dari bencana.
"Dokumen lampiran lama masih ada?" tanya Pak Handoko.
"Ada."
"Saya mau cocokkan angka pengiriman."
Renard melirik laci kanan.
Kepala Liana berada tepat di depannya.
"Nanti asisten saya kirim salinannya."
"Kalau ada di sini, sebentar saja."
"Berkasnya belum diperbarui. Saya nggak mau Anda membaca versi yang salah."
Pak Handoko mengangguk, meski tampak tidak puas. Ia kembali membahas tabel di tablet.
"Mitra kami meminta klausul eksklusivitas dua belas bulan," katanya. "Tanpa itu, mereka nggak mau mempercepat produksi."
"Enam bulan," jawab Renard.
"Sepuluh."
"Enam, dengan hak perpanjangan kalau target distribusi tercapai."
Pak Handoko menyandarkan punggung. "Anda bahkan nggak perlu membaca catatan."
"Angkanya sama seperti proposal Jumat lalu."
Di bawah meja, Liana memandang tangan Renard yang kini bertumpu di lutut. Jari-jarinya sudah tidak gemetar sama sekali. Ia lega, lalu kesal pada dirinya sendiri karena merasa bangga menjadi penyebab ketenangan itu.
Ujung map menyentuh sepatunya. Liana mencoba menariknya pelan, tetapi satu lembar formulir evaluasi sampel terlepas dan meluncur ke dekat kaki Renard.
Pria itu menurunkan telapak tangan, seolah hanya membetulkan celana. Dua jarinya menangkap kertas tanpa menunduk. Ia menyelipkannya di antara sisi kursi dan meja, jauh dari pandangan tamu.
Kerja sama diam-diam itu terasa terlalu alami.
Pak Handoko tidak menyadari apa pun. Ia terus menawar angka, sementara di bawah meja Liana dan Renard menyelesaikan bencana kecil dengan gerak tangan yang nyaris serempak.
Menit kesepuluh lewat.
Lalu menit kelima belas.
Kaki Liana mati rasa. Keringat mulai muncul di tengkuknya. Renard sesekali menggeser lutut agar memberi ruang, tetapi setiap gerakan malah membuat jarak mereka terasa lebih nyata.
Ponsel Liana bergetar di saku celananya.
Ia membeku.
Getaran pertama berhenti, lalu datang lagi. Mungkin Rizal menanyakan sampel. Mungkin pengingat rapat. Di ruang sempit itu, dengungnya terdengar seperti alarm kebakaran.
Renard batuk tepat saat getaran ketiga muncul, menutup suaranya. Tangannya turun dan menekan ringan sisi saku Liana dari luar, mencari tombol senyap tanpa menyentuh lebih jauh.
Liana menemukan tombol itu lebih dulu. Jari mereka sempat bertemu, lalu cepat terpisah.
Tatapan tidak mungkin bertemu dari posisi tersebut. Namun keduanya sama-sama tahu wajah masing-masing pasti sudah panas.
Akhirnya Pak Handoko menutup tabel.
"Ada satu diagram di layar Anda yang ingin saya lihat lebih dekat."
"Saya bisa putar monitornya."
"Nggak perlu. Saya ke sana saja."
Pak Handoko berdiri.
Sepatunya melangkah mengitari sisi meja.
"Pak Renard, saya bisa lihat dari sebelah sana?"
Di bawah meja, Liana memejamkan mata rapat-rapat.